Injil Hari Raya Maria Bunda Allah

Minggu 1 Jan 2012 - Maria Bunda Allah

Rekan-rekan!
SELAMAT TAHUN BARU - TAHUN PENUH BERKAT!

Hari Minggu setelah Natal kali ini bertepatan dengan Tahun Baru. Hari
pertama tahun ini juga dirayakan sebagai Hari Raya Santa Perawan Maria Bunda
Allah. Gereja Purba sudah mulai menyebut Maria sebagai sang "Theotokos",
artinya "yang membuat keilahian lahir". Pengakuan ini kemudian resmi
diterima dalam Konsili Ekumenis di Efesus th. 431. Maria memungkinkan umat
manusia mengalami keilahian sebagai berkat. Bacaan pertama pada perayaan
ini, Bil 6:22-27, mengantar kita masuk ke dalam tahun berkat, tahun wajah
Tuhan bersinar memandangi kita, tahun damai! (Injilnya, Luk 2:16-21, sudah
sebagian besar diulas bagi Injil Misa Fajar Hari Natal minggu lalu, yakni
Luk 2:15-20.)

TIGA PASANG BERKAT

Petikan dari Kitab Bilangan ini menampilkan rumus berkat yang difirmankan
Tuhan kepada Musa untuk disampaikan kepada para imam keturunan Harun.
(Menurut Kel 28:1-43; terutama ay. 41, Harun dan keturunannya diresmikan
sebagai pemegang jabatan imam.) Kata-kata berkat itu sendiri termaktub dalam
Bil 6:24-26. Seperti dijanjikan Tuhan, bila kata-kata itu diucapkan, Dia
sendirilah yang akan memberkati. Masing-masing ay. 22-26 itu terdiri dari
dua bagian yang saling menjelaskan (ay. 24: memberkati - menjagai; ay. 25:
menyinarkan wajah - menyayangi; ay. 26: memandangi - menaruh kedamaian).
Selain itu, seluruh rumus berkat diungkapkan dalam tiga ucapan berkat.
Pengulangan tiga kali, entah dari segi bunyi ("kudus, kudus, kuduslah Tuhan"
[Yes 6:3]), entah dari segi makna (seperti di sini) mengundang sikap hormat
dan khidmat akan kehadiran Yang Ilahi dalam keagungan-Nya (Bandingkan dengan
ulasan mengenai silsilah Yesus [Mat 1:1-17] yang terdiri dari 3 kali 2 kali
7 keturunan dalam uraian bagi Injil Misa Vespertina Natal).

"SEMOGA TUHAN MEMBERKATIMU DAN MENJAGAIMU"

"Memberkati" dan "menjagai". Ungkapan kedua menegaskan yang pertama. Jadi
memberkati berarti menjagai, melindungi dari kekuatan-kekuatan jahat. Lawan
memberkati ialah mengutuk dan kutukan terbesar ialah membiarkan orang
menjadi mangsa daya-daya maut. Dalam kesadaran orang dulu, kekuatan-kekuatan
jahat tak perlu didatangkan atau diguna-gunakan. Daya-daya hitam itu sudah
ada di sekeliling dan selalu mengancam. Namun demikian, mereka tak bisa
menembus garis lingkaran berkat yang ditoreh oleh Tuhan dengan sabda-Nya.
Dalam arti ini, kawasan berkat ialah ruang hidup bagi ciptaan, bagi kita.
Tak mungkin ada yang bisa hidup di luar ruang itu. Ada cerita menarik.
Seorang ahli tenung digdaya dari Aram, Balaam namanya, didatangkan oleh
Balak, raja Moab, untuk menyihir kalang-kabut orang-orang Israel yang
berjalan lewat di situ (lihat Bil 22-24). Namun demikian, Balaam menyadari
bahwa ilmu tenungnya tak berguna karena Tuhan tidak membiarkan orang Israel
berjalan di luar berkat-Nya (Bil 23:8-9). Tuhan memberkati mereka dan Balaam
mengakui tidak mampu membalikkannya (Bil 23:20). Malahan Balaam akhirnya
ikut memberkati (Bil 24:1-9) dan bahkan sampai tiga kali (Bil 24:10)!

Kita merayakan Tahun Baru dan mengharapkan berkat Tuhan. Apa yang bisa kita
harapkan? Kita mohon agar Ia melindungi kita dari kekuatan-kekuatan jahat
yang akan kita jumpai dalam perjalanan 12 bulan mendatang ini. Kita minta
ruang hidup yang leluasa. Yang biasa menjalankan kekuatan-kekuatan jahat
akan menjadi seperti dukun tenung Balaam: tidak lagi berbahaya. Malah
kekuatannya akan beralih menjadi berkat. Ini kehebatan Tuhan yang menjagai
orang-orang-Nya. Ia tak perlu memusnahkan lawan-lawan. Akan ada rekonsiliasi
- rujuk kembali - dan mereka malah akan mengiringi perjalanan dalam waktu.

"SEMOGA TUHAN MENYINARKAN WAJAH-NYA KEPADAMU DAN MENYAYANGIMU"

Dalam ay. 25 ini, "menyinarkan wajah" dijelaskan sebagai "menyayangi". Orang
Perjanjian Lama yang memikirkan wajah Tuhan yang bersinar kepadanya juga
ingat lawan katanya, yakni wajah yang garang. Namun demikian, wajah garang
tidak dipakai untuk menggambarkan Tuhan, sekalipun Ia sedang marah. Ungkapan
ber-"wajah garang" biasa dikenakan kepada penguasa yang lalim, kepada para
musuh, kepada sisi gelap kemanusiaan. Wajah garang membuat orang jeri tapi
sebenarnya tidak bersimaharajalela terus-menerus. Waktunya sudah bisa
dihitung. Ini jelas misalnya dalam penglihatan yang diperoleh Daniel, lihat
Dan 8:23 dst.

Satu hal lagi dapat dicamkan. Manusia bisa juga bersinar wajahnya, mirip
Tuhan, namun ia juga bisa berwajah garang. Hidup manusia itu kancah
perbenturan antara terangnya wajah Tuhan dengan garangnya daya-daya jahat.
Ini perkara teologis yang siang malam mengusik benak orang-orang pandai
dalam Perjanjian Lama. Kohelet, sang Pengkhotbah, memecahkannya dengan
pertolongan hikmat. Dalam Pkh 8:1, dikatakannya bahwa hikmat kebijaksanaan
membuat wajah orang menjadi bersinar dan mengubah kegarangan wajahnya.
Teologi kebijaksanaan ini menjelaskan berkat dalam Bil 6:25 tadi. Dengan
hikmat kebijaksanaan, orang dapat mencerminkan Tuhan, menghadirkan Dia yang
sayang akan orang-orang-Nya. Juga dalam merayakan Tahun Baru kita boleh
minta agar Tuhan menyinarkan wajah-Nya kepada kita semua. Saat ini juga kita
dapat memohon hikmat kebijaksanaan yang membuat kita dapat menghadirkan
terang wajahnya di muka bumi, di dalam kurun waktu, di dalam kehidupan kita,
agar yang garang-garang itu berubah menjadi terang. Dunia ini telah menerima
terang kehadiran Tuhan, jangan kita pikir kegarangan bisa mengelabukannya.

