Featured Post

Ulasan Eksegetis Bacaan Kitab Suci Minggu Biasa 24 A 2017

By A. Gianto on September, 2017 Jendela Alkitab, Mingguan Rekan-rekan yang budiman, Injil kembali berbicara mengenai pengampunan....

Menjadi Garam Dunia

Yan adalah seorang murid Sekolah Minggu dari suatu gereja.

Walaupun ibunya belum mengenal Tuhan Yesus, ia tidak pernah melarang Yan untuk pergi ke Sekolah Minggu.

Pada suatu hari Minggu, sesampainya Yan di rumah, ibunya bertanya,

"Pelajaran apa yang kamu dapatkan di Sekolah Minggu tadi pagi?"

Yan dengan semangat menjawab, "Tadi pagi guru Sekolah Minggu saya, Ibu Lina bersama dengan asistennya Ibu Susi, mengajarkan saya untuk menjadi garam bagi dunia ini."

Ibunya terkejut dan berkata, "Weee lhadalah Nak, kamu mau jadi garam? Jangan kecewakan Ibu, Nak! Ibu maunya kamu tuh jadi dokter atau insinyur!"


Kisah Kocak Yang Membuat Bijak lainnya:

Tiga Guru

Ketika seorang mistikus sufi yang besar, Hassan, sedang sekarat, seseorang bertanya, 'Hassan, siapakah gurumu?"

Dia berkata,'Sekarang sudah terlambat untuk bertanya. Waktunya singkat, aku sebentar lagi mati." Tapi si penanya bertanya, 'Engkau hanya perlu mengatakan namanya. Engkau masih hidup, engkau masih bernafas dan berbicara, engkau hanya perlu memberitahuku namanya.'

Ia berkata, "Ini akan sulit karena aku memiliki ribuan guru. Jika aku hanya menyebut nama mereka itu perlu bulanan dan tahunan. Itu sudah terlambat. Tapi tiga guru aku akan memberitahumu.

Ulasan Eksegetis Bacaan Kitab Suci Minggu Biasa 24 A 2017

By A. Gianto on September, 2017 Jendela Alkitab, Mingguan

Rekan-rekan yang budiman,

Injil kembali berbicara mengenai pengampunan. Kali ini, pada hari Minggu Biasa XXIV tahun A, dibacakan Mat 18:21-35. Petrus bertanya sampai berapa kalikah pengampunan bisa diberikan. Pada dasarnya jawaban Yesus hendak mengatakan, tak usah menghitung-hitung, lakukan terus saja. Kemudian ia menceritakan perumpamaan untuk menjelaskan mengapa sikap pengampun perlu ditumbuhkan (ay. 23-35). Pembaca setapak demi setapak dituntun agar menyadari mengapa sikap mengampuni dengan ikhlas itu wajar. Tapi juga yang wajar inilah yang akan membuat Kerajaan Surga semakin nyata.

Sampai Tujuh Puluh Kali Tujuh Kali

Ulasan Eksegetis Bacaan Kitab Suci Minggu Biasa 23 A 2017

By A. Gianto on September, 2017 Jendela Alkitab, Mingguan

Rekan-rekan yang budiman!

DISEBUTKAN dalam Mat 18:15-20 (Injil Minggu Biasa XXIII tahun A) bila seorang saudara didapati berbuat dosa, hendaknya ia diberi tahu mengenai kesalahannya secara perorangan terlebih dahulu. Jika tidak ada hasilnya, sebaiknya ia dinasihati di hadapan saksi. Kalau tetap tidak peduli, barulah perlu ia dibawa ke sidang umat. Wartanya lebih dari pada sekadar mengajarkan cara-cara menegur kesalahan atau berprihatin mengenai orang lain. Tujuan utamanya ialah membangun komunitas pengikut Yesus yang saling menopang. Diketengahkan bagaimana umat dapat semakin dewasa berkat adanya perhatian satu sama lain, juga dalam menunjukkan kekeliruan. Akan dibicarakan pula bagaimana dalam bacaan kedua (Rom 13:8-10) Paulus berusaha membuat orang yang mengenal macam-macam aturan Taurat sampai pada inti yang dimaksudkan Taurat itu sendiri.

Pelbagai Cara Membangun Umat

Survey ke Surga

Ada seorang pengusaha kaya yang mata duitan yang bergerak di bidang jual beli tanah bertanya pada Pastor Paroki

"Psator, apakah di surga nanti ada lahan yang bisa dijual, ya? Pasti pendapatannya sangat besar, soalnya banyak umat kita yang ingin tinggal di surga."

"Oh, begitu. Kenapa Bapak tidak survei tempat saja kesana secepatnya?"


Kisah Kocak Yang Membuat Bijak lainnya:

Orang Religius

Apakah keadaan batin yang berkata, ”Saya tidak tahu apakah ada Tuhan, apakah ada cinta,” yakni ketika tidak ada respons dari ingatan? Harap jangan menjawab pertanyaan ini dengan seketika kepada diri sendiri, oleh karena jika Anda lakukan itu, jawaban Anda hanyalah sekadar mengenali apa yang Anda pikir begini atau bukan begitu. Jika Anda berkata, ”Itu adalah keadaan negasi,” Anda membandingkannya dengan sesuatu yang telah Anda ketahui; oleh karena itu, keadaan yang di situ Anda berkata, ”Saya tidak tahu,” tidak ada. ... Maka, batin yang mampu berkata, ”Saya tidak tahu,” ia berada dalam satu-satunya keadaan yang di situ dapat ditemukan apa pun. 

Tetapi orang yang berkata, ”Saya tahu,” orang yang telah mempelajari berbagai pengalaman manusia yang tak terhitung banyaknya, dan yang batinnya penuh dengan beban informasi, penuh dengan pengetahuan ensiklopedik, dapatkah ia mengalami sesuatu yang tidak tertimbun? Itu akan sangat sukar baginya. Bila batin mengesampingkan secara total seluruh pengetahuan yang pernah dikumpulkannya, yang baginya tidak ada lagi Buddha-Buddha, Kristus-Kristus, para Master, para guru, agama-agama, kutipan-kutipan; bila batin berada sendiri sepenuhnya; tidak tercemar, yang berarti bahwa gerakan dari apa yang diketahui telah berhenti, hanya di situ ada kemungkinan suatu revolusi yang hebat, suatu perubahan fundamental.