Minggu Biasa XXVII C - 3 Oktober 2010

Injil Minggu Biasa XXVII C - 3 Oktober 2010 (Luk 17:5-10)

TENTANG IMAN DAN BERIMAN

Luk 17:5-10 memuat dua pokok pembicaraan. Yang pertama, ayat 5-6,
menyebutkan permintaan para murid agar iman mereka ditambah serta reaksi
Yesus terhadap permintaan ini. Yang kedua, ayat 7-10, berisi ajaran agar
murid-murid bersikap sebagai hamba yang tak mengenal istirahat dan tidak
memikirkan jasa sendiri. Untuk mengerti hubungan di antara kedua bagian itu
dan maksud seluruh petikan, marilah kita lihat konteksnya, yaitu beberapa
nasihat dalam Luk 17:1-4 yang mendahului petikan ini. Dalam ayat 1
ditampilkan perkataan Yesus bahwa mustahil tidak akan ada hal yang membuat
orang berbuat salah. Yesus tampil realistis dan dapat memahami bila orang
jatuh ke dalam dosa. Inilah sisi lain pengajarannya yang di sana sini sering
terdengar keras dan banyak tuntutannya. Tapi dalam ayat berikutnya ia
bersikap tegas terhadap orang yang menyebabkan sesama jatuh ke dalam dosa,
terutama yang lemah: "Lebih baik baginya jika sebuah batu giling diikatkan
pada lehernya, lalu ia dilemparkan ke laut daripada menyebabkan orang-orang
kecil ini berbuat dosa!" Selanjutnya dalam ayat 3-4 diberikan nasihat agar
para murid menegur orang yang bersalah dan bila menyesal, hendaknya ia
dimaafkan sepenuhnya. Tentu saja untuk menerima semua ajaran ini para murid
merasa butuh memiliki pegangan yang kuat, paling tidak untuk menaklukkan
diri. Untuk itu mereka meminta tambahan iman seperti terungkap dalam ayat 5
yang menjadi awal petikan yang dibacakan hari ini.

MENGAPA MINTA IMAN DITAMBAH?

Para rasul mohon agar iman mereka ditambah. Jawaban Yesus dalam ayat 6
rasanya tidak langsung menanggapi. Ia malah membuat perbandingan.
Dikatakannya, jika iman mereka itu besarnya hanya seperti biji sesawi saja -
jadi amat kecil - niscaya mereka sudah akan mampu mengerjakan hal-hal yang
luar biasa seperti menyuruh pohon ara tercabut dan pindah ke dasar lautan.
Apa maksudnya? Acap kali kata-kata Yesus ini dimengerti sebagai gambaran
betapa besarnya daya iman. Tidak disangkal bahwa iman memiliki kekuatan luar
biasa. Tetapi itukah yang hendak disampaikannya? Bila dipikirkan, akan
terasa aneh bahwa Yesus berbicara demikian. Rasul-rasul kan sudah tahu
betapa besarnya daya iman. Kita pun tahu. Justru karena itulah mereka minta
imannya ditambah. Apa perlunya mereka diberi tahu mengenai besarnya kekuatan
iman?

Pembicaraan para rasul dengan Yesus sebaiknya dimengerti dalam rangka
pembicaraan antara guru dan murid pada zaman itu. Dalam menanggapi masalah
yang diajukan murid, seorang guru akan mencerahkan persoalannya terlebih
dahulu sebelum memberi jawaban. Yesus sebenarnya mau mengatakan, "Kalian ini
punya anggapan bahwa iman berurusan dengan kemampuan melakukan hal-hal yang
menakjubkan. Kalau hanya itu, tak perlu menginginkan iman yang besar. Yang
besarnya cuma seukuran biji sesawi pun sudah bisa menjalankan yang
mustahil.." Dengan lain kata Yesus mengajak murid-murid makin menyadari
bahwa iman itu terutama bukan kesaktian yang bisa dipakai menjalankan
hal-hal yang spektakuler. Iman jangan pula dilihat sebagai semata-mata
sebagai kekuatan batin untuk menundukkan diri sendiri. Tersirat anjuran agar
tidak melihat iman dengan ukuran-ukuran seperti itu.

