Featured Post

Berterima Kasih Atas Segala Hal

Seorang anak kecil usia 4 tahun diminta untuk berterima kasih saat doa sebelum makan malam Natal. Para anggota keluarga menundukkan kepala...

Showing posts with label Minggu Biasa - C. Show all posts
Showing posts with label Minggu Biasa - C. Show all posts

Minggu Biasa III C - 24 Januari 2010

Minggu Biasa III/C - 24 Januari 2010 ( Luk 1:1-4; 4:14-21)

KABAR GEMBIRA DAN KEHIDUPAN UMAT

Pada hari Minggu Biasa III/B tanggal 24 Januari 2010 ini dibacakan Luk
1:1-4; 4:14-21, didahului Neh 8:3-5a.6-7.9-11 dan 1 Kor 12:12-30. Berikut
ini beberapa pokok yang dapat membantu memahami bacaan-bacaan itu, khususnya
Injil.

IBADAT TAURAT DAN MUNCULNYA UMAT TUHAN

Di kalangan umat Perjanjian Lama  suatu bentuk baru ibadat berkembang dalam
masa setelah pembuangan. Unsur utamanya ialah pembacaan Taurat beserta
penjelasannya. Ibadat ini lain dari ibadat kurban yang cenderung dipusatkan
di Bait Allah di Yerusalem. Pada zaman pembuangan sulit meneruskan ibadat
kurban karena Bait Allah runtuh dijarah. Selama masa itu lambat laun
berkembanglah ibadat sabda. Ketika Bait Allah dibangun kembali dan ibadat
kurban dapat dilakukan lagi, ibadat sabda tetap diteruskan dan bahkan
menjadi ibadat yang makin penting dalam masyarakat Yahudi. Bacaan yang
dipakai dalam ibadat itu berupa hukum-hukum adat dan agama, cerita-cerita
mengenai para leluhur, peraturan-peraturan hidup bersama. Semuanya ini
kemudian disusun kembali di kalangan para imam (seperti tokoh Ezra dalam
bacaan pertama) dalam ujud Taurat atau kelima Kitab Musa yang memuat
serangkai kisah para Bapa Bangsa (Abraham, Ishak, Yakub dan keturunannya),
kisah keluaran dari Mesir, kumpulan hukum Sinai, dan perjalanan di padang
gurun sebelum memasuki tanah terjanji. Petikan-petikan dari Taurat dibacakan
dan dijelaskan di dalam ibadat. Oleh karenanya Taurat akhirnya menjadi kitab
yang dikeramatkan. Dikisahkan dalam Neh 8:10-11 bagaimana para pemimpin
mengajak umat bersuka cita merayakan pembacaan Taurat. Ibadat seperti ini
kemudian dilakukan tiap hari Sabat di sinagoga atau rumah ibadat di mana
saja. Setelah bacaan dan penjelasan Taurat menyusul uraian berdasarkan
tulisan-tulisan lain yang lambat laun juga diterima sebagai bacaan keramat
seperti halnya kitab para nabi. Luk 4:14-21 mencerminkan ibadat Sabat
seperti ini. Lukas menceritakan bagian ibadat sehabis petikan dari Taurat
dibacakan dan dijelaskan. Dalam kesempatan itu salah seorang dari umat,
yakni Yesus, maju untuk membacakan Yes 61:1-2 dan menerapkan nubuat itu
kepada dirinya.

Dapat dikatakan, orang Yahudi baru mulai menjadi umat Tuhan setelah
mengalami pembuangan. Sebelumnya orang lebih menyadari diri sebagai warga
"bangsa terpilih". Semua unsur kehidupan dibawahkan pada keyakinan ini.
Kesadaran religius mereka juga bertumpu pada hal itu. Pukulan sejarah
meruntuhkan gagasan ini. Selama pembuangan tokoh-tokoh mereka makin
menyadari bahwa gagasan sebagai "bangsa terpilih" perlu ditafsirkan kembali
secara rohani sebagai "umat terpilih". Pengalaman hidup di tengah-tengah
bangsa-bangsa lain membuat gagasan itu berkembang menjadi "umat yang
dikasihi", umat yang dikhususkan berkat Taurat. Dalam inspirasinya yang
asli, Taurat mengungkapkan pengalaman meniti jalan untuk membangun hidup
bersama atas dasar pelbagai kesetujuan ("hukum-hukum") yang direstui Tuhan.
Bagi orang Yahudi Taurat bukanlah sekumpulan hukum dan aturan semata-mata,
melainkan ajaran kehidupan. Memang ada kelompok-kelompok yang cenderung
menafsirkannya secara ketat sebagai aturan-aturan belaka. Tafsiran itu
membuat Taurat menjadi layu dan tidak membuahkan kehidupan batin. Dalam
Perjanjian Baru, kaum Farisi digambarkan sebagai satu kelompok seperti itu.
Acap kali mereka berhadapan dengan Yesus dan murid-muridnya yang mau
menghayati Taurat sebagai ajaran kehidupan.