"SEMOGA TUHAN MEMANDANGIMU DAN MENARUH KEDAMAIAN PADAMU"

Dalam ay. 26, "mengangkat wajah bagimu" yang artinya memperlakukan secara
istimewa karena berharga ditegaskan lebih lanjut dalam bagian kedua sebagai
"menaruh kedamaian". Dalam alam pikiran Perjanjian Lama, tiadanya syalom,
kedamaian, dialami sebagai kegelisahan yang menyesakkan dan yang akhirnya
bisa mematikan. Memang tak bisa begitu saja kedamaian diiming-imingkan
(Menurut Nabi Yeremia, orang yang latah bernubuat tentang damai tanpa isi
sebetulnya nabi palsu; Yer 6:14; 8:11; 28:9). Perjanjian Lama melihat
kedamaian sebagai buah dari "tsedaqah", yakni kesetimpalan antara kenyataan
dan yang disabdakan Tuhan. Wujudnya ada macam-macam, yang terutama ialah
"adil", "benar/lurus", "tak bercela", "bijaksana". Tiap wujud itu tak
terbatas pada urusan orang-perorangan, tetapi menyangkut hidup bersama juga.
Keadaan yang paling mencekik kehidupan bukanlah peperangan atau paceklik,
melainkan tiadanya "kesetimpalan" dalam pelbagai wujudnya tadi. Keselamatan
terjadi bukan dengan meneriakkan syalom syalom seperti nabi palsu, melainkan
dengan menjadikan "tsedaqah'" suatu kenyataan sehingga manusia dan jagat
semakin setimpal kembali dengan yang dikehendaki Tuhan. Dalam Perjanjian
Baru, terutama dalam tulisan Paulus, gagasan seperti itu (Yunaninya
"dikaiosyne") dipakai untuk menerangkan keselamatan sebagai karya penebusan
Kristus yang "meluruskan kembali" (Yunaninya "dikaioun", Latinnya
"iustificare") manusia dan jagat sehingga rujuk kembali dengan Tuhan.
Maksudnya, dalam Kristus manusia dan jagat memperoleh kembali keadaannya
semula yang tidak perot, yang tidak mengerikan, yang tidak menggelar
kekerasan. Bila ini terlaksana, barulah orang bisa berbicara mengenai
syalom, kedamaian. Ucapan berkat dalam Bil 6:26 "menaruh kedamaian"
mengandaikan manusia bisa apik kembali, bisa lurus dan tak bercela, setimpal
dengan yang dimaksud Tuhan. Bagaimana? Bila manusia dan jagat dipandangi
terus-menerus oleh Tuhan seperti terungkap dalam bagian pertama ayat itu.
Inilah yang bisa kita minta untuk tahun mendatang ini. Wajah kemanusiaan dan
jagat ini akhir-akhir ini penyok sana sini, perot, timpang. Kita minta agar
Tuhan memandangi itu semua. Kita tanya Dia, tahankah Kau memandang ini
semua? Katanya sayang manusia. Sekarang pandangilah! Angkat wajah-Mu, jangan
sembunyikan! Luruskan kembali keapikan ciptaanmu! Tak usah sungkan bilang
begitu kepada-Nya.

MARIA DAN KITA

Manusia tidak dibiarkan sendirian. Imanuel - "Tuhan beserta kita" - datang.
Dan Maria sang Theotokos "yang membuat keilahian lahir" itu menunjukkan
memang benar demikian. Kepada seorang gadis di Nazaret dulu disampaikan
ajakan untuk ikut serta mewujudkan berkat bagi umat manusia. Ajakan yang
sama kini masih ditawarkan bagi semua orang yang berkemauan baik. Dulu Maria
serta-merta menyahut "terjadilah perkataan-Mu" kepada Gabriel. Untung
tawaran tidak datang kepada kita bersama malaikat yang menuntut jawaban saat
itu juga. Ada dua belas bulan ke depan untuk mengemasnya. Waktu yang
biasanya di pihak lawan kita kini bisa menjadi berkat.

Dalam Luk 2:21 yang ikut dibacakan dalam Injil bagi hari ini disebutkan
bahwa setelah genap 8 hari, bayi itu akan disunatkan dan demikian ditandai
secara resmi sebagai anggota umat Tuhan. Juga hari itu hari menyatakan
secara resmi namanya, yakni Yesus. Nama ini sendiri menandaskan bahwa Tuhan
itu pemberi keselamatan. Ayat ini juga sekali lagi mengingatkan pembaca
bahwa nama itu telah disampaikan malaikat ketika mengunjungi Maria (Luk
1:31) sebelum ia mengandung. Demikian pembaca yang mendalami makna bacaan
ini akan mulai menyadari bahwa Tuhan Penyelamat membiarkan diri dibesarkan
oleh manusia agar makin dikenali. Merayakan keibuan Maria sebenarnya bukan
hanya menghormati pribadinya belaka, melainkan merayakan kemanusiaan yang
diberkati Tuhan.

Semoga tahun yang baru ini menjadi berkat bagi kemanusiaan!

A. Gianto

Injil Natal

Misa Natal 24-25 Des 2011

Rekan-rekan yang berbahagia!

SELAMAT NATAL! Menurut kebiasaan Gereja Katolik ritus Latin, hari Natal
dirayakan dengan tiga Misa Kudus yakni Misa Malam Natal 24 Desember,
kemudian Misa Fajar 25 Desember pagi , dan akhirnya Misa Siang. Ketiga
perayaan itu melambangkan tiga sisi kenyataan lahirnya Sang Penyelamat
Dunia. Pertama, kelahirannya sudah terjadi sejak awal, yakni dalam kehendak
Bapa di surga untuk mengangkat martabat kemanusiaan ke dekatnya. Kenyataan
kedua terjadi ketika Yesus lahir dari kandungan Maria. Dan kenyataan ketiga,
kelahiran Kristus secara rohani di dalam kehidupan orang beriman. Bacaan
Injil dalam ketiga Misa Natal tersebut sejajar dengan tiga kenyataan tadi.
Dalam Misa malam hari dibacakan Luk 2:1-14 yang menceritakan Maria
melahirkan di Betlehem, kemudian dalam Misa fajar diperdengarkan Luk 2:15-20
yang mengabarkan lahirnya Kristus di dalam kehidupan orang beriman yang
pertama, yakni para gembala. Akhirnya, dalam Injil Misa siang hari, Yoh
1:1-18, ditegaskan bahwa sang Sabda ini sudah ada sejak semula. Pembicaraan
kali ini akan menggarisbawahi ketiga kenyataan peristiwa kelahiran Kristus
itu.

INJIL MISA MALAM HARI - Luk 2:1-14

Seperti dikisahkan dalam ay. 1-3, Yusuf dan Maria mematuhi maklumat umum
Kaisar Augustus yang mewajibkan orang mencatatkan diri di kampung halaman
leluhur. Sekalipun tidak ada arsip sejarah yang membuktikan bahwa maklumat
seperti itu pernah dikeluarkan Kaisar Augustus, dapat dikatakan bahwa hal
seperti itu bukannya tidak pernah terjadi samasekali. Di sini Lukas
mempergunakannya sebagai konteks kisah kedatangan Yusuf dan Maria ke
Betlehem. Ini juga cara Lukas mengatakan bahwa Tuhan bahkan memakai pihak
bukan-Yahudi untuk menjelaskan bagaimana Yesus tetap lahir di Yudea, tempat
asal kaum Daud, dan bukan di Nazaret. Kelembagaan Yahudi sendiri kiranya
tidak cukup. Bahkan lembaga itu sudah tak banyak artinya lagi. Seperti
banyak orang asli Yudea lain, Yusuf dan Maria termasuk kaum yang
"terpencar-pencar" hidup dalam diaspora di daerah bukan asal. Ironisnya,
yang betul-betul masih bisa memberi identitas "orang Yudea" kini bukan lagi
ibadat tahunan di Yerusalem, melainkan cacah jiwa yang digariskan penguasa
Romawi.

Dalam ay. 4-5 disebutkan bahwa Yusuf pergi dari Nazaret ke Yudea "agar
didaftar bersama-sama dengan Maria, tunangannya yang sedang mengandung".
Dengan cara ini mereka nanti akan resmi tercatat sebagai suami-istri di
Yudea. Oleh karena itu, Yesus juga secara resmi bakal tercatat sebagai
keturunan Daud, baik bagi orang Yahudi maupun bagi administrasi Romawi.
Dengan demikian, Lukas sedikit menyingkap apa yang nanti akan diutarakannya
dengan jelas dalam Kisah Para Rasul, yakni kedatangan Juru Selamat bukanlah
melulu bagi orang Yahudi, melainkan bagi semua orang di kekaisaran Romawi,
bahkan bagi semua orang di jagat ini. Malahan bisa dikatakan bahwa justru
kehadiran orang bukan-Yahudi membuatnya betul-betul datang ke dunia ini!
Kita-kita ini, sekarang ini juga, masih ikut membawanya datang ke dunia.

Menurut ay. 7, Maria melahirkan anak lelaki, anaknya yang sulung. Penyebutan
"anak sulung" ini terutama dimaksud untuk menggarisbawahi makna yuridis,
bukan biologis. Anak sulung memiliki hak yang khas yang tak ada pada
saudara-saudaranya. Dalam hal ini hak sebagai keturunan Daud dengan semua
keleluasaannya. Oleh karena itu, ia juga nanti dapat mengikutsertakan siapa
saja untuk masuk dalam keluarga besarnya. Anak bukan sulung tidak memiliki
hak seperti ini.

