Featured Post

Berterima Kasih Atas Segala Hal

Seorang anak kecil usia 4 tahun diminta untuk berterima kasih saat doa sebelum makan malam Natal. Para anggota keluarga menundukkan kepala...

Injil Misa Natal 2012

Injil Misa Natal (Luk 2:1-14; Luk 2:15-20;Yoh 1:1-18)

SELAMAT NATAL!

Rekan-rekan yang baik!

Dalam tradisi Gereja Katolik ritus Latin, Natal dirayakan dengan tiga Misa
Kudus yakni Misa Malam Natal 24 Desember, kemudian Misa Fajar 25 Desember
pagi , dan akhirnya Misa Siang. Ketiga perayaan itu melambangkan tiga sisi
kenyataan lahirnya Sang Penyelamat Dunia. Pertama, kelahirannya sudah
terjadi sejak awal, yakni dalam kehendak Bapa di surga untuk mengangkat
martabat kemanusiaan ke dekatnya. Kenyataan kedua terjadi ketika Yesus lahir
dari kandungan Maria. Dan kenyataan ketiga, kelahiran Kristus secara rohani
di dalam kehidupan orang beriman. Bacaan Injil dalam ketiga Misa Natal
tersebut sejajar dengan tiga kenyataan tadi. Dalam Misa malam hari dibacakan
Luk 2:1-14 yang menceritakan Maria melahirkan di Betlehem, kemudian dalam
Misa fajar diperdengarkan Luk 2:15-20 yang mengabarkan lahirnya Kristus di
dalam kehidupan orang beriman yang pertama, yakni para gembala. Akhirnya,
dalam Injil Misa siang hari, Yoh 1:1-18, ditegaskan bahwa sang Sabda ini
sudah ada sejak semula. Pembicaraan kali ini akan menggarisbawahi ketiga
kenyataan peristiwa kelahiran Kristus itu.

INJIL MISA MALAM HARI: Luk 2:1-14

Seperti dikisahkan dalam ay. 1-3, Yusuf dan Maria pergi ke Betlehem untuk
mematuhi maklumat umum Kaisar Augustus yang mewajibkan orang mencatatkan
diri di kampung halaman leluhur. Sekalipun tidak ada arsip sejarah yang
membuktikan bahwa maklumat seperti itu pernah dikeluarkan Kaisar Augustus,
dapat dikatakan bahwa hal seperti itu bukannya tak mungkin. Di sini Lukas
mempergunakannya sebagai konteks kisah kedatangan Yusuf dan Maria ke
Betlehem. Ini juga cara Lukas mengatakan bahwa Tuhan bahkan memakai pihak
bukan-Yahudi untuk menjelaskan bagaimana Yesus tetap lahir di Yudea, tempat
asal kaum Daud, dan bukan di Nazaret. Kelembagaan Yahudi sendiri kiranya
tidak cukup. Bahkan lembaga itu sudah tak banyak artinya lagi. Seperti
banyak orang asli Yudea lain, Yusuf dan Maria termasuk kaum yang
"terpencar-pencar" hidup dalam diaspora di daerah bukan asal. Ironisnya,
yang betul-betul masih bisa memberi identitas "orang Yudea" kini bukan lagi
ibadat tahunan di Yerusalem, melainkan cacah jiwa yang digariskan penguasa
Romawi.

Dalam ay. 4-5 disebutkan bahwa Yusuf pergi dari Nazaret ke Yudea "agar
didaftar bersama-sama dengan Maria, tunangannya yang sedang mengandung".
Dengan cara ini mereka nanti akan resmi tercatat sebagai suami-istri di
Yudea. Oleh karena itu, Yesus juga secara resmi bakal tercatat sebagai
keturunan Daud, baik bagi orang Yahudi maupun bagi administrasi Romawi.
Dengan demikian, Lukas sedikit menyingkap apa yang nanti akan diutarakannya
dengan jelas dalam Kisah Para Rasul, yakni kedatangan Juru Selamat bukanlah
melulu bagi orang Yahudi, melainkan bagi semua orang di kekaisaran Romawi,
bahkan bagi semua orang di jagat ini. Malahan bisa dikatakan bahwa justru
kehadiran orang bukan Yahudi-lah yang membuatnya betul-betul datang ke dunia
ini! Kita-kita ini, sekarang ini juga, masih ikut membawanya datang ke
dunia.