KABAR GEMBIRA DARI RUMAH IBADAT DI NAZARET

Injil hari Minggu ini menggabungkan pengantar Injil Lukas (Luk 1:1-4) dengan
peristiwa Yesus mengajar di sinagoga di Nazaret (Luk 4:14-21). Dari bagian
pengantar, jelaslah Injil Lukas ditulis bagi orang yang sudah pernah
mendengar mengenai Yesus dan berminat mengenalnya lebih jauh walaupun belum
amat yakin akan keistimewaan tokoh ini. Lukas memeriksa dengan seksama
bahan-bahan yang diperoleh dari para saksi mata dan para pekabar pertama dan
kemudian menyusunnya kembali secara runtut agar pembacanya - Teofilus -
sampai kepada kebenaran. Nama itu berarti "yang penuh minat akan hal-hal
yang Ilahi", maksudnya, orang yang ingin mengenali kehadiran Tuhan. Teofilus
ialah kita-kita ini juga.

Bacaan Injil hari ini ditempatkan Lukas langsung sesudah peristiwa Yesus
dicobai di padang gurun. Di sana ia menangkal pengaruh Iblis dengan
kata-kata keramat dari Taurat (Luk 4:4 [=Ul 8:3]; ayat 8 [=Ul 6:3]). Juga
ketika Iblis mau menyalahgunakan sabda ilahi (ayat 10-11 [=Mzm 91:11-12]),
Yesus membungkamnya dengan firman ilahi dari Taurat (ayat 12 [=Ul 6:16]).
Setelah peristiwa ini Lukas meneruskan kisahnya dengan mengatakan bahwa
"dalam kuasa Roh" Yesus kembali ke Galilea (Luk 4:14). Di wilayah itu
kemudian tersiar kabar mengenai dia yang mengajar di sinagoga-sinagoga. Ini
buah pertama dari keteguhannya mempercayai sabda ilahi.
Pada suatu hari Sabat Yesus mengikuti ibadat di sinagoga di Nazaret. Sesudah
bagian upacara pembacaan Taurat dan penjelasannya selesai, Yesus tampil
dengan memperkenalkan diri sebagai yang dinubuatkan nabi Yesaya (Yes
61:1-2), yakni Mesias membawakan kabar baik kepada orang-orang "miskin" (ay.
18-19). Dalam bahasa Lukas, "orang-orang miskin" ialah mereka yang menderita
kekurangan dalam hidup ini, terutama kekurangan material yang juga
mengakibatkan kemelaratan batin. Dan sering mereka tidak menyadarinya.
Apa isi kabar baik kepada orang-orang ini? Baiklah ditilik terlebih dahulu
suasana setelah nubuat Yesaya itu dibacakan (ayat 20). Lukas menyebut semua
seluk beluknya. Yesus menutup gulungan, memberikannya kembali kepada
petugas, duduk, sementara itu mata semua orang mengikuti setiap
gerak-geriknya dan ketika perhatian orang-orang terpaku, mulailah Yesus
memberikan pengajaran. Ia berkata (ayat 21), "Pada hari ini, sewaktu kalian
dengarkan, ayat-ayat Kitab Suci ini tergenapi!" Ia menjelaskan siapa dirinya
(Yang Diurapi, Mesias), kepada siapa ia datang ("kaum miskin", yakni
orang-orang yang butuh kabar gembira), tiga tugas utamanya: membuat orang
dapat kembali kepada Tuhan (tadinya "tawanan" sekarang bebas) sehingga dapat
memandangi kehadiranNya (tadinya "buta") dan membuat hati dan pikiran orang
lega (tadinya "tertindas"). Dia itu pembawa berita gembira bahwa "tahun
rahmat sudah datang". Dalam tahun rahmat inilah ia hidup di tengah-tengah
orang banyak, memberitakan Kerajaan Allah, menghidupkan harapan,
menyembuhkan, mengusir setan, memilih murid-murid agar makin banyak orang
dapat dilayani. Kehadiran Yesus di antara orang-orang zamannya membuat orang
melihat bahwa Tuhan bersedia berada di tengah-tengah manusia. Inilah kabar
gembira yang disampaikan kepada orang banyak. Kehadiran orang yang berhasil
mengalahkan pengaruh yang jahat, kehadiran orang yang direstui Roh Tuhan
sendiri, kehadiran yang memperkaya hidup kita.

