Featured Post

Berterima Kasih Atas Segala Hal

Seorang anak kecil usia 4 tahun diminta untuk berterima kasih saat doa sebelum makan malam Natal. Para anggota keluarga menundukkan kepala...

Minggu Biasa VI C - 14 Feb 2010

Minggu Biasa VI tahun C 14 Feb 2010 (Luk 6:17.20-26)
08 Februari 2010 16:19

DI TEMPAT YANG DATAR

Rekan-rekan yang baik!
Bacaan Injil bagi Minggu Biasa VI tahun C kali ini ialah Luk 6:17.20-26.
Petikan ini memuat Sabda Bahagia dan peringatan-peringatan yang menyertainya
versi menurut tradisi Lukas. Ada beberapa perbedaan tekanan serta ungkapan
bila dibandingkan dengan Sabda Bahagia menurut Matius (Mat 5:1-12 dibacakan
pada hari Minggu Biasa IV/A - lihat pula ulasan ybs.). Marilah kita simak
beberapa kekhususan teks Lukas.

"Di TEMPAT YANG DATAR" (Luk 6:17)

Diceritakan  bagaimana Yesus bersama keduabelas muridnya turun dan bertemu
dengan sejumlah besar pengikutnya dan orang-orang lain di "tempat yang
datar". Tempat ini disebut untuk mengingatkan orang kepada bagian Injil
Lukas yang mengutip Yes 40:3-5, yakni Luk 3:4-6, tentang tanah yang tinggi
rendah yang akan diratakan dan jalan yang berkelok-kelok yang akan
diluruskan ... sehingga orang-orang melihat Tuhan. Di tempat datar seperti
inilah menurut Lukas orang-orang kini  mendapati Yesus. Ke sanalah mereka
berdatangan dari "Yudea dan Yerusalem dan dari daerah pantai Tirus dan
Sidon" (Luk 6:17). Kedua daerah yang disebut terakhir ini bukan wilayah
Israel dulu. Tetapi Yesus mengumpulkan yang umat baru ke tempat datar -
tempat Tuhan kelihatan itu - itu. Dan semua orang dapat memandanginya, bukan
hanya mereka yang termasuk umat Perjanjian Lama saja.
Seruan Yes 40:3-5 itu dikutip dalam Luk 3:4-6 yang juga menjelaskan
pewartaan Yohanes Pembaptis mengenai "tobat untuk pengampunan dosa".
Bertobat diterangkan sebagai upaya menanggalkan pikiran-pikiran yang
mengekang batin (="tanah tinggi rendah dan jalan berkelok-kelok") dan
membiarkan diri dipimpin menuju Tuhan sendiri di jalan batin yang lurus
(lihat ulasan Injil Minggu Adven II/C bulan Desember 2009). Kini dalam Luk
6:20-26 ditampilkan gambaran mengenai kenyataan hidup dalam umat yang baru
itu dengan memakai empat Sabda Bahagia (ayat 20-23) dan empat peringatan
untuk berwaspada (ayat 24-26).

WACANA DESKRIPTIF, BUKAN PRESKRIPTIF

Orang dapat menggambarkan suatu hal sebagaimana adanya. Bisa pula orang
mengatakan apa yang mesti dijalankan. Sabda Bahagia dalam Injil
menggambarkan apa yang terjadi dalam kalangan orang-orang yang hidup
mengikuti Yesus, bukan mengajarkan hal-hal yang mesti dilakukan. Dengan
perkataan lain, Sabda Bahagia itu ungkapan yang sifatnya deskriptif, bukan
preskriptif. Mungkin ada yang berkeberatan, Sabda Bahagia dan
peringatan-peringatan itu kan pengajaran yang mesti diikuti agar masuk
Kerajaan Allah? Bukan! Keliru bila Sabda Bahagia dan peringatan ditangkap
sebagai resep hidup bahagia, hidup kristen yang baik-baik, aman adem ayem,
ikut ajaran agama saja supaya semua tenang, kalau menderita ya menderita
tapi nanti beres. Begitu hidup beragama jadi kekangan, bukan pemerdekaan
batin.

