Featured Post

Ulasan Eksegetis Bacaan Kitab Suci Minggu Biasa 24 A 2017

By A. Gianto on September, 2017 Jendela Alkitab, Mingguan Rekan-rekan yang budiman, Injil kembali berbicara mengenai pengampunan....

Ulasan Injil Minggu 20 Agustus 2017 - Permintaaan Sang Perempuan Kanaan

By A. Gianto on August, 2017

Permintaaan Sang Perempuan Kanaan

BACAAN Injil kali ini (Mat 15:21-28) mengisahkan perjumpaan Yesus dengan seorang perempuan Kanaan yang memohonkan penyembuhan anak perempuannya. Pada awalnya Yesus tidak menanggapi. Mengapa ia bersikap demikian? Akan dibicarakan lebih jauh di bawah. Tapi perempuan itu tadi tetap meminta dan mengikuti Yesus. Murid-muridnya pun merasa kesal dan menyarankan kepada Yesus agar menyuruh perempuan tadi pergi. Terjadi pembicaraan antara Yesus dan perempuan tadi yang berakhir dengan pujian Yesus akan iman sang perempuan dan saat itu juga anak perempuannya sembuh. Bagaimana mendalami warta kisah ini?

Wilayah Tirus Dan Sidon

Disebutkan pada awal bahwa Yesus pergi menyingkir ke daerah Tirus dan Sidon (Mat 15:2). Daerah ini letaknya di pesisir utara (sekarang Lebanon selatan), sekitar 60 kilometer sebelah barat laut danau Genesaret di Galilea (lihat Mat 14:34) tempat Yesus tadinya berada. Ia diceritakan “menyingkir” ke daerah tadi agar tidak terlibat perdebatan lebih lanjut dengan kaum Farisi dan ahli Taurat yang datang ke Galilea dari Yerusalem untuk memeriksa keagamaan Yesus dan para murid nya (lihat Mat 15:1-21). Maklum wilayah Tirus dan Sidon bukan wilayah umat Israel. Di situ orang-orang dari Yerusalem tadi tidak dapat bertindak “memeriksa” keagamaan orang. Nanti, seperti diceritakan Matius, setelah peristiwa perjumpaan dengan perempuan Kanaan, Yesus kembali menyusur pantai Danau Genesaret seperti sebelumnya (Mat 15:29).

Perempuan Kanaan

Peristiwa perjumpaan dengan perempuan Kanaan di wilayah Tirus dan Sidon ini bagian tersendiri dan baik didalami secara khusus. Bagi orang Yahudi orang Kanaan tidak termasuk umat. Bahkan kata ini bernuansa musuh bebuyutan orang Israel. Agama dan tradisi mereka dianggap berseberangan. Mereka itu “orang luar”. Padanan ayat ini dalam Injil Markus yang sejajar dengan ini mengatakan, perempuan itu seorang Yunani berkebangsaan Siro-Fenisia (Mrk 7:26). Kata Yunani di sini merujuk pada keagamaannya, yang bukan agama umat Israel. Kebangsaan perempuan itu Siro-Fenisia, sama dengan Kanaan yang dipakai Matius. Jadi pada dasarnya bagi orang Yahudi, perempuan tadi bukan anggota umat. Bila demikian apakah yang dikerjakan Yesus, yakni menyembuhkan, mengusir roh jahat, mengajar, mempesona mereka dengan ajaran dan tindakannya, memilih murid-murid, itu semua tidak berlaku bagi mereka yang bukan anggota umat? Pertanyaan ini muncul di dalam episode kali ini.

Perempuan tadi memintakan kesembuhan bagi anak perempuannya. Sahihkan? Siapa saja tentunya boleh mengharapkan dan meminta kebaikan dari siapa saja. Tetapi pemikiran seperti ini tidak begitu saja diterima di kalangan orang Yahudi ketika itu. Bahkan bisa dikatakan lazimnya kebaikan hanya bagi kalangan sendiri. Menarik untuk dilihat lebih dekat. Menurut Mat 15:23 Yesus sama sekali tidak menjawabnya, tidak menanggapi permohonan perempuan tadi. Markus tidak mengatakan sejelas ini, tapi pembicaraan selanjutnya dalam Markus (Mrk 7:27) sama-sama menunjukkan bahwa permohonan tadi tidak bisa dilayani karena memang bukan dari kalangan umat sendiri.