MENEMUKAN PEGANGAN HIDUP

Bacaan Injil menunjukkan bagaimana setelah mengalahkan cobaan, Yesus
menemukan dirinya makin mampu membawakan Tuhan kepada orang banyak. Juga
dalam bacaan pertama terlihat bagaimana umat menemukan diri dekat dengan
Tuhan setelah mengalami cobaan besar selama pembuangan. Menemukan diri
memberi kegembiraan dan kekuatan. Bukan berarti semuanya akan serba beres.
Umat Perjanjian Lama masih akan menghadapi macam-macam persoalan. Masih ada
ketegangan dan perpecahan. Tetapi mereka kini memiliki pegangan, yakni
Taurat. Juga Yesus segera akan menghadapi ketidakpercayaan orang-orang,
bahkan dari orang-orang yang paling dekat dengannya. Tetapi ia mempunyai
pegangan. Ia sadar ia diutus Tuhan menghadirkan rahmat. Dan ia hidup untuk
itu.

Dalam mengikuti Yesus Kristus, kaum beriman juga dapat makin menemukan diri,
baik sebagai orang perorangan maupun sebagai umat. Mengikuti Yesus berarti
ikut serta di dalam kehidupannya. Inilah yang menjelaskan mengapa tiap orang
memperoleh karunia Roh. Dengan mengikuti cara bicara Paulus dalam bacaan
kedua (1 Kor 12:12-30), karunia-karunia dari Roh yang satu itu membangun
satu tubuh. Dalam bagian sebelumnya yang dibacakan hari Minggu yang lalu
ditegaskan bahwa karunia sejati membangun kesejahteraan bersama, bukan
kebesaran orang-perorangan. Pada bagian awal bacaan hari ini ditekankan
bahwa karunia ini memungkinkan orang melampaui batas-batas alamiah, seperti
kelompok etnik (Yahudi atau Yunani) atau batas-batas sosial (budak atau
merdeka), dan seperti diutarakan selanjutnya, perbedaan itu malah mengurangi
kecenderungan orang untuk merasa paling penting, paling dibutuhkan dan
menonjol-nonjolkan diri. Bila orang dengki dan curiga karena kelompok lain
bukan dari "golongan kami", orang boleh mulai bertanya-tanya, mungkin
karunia Roh Kristus belum diterima dengan baik.

Kita juga sedang dalam Pekan Doa Sedunia bagi Persatuan Umat Kristen. Warta
Paulus tadi dapat membuat orang makin menghargai keragaman yang asalnya dari
Roh yang satu. Keyakinan serta kegembiraan diajak hidup dalam Roh ini
membekali orang untuk menghadirkan rahmat di tengah-tengah umat manusia,
seperti Yesus sang Mesias sendiri. Inilah kekayaan yang menyatukan semua
pengikut Kristus.

Salam hangat,
A. Gianto

Injil Hari Minggu Biasa II C - 17 Januari 2010

Injil Minggu II tahun C tgl. 17 Januari 2010 (Yoh 2:1-11)

MENGENALI KARUNIA ROHANI - PARADIGMA BARU

Pada hari Minggu Biasa II tahun C dibacakan  Yoh 2:1-11 bersama dengan Yes
62:1-5 dan 1Kor 12:4-11. Bacaan-bacaan ini mendorong kita untuk semakin
menyadari bahwa Tuhan berkenan hadir di tengah-tengah manusia dengan
macam-macam karunia yang diberikan-Nya demi kesejahteraan bersama. Itulah
dasar kesatuan dan kegembiraan yang sungguh.