Bayi yang baru lahir itu kemudian dibungkus dengan lampin dan dibaringkan
dalam palungan. Ditambahkan pada akhir ay. 7 "karena tidak ada tempat bagi
mereka di rumah penginapan". Bukan maksud Lukas mengatakan bahwa mereka
tidak dimaui di mana-mana. Tempat-tempat yang biasa sudah penuh para
pengunjung yang mau mendaftarkan diri menurut maklumat Kaisar Augustus.
Mereka akhirnya menemukan tempat umum yang biasa dipakai tempat istirahat
rombongan karavan bersama hewan angkutan mereka. Semacam stasiun zaman dulu.
Tempat-tempat seperti ini memiliki beberapa kelengkapan dasar, misalnya
palungan tempat menaruh makanan bagi kuda atau hewan tunggangan. Sekali lagi
ini cara Lukas mengatakan kelahiran Yesus ini terjadi di tempat yang bisa
terjangkau umum. Tempat seperti itulah tempat bertemu banyak orang. Maka
dari itu, nanti para gembala dapat dengan cepat mendapatinya.

Kelahiran Yesus yang diceritakan sebagai kejadian sederhana seperti di atas
itu nanti dalam Luk 2:8-14 diungkapkan para malaikat kepada para gembala.
Mereka amat beruntung bisa menyaksikan perkara ilahi dan perkara duniawi
dalam wujud yang sama. Orang diajak melihat bahwa yang terjadi sebagai
kejadian lumrah belaka itu ternyata memiliki wajah ilahi. Bala tentara
surga, para malaikat menyuarakan pujian kepada Allah. Dia yang Maha Tinggi
kini menyatakan diri dalam wujud yang paling biasa bagi semua orang. Apa
maksudnya? Kiranya Lukas mau mengatakan bahwa orang-orang yang paling
sederhana pun dapat merasakan kehadiran Yang Ilahi dalam peristiwa yang
biasa tadi. Dan bahkan mereka bergegas mencari dan menemukan kenyataan
duniawi dari kenyataan ilahi yang mereka alami tadi.

Pengalaman rohani yang paling dalam juga dapat dialami orang sederhana. Oleh
karena itu, orang dapat melihat kehadiran Tuhan dalam peristiwa biasa.
Sebuah catatan. Arah yang terjadi ialah dari atas, dari dunia ilahi ke dunia
manusia, bukan sebaliknya. Kita tidak diajak mencari-cari dimensi ilahi
dalam tiap perkara duniawi. Ini bisa mengakibatkan macam-macam masalah dan
keanehan. Yang benar ialah mengenali perkara duniawi yang memang memiliki
dimensi ilahi. Ada banyak perkara duniawi yang tidak memilikinya. Dalam arti
itulah warta para malaikat kepada para gembala dapat membantu kita menyikapi
dunia ini. Misteri inkarnasi ialah kenyataan yang membuat orang makin peka
akan kenyataan duniawi yang betul-betul menghadirkan Yang Ilahi, bukan tiap
kenyataan duniawi.

INJIL MISA FAJAR - Luk 2:15-20

Yang diberitakan malaikat Tuhan kepada para gembala (ay. 10-12) kini mereka
teruskan kepada orang-orang yang ada di sekitar palungan (ay. 15). Boleh
kita bayangkan, di tempat umum di sekitar palungan itu ada banyak orang lain
yang juga menginap di situ. Mereka sedang menolong keluarga baru ini.
Mendengar kata-kata para gembala mengenai warta malaikat tadi, semua orang
ini menjadi terheran-heran (ay. 18). Bagi mereka bayi yang dilahirkan ibu
muda ini biasa saja. Tapi apa para gembala ini menjelaskan hal yang luar
biasa yang sedang terjadi kini! Para gembala itulah orang-orang yang
pertama-tama memberi arti rohani bagi peristiwa kelahiran tadi. Mereka itu
juga pewarta kedatangan Penyelamat yang bukan orang-orang yang secara khusus
berhubungan dengan Allah seperti halnya Maria atau Yohanes Pembaptis ketika
masih ada dalam kandungan. (Katakan saja, para gembala itulah para teolog,
para ahli kristologi generasi awal, yang mampu memukau perhatian orang. Guru
Besar mereka ialah para malaikat dan semua bala tentara surgawi.)

Satu catatan. Disebutkan dalam ay. 15 "... gembala-gembala itu berkata satu
kepada yang lain, 'Marilah sekarang kita pergi ke Betlehem untuk melihat
....'" Kepada siapa kata-kata itu ditujukan? Dalam bacaan teks yang biasa,
jelas ajakan itu ditujukan kepada satu sama lain. Namun demikian, bacaan
teks ini juga tertuju kepada pembaca. Teks ini membuat siapa saja yang
membaca atau mendengarkannya merasa diajak gembala-gembala tadi bersama
pergi dengan mereka ke Betlehem menyaksikan kebesaran ilahi dalam wujud yang
membuat orang mulai bersimpati kepada Tuhan. Lukas kerap memakai teknik
berbicara seperti ini. Dengan memakai bentuk percakapan - bukan hanya dengan
cerita - Lukas membuat pembaca merasa seolah-olah ikut hadir di situ. Dan
pada saat tertentu ajakan akan terasa ditujukan bagi pembaca juga.

Yang hadir dalam pembacaan Injil Misa fajar bisa pula merasakannya. Dan bila
itu terjadi, warta petikan Injil Misa Fajar akan menjadi makin hidup. Orang
diajak para gembala yang telah menyaksikan kebesaran Tuhan untuk ikut pergi
mencarinya "di Betlehem", di tempat yang kita semua tahu, yang dapat
dicapai, bukan di negeri antah-berantah. Warta Natal Lukas tak lain tak
bukan ialah pergi mendapati dia yang lahir di tempat yang bisa dijangkau
siapa saja - di "Betlehem" - boleh jadi dalam diri orang yang kita cintai,
boleh jadi dalam kehidupan orang-orang yang kita layani, dalam diri
orang-orang yang membutuhkan kedamaian, atau juga dalam diri kita sendiri
yang diajak ikut menghadirkannya. Ini bisa memberi arah baru dalam
kehidupan. Betlehem bisa bermacam-macam wujud dan macamnya, namun satu hal
sama. Di situlah Tuhan diam menantikan orang datang menyatakan simpati
kepada-Nya. Adakah perkara lain yang lebih menyentuh?

INJIL MISA SIANG HARI - Yoh 1:1-18

Pembukaan Injil Yohanes ini sarat dengan makna. Dikatakan dalam kedua ayat
pertama "Pada mulanya adalah Firman dan Firman itu bersama-sama dengan
Allah. Dan Firman itu adalah Allah. Ia pada awal mulanya ada bersama dengan
Allah" (Yoh 1:1-2). Guna memahaminya, orang perlu mengingat Kisah Penciptaan
menurut tradisi dalam Kej 1:1-2:4a. Di situ dikisahkan bahwa pada awalnya
Tuhan menjadikan terang dengan memfirmankannya. Firman-Nya (yakni "jadilah
terang!") menjadi kenyataan, yakni terang. Dan begitu selanjutnya hingga
ciptaan yang paling akhir, yakni umat manusia (dengan memakai gaya bahasa
merismus "laki-laki dan perempuan") yang diberkati dan diberi wewenang
mengatur jagat ini sebagai wakil Tuhan Pencipta sendiri.

Terjemahan ay. 1 "Dan Firman itu Allah" ialah terjemahan harfiah kalimat
Yohanes "kai theos en ho logos". Kalimat Yunani seperti itu sebetulnya bukan
hendak menyamakan Firman dengan Tuhan. Alih bahasa yang lebih dekat dengan
maksud Yohanes boleh jadi demikian: "keilahian itu adalah Firman". Kata
"theos" dipakai tanpa artikel atau kata sandang di sini tampil dalam arti
keilahian. Pemakaian seperti ini maksudnya untuk menekankan bahwa yang
sedang dibicarakan, yakni Firman itu memiliki bagian dalam keilahian. Dengan
demikian juga hendak dikatakan bahwa keilahian yang kerap terasa jauh dan
menggentarkan belaka itu kini mulai dekat dan dapat didengarkan, membiarkan
diri dimengerti, dikaji, dipikir-pikirkan, dan dengan demikian ikut di dalam
kehidupan manusia. Itulah maksud Yohanes. Oleh karena itu, juga tidak
mengherankan bila dalam Yoh 1:3 ditegaskan tak ada yang ada di jagat ini
yang dijadikan tanpa Firman. Tak ada yang tak berhubungan dengan-Nya.
Hubungan ini tetap ada sekalipun dianggap sepi, disangkal, tidak
diperhatikan. Selanjutnya, dalam ay. 4 ditegaskan bahwa ia itu kehidupan dan
kehidupan itu adalah terang bagi manusia. Dalam Kisah Kejadian tadi, terang
menjadi ciptaan pertama yang mendasari semua yang ada.