Hanya Bagi Domba-Domba Yang Hilang Dari Umat Israel?

Menurut Matius Yesus mengatakan bahwa ia diutus hanya kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel (Mat 15:24). Perkataan ini sesuai dengan anggapan kuat di antara orang -orang Yahudi bahwa penyelamatan yang datang dari atas memang hanyalah untuk mengumpulkan kembali umat yang tercerai-berai, dan tidak mengikutsertakan orang-orang yang ada di luar kalangan umat. Namun ada pula kalangan Yahudi yang mulai menyadari bahwa orang luar pun dapat ambil bagian. Penyelamatan tidak lagi dimengerti sebagai tindakan yang hanya bagi mereka, melainkan juga bagi orang lain. Pembicaraan yang terjadi antara perempuan Kanaan dan Yesus menunjukkan peralihan perluasan pemikiran tadi (Mat 15:26-28). Walau pada awalnya tidak dihiraukan, perempuan, tadi terus memohon. Yesus sendiri pun ditegaskan hendak membuat perempuan tadi menerima bahwa kehadiran Yesus bukan baginya. Bahkan Yesus mengatakan, “Tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing.” Tetapi perempuan tadi malah menjawab, “Benar Tuhan, namun anjing itu makan remah-remah yang jatuh dari meja tuannya.”

Perkataan sang perempuan tadi amat merendah dan mengharukan, sekaligus mengungkapkan keyakinannya bahwa ia mau dan dapat ikut menerima kebaikan. Menghadapi pernyataan setulus ini, Yesus sendiri pun berubah sikap. Ia kini melihat penyelamatan yang dibawakannya tidak lagi tertuju hanya kepada mereka yang termasuk umat Israel, melainkan bagi siapa saja menyerahkan diri sepenuhnya – iman – kepada kebaikan ilahi. Perubahan ini amat besar.

Apa Yang Terjadi?

Kisah ini menunjukkan betapa ketulusan serta kepercayaan akan kebaikan melewati batas-batas agama dan etnisitas. Menarik juga untuk diperhatikan bahwa kejadian ini tidaklah berakhir dengan masuknya perempuan tadi menjadi bagian umat Israel. Ia tetap perempuan Kanaan. Ia tetap ada di luar umat. Tetapi ia diikutsertakan dalam pelayanan Yesus. Bagian yang sejajar dalam Injil Markus menceritakan bahwa perempuan itu “pulang” mendapati anaknya berbaring di tempat tidur dan yang merasukinya sudah keluar (Mrk 7:30). Yang dimintanya sudah terpenuhi.

Manakah warta Injil kali ini? Jelas episode ini pertama-tama menunjukkan bagaimana komunitas para murid yang pertama menyadari bahwa orang-orang yang berada di kalangan luar umat Yahudi pun boleh mendengarkan dan menikmati kehadiran Yesus. Ini bukan sekadar perkembangan di antara para murid sendiri, melainkan sudah dijalankan Guru mereka sendiri. Kisah ini juga menunjukkan betapa agama dan etnisitas tidak menjadi halangan bagi kebaikan ilahi.

Selain itu ditegaskan pula bahwa permohonan orang beriman bagi orang lain – dalam hal ini permintaan sang ibu bagi kesembuhan anak perempuannya – memang memiliki kekuatan besar. Sedemikian besar sehingga sang utusan ilahi sendiri pun akhirnya menerimanya. Kisah ini menumbuhkan harapan bagi semua orang.

Kisah ini dapat menjadi tuntunan meluaskan sikap beragama dan berkelompok. Tidak disangkal adanya perbedaannya, tetapi ditegaskan perbedaan tadi tidak menghalangi kebaikan ilahi bagi siapa saja. Dan dapat diminta agar terjadi demikian! Ini warta gembiranya.

Salam,

No comments:

Post a Comment