PARADIGMA BARU BERTEOLOGI

Yes 62:1-5 ditulis dengan latar belakang pembangunan kembali kota Yerusalem
yang ditinggalkan sebagai reruntuh an selama masa pembuangan (586/7 hingga
537/8 sebelum Masehi). Upaya membangun kembali kota itu di dasarkan pada
keyakinan bahwa Tuhan kini sudi berdiam kembali di gunung-Nya yang suci,
Sion, di Yerusalem. Syair mengenai Sion dalam bacaan ini menggairahkan
kembali semangat orang. Yang pertama-tama perlu dihidupkan kem bali ialah
reruntuhan batin mereka. Baru dengan demikian, mereka akan dapat
menghidupkan kembali tempat ibadat di kota suci itu. Perhatian besar Tuhan
diibaratkan sebagai kasih sayang kepada mempelai yang dikasihi-Nya. Suasana
kemurungan beralih menjadi kegembiraan pesta pernikahan. Kini umat tidak
usah merasa diri ditinggalkan. Tuhan yang dulu membuat orang gemetar kini
tampil sebagai mempelai yang lemah lembut dan penuh perhatian. Bangsa-bangsa
lain menyaksikan hal ini dan ikut bergembira. Mereka juga tidak lagi perlu
merasa terancam akan direbut harta dan kotanya seperti dulu ketika Tuhan
digambarkan sebagai yang memimpin umat-Nya merebut tanah Kanaan. Teologi
penaklukan seperti itu terasa usang. Ada paradigma baru, yakni teologi yang
menaruh keprihatinan untuk memba ngun ruang hidup bersama, baik di dalam
umat maupun dengan orang-orang lain. Warta seperti ini dapat berbicara
kepada orang-orang yang tidak termasuk umat dan ber laku di mana-mana karena
menyentuh keinginan yang pa ling dasar dalam diri manusia, yakni keinginan
untuk hidup damai dengan orang-orang lain, keinginan untuk tidak me rasa
terancam oleh kehadiran orang lain. Yang lain kini memperkaya, bukan merebut
kekayaan. Juga di bidang hidup ibadat. Umat Perjanjian Lama butuh waktu yang
panjang untuk sampai pada keterbukaan seperti itu. Mereka mengalami banyak
kepahitan sebelum bisa melihat bahwa orang-orang lain juga sama seperti
mereka.

KEGEMBIRAAN TAK TERPUTUS = TANDA?

Suasana gembira menandai pesta pernikahan di Kana. Banyak tamu datang dan
ikut merasakan suasana itu. Tak heran jika persediaan anggur menipis. Akan
tetapi, kegem biraan tetamu berlanjut karena ada anggur yang lebih baik yang
bisa dihidangkan. Kita tahu bagaimana ini terjadi. Yesus menyuruh
pelayan-pelayan mengisi tempayan-tempayan dengan air dan membawanya kepada
pemimpin perjamuan. Pemimpin perjamuan mencicipinya sambil terheran-heran
mengapa tuan rumah masih menyimpan anggur yang lebih baik! Pesta berlangsung
terus dan menjadi semakin meriah. Tentunya makin banyak orang dapat ikut
serta bergembira.
Pada akhir kisah mengenai pesta di Kana itu disebut kan bahwa hal itu
dilakukan Yesus sebagai yang pertama dari tanda-tanda yang dikerjakannya
(Yoh 2:11). Apa yang dimaksud dengan tanda di sini? Air menjadi anggur?
Kendati unsur ini penting, rasa-rasanya maksud Yohanes lain. Baginya, tanda
yang jelas ialah kemeriahan pesta yang berlangsung terus dan kehadiran Yesus
di situ yang me mungkinkan pesta itu tidak terhenti. Inilah yang dirujuk
nya. Kegembiraan yang tak terputus dan malah bertambah besar inilah yang
membuat murid-murid nya percaya kepadanya. Percaya di sini ialah percaya bah
wa ia itu patut diikuti, ia itu memperhatikan orang, ia itu membuat orang
makin mengenali kebaikan Tuhan. Murid-muridnya percaya bukan karena
peristiwa menakjubkan air menjadi anggur. Kehadirannya yang membuat orang
merasa tak kurang suatu apa itulah yang menjadi tanda yang pertama yang
dilakukan Yesus bagi orang banyak.