Menurut ay. 7, Maria melahirkan anak lelaki, anaknya yang sulung. Penyebutan
"anak sulung" ini terutama dimaksud untuk menggarisbawahi makna yuridis,
bukan biologis. Anak sulung memiliki hak yang khas yang tak ada pada
saudara-saudaranya. Dalam hal ini hak sebagai keturunan Daud dengan semua
keleluasaannya. Oleh karena itu, ia juga nanti dapat mengikutsertakan siapa
saja untuk masuk dalam keluarga besarnya. Anak bukan sulung tidak memiliki
hak seperti ini.

Sang bayi yang baru lahir itu kemudian dibungkus dengan lampin dan
dibaringkan dalam palungan. Ditambahkan pada akhir ay. 7 "karena tidak ada
tempat bagi mereka di rumah penginapan". Bukan maksud Lukas mengatakan bahwa
mereka tidak dimaui di mana-mana. Tempat-tempat yang biasa sudah penuh para
pengunjung yang mau mendaftarkan diri menurut maklumat Kaisar Augustus.
Mereka akhirnya menemukan tempat umum yang biasa dipakai tempat istirahat
rombongan karavan bersama hewan angkutan mereka. Semacam stasiun zaman dulu.
Tempat-tempat seperti ini memiliki beberapa kelengkapan dasar, misalnya
palungan tempat menaruh makanan bagi kuda atau hewan tunggangan. Sekali lagi
ini cara Lukas mengatakan kelahiran Yesus ini terjadi di tempat yang bisa
terjangkau umum. Tempat seperti itulah tempat bertemu banyak orang. Maka
dari itu, nanti para gembala dapat dengan cepat mendapatinya.

Kelahiran Yesus yang diceritakan sebagai kejadian sederhana seperti di atas
itu nanti dalam Luk 2:8-14 diungkapkan para malaikat kepada para gembala.
Mereka amat beruntung bisa menyaksikan perkara ilahi dan perkara duniawi
dalam wujud yang sama. Orang diajak melihat bahwa yang terjadi sebagai
kejadian lumrah belaka itu ternyata memiliki wajah ilahi yang mahabesar.
Bala tentara surga, para malaikat menyuarakan pujian kepada Allah. Dia yang
Mahatinggi kini menyatakan diri dalam wujud yang paling biasa bagi semua
orang. Apa maksudnya? Kiranya Lukas mau mengatakan bahwa orang-orang yang
paling sederhana pun dapat merasakan kehadiran Yang Ilahi dalam peristiwa
yang biasa tadi. Dan bahkan mereka bergegas mencari dan menemukan kenyataan
duniawi dari kenyataan ilahi yang mereka alami tadi.

Pengalaman rohani yang paling dalam juga dapat dialami orang sederhana. Oleh
karena itu, orang dapat melihat kehadiran Tuhan dalam peristiwa biasa.
Sebuah catatan. Arah yang terjadi ialah dari atas, dari dunia ilahi ke dunia
manusia, bukan sebaliknya. Kita tidak diajak mencari-cari dimensi ilahi
dalam tiap perkara duniawi. Ini bisa mengakibatkan macam-macam masalah dan
keanehan. Yang benar ialah mengenali perkara duniawi yang memang memiliki
dimensi ilahi. Ada banyak perkara duniawi yang tidak memilikinya. Dalam arti
itulah warta para malaikat kepada para gembala dapat membantu kita menyikapi
dunia ini. Misteri inkarnasi ialah kenyataan yang membuat orang makin peka
akan kenyataan duniawi yang betul-betul menghadirkan Yang Ilahi, bukan tiap
kenyataan duniawi.