Injil Lukas  hendak berbicara kepada orang yang miskin, yakni orang yang
kekurangan material, orang yang tak bisa mencukupi kebutuhan hidup,
paling-paling pas-pasan saja. Tetapi Injil juga berbicara kepada orang
berkepunyaan, orang yang berkelebihan, orang yang tak merasakan kekurangan.
Kepada yang miskin dikatakan bahwa mereka tak dilupakan Kerajaan Allah,
mereka itu malah boleh merasa empunya Kerajaan Allah. Kepada orang kaya
tidak dikatakan kalian tak memiliki Kerajaan Allah. Namun kehidupan mereka
itu kiranya tak ada artinya ("celakalah....") bila mereka sudah puas dan
merasa aman dengan kelimpahan mereka. Wartanya apa? Yesus tidak menjajakan
kemiskinan sebagai keutamaan dan mencerca kekayaan sebagai sumber laknat.
Seandainya begitu, wartanya akan segera basi, tak berbeda dengan retorika
orang-orang yang membuat orang miskin sebagai komoditi dagang politik dan
yang menjadi parasit orang berduit dan memperoleh ketenaran sebagai pembela
kaum miskin dengan gampang. Warta Sabda Bahagia itu, sebagaimana lazimnya warta gembira, membuat orang bisa
berharap akan merdeka sekalipun masih terbelit kemiskinan atau terjerat
ikatan-ikatan kekayaan. Penjelasannya begini. Kemiskinan yang membuat orang
makin melarat atau kekayaan yang membuat orang lupa daratan menjadi
karikatur martabat manusia yang tak lucu, malahan membuat orang pilu. Tuhan
yang Maha Rahim tak tahan melihat manusia ciptaanNya merosot. Maka Kerajaan
Allah yang diwartakan utusanNya yang utama itu - Anak Manusia - dimaksud
untuk membangun wahana di mana manusia bisa menata kembali martabatnya yang
utuh, tidak lusuh karena kemelaratan atau busuk tertimbun kekayaan.

DIALOG PERSIAPAN HOMILI

NIC: Yesus itu pembela orang miskin, dia ini menjalankan option for the poor
sebelum ungkapan itu diperdengarkan.

LUC: Setuju. Cuma bagi Yesus, gagasan membela kaum miskin itu rada berbeda
dari yang biasa kita mengerti pada zaman ini.

NIC: Penjelasannya?

LUC: Ia mau membela mereka dari pendapat bahwa kemelaratan itu akibat dosa,
baik dosa sendiri atau dosa orang tua. Ia juga tidak menerima begitu saja
pendapat bahwa kekayaan itu ganjaran bagi kelakuan lurus.

NIC: Lho, penjelasan anda ini bisa bertentangan dengan praktek Yesus. Kan ia
pernah menyembuhkan orang dengan mengatakan dosamu diampuni. Bukankah ini
mencerminkan gagasan Yesus bahwa kesakitan itu akibat dosa?

LUC: Nanti dulu! Benar Yesus mengampuni dan orang itu sembuh, tapi dosa yang
diampuni itu ialah dosa berpegang pada pendapat bahwa penyakitnya akibat
kesalahan orang tua atau dirinya sendiri.

NIC: O gitu. Kembali ke sabda bahagia Yesus yang dilaporkan Lukas. Kalau
mengikuti penjelasan anda, maka orang miskin tak perlu lagi merasa tersisih
dari Kerajaan Allah.

LUC: Ya begitulah. Itulah maksud perkataan "Berbahagialah, hai kamu yang
miskin, karena kamulah yang punya Kerajaan Allah" (Luk 5:20)

NIC: Bila ayat tadi dilihat bersama dengan ayat peringatan (ayat 24) "tetapi
celakalah kamu, hai kamu yang kaya, karena dalam kekayaanmu kamu telah
memperoleh penghiburan", orang dapat berpikir bahwa orang kaya itu terkutuk
justru karena kaya.