BELAJAR DARI MARIA

Pada awal kisah di Kana itu disebutkan ... ada perka winan di Kana dan ibu
Yesus ada di situ (Yoh 2:1). Baru setelah itu dikatakan bahwa Yesus dan
murid-muridnya diundang juga. Dapat diduga bahwa Maria mengajak Yesus dan
Yesus mengajak murid-muridnya. Ini dilakukan orang di mana-mana. Bila
diperhatikan, akan tampak betapa besar n ya peran Maria dalam peristiwa ini.
Dia-lah yang mengatakan kepada Yesus bahwa orang kehabisan anggur. Maria
jugalah yang berkata kepada pelayan-pelayan agar menuruti semua yang
dikatakan Yesus. Tidak keliru bila dikatakan Maria mengantar kedatangan
Yesus sang Peng hadir Tuhan kepada orang banyak dan mempertemukan mereka
dengan Tuhan sendiri.
Bisa kita bayangkan Maria dapat juga berusaha mencari bantuan ke tempat
lain. Tetapi ia meminta kepada Yesus. Maria percaya bahwa Yesus bisa berbuat
sesuatu meskipun belum pernah menyaksikannya sendiri. Yohanes yang men
ceritakan peristiwa ini mungkin mau menyarankan agar kita juga percaya bahwa
kehadiran Yesus itu pasti memberi sesuatu.
Bagaimana penjelasan reaksi Yesus Mau apa engkau dariku, Bu? Saatku belum
tiba! terhadap kata-kata ibunya? Dalam bahasa Yunani Kitab Suci, tetapi
asalnya dari bahasa Ibrani, ungkapan itu harfiahnya berbunyi Apa bagiku dan
bagimu? yang sudah menjadi ungkapan klise untuk meng ungkapkan macam-macam
reaksi terhadap perbuatan  orang lain, dari sekadar basa basi untuk
mengatakan agar tak usah repot-repot sampai ungkapan rasa kurang enak.
Nadanya bisa halus, netral, atau ketus. Dengan memakai sebutan Bu, ungkapan
itu jadi bernada halus dan dimak sudkan agar Maria tidak perlu merepotkan
diri lagi dengan perkara ini karena saatku belum tiba. Artinya, Yesus
mempunyai perhitungan sendiri. Tidak perlu ungkapan ini dikait-kaitkan
dengan saat penebusan di salib nanti atau saat apa lagi dalam kehidupan
Yesus.
Sekali lagi, kita dapat belajar dari Maria. Ia tidak men desak-desak. Ia
percaya Yesus mempunyai perhitungan sendiri. Sering dalam doa kita merasa
semuanya penting dan mendesak serta menjadi gelisah karena merasa tak ada
jawaban. Amat boleh jadi Tuhan berkata kepada kita, Mau apa kalian dariku?
Saatku belum tiba! seperti kepada Maria, ibunya, orang yang paling dekat
kepadanya. Dan sikap Maria yang menghormati perhitungan Tuhan dapat membantu
kita. Maria tidak diam saja. Ia mempersiapkan jalan Tuhan: ia menyuruh orang
melakukan apa yang nanti dikatakan Yesus. Inilah cara menantikan saat Tuhan
bertindak dalam perhitungan-Nya sendiri.

KARUNIA ROHANI DEMI KESEJAHTERAAN BERSAMA

Dalam bacaan liturgi hari Minggu, bacaan kedua sering tidak mudah dikaitkan
dengan kedua bacaan yang lain. Namun demikian, sering dapat membantu bila
didalami sikap iman mana yang dianjurkan dalam bacaan kedua itu. Dalam 1Kor
12:4-11, Paulus mengajak orang memahami bahwa Roh yang sama berkarya di
tengah-tengah manusia dalam berbagai bentuk karunia dan macam-macam pelayan
an serta perbuatan-perbuatan yang menakjubkan. Dalam cara bicara Paulus,
ungkapan "karunia Roh" sebetulnya berarti "pemberian rohani". Jadi lebih
berpusat pada pemberian sendiri dan sifat pemberian itu, bukan pada gagasan
mengenai kekuatan yang tiba-tiba menghinggapi orang.  Begitulah, dalam ay.
7, Paulus menegaskan bahwa semua pemberian rohani itu bagi kepentingan
bersama. Bila unsur ini tak ada, orang boleh mempertanyakan apa asalnya
betul-betul dari Roh, apa sungguh rohani sifatnya. Mukjizat spekta kuler,
sukses besar bukan jaminan bila arahnya bukan demi kebahagiaan bersama.
Kerap istilah "karunia Roh" dipahami sebagai kekuatan atau kekhususan yang
menakjubkan yang berasal dari Roh. Seperti di Kana tadi, air berubah jadi
anggur melulu tidak akan banyak artinya bila tidak membuat orang-orang yang
hadir bisa terus bergembira.