Bagi Yohanes, kata "dunia" (ay. 9, 10) mengacu pada tempat beradanya
kekuatan-kekuatan gelap yang melawan kehadiran ilahi (lihat ay. 5). Ke
tempat seperti inilah terang ilahi tadi bersinar dan terangnya tak
dikalahkan oleh kekuatan-kekuatan gelap. Yohanes menghubungkan peristiwa
kelahiran Yesus sebagai kedatangan terang ilahi ke dunia ini. Dengan latar
Kisah Penciptaan maka jelas kelahiran Yesus itu ditampilkan Yohanes sebagai
tindakan yang pertama dalam karya penciptaan Tuhan. Namun demikian, arah
tujuan pembicaraan Yohanes bukan sekadar menyebut itu. Penciptaan ini
dimaksud untuk menghadirkan Tuhan Pencipta. Bukan sebagai Tuhan yang
kehadiran-Nya harus diterjemahkan terutama dalam wujud hukum-hukum agama,
seperti hukum Taurat, melainkan sebagai Bapa yang mengasalkan kehidupan
manusia, yang menyapa manusia dengan Firman yang membawakan kehidupan.

Akan besar maknanya bagi zaman ini bila ditegaskan bahwa iman akan kelahiran
Kristus di dunia ini ialah mempercayai Allah yang masih meneruskan
penciptaan jagat beserta isinya. Firman-Nya kuat. Terangnya tak terkalahkan
meskipun banyak yang menghalangi. Artinya, yang menganggap ciptaan ini buruk
dan gelap belaka dan memperlakukannya dengan buruk boleh jadi sudah mulai
memisahkan diri dari Dia, sumber terang itu sendiri, dan akan tersingkir
sendiri. Tetapi mereka yang percaya bahwa jagat ini dapat menjadi baik dan
ikut mengusahakannya sebetulnya memilih ada bersama Dia.

PAX!
A. Gianto

Injil Menjelang Natal

Menjelang Natal 24 Des 2011 (Mat 1:1-25 )

Rekan-rekan yang baik!
Berikut ini sebuah ulasan ringkas mengenai Mat 1:1-25 yang dibacakan dalam
Misa sore menjelang Misa Malam Natal tanggal 24 Desember. Petikan ini
terdiri dari dua bagian. Yang pertama memuat silsilah Yesus (ay. 1-17) dan
yang kedua mengisahkan peristiwa kelahirannya (ay. 18-25). Di beberapa
tempat boleh jadi hanya bagian kedua saja yang dibacakan. Tapi baiklah
ditengok beberapa gagasan mengenai silsilah yang termaktub pada bagian
pertama karena dapat memberi pengantar memasuki bagian yang kedua.

SILSILAH
Pertama-tama, dengan silsilah itu hendak ditunjukkan bahwa Yesus adalah
tokoh yang sejak awal mula dijanjikan Tuhan kepada Abraham, bapak segala
orang beriman dan yang selanjutnya diteguhkan dengan kebesaran Raja Daud.
Kemudian keturunan Daud berlangsung hingga pembuangan yang betul-betul
mengubah jati diri orang Israel, dari yang membanggakan diri sebagai bangsa
pilihan menjadi bangsa tawanan yang perlu menyadari dan menyesali
kedosaannya. Akan tetapi justru dalam keadaan itu tumbuhlah harapan akan
kedatangan seorang Mesias yang akan memulihkan kebesaran mereka. Mesias,
harfiahnya Yang Terurapi, ialah orang mendapat tugas resmi dari Tuhan untuk
memimpin umat-Nya. Memang lazimnya orang Yahudi pada zaman Yesus memahami
masa lampau mereka dalam ukuran-ukuran ketiga masa tadi: dari Abraham hingga
Daud, dari Daud hingga Pembuangan, dan dari Pembuangan hingga kedatangan
Mesias yang dinubuatkan Nabi Yesaya 7:14 yang nanti akan dikutip dalam Mat
1:23 dan diterapkan kepada kelahiran Yesus oleh Maria. Tiap masa memiliki
makna yang khas. Secara tak langsung, Matius mengikutsertakan Yesus dalam
kedua masa yang pertama (keturunan Daud, yang juga keturunan Abraham) dan
menerapkan masa ketiga pada Yesus dengan jelas (masa penantian datangnya
Mesias, yaitu Yesus).

Orang yang mengenal riwayat tokoh-tokoh yang disebutkan dalam silsilah itu
tentu akan menikmati bacaan ini. Namun demikian, tak banyak yang dapat
mengenali satu persatu para leluhur Yesus itu. Orang Yahudi yang biasa pada
zaman dulu pun tidak tahu riwayat masing-masing tokoh itu. Dan Matius pun
sadar akan hal ini. Oleh karena itu, pada akhir silsilah ini, yakni pada ay.
17, diberikannya sebuah rangkuman. Ada 14 keturunan dalam masing-masing dari
ketiga masa dalam kehidupan bangsa Israel tadi. Apa makna angka 14 ini?
Angka 14 ialah hasil dari 2 kali 7, yakni angka yang melambangkan keutuhan
yang keramat sifatnya. Dua kali angka 7 berarti sungguh keramat. Yang amat
keramat ini terulang tiga kali. Pengulangan tiga kali ini juga khas. Bila
dua kali berarti menggarisbawahi pentingnya, tiga kali menunjukkan suasana
khidmat (Ingat seruan para serafim dalam Yes 6:3 "Kudus, kudus, kuduslah
Tuhan ...!" yang juga dipakai dalam liturgi ekaristi). Oleh karena itu,
jelas bahwa tiga kali penyebutan 2 kali 7 keturunan dalam silsilah Yesus itu
dimaksud untuk mengajak orang agar bersikap khidmat menghadapi kenyataan
yang teramat keramat, yakni peristiwa kelahiran Yesus yang diceritakan dalam
ay. 18-25.

YUSUF
Mendekati kisah kelahiran Yesus dengan suasana khidmat serta menyadari
sakralnya kisah itu akan memberi banyak kekuatan kepada orang sekarang.
Banyak yang akan bertanya-tanya mengapa saya katakan "mendekati kisah" dan
bukan "mendekati kelahiran sang Penyelamat"? Kita sebetulnya hanya bisa
mendekat kepada-Nya lewat kisah tentang-Nya. Seperti halnya Yusuf yang
berhasil datang dekat dengan mendengarkan kisah malaikat dengan khidmat,
begitulah jalan kita. Yusuf sadar akan apa yang sedang terjadi. Dan dengan
segala ketulusannya ia menerima kehadiran yang keramat dalam kehidupannya.
Ia menerima apa yang terjadi pada Maria. Boleh jadi ia tidak seluruhnya
mengerti. Bahkan bisa dikatakan bahwa ia baru betul-betul mengerti dan dapat
benar-benar menerima setelah ia mendengarkan kisah yang dibawakan malaikat
kepadanya. Sikap hormat seperti ini membuatnya ikut serta dalam karya
penyelamatan.

Malaikat bersabda kepada Yusuf dan menjelaskan bahwa yang terjadi pada Maria
itu menurut apa yang telah dinubuatkan Nabi Yesaya (Yes 7:14), yakni anak
dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki dan mereka
akan menamakan dia Imanuel, yang artinya Allah menyertai kita. Yusuf yang
telah mendengarkan kisah malaikat dengan khidmat tadi akan menerapkannya
kepada anak yang nanti dilahirkan Maria. Ia dinamainya Yesus, yang artinya
Tuhan itu pemberi keselamatan, dalam arti ia menyertai kita - Imanuel. Tuhan
tidak meninggalkan kita. Nama itu sendiri ialah ungkapan iman bahwa Yang
Maha Besar tetap menyertai kita.