INJIL MISA FAJAR: Luk 2:15-20

Yang diberitakan malaikat Tuhan kepada para gembala (ay. 10-12) kini mereka
teruskan kepada orang-orang yang ada di sekitar palungan (ay. 15). Boleh
kita bayangkan, di tempat umum di sekitar palungan itu ada banyak orang lain
yang juga menginap di situ. Mereka sedang menolong keluarga baru ini.
Mendengar kata-kata para gembala mengenai warta malaikat tadi, semua orang
ini menjadi terheran-heran (ay. 18). Bagi mereka bayi yang dilahirkan ibu
muda ini biasa saja. Tapi apa para gembala ini menjelaskan hal yang luar
biasa yang sedang terjadi kini! Para gembala itulah orang-orang yang
pertama-tama memberi arti rohani bagi peristiwa kelahiran tadi. Mereka itu
juga pewarta kedatangan Penyelamat yang bukan orang-orang yang secara khusus
berhubungan dengan  Allah seperti halnya Maria atau Yohanes Pembaptis ketika
masih ada dalam kandungan. (Katakan saja, para gembala itulah para teolog,
para ahli kristologi generasi awal, yang mampu memukau perhatian orang. Guru
Besar mereka ialah para malaikat dan semua bala tentara surgawi.)

Satu catatan. Disebutkan dalam ay. 15 "... gembala-gembala itu berkata satu
kepada yang lain, 'Marilah sekarang kita pergi ke Betlehem untuk melihat
....'" Kepada siapa kata-kata itu ditujukan? Dalam bacaan teks yang biasa,
jelas ajakan itu ditujukan kepada satu sama lain. Namun demikian, bacaan
teks ini juga tertuju kepada pembaca. Teks ini membuat siapa saja yang
membaca atau mendengarkannya merasa diajak gembala-gembala tadi bersama
pergi dengan mereka ke Betlehem menyaksikan kebesaran ilahi dalam wujud yang
membuat orang mulai bersimpati kepada Tuhan. Lukas kerap memakai teknik
berbicara seperti ini. Dengan memakai bentuk percakapan - bukan hanya dengan
cerita - Lukas membuat pembaca merasa seolah-olah ikut hadir di situ. Dan
pada saat tertentu ajakan akan terasa ditujukan bagi pembaca juga.

Yang hadir dalam pembacaan Injil Misa fajar bisa pula merasakannya. Dan bila
itu terjadi, warta petikan Injil Misa Fajar akan menjadi makin hidup. Orang
diajak para gembala yang telah menyaksikan kebesaran Tuhan untuk ikut pergi
mencarinya "di Betlehem", di tempat yang kita semua tahu, yang dapat
dicapai, bukan di negeri antah-berantah. Warta Natal Lukas tak lain tak
bukan ialah pergi mendapati dia yang lahir di tempat yang bisa dijangkau
siapa saja - di "Betlehem" - boleh jadi dalam diri orang yang kita cintai,
boleh jadi dalam kehidupan orang-orang yang kita layani, dalam diri
orang-orang yang membutuhkan kedamaian, atau juga dalam diri kita sendiri
yang diajak ikut menghadirkannya. Ini bisa memberi arah baru dalam
kehidupan. Betlehem bisa bermacam-macam wujud dan macamnya, namun satu hal
sama. Di situlah Tuhan diam menantikan orang datang menyatakan simpati
kepada-Nya. Adakah perkara lain yang lebih menyentuh?

INJIL MISA SIANG: Yoh 1:1-18

Pembukaan Injil Yohanes ini sarat dengan makna. Dikatakan dalam kedua ayat
pertama "Pada mulanya adalah Firman dan Firman itu bersama-sama dengan
Allah. Dan Firman itu adalah Allah. Ia pada awal mulanya ada bersama dengan
Allah" (Yoh 1:1-2). Guna memahaminya, orang perlu mengingat Kisah Penciptaan
menurut tradisi dalam Kej 1:1-2:4a. Di situ dikisahkan bahwa pada awalnya
Tuhan menjadikan terang dengan memfirmankannya. Firman-Nya (yakni "jadilah
terang!") menjadi kenyataan, yakni terang. Dan begitu selanjutnya hingga
ciptaan yang paling akhir, yakni umat manusia (dengan memakai gaya bahasa
merismus "laki-laki dan perempuan") yang diberkati dan diberi wewenang
mengatur jagat ini sebagai wakil Tuhan Pencipta sendiri.