MUKJIZAT DAN TANDA

Dalam Injil-Injil, kisah mukjizat Yesus sebenarnya dimaksudkan sebagai tanda
agar kehadiran Yang Ilahi di tengah-tengah manusia terlihat orang banyak.
Kehadiran inilah yang membuka mata orang buta, yang membuat orang tuli
mendengar, yang membuat orang gagu bicara, yang membuat orang lumpuh bisa
berjalan kembali, yang mem buat orang berdosa merasakan pengampunan. Bila
dimengerti sebagai mukjizat belaka, malah akan kurang tampaklah kehadiran
Yang Ilahi yang sesungguhnya. Maklumlah, di hadapan mukjizat orang akan
tidak bisa berbuat banyak selain tunduk dan boleh jadi tidak lagi merdeka.
Akan tetapi, berhadapan dengan tanda, orang dapat mencari maknanya dan
menghidupi kenyataan yang ditandakan. Dulu umat Perjanjian Lama butuh waktu
panjang sebelum menginsafi betapa tidak lestarinya keyakinan yang dibangun
semata-mata atas dasar tindakan-tindakan mukjizat Tuhan yang menjadi unsur
pokok teologi penaklukan tanah Kanaan. Baru kemudian mereka sadar bahwa
teologi mem bangun ruang hidup bersama lebih memungkinkan hidup damai.
Dalam masyarakat yang majemuk, teologi seperti ini dapat menyumbang banyak
dengan mengajak orang menghargai perbedaan dan membuat orang peka akan
cara-cara Tuhan hadir di tengah umat manusia. Teologi pe naklukan malah bisa
berakibat kekerasan dan permusuhan.

Salam hangat,
A. Gianto

Minggu Biasa XXXIII C - 18 November 2007

Halo,

Injil Minggu Biasa XXXIII/C 18 November 2007 (Luk 21:5-19)

IMAN YANG HIDUP, BUKAN TEOLOGI BASI!
Rekan-rekan yang budiman!Diceritakan dalam Luk 21:5-19 bagaimana Yesus menegaskan kepada orang-orang yang sedang mengagumi keindahan Bait Allah bahwa satu ketika bangunan itu akan terbongkar seluruhnya dan diruntuhkan (ayat 5-6). Ketika mereka bertanya kapan saat itu tiba (ayat 7), Yesus menasihati mereka agar waspada terhadap orang yang mengatakan saatnya sudah tiba dengan memakai nama Yesus (ayat 8-9). Diajarkannya agar mencari pegangan yang sungguh dan tidak sibuk dengan spekulasi dan perhitungan belaka. Jangan pula cemas melihat kekacauan yang bisa jadi menandai datangnya saat itu, juga tak perlu gentar bila dituduh, karena akan memperoleh kata-kata hikmat darinya. Bila sanggup bertahan, mereka akan tetap hidup (ayat 10-19). Inilah warta bagi orang zaman itu. Dan juga bagi kita pada zaman ini? Marilah sekadar kita tengok dulu latar pemikiran orang banyak pada zaman itu.