"Tuhan beserta kita" inilah yang bakal lahir di tengah-tengah kumpulan orang
di mana saja dan kapan saja yang bersedia mendengarkan kisah kehadiran yang
keramat di dunia ini. Warta Natal yang dibawakan petikan Injil Matius pada
kesempatan ini besar kandungan rohaninya. Orang diajak mendengarkan kisah
kehadiran Tuhan di dalam kehidupan ini. Menurut Matius, tidak sukar memenuhi
ajakan itu. Yang dibutuhkan ialah sikap khidmat di hadapan Yang Ilahi yang
tampil dalam kehidupan ini dalam macam-macam wujud. Kita ingat pada akhir
Injil Matius, pembicaraan mengenai penghakiman terakhir dipusatkan pada apa
orang berhasil atau tidak melihat kehadiran Tuhan dalam diri sesama.
Begitulah, sejak awal Matius mengajak kita belajar makin peka akan
isyarat-isyarat dari Tuhan sendiri. Dan Yusuf menjadi gambar orang yang
sampai ke sana, dengan segala ketulusan yang membuatnya mampu mendengarkan
khidmat kisah kehadiran Tuhan di dekatnya. Pada kesempatan ini juga kita
mendapat ajakan seperti itu.

Salam hangat,
A. Gianto

Injil Minggu Adven IV / B

Minggu Adven IV/B 18 Des 2011 (Luk 1:26-38 )

Rekan-rekan yang budiman!
Dikisahkan dalam Luk 1:26-38 (Injil Minggu Adven IV/B) bagaimana malaikat
Gabriel diutus ke sebuah kota kecil di Galilea - di sebelah utara Tanah Suci
- kepada Maria yang diperkenalkan dalam Injil sebagai "perawan yang
bertunangan dengan seorang yang bernama Yusuf dari keluarga Daud". Setelah
mengucapkan salam damai, Gabriel memberitakan bahwa seorang anak lelaki akan
lahir dari Maria, dan hendaknya ia dinamai Yesus. Ia akan menjadi besar dan
dinamakan Anak Allah Yang Maha Tinggi dan akan dikaruniai kekuasaan tanpa
akhir. Bagaimana ini mungkin, ia kan belum bersuami? Tak ada yang mustahil
bagi Allah, Gabriel menjelaskan, Elisabet yang sudah lanjut usia pun kini
sudah enam bulan mengandung. Yang terjadi sekarang lebih besar. Anak yang
akan dilahirkan Maria itu akan disebut kudus, Anak Allah, karena Maria akan
dinaungi kuasa Allah dan Roh Kudus akan turun ke atas dirinya.

SAAT-SAAT YANG MENENTUKAN
Marilah sejenak berhenti pada ay. 27 sebelum mendengarkan jawaban Maria
nanti. Dapat kita rasa-rasakan, inilah saat-saat yang paling menegangkan
dalam seluruh peristiwa itu. Memang kita tahu apa jawaban Maria. Juga orang
dulu sudah tahu. Ia mengucapkan kesediaannya dengan tulus (Luk 1:38
"Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu
itu."). Tapi marilah bayangkan, apa yang bisa terjadi seandainya malaikat
Gabriel datang ke pada orang lain? Atau, bagaimana seandainya jawaban Maria
bukan seperti itu? Tentu kelanjutan kisah ini amat berbeda. Tetapi juga tak
akan ada cerita kunjungan Gabriel, dan Injil pun takkan pernah ditulis.
Seluruh warta Injili yang kita kenal sekarang sebenarnya berawal sebagai
kelanjutan kisah ini. Bahkan sejarah kemanusiaan setelah itu akan amat
berbeda. Memang semua "andaikata" di atas itu tidak ada dasarnya samasekali.
Tetapi cara itu membantu untuk menyadari bahwa yang terjadi di Nazaret dua
ribu tahun silam itu bukan perkara yang biasa-biasa saja. Dari saat itu
kemanusiaan mengambil arah baru sampai ke zaman ini. Juga Yang Ilahi masuk
ke dalam kemanusiaan dan belajar merasakan apa itu menderita, apa itu
bergembira, apa itu bergaul dengan orang lain, apa itu "dulu", "kini" dan
"nanti", pendek kata, bisa menyelami bagaimana hidup sebagai manusia yang
katanya semula diciptakan--Nya sebagai gambar dan rupa--Nya. Kalau gambar
ini belum sepenuhnya cocok, kini Ia boleh mencoba memperbaikinya sendiri dan
bukan asal menuntut. Dan semua ini karena seorang gadis di Nazaret itu? Mari
kita lihat dari dekat siapa Maria dalam kisah Lukas ini.

MARIA
Mengapa Lukas menyebutkan dengan lengkap bahwa malaikat Gabriel datang
kepada "seorang perawan yang bertunangan dengan seorang yang bernama Yusuf
dari keluarga Daud. Nama perawan itu Maria." (ay. 27)? Boleh jadi ia merasa
perlu menampilkan profil Maria sebagai tunangan Yusuf, orang keturunan Daud.
Dengan demikian bagi pembaca zaman dulu jelas bahwa berkat kedua orang
itulah nanti Yesus menjadi keturunan Daud dan dengan demikian memang berhak
mendapat kepenuhan janji Tuhan kepada nenek moyang dahulu. Hal ini akan
ditegaskan kembali dalam silsilah Yesus, lihat Luk 3:23-38, khususnya ay.
31. Dengan menyebut Maria dalam kedudukan ini, Lukas ingin mengajak pembaca
melihat bahwa Gabriel memang diutus mendatangi seorang yang memungkinkan
Yesus nanti lahir dalam garis keturunan Daud. Ini yang pokok.

Maria kemudian berkata, bagaimana mungkin ini terjadi, karena ia "belum
bersuami" (ay. 34). Tidak usah kita sangkal bahwa waktu itu Maria memang
masih berpikir dalam ukuran-ukuran yang tidak dipakai Gabriel, atau lebih
tepat, oleh Dia yang mengutusnya. Dan Gabriel pun akan meluruskan pemikiran
Maria. Keterbukaan Maria untuk menerima penjelasan, itulah yang menjadi
kekuatannya. Bukan kesediaan buta mengatakan aku ini cuma hamba dan menurut
saja. Bila hanya itu maka pernyataan dalam ay. 38 tidak akan bertahan lama.
Tak bakal Maria berani menyimpan dalam hati kata-kata Simeon (Luk 2:35)
nanti mengenai pedang yang akan menembus dirinya sendiri ("jiwamu") sendiri
"supaya nyata pikiran hati orang banyak." Maksudnya, Maria akan memperoleh
pemahaman batin yang mendalam - bagai ditembus pedang - juga dengan rasa
nyeri dan dengan demikian bisa memahami pula pemikiran orang banyak.
Tentunya bukan untuk asal mengetahui, melainkan membantu sebisanya.
Selanjutnya, bila kesediaan Maria itu hanya sebatas antusiasme sesaat saja,
ia takkan dapat menimbang-nimbang terus apa maksud kata-kata Yesus kecil
yang diketemukan kembali di Bait Allah (Luk 2:51). Di situ Yesus berkata,
"...bukankah ia harus berada dalam rumah Bapaku?", maksudnya, memikirkan
urusan Allah yang semakin bisa dialami sebagai Bapa itu. Memang arti
kata-kata itu masih gelap. Tetapi Maria tetap menyimpannya dalam hati,
memikir-mikirkan, tidak mendiamkannya begitu saja. Jawaban dalam Luk 1:38
itu dalam bahasa sekarang akan disebut komitmen terhadap Allah. Ikut
mengusahakan agar yang dibuat--Nya bisa berhasil. Dan dalam pandangan
penginjil, ini dijalankannya dengan menerima kehadiran Roh Kudus di dalam
dirinya. Kehadiran itu nanti mengambil ujud sebagai anak yang namanya sudah
diberikan dari atas, seperti dikatakan Gabriel (ay. 31), yakni Yesus,
harfiahnya "Tuhan itu jaya", pertanda ia menjadi penyelamat.