Kembali ke konteks di dalam Luk 17:1-4. Peringatan agar jangan menyebabkan
orang jatuh ke dalam dosa dan ajakan agar mengampuni setulus-tulusnya memang
terasa gampang tapi sulit dijalankan. Maka para murid berpikir, untuk itu
perlu iman besar. Tetapi jawaban Yesus justru menyangkal penalaran seperti
itu. Lalu apa pengertian Yesus mengenai iman?

BAGAIMANA BERIMAN ITU?

Jelas bukan menyandarkan diri pada kesaktian atau jimat. Bahkan bukan pula
kebesaran hati dalam mengampuni atau kewaspadaan untuk tidak membuat orang
berdosa. Lalu bagaimana penjelasannya? Jawaban hanya bisa kita temukan bila
kita ingat perjalanan Yesus dari awal hingga akhir. Paling tidak begitulah
cara Injil Lukas menyampaikannya. Yesus sendiri menemukan imannya dengan
berada tetap pada jalannya hingga sampai ke tujuan perjalanan itu. Kunci
untuk memahaminya terletak pada penampakan di gunung. Di situ Musa dan Elia
berbicara dengan Yesus mengenai "tujuan perjalanan"-nya (Yunaninya "exodos";
Luk 9:31) yang akan digenapinya di Yerusalem.

Kemudian ketika ia bergulat dengan dirinya sendiri di Getsemani ia meminta
agar piala itu diambil darinya. Dengan kata lain, ia sampai meminta agar ia
tak usah terus hingga ke akhir perjalanan dan melewati penderitaan ditolak
orang-orang yang didatanginya, dihukum, dan mati disalib. Namun terlebih
dahulu ia mengatakan, asal semua itu kehendak Bapanya, bukan kehendaknya
(Luk 22:42).

Kedua peristiwa itu membantu kita mengerti apa iman itu dalam kehidupan
Yesus, yakni menuruti kehendak Bapanya sampai akhir, menaruh kehendak Bapa
di atas segala sesuatu. Dan dengan itu ia memperoleh kekuatan untuk berjalan
terus sampai akhir. Nanti pada saat ia menghembuskan nafas terakhir, ia
berseru menyerahkan nyawanya kepada Bapanya (Luk 23:46). Inilah kenyataan
orang beriman yang sejati. Bukan barang spektakuler dalam pandangan orang
banyak. Malah bagi orang-orang yang lewat di hadapan salib, nasibnya itu
mengenaskan belaka. Tetapi di situlah iman hidup. Di situlah kesetiaan
mengikuti kehendak Yang Mahakuasa yang dipanggil Bapa itu menunjukkan
kekuatan yang sesungguhnya.

Yesus mengamalkan seluruh hidupnya untuk membuat manusia tidak gampang
dibawahkan ke kedosaan, juga yang paling lemah sekalipun tidak gampang
menyerah kepada kedosaan. Sampai akhir hayatnya ia menunjukkan apa itu
pengampunan Allah terhadap manusia. Inilah sumber kekuatannya. Begitulah ia
juga membaharui kemanusiaan menjadi yang tahan banting dosa dan kuat
mengampuni. Dalam bahasa sekarang, tahan menghadapi pelbagai kontradiksi
dalam hidup ini dan sedia mengupayakan rekonsiliasi. Jika para murid meminta
tambahan iman yang begini ini maka mereka ada di jalan yang benar, ada di
jalan yang sedang ditempuh Yesus sendiri. Ini juga pengajaran bagi kita.

"HAMBA-HAMBA YANG TAK BERGUNA" - APA ARTINYA?

Dalam bagian kedua petikan ini, yaitu Luk 17:7-10 Yesus memberi petunjuk
kepada murid-muridnya agar hidup sebagai hamba yang selalu siap menjalankan
tugas yang diberikan tuannya. Yesus sendiri menjalani hidup yang sepenuhnya
mengiakan yang dikehendaki Bapanya seperti seorang hamba yang siap
menjalankan perintah tuannya. Tidak ada istirahat, bahkan setelah
menyelesaikan sebuah tugas. Setelah selesai membajak ia disuruh menyediakan
makanan bagi tuannya. Baru sesudah itu ia sendiri dapat makan dan minum
(ayat 7-8). Hamba itu juga tak usah mengharapkan ucapan terima kasih karena
telah menjalankan tugasnya. Sebaliknya ia harus merasa dirinya "tak
berguna". Semua yang dilakukannya hanya demi tugas (ayat 8-10).