Terjemahan ay. 1 "Dan Firman itu Allah" ialah terjemahan harfiah kalimat
Yohanes "kai theos een ho logos". Kalimat Yunani seperti itu sebetulnya
bukan hendak menyamakan Firman dengan Tuhan. Alih bahasa yang lebih dekat
dengan maksud Yohanes boleh jadi demikian: "keilahian itu adalah Firman".
Kata "theos" dipakai tanpa artikel atau kata sandang di sini tampil dalam
arti keilahian. Pemakaian seperti ini maksudnya untuk menekankan bahwa yang
sedang dibicarakan, yakni Firman itu memiliki bagian dalam keilahian. Dengan
demikian juga hendak dikatakan bahwa keilahian yang kerap terasa jauh dan
menggentarkan belaka itu kini mulai dekat dan dapat didengarkan, membiarkan
diri dimengerti, dikaji, dipikir-pikirkan, dan dengan demikian ikut di dalam
kehidupan manusia. Itulah maksud Yohanes. Oleh karena itu, juga tidak
mengherankan bila dalam Yoh 1:3 ditegaskan tak ada yang ada di jagat ini
yang dijadikan tanpa Firman. Tak ada yang tak berhubungan denganNya.
Hubungan ini tetap ada sekalipun dianggap sepi, disangkal, tidak
diperhatikan. Selanjutnya, dalam ay. 4 ditegaskan bahwa ia itu kehidupan dan
kehidupan itu adalah terang bagi manusia. Dalam Kisah Kejadian tadi, terang
menjadi ciptaan pertama yang mendasari semua yang ada.

Bagi Yohanes, kata "dunia" (ay. 9, 10) mengacu pada tempat beradanya
kekuatan-kekuatan gelap yang melawan kehadiran ilahi (lihat ay. 5). Ke
tempat seperti inilah terang ilahi tadi bersinar dan terangnya tak
dikalahkan oleh kekuatan-kekuatan gelap. Yohanes menghubungkan peristiwa
kelahiran Yesus sebagai kedatangan terang ilahi ke dunia ini. Dengan latar
Kisah Penciptaan maka jelas kelahiran Yesus itu ditampilkan Yohanes sebagai
tindakan yang pertama dalam karya penciptaan Tuhan. Namun demikian, arah
tujuan pembicaraan Yohanes bukan sekadar menyebut itu. Penciptaan ini
dimaksud untuk menghadirkan Tuhan Pencipta. Bukan sebagai Tuhan yang
kehadiran-Nya harus diterjemahkan terutama dalam wujud hukum-hukum agama,
seperti hukum Taurat, melainkan sebagai Bapa yang mengasalkan kehidupan
manusia, yang menyapa manusia dengan Firman yang membawakan kehidupan.

Bagi zaman ini, akan besar maknanya bila dikatakan bahwa iman akan kelahiran
Kristus di dunia ini ialah kelanjutan kepercayaan bahwa Allah terus
menciptakan jagat beserta isinya. Firman-Nya kuat. Terangnya tak terkalahkan
meskipun banyak yang menghalangi. Artinya, yang menganggap ciptaan ini buruk
dan gelap belaka dan memperlakukannya dengan buruk boleh jadi sudah mulai
memisahkan diri dari Dia, sumber terang itu sendiri, dan akan tersingkir
sendiri. Tetapi mereka yang percaya bahwa jagat ini dapat menjadi baik dan
ikut mengusahakannya sebetulnya memilih ada bersama Dia.

Salam hangat,
A. Gianto

No comments:

Post a Comment