KEJUTAN
Siapa yang tidak terkejut bila tiba-tiba didatangi malaikat? Dan bukan
sebarang malaikat, melainkan Gabriel - pembawa berita ilahi yang namanya
saja sudah menggetarkan: "Allah itu Perkasa". Imam yang bukan sebarangan
imam seperti Zakharia tak terkecuali. Dan itu terjadi di Bait Allah, tempat
yang paling wajar bagi malaikat menampakkan diri dan menyampaikan berita
dari atas sana. Dan toh pengalaman ini mengejutkan baginya. Lebih lanjut
seperti diceritakan Lukas, Zakharia "...terkejut dan menjadi takut" (Luk
1:12). Bagaimana dengan Maria? Ia juga terkejut. Lukas mencatat bahwa
setelah mendengar salam damai dari Gabriel, "Maria terkejut ... , lalu
bertanya di dalam hatinya, apakah arti salam itu." Tidak sama dengan
Zakharia, yang ketika terkejut malah melingkar ketakutan dan hanya melihat
kesulitan belaka. Kali ini Gabriel berhadapan dengan seorang gadis yang
meskipun terguncang batinnya tetap berpijak di bumi dengan dua kaki. Ia
berani bertanya pada diri sendiri, memikirkan apa gerangan yang hendak
disampaikan malaikat Allah Perkasa - Gabriel - yang menggetarkan itu? Dan
kita patut berterima kasih kepada Lukas yang menjajarkan dua reaksi yang
berbeda itu dalam bentuk kisah dan membantu kita semakin mengerti apa yang
sebetulnya terjadi. Terkejut memang bagian dari diri kita, tetapi tak usah
kita biarkan menjadi rasa takut. Lebih positif bila diolah menjadi pemikiran
proaktif, seperti gadis pemberani dari Nazaret itu.

Maria mulai memikirkan dan mencari makna kata-kata sang malaikat. Dan kita
tahu kehidupannya memang kehidupan menemukan arti salam damai Gabriel
kepadanya sekalipun tak selalu gampang jalannya bahkan ada banyak
penderitaan. Dan kemauannya memahami kedatangan Yang Ilahi kepadanya itu
menjadi kekuatannya. Boleh kita bayangkan bahwa Yesus nanti akan banyak
belajar dari seorang ibu seperti itu. Dengan caranya yang khas dan halus
Lukas juga menyebutkannya. Setelah mengatakan bahwa Yesus tetap hidup dalam
asuhan orang tuanya dikatakannya (Luk 2: 52) bahwa Yesus - yang waktu itu
berumur 12 tahun - "makin dewasa dan bertambah hikmatnya dan makin dikasihi
oleh Allah dan manusia".

WARTA
Kepada Maria malaikat Gabriel berkata "Jangan takut...". Kata-kata ini juga
pernah ditujukannya bagi Zakharia. Tapi kepadanya ditambahkan, "sebab doamu
telah dikabulkan" (Luk 1:13; tentunya keinginan Zakharia mendapat
keturunan). Tetapi kepada Maria dijelaskan, "sebab engkau beroleh anugerah
di hadapan Allah." Gabriel mengajar Maria agar semakin berani hidup menurut
jalan yang tak tersangka-sangka tapi bukan asal-asalan. Dengan demikian
Maria akan menemukan anugerah "yang ada di hadapan Allah", yakni pemberian
yang diperhatikan Allah sendiri, yang menjadi kesayangan--Nya sendiri.
Seakan-akan belum cukup. Gabriel menambahkan bahwa wujudnya ialah anak
lelaki dan yang namanya sudah ditentukan dari sana, yakni Yesus. Kini semua
jadi lebih jelas. Karena berada di hadapan Allah, maka sang anugerah itu
juga akan menjadi besar dan dikenal sebagai Anak Allah Yang Maha Tinggi,
artinya orang yang amat dekat dengan--Nya. Gabriel, kendati penampakannya
yang menggentarkan, ialah kekuatan yang dapat membimbing di jalan kehidupan.
Sejak saat itu Maria hidup menyongsong kelahiran Dia yang bakal datang dalam
ujud manusia. Maria adalah "adven" yang hidup.

Uraian Lukas mengenai kedatangan Gabriel kepada Maria bisa dipakai untuk
membaca kembali pengalaman hidup kita masing-masing. Kehadiran yang sering
membuat terkejut itu juga dapat membuat kita makin menyadari dan mendekat
kepada Yang Ilahi sendiri - tentunya bila kita mau mencari tahu dan
menyelami artinya. Seperti Maria.

Salam hangat.
A. Gianto

Injil Minggu Adven III/B

Injil Mingggu Adven III/B 11 Des 2011( Yoh 1:6-8;19-28)

07 Desember 2011 09:32

Rekan-rekan yang baik!
Seperti Minggu lalu, Injil bagi Minggu Adven III/B kali ini ( Yoh
1:6-8;19-28) hampir seluruhnya berbicara mengenai Yohanes Pembaptis. Namun
kali ini yang ditonjolkan ialah kesaksiannya. Pertama-tama ia ditampilkan
sebagai yang diutus Yang Maha Kuasa untuk menjadi saksi bagi "terang"
meskipun ia bukan terang itu sendiri (ay. 6-8). Kepada orang-orang yang
datang kepadanya Yohanes menegaskan bahwa dirinya bukan Mesias, bukan Elia,
bukan nabi, melainkan orang yang berseru-seru di padang gurun menghimbau
agar jalan bagi Tuhan diluruskan (ay. 19-23). Juga tegas-tegas ia menyatakan
dirinya tak pantas melepas tali sandal dia yang bakal datang ini (ay. 27).
Seperti diuraikan Minggu lalu, ungkapan ini berarti Yohanes merasa tidak
patut menjalankan urusan yang menjadi hak dia yang akan datang itu. Yohanes
membantu orang mengungkapkan niatan untuk hidup bersih menyongsong dia yang
akan datang.

MENUMBUHKAN HARAPAN

Yohanes Pembaptis memang tokoh yang sudah sedemikian dikenal sebelum orang
mulai mendengar tentang Yesus. Banyak orang datang kepadanya. Warta serta
tindakannya amat komunikatif. Maklum, suasana di tanah suci waktu itu terasa
semakin tak menentu. Zaman edan. Ada krisis identitas nasional. Ajaran nenek
moyang bahwa mereka bangsa terpilih makin menjauh dari kenyataan
sehari-hari. Juga usaha menyegarkan kembali kepercayaan itu tak banyak
berhasil. Kata-kata para nabi terdengar makin lirih, makin jauh. Orang makin
kecewa, apatis. Orang merasa semakin menjadi mangsa kekuatan-kekuatan yang
menghimpit cita-cita mereka sebagai umat Tuhan. Harapan satu-satunya yang
masih memberi mereka pandangan ke depan ialah Mesias yang bakal datang. Yang
Terurapi, utusan Yang Maha Kuasa akan datang untuk memimpin mereka.
Kedatangannya juga akan mengakhiri zaman ini dan mengawali era baru. Itulah
saatnya bangsa terpilih akan dipimpin sang Mesias baru ini ke dalam Tanah
Terjanji surgawi. Mereka yang tidak ada bersama mereka akan binasa bersamaan
dengan kiamat. Begitulah ringkasnya alam pikiran yang kerap pula disebut
"mesianisme apokaliptik".

Ada orang-orang yang mulai menjalani hidup bertapa menyepi di padang gurun.
Beberapa tulisan dari masa itu menyebut mereka kaum Esseni. Banyak dari
mereka yang hidup di pertapaan sekitar Laut Mati. Salah satu di antaranya
ialah komunitas Qumran yang dikenal kembali dari penemuan arkeologi sejak
tahun 1947. Mereka hidup menantikan Mesias dan mengusahakan diri agar siap
menghadapi bagi peristiwa besar yang bakal datang itu. Yohanes Pembaptis ada
dalam gerakan kerohanian ini walau ia tidak memutuskan hubungan dengan dunia
luar. Ia malah membantu banyak orang agar semakin dapat memusatkan perhatian
kepada yang mereka nanti-nantikan itu.

MENANTIKAN MESIAS

Dalam tradisi Perjanjian Lama ada kepercayaan bahwa nabi besar Elia, yang
dalam 2Raj 2:1-18 diceritakan diangkat naik ke surga, akan datang kembali.
Ada pula anggapan, seperti tercermin dalam Mal 4:5, bahwa kedatangan Elia
kembali nanti itu menandai akhir zaman yang diawali oleh Mesias segera tiba.
Dalam Mrk 1:6 dan Mat 3:4, Yohanes digambarkan berpakaian jubah bulu dan
ikat pinggang kulit, mirip dengan cara berpakaian Elia yang disebutkan 2Raj
1:8. Memang Yohanes Pembaptis sering dianggap Elia yang kini telah kembali
ke dunia. Pandangan ini kiranya hidup di dalam umat Injil Sinoptik (Mrk, Mat
dan Luk). Injil Yohanes lain. Di situ sang Pembaptis justru menyangkal
pendapat bahwa dirinya ialah Elia yang datang kembali (Yoh 1:21)

Sudut pandang yang berbeda ini menggambarkan dinamika perkembangan gagasan
mengenai akhir zaman. Pada mulanya memang besar anggapan bahwa akhir zaman
segera akan tiba. Kemudian semakin disadari bahwa peristiwa itu baru akan
terjadi jauh di masa depan. Yang penting ialah masa kini ini. Perkembangan
selanjutnya ialah tidak lagi menghitung-hitung kapan akhir zaman itu tiba.
Dalam Injil Yohanes, gagasan yang menyibukkan perhatian orang itu dikatakan
sudah terjadi. Era baru dengan kehadiran terang ilahi di dunia inilah zaman
akhir jagat. Tidak lagi perlu memikirkan kapan, di mana, dan bagaimana.
Sudah hadir dan kini sedang membuat kegelapan tersingkir. Yang perlu ialah
menerimanya. Inilah pandangan Injil Yohanes.

