Featured Post

Injil dan Bacaan Pertama Minggu Biasa III-A - 22 Januari 2017

Ulasan Eksegetis Injil & Bacaan Pertama Minggu Biasa III/A, 22 Januari 2017 ( Mat 4:12-23 – Yes 8:23a-9:3 ) By A. Gianto on Janua...

Bagaimana Saya Bisa Masuk ke Surga?

Seorang guru sekolah minggu bertanya kepada anak-anak di kelasnya, "Jika saya menjual rumah saya dan mobil saya, menjual semua barang-barang saya dan memberi semua uang saya ke gereja, apakah saya akan masuk ke surga?"

"Tidak!" anak-anak semua menjawab.

"Jika saya membersihkan gereja setiap hari, memangkas rumput dan tanaman, dan terus menata semuanya rapi dan bersih, apakah saya akan masuk ke surga?"

Sekali lagi jawabannya adalah "Tidak!"

"Kalau begitu", ia melanjutkan, "bagaimana saya bisa masuk ke surga?"

Seorang anak berumur lima tahun berteriak, "Anda harus mati terlebih dahulu!"


"Kisah Kocak Yang Membuat Bijak" lainnya:



Injil dan Bacaan Pertama Minggu Biasa III-A - 22 Januari 2017

Ulasan Eksegetis Injil & Bacaan Pertama Minggu Biasa III/A, 22 Januari 2017 (Mat 4:12-23 – Yes 8:23a-9:3)

By A. Gianto on January, 2017 Jendela Alkitab, Mingguan


TERANG TELAH TERBIT!

Rekan-rekan,

DALAM Mat 4:12-23 yang dibacakan pada Minggu Biasa III tahun A ini dikisahkan dua tindakan Yesus sebelum mulai melayani orang-orang sezamannya: mengenali lapangan dan mengajak beberapa orang menjadi rekan sekerja. Tentunya ia sudah mulai dikenal di Yudea, terutama wilayah seputar Yerusalem. Ketika keadaan politik di situ kurang menguntungkan, ia menyingkir ke wilayah Galilea di utara dan tinggal beberapa waktu di kota tempat ia dibesarkan, Nazaret. Tetapi ia kemudian pindah ke Kapernaum di tepi danau (ay. 12-14). Di situlah ia mulai mewartakan kedatangan Kerajaan Surga (ay. 15). Ia juga memilih murid-murid pertama, yakni Simon Petrus dan saudaranya, Andreas, dan kemudian juga Yakobus dan Yohanes, kedua anak Zebedeus (ay. 18-22).

Paus Melanjutkan Katakese Tentang 'Harapan Kristen' pada Audiensi Umum

Paus Fransiskus melanjutkan seri katekesenya tentang Harapan Kristiani pada Audiensi Umum hari Rabu, dimana dia mempertentangkan harapan yang otentik yang lahir karena percaya pada sabda Allah, terhadap godaan harapan palsu pada berhala-berhala seperti uang, kekuasaan, atau kecantikan fisik.

Berikut di bawah ini adalah ringkasan katekese Paus:

Saudara/i yang terkasih: Pada hari-hari pertama tahun baru ini, yang mengikuti perayaan masa Adven dan Natal, dengan pesannya tentang pemenuhan janji-jani Allah dalam kedatangan sang Penyelamat, kita sekarang melanjutkan katakese tentang harapan kristiani. Injil mengajarkan pada kita bahwa selalu berjalan bergandengan bersama haraoan otentik yang berasal dari kepercayaan akan sabda Allah, kita bisa tergoda oleh harapan palsu dan berhala-berhala duniawi, seperti uang, kekuasaan, atau kecantikan fisik.

Adakah Kebenaran di Dalam Agama?

Pertanyaannya ialah: tidak adakah kebenaran di dalam agama, di dalam teori, di dalam cita-cita, di dalam kepercayaan? Marilah kita selidiki. Apakah yang kita maksud dengan agama? Jelas bukan agama terorganisir, bukan Hinduisme, bukan Buddhisme, atau Kristianitas—yang semuanya adalah kepercayaan terorganisir, dengan propaganda, pertobatan, proselitisme, tekanan, dan sebagainya. 

Adakah kebenaran di dalam agama terorganisir? Ia mungkin mencakup, menjalin kebenaran, tetapi agama terorganisir itu sendiri tidak benar. Oleh karena itu, agama terorganisir adalah palsu, ia memisahkan manusia dari manusia. Anda seorang Muslim, saya seorang Hindu, yang lain seorang Kristen atau seorang Buddhis—dan kita bertengkar, berbunuh-bunuhan. 

Adakah kebenaran dalam semua itu? Kita tidak membicarakan agama sebagai pencarian kebenaran, melainkan kita membicarakan apakah ada kebenaran di dalam agama terorganisir. Kita begitu terkondisi oleh agama terorganisir sehingga berpikir di situ ada kebenaran, bahwa dengan menyebut diri seorang Hindu kita menjadi penting, kita akan menemukan Tuhan. Betapa absurdnya, Pak. Untuk menemukan Tuhan, untuk menemukan realitas, harus ada kebajikan. Kebajikan adalah kebebasan, dan hanya melalui kebebasan kebenaran bisa ditemukan—bukan sementara Anda terperangkap dalam cengkeraman agama terorganisir, dengan kepercayaannya. 

Santo Arnoldus Janssen - Diperingati Setiap 15 Januari

Santo Arnoldus Janssen
Pendiri Konggregasi SVD, Konggregasi Suster SSpS, dan Konggregasi Suster SSpSAP
Perayaan:    15 Januari
Lahir:    5 November 1837
Kota asal:     Goch, North Rhein-Westphalia, Jerman
Wafat:     15 Januari 1909 di Steyl, Belanda - Oleh sebab alamiah
 Venerasi:    10 Mei 1973 oleh Paus Paulus VI
 Beatifikasi:    19 Oktober 1975 oleh Paus Paulus VI
 Kanonisasi:    5 Oktober 2003 oleh Santo Paus Yohanes Paulus II

--o0o--

Arnoldus Janssen lahir pada tanggal 5 November 1837 di Goch, North Rhein-Westphalia, sebuah kota kecil dekat perbatasan Jerman dan Belanda. Ia adalah anak kedua dari sepuluh bersaudara dalam sebuah keluarga katholik yang saleh. Ayahnya bernama Gerald Janssen dan ibunya adalah Anna Katharina Janssen. Kedua orang tua ini selalu menanamkan semangat pengabdian bagi Gereja pada anak-anak mereka. Tidak heran apabila sejak kecil, Arnoldus dan saudara-saudaranya sudah bercita-cita untuk menjadi imam dan misionaris. Dan Tuhan pun memanggil beberapa anggota keluarga yang saleh ini untuk menjadi pekerja-NYA. Selain Arnoldus; dua orang saudaranya yaitu William Janssen dan Johannes Janssen juga masuk biara dan menjadi imam. William bergabung dengan Biara Fransiskan Kapusin sedangkan Johannes masuk Konggregasi SVD yang didirikan oleh Arnoldus.

Nenek Mary Marah

Nenek Mary baru saja datang dari Sulawesi mengunjungi anaknya di Jawa.

Saat hari Minggu, dia ke gereja. Di depan gereja dia disambut penyambut tamu yang sedang bertugas.

"Anda mau duduk di mana, Nek?" tanya penyambut tamu itu dengan ramah.

"Oh, tentu saja di kursi paling depan," jawab Nenek Mary.

"Wah, Anda pasti tidak suka duduk di sana," kata si penyambut tamu.