Menimbang teks aslinya, "hamba-hamba yang tidak berguna" (Luk 17:20)
sebetulnya lebih cocok bila dialihbahasakan "hamba-hamba yang tidak
dibutuhkan". Maksudnya, sang majikan sebetulnya tidak membutuhkan mereka,
semua pekerjaan bisa terjadi dan berjalan dengan baik tanpa hamba-hamba itu.
Tetapi toh sang majikan membiarkan mereka menjalankan sesuatu baginya.
Inilah upah para hamba itu: mendapat kesempatan menyelesaikan urusan
majikan, melayaninya, dan berada di dekatnya, walaupun dia tidak
membutuhkannya. Di situlah kebahagiaan para hamba itu tadi. Jadi sebetulnya
tidak tepat bila diartikan kebahagiaan di Kerajaan Allah itu jangan dianggap
upah bagi jasa perbuatan baik.... menghamba Tuhan itu tak usah mengharapkan
ganjaran. Kedengarannya bagus, tapi kurang cocok dengan dunia kehidupan yang
terpantul dalam teks-teks Injil. Dalam alam pikiran injili, hamba ya tentu
mengharapkan ganjaran. Dan ganjaran biasa diperoleh dengan menjalankan
sesuatu. Yang tidak berbuat apa-apa malah kehilangan kesempatan. Namun warta
injil meluaskan gagasan tadi dengan menekankan kebesaran sang majikan, yaitu
kesukaannya mengajak hamba-hambanya yang tetap menjalani kehambaan agar
mereka berada dekat dengannya, agar bisa ikut berbagi kebesarannya. Ini
ganjaran dalam arti yang baru baik bagi si hamba dan bagi sang majikan. Dan
perkara inilah yang disiarkan sebagai kabar gembira injili, antara lain
dalam petikan Injil kali ini.

Para rasul diajak berpikir mengenai apa itu pelayanan iman. Pelayanan ini
tidak ada selesainya dan si pelayan sendiri akhirnya mesti mengaku sebagai
"orang tak berguna" (ayat 10). Jelas mengapa dalam menanggapi permintaan
para rasul agar iman mereka ditambah, Yesus mengetengahkan bahwa yang
penting bukanlah berusaha memperoleh sukses dengan kekuatan yang ada pada
mereka, tetapi sebaiknya menjadi pelayan yang membaktikan diri sepenuhnya
kepada tugas mereka. Ajakan Yesus ini ajakan untuk tetap hidup dalam dunia
nyata dan bukan dunia idam-idaman yang spektakuler.

Diterapkan dalam hidup menggereja, maka pelayanan pastoral yang dijiwai
dengan ajakan ini ialah pelayanan yang memperhatikan kenyataan-kenyataan
yang dialami umat setempat. Yang Mahakuasa berbicara lewat isyarat-isyarat
zaman. Menjalankan tugas pelayanan juga berarti menemukan secara kreatif
jalan-jalan baru yang makin dapat membuat pelayanan makin hidup dan makin
peka menanggapi tanda-tanda yang datang dari atas sana. Kepekaan inilah
kekuatan iman yang sebenarnya. Kekuatan ini jugalah yang membuat orang tetap
berada pada jalan yang sama dengan jalan yang ditempuh Yesus, pada
"exodos"-nya. Di sini dipakai gambaran Perjanjian Lama, yaitu keluar dari
perbudakan di Mesir agar dapat mengabdi Allah dengan merdeka. Exodos Yesus
itu bertujuan membawa manusia keluar dari kekuatan-kekuatan yang
mengurungnya sehingga manusia makin dapat menjadi gambar dan rupa Tuhan yang
sungguh.

Salam hangat,
A. Gianto

No comments:

Post a Comment