"MARTYRIA" YOHANES

Yohanes Pembaptis ditampilkan oleh Injil Yohanes lebih sebagai tokoh yang
memberikan "martyria", yaitu kesaksian mengenai siapa Yesus itu. Injil ini
tidak memakai sebutan "Pembaptis" baginya, karena yang ditonjolkan ialah
perannya memberi kesaksian mengenai siapa Yesus itu.

Apa kesaksian Yohanes? Tokoh yang dikenal banyak orang itu disebut sebagai
yang datang diutus Tuhan untuk memberi kesaksian akan terang yang sudah
bersinar dalam kegelapan. Ditandaskan bahwa ia bukan terang itu sendiri.
Dari penjelasan di muka mengenai latar belakang zaman itu, maka amat
berartilah penegasan bahwa ada "terang bercahaya dalam kegelapan, dan
kegelapan tidak menguasainya" (Yoh 1:5) Apakah orang-orang langsung
menerimanya dan mempercayainya? Bacaan hari ini mulai dengan kedua ayat
berikutnya. Yohanes diutus untuk menjadi saksi bagi terang itu agar dengan
demikian orang mulai percaya kepada terang itu sendiri. Dan dalam bagian
kedua Injil hari ini (Yoh 1:18-28) dijelaskan lebih lanjut kesaksiannya itu.


Pertama-tama ada serangkaian pernyataan negatif. Yohanes bersaksi bahwa (1)
ia bukan Mesias, yaitu orang yang resmi diutus Tuhan kepada umatNya untuk
menuntun mereka kembali kepadaNya, (2) ia bukan juga Elia, artinya ia bukan
menjadi pertanda bahwa akhir zaman sudah di ambang pintu. Ia menyatakan diri
bukan pula sebagai nabi yang pada waktu itu dipercaya sebagai orang yang
menyadarkan orang bahwa akhir zaman akan segera terjadi.

Dengan penyangkalan itu ia membuat orang mulai kritis terhadap
harapan-harapan saleh yang sudah menjadi gaya berpikir pada masa itu. Apakah
harapan seperti itu sebetulnya bukan hanya impian yang menjauhkan orang dari
kenyataan? Kecenderungan untuk melarikan diri ke dalam janji-janji dan rasa
aman yang diberi warna agama memang ada di mana-mana di sepanjang zaman,
terutama di masa-masa sulit. Orang-orang berdatangan menemui Yohanes belum
tentu dengan maksud untuk belajar darinya. Banyak yang datang kepadanya
untuk mendengarkan harapan-harapan mereka sendiri. Tetapi Yohanes tidak
meninabobokan mereka.

Kemudian Yohanes menegaskan diri sebagai suara orang yang berseru-seru di
padang gurun, tempat dulu umat Perjanjian Lama hidup dalam bimbingan Tuhan
sendiri, tetapi yang kini terasa tidak lagi banyak artinya. Hubungan dengan
Tuhan terasa sudah amat renggang. Tetapi justru dalam keadaan itu terdengar
Yohanes yang berseru "Luruskanlah jalan Tuhan!" Seperti dalam Yes 40:3,
seruan itu bukan ditujukan kepada manusia, melainkan kepada
kekuatan-kekuatan surga. Mereka sendiri akan menyiapkan kedatangan Tuhan.
Yang diharapkan dari manusia ialah membiarkan diri dibimbing. Dan Yohanes
mengajak orang menghidupi iman ini, bukan membuai diri dengan
harapan-harapan saleh akan kedatangan seorang Mesias menurut idealisme
mereka sendiri.

Yohanes juga menjelaskan kepada orang-orang yang bertanya mengapa ia
membaptis. Ia berkata, yang mereka harap-harapkan itu sudah datang. Terang
sudah bersinar, hanya perlu mengenalinya! Itulah puncak kesaksiannya.

"MARTYRIA" GEREJA DI INDONESIA

Kesaksian Yohanes dapat menjernihkan batin orang zaman ini,. Juga dapat
menumbuhkan kekuatan baru. Batin orang dipenuhi dengan macam-macam
pengharapan dan niatan. Juga dengan pelbagai gambaran mengenai tokoh-tokoh
besar. Pimpinan Gereja, pendiri tarekat, santo pelindung, pembimbing
rohani.... Para tokoh panutan ini akan semakin mendekatkan ke inti kehidupan
batin bila dihayati sebagai "martyria" atau kesaksian seperti yang
dijalankan Yohanes. Ada gunanya mendalami perutusan yang mereka jalani
mereka sebagai perutusan Yohanes: mempersaksikan bahwa terang sudah
menyinari kegelapan.

Gereja di Indonesia menyatakan diri mau membangun keadaban baru yang tidak
membiarkan kesetujuan-kesetujuan dasar dalam hidup bermasyarakat semakin tak
jelas, semakin suram. Semua orang berkemauan baik diajak membangun wahana
terang yang baru bagi kehidupan bersama. Itulah "martyria" Gereja di
Indonesia.

Salam hangat,
A. Gianto

INJIL MINGGU ADVEN II/B


Minggu Adven II th B 4 Des 2011 (Mrk 1:1-8)

MEMBUKA JALAN BAGINYA

Rekan-rekan,
Injil Minggu Adven II kali ini, yakni  Mrk 1:1-8, hampir seluruhnya
berbicara mengenai Yohanes Pembaptis, tokoh yang sudah sejak lama
dinubuatkan menjadi utusan yang mempersiapkan jalan bagi datangnya Tuhan.
Orang-orang dari seluruh daerah Yudea dan penduduk Yerusalem mendatanginya
di padang gurun minta dibaptis olehnya sebagai tanda bertobat demi
pengampunan dosa. Di mata orang banyak ia juga dikenal sebagai nabi. Uraian
mengenai Yohanes Pembaptis sebenarnya dimaksud guna menyoroti siapa yang
akan datang nanti, yakni Yesus. Dia ini tokoh yang jauh lebih besar yang
diumumkan oleh Yohanes sendiri. Marilah kita simak bagaimana Markus
mengutarakan hal ini

INJIL "DARI" DAN "TENTANG" YESUS

Dalam Mrk 1:1, kata "Injil" sebenarnya dipakai dengan makna ganda. Makna
biasa kata itu ialah berita yang melegakan, berita yang menggembirakan,
kebalikan dari berita yang membuat orang sedih, tegang dan kusut pikirannya.
Markus kiranya bermaksud menunjukkan bagaimana Yesus membuat pikiran dan
hati banyak orang serasa "plong", lepas dari ganjalan-ganjalan. Akan
diceritakannya bagaimana Yesus ini menyembuhkan orang sakit, mengusir
kekuatan jahat, mengajar siapa Allah itu, memilih murid, dan oleh karena
semua itu diikuti banyak orang. Itulah cara Markus memperkenalkan Yesus.
Tindakan serta ajarannya menjawab pertanyaan-pertanyaan serta keinginan
dasar yang ada dalam diri orang pada waktu itu tapi juga pada zaman dan
tempat lain.

Namun kata "Injil" bagi para pengikut Yesus pada zaman Markus juga sudah
mulai dipakai dalam arti "kabar baik" mengenai diri Yesus. Diberitakan di
kalangan para pengikut Yesus bahwa ia yang tadinya disalibkan, wafat, dan
dimakamkan itu telah bangkit dari kematian dan kini hidup dan akan datang
lagi dalam kemuliaannya pada akhir zaman. Kabar baik inilah yang membuat
para murid pertama terus menghidupi kepercayaan mereka dan mewartakannya
kepada banyak orang lain. Jadi kalimat pertama Injil Markus itu menunjuk
pada dua hal sekaligus, yakni asal mulanya "berita yang melegakan" yang
dibawakan Yesus serta "berita yang menggembirakan" mengenai dirinya. Pembaca
diajak mendalami kedua-duanya.