LUC: Tidak benar. Sabda bahagia bahwa orang miskin memiliki Kerajaan Allah
itu bukan pernyataan eksklusif, jadi jangan dimengerti bahwa hanya mereka
sajalah yang empunya. Di situ ditegaskan bahwa mereka de facto memiliki
Kerajaan Allah. Ini warta gembiranya. Dan warta gembira tak butuh menjadi
eksklusif!

NIC: Lalu?

LUC: Seperti disinggung di muka, ada gagasan bahwa kekayaan itu ganjaran
dari kebaikan dan orang merasa tidak butuh apa lagi. Ini kekeliruannya. Sama
kelirunya dengan pendapat bahwa kemelaratan itu akibat dosa. Dalam ayat 24
disebutkan alasan mengapa orang kaya celaka, yakni "telah memperoleh
penghiburan", tidak dikatakan bahwa mereka tak bakal memasuki Kerajaan
Allah.

NIC: Jadi bila orang tidak terikat pada pikiran bahwa kekayaannya itu
penghiburan tok - jadi eksklusif - melainkan pemberian yang dapat diamalkan
maka orang yang bersangkutan juga memiliki Kerajaan Allah?

LUC: Jelas. Dan nanti dalam menggambarkan kehidupan Gereja perdana Lukas
justru menggarisbawahi pengamalan milik bagi kepentingan bersama (Kis 2:44-45).

NIC: Bagaimana penjelasan ketiga sabda bahagia dan peringatan lainnya yang
dibacakan hari Minggu ini?

LUC: Baiklah kita berpikir mengenai orang yang kini lapar dan menangis tapi
yang nanti akan kenyang dan tertawa dalam Luk 6:21. Di situ tidak diajarkan
agar kita menyukai kesedihan karena nanti akan tertawa. Bukan! Kita diajak
berkepala dingin: hidup ini bukannya hanya bermuka satu. Kalau sekarang
kebetulan sedang tipis rezeki, ya tak usah putus asa, nanti ada saatnya
tertawa. Jadi sabda bahagia itu membawa kembali kita ke kenyataan. Hidup ini
bukannya gelap melulu, bukannya pula gebyar melulu. Ayat 21 itu perlu dibaca
bersama dengan ayat 25 yang mengatakan celakalah orang yang sekarang kenyang
dan tertawa, karena nanti akan lapar dan berduka cita. Kedua ayat itu
menaruh orang kembali ke dalam kenyataan hidup yang penuh variasi ini.

NIC: Jadi juga ayat 22-23 tentang pengucilan, pencercaan, penolakan akibat
kesetiaan orang akan iman perlu dibaca bersama dengan ayat 26 yang
membicarakan orang yang merasa keyakinan agamanya benar melulu? Maka dalam
hal hidup beragama orang tak sepatutnya gampang merasa gagah bila dimartir
atau merasa benar kalau dipuji-puji saleh. Begitu kan?

LUC: Lha anda melihat sendiri, wartanya masih cocok bagi zaman ini juga.

NIC: Omong-omong, apa cara menafsirkan Injil hari ini juga dapat dipakai
menjelaskan bacaan pertama?

LUC: Tafsir ungkapan "terkutuklah..." dan "terberkatilah..." dalam bacaan
pertama, Yer 17:5-8 pada dasarnya sama. Orang yang mengandalkan upaya
manusia melulu disebut "terkutuk" karena pasti tak berhasil dan malah
bangkrut. Tetapi orang yang mengandalkan Tuhan ialah orang yang "terberkati"
karena upayanya akan subur dan berbuah. Dalam pasangan itu hendak disodorkan
dua sikap dasar yang saling bertolak belakang. Sekaligus orang diajak
berpikir, kehidupan yang nyata berada di antara kedua-duanya. Dan pasang
surut hidup dapat dijelaskan dari situ. Orang yang percaya akan menerima
kenyataan ini dengan terbuka. Dan maju terus.

Salam hangat,
A. Gianto

No comments:

Post a Comment