Yesus ditampilkan dengan gelar Kristus dan Anak Allah. Yang pertama berarti
Yang Diurapi, yakni Mesias, tokoh yang resmi diangkat Yang Maha Kuasa
sendiri untuk mengerjakan urusanNya di dunia ini. Orang Yahudi pada masa itu
amat mengharapkan datangnya tokoh seperti ini. Ia juga disebut sebagai yang
amat dekat dan akrab dengan keilahian sendiri, dalam bahasa Kitab Suci,
"Anak Allah". Maksudnya, ia mengerti yang dikehendaki oleh Allah dan patuh
menjalankannya. Kini tokoh ini membawakan kabar yang melegakan orang banyak.
Berita mengenai kedatangan tokoh ini sendiri juga menjadi kabar yang membuat
lega orang pula. Jadi yang disampaikan dalam kalimat pertama Injil Markus
itu ialah Berita Baik mengenai dia (Injil dalam kedua makna tadi) yang resmi
mendapat tugas membawa kembali kemanusiaan kepada Yang Ilahi (Kristus)
sebagai orang yang amat dekat dengan Yang Ilahi sendiri (Anak Allah)."

Tentu saja orang akan bertanya-tanya bagaimana bisa ada tokoh sehebat itu.
Ayat-ayat berikutnya, yakni ay. 2-8, memberi penjelasan dengan menampilkan
seorang tokoh lain yang waktu itu sudah amat dikenal, yakni Yohanes
Pembaptis.

MEMBUKA JALAN
Yohanes Pembaptis bukan sebarang tokoh. Pertama-tama, dalam ingatan orang
zaman itu, dia ialah tokoh suci yang mempesona orang banyak. Mereka datang
meminta nasihat, mencari kejernihan batin di tempat ia tinggal, yakni di
padang gurun. Mereka datang kepadanya minta dibaptis (ay. 4-5) dan dengan
tindakan itu orang mengungkapkan diri bertobat dan siap mendapat pengampunan
dosa. Kedua, dalam bayangan orang pada masa itu, Yohanes juga tampil seperti
seorang nabi (ay. 6). Dan ketiga dan yang terutama, Yohanes itu diutus oleh
Tuhan sendiri untuk "mendahului" serta "mempersiapkan jalan" (ay. 2b; hasil
paduan Kel 23:20 dan Mal 3:1). Seolah-olah belum cukup, maka menyusul
kutipan dari Yes 40:3 yang mempertegas siapa utusan ini. Dia adalah orang
yang berseru-seru di padang gurun meminta agar yang mendengar mempersiapkan
jalan bagi Tuhan dan meluruskannya bagiNya. Apa yang dimaksud akan dikupas
lebih lanjut di bawah.

Tokoh yang sedemikian mengesan ini ternyata malah memberitakan kedatangan
orang yang lebih berkuasa (ay. 7). Tentu orang-orang bertanya-tanya siapa
itu. Pembaca dulu pun sudah tahu, yang dimaksud ialah Yesus sendiri. Tetapi
dalam kisah ini orang-orang yang mendengarkan kata-kata itu belum menggagas
siapa yang sedang dibicarakan sang Pembaptis. Rasa ingin tahu orang banyak
makin besar. Ia menambahkan bahwa membungkuk untuk melepaskan tali sandal
orang yang sedang diwartakannya itu saja ia merasa dirinya kurang pantas
(ay. 8). Siapa gerangan tokoh yang lebih besar daripadanya?

Ungkapan membungkuk melepaskan tali sepatu tidak hanya berarti penghormatan
kepada orang yang dihadapi. Ada pula arti yuridisnya. Marilah kita tengok
Rut 4:7 yang menjelaskan kebiasaan di masa lampau: "Beginilah kebiasaan
dahulu di Israel dalam hal menebus dan menukar: setiap kali orang hendak
menguatkan suatu perkara, maka yang seorang menanggalkan kasutnya sebelah
dan memberikannya kepada yang lain. Demikianlah caranya orang mengesahkan
perkara di Israel." Di dalam kitab Rut, tanah milik keluarga Naomi dan
menantunya, Rut hanya bisa dijual kepada sanak dekat yang menurut hukum adat
berhak membelinya. Namun orang ini resmi melepaskan haknya sehingga Boas
bebas membeli tanah janda dan menantu itu dan mengurus mereka. Sanak dekat
tadi melepas kasutnya (Rut 4:8) sebagai tanda pelepasan haknya. Kembali ke
kata-kata Yohanes. Dengan latar belakang kebiasaan tadi, maka kata-katanya
bukan sekedar basa-basi melainkan pengakuan bahwa dirinya tidak layak
menindakkan hal yang membuat Yesus melepaskan haknya. Apa yang dimaksud
dengan hak Yesus? Tak lain tak bukan ialah membawakan baptisan dalam Roh
Kudus dan mendekatkan kembali keilahian kepada manusia. Yohanes Pembaptis
hendak mengatakan dalam bahwa yang dijalankannya ialah membaptis dengan air
- itulah yang bisa dilakukannya untuk menyadarkan orang banyak. Namun untuk
sungguh membawakan yang di atas sana kepada manusia? Ah itu hak dia yang
lebih berkuasa yang bakal datang, yang akan membaptis dengan Roh Kudus.
Orang banyak yang mendengar pernyataan itu dengan segera akan semakin
bertanya-tanya siapakah dia yang dibicarakan ini? Perhatian pembaca Injil
akan beralih dari Yohanes Pembaptis kepada dia yang diwartakannya.

SERUAN DI PADANG GURUN
Kutipan dari Yes 40:3 dalam Mrk 1:3 menjadi makin besar artinya bila ikut
disimak konteksnya dalam tulisan Yesaya sendiri, yaitu Yes 40:1-2 yang ikut
diperdengarkan dalam bacaan pertama hari ini: "Hiburkanlah, hiburkanlah
umatKu, demikian firman Allahmu...." Begitulah sang nabi menyampaikan
perintah yang difirmankan Allah kepada kekuatan-kekuatan surgawi menghibur
umat Israel yang waktu itu berada dalam pembuangan di Babilonia. Umat tak
perlu berkecil hati, yang terburuk sudah lewat. Yang perlu kini ialah
melihat ke depan, kembali pulang ke negeri sendiri, melewati padang gurun.
Seperti ketika Allah menuntun nenek moyang mereka keluar dari Mesir lewat
padang gurun dulu, kini Allah yang sama akan memimpin umatNya kembali.

Dalam Yes 40:3 sang nabi menyebut diri sebagai suara yang berseru-seru
menyampaikan kepada kekuatan-kekuatan tadi agar mereka juga mempersiapkan
jalan, meluruskan lorong-lorongnya, meratakannya bagi perjalananNya bersama
umatNya ini. Itulah gagasan dasar dalam bacaan pertama sebagaimana ada dalam
Kitab Yesaya. Bagi Markus, suara yang berseru-seru itu ialah Yohanes
Pembaptis. Dengan demikian Yohanes ditampilkan Markus sebagai nabi yang
mengenali suara ilahi dan kehendakNya dan berani menyerukannya kepada
balatentara surgawi tadi. Orang-orang berdatangan kepadanya di padang gurun
mencari petunjuknya. Yohanes menyeru, sekali lagi dalam pemikiran Markus,
kepada kekuatan-kekuatan surgawi untuk menyiapkan jalan bagi mereka ini agar
nanti dapat kembali lewat jalan yang lebar, lurus, rata bersama dengan dia
yang kini akan menuntun mereka kembali....yaitu yang diumumkan
kedatangannya. Dia yang jauh lebih besar.

Markus memperkenalkan Yesus lewat tokoh yang dalam anggapan umum dapat
mengenali gerak gerik ilahi dan tetap membiarkannya bertindak menurut
kehendakNya. Dia itulah Yohanes Pembaptis. Kisah ini kisah bagi hidup batin,
bukan cerita tentang seorang yang membaptis di padang gurun. Bila ditangkap
dalam arti itu maka kesaksiannya membantu orang pada zaman lain. Yohanes
Pembaptis ada dalam diri tiap orang yang dengan tulus menantikan Yang Ilahi
datang membimbing hidup orang beriman.

Sampai lain kali,
A. Gianto