ALAM PIKIRAN AKHIR ZAMAN
Sejak lebih dari tiga abad sebelum zaman Yesus, keadaan di negeri orang Yahudi semakin kacau sebagai akibat ketegangan dalam masyarakat Yahudi sendiri yang diperparah oleh datangnya kekuatan luar, mula-mula orang Yunani dan kemudian orang Romawi. Permusuhan timbul di antara pihak-pihak yang tadinya hidup berdampingan dengan damai. Masyarakat rasa-rasanya mengarah ke kehancurannya sendiri. Dalam keadaan itu berkembanglah anggapan bahwa Yang Mahakuasa telah menentukan akhir dari dunia yang makin tak menentu itu. Kapan terjadi menjadi pertanyaan besar. Kekacauan yang dialami tadi juga mulai dipahami sebagai tanda-tanda bakal segera datangnya akhir zaman tadi. Berbarengan dengan itu, berkembang kepercayaan akan tibanya seorang tokoh besar yang bakal memimpin orang keluar melewati zaman edan tadi. Dia akan membangun kembali kehidupan yang morat-marit itu. Mereka yang bertahan dalam zaman susah itu akan diselamatkan dan akan memasuki hidup baru. Itulah secara garis besar alam pikiran yang kini lazim disebut eskatologi apokaliptik ("akhir zaman yang diberitahukan lewat tanda-tanda zaman edan") dan mesianisme apokaliptik ("harapan akan datangnya tokoh terurapi pada akhir zaman tadi"). Alam pikiran ini terungkap dalam Perjanjian Lama dengan jelas dalam Kitab Daniel. Terdapat banyak tulisan lain yang bercorak sastra apokaliptik tetapi tidak termasuk Kitab Suci orang Yahudi. Ada yang berpikir zaman baru itu akan terjadi dalam kehidupan di dunia ini, ada pula yang mau menghayatinya sebagai kenyataan rohani. Baik dalam pengertian politik maupun dalam pemahaman rohani, alam pikiran itu makin berkembang di tengah-tengah ketegangan yang makin memuncak. Akar-akarnya sudah ada sejak akhir abad 4 sebelum Masehi ketika para penerus Iskandar Agung, sang penakluk seluruh wilayah Timur Tengah itu, mulai meluaskan budaya Yunani di Siria-Palestina. Ada perlawanan keras dari beberapa golongan orang Yahudi. Tetapi haluan itu juga mengakibatkan munculnya tekanan pada mereka yang tidak berniat mengadakan perlawanan lewat kekerasan tapi mencari jalan lain. Orang-orang ini malah sering dimusuhi baik oleh sesama orang Yahudi yang mau melawan pengaruh Yunani maupun penguasa asing yang menyamaratakan semua orang Yahudi. Banyak di antara mereka mengungsi ke padang gurun dan tinggal di pelbagai "pertapaan". Itulah asalmula pelbagai kelompok pertapa, seperti kaum Esseni, para rahib Qumran, dan tokoh-tokoh seperti Yohanes Pembaptis dan murid-murid mereka. Ketegangan tadi berlangsung terus pada zaman Romawi. Tidak semua orang Yahudi sepaham. Yesus dan murid-muridnya ada di dalam keadaan seperti itu tetapi mereka tetap berada di lapangan bersama orang-orang yang tetap mau bertahan, tidak mengungsi ke padang gurun.

IMAN YANG HIDUP, BUKAN TEOLOGI LAPUK
Penguasa Romawi menjalankan penumpasan keras terhadap tiap pergerakan yang mereka anggap mau melepaskan diri dari kuasa mereka. Tahun 63 seb. Masehi tentara Romawi dipimpin Pompei mengurung Yerusalem dan membawahkan negeri orang Yahudi pada pengaturan administrasi Romawi. Keadaan ini dirasakan orang sebagai tanda-tanda makin dekatnya akhir zaman. Kemudian penghancuran kota itu bersama dengan Bait Allah pada tahun 70 oleh Titus membuat orang makin melihat bahwa akhir zaman itu sebuah kenyataan yang tak terelakkan. Murid-murid Yesus pun hidup dalam alam pikiran seperti itu. Tetapi bagi mereka, Yesus yang telah bangkit nanti akan kembali lagi dengan kemuliaannya mengawali zaman baru setelah zaman edan yang sedang mereka alami itu selesai.Ada dua macam cara menghayati iman kepercayaan. Murid-murid Yesus tergolong mereka yang berusaha memahami bagaimana bisa hidup terus sebagai orang percaya dan menemukan maknanya dalam zaman yang berubah-ubah dan sering sukar. Iman mereka menjadi hidup. Tapi ada juga kelompok yang lebih suka memperlawankan iman kepercayaan secara frontal dengan pelbagai perubahan zaman. Meski kelihatan kukuh, pemahaman iman atau teologi seperti itu tidak banyak membantu. Tetapi itulah sikap umum Sanhedrin sebagai pemegang kendali hukum agama waktu itu. Mereka jelas tak mau menerima kehadiran orang Romawi. Tetapi karena menghitung kekuatan sendiri tidak cukup, mereka tidak mengadakan perlawanan. Bahkan mereka menekan siapa saja yang mereka anggap akan membuat orang Roma menyangka ada gerakan perlawanan Dalam pandangan mereka, Yesus dan pengikut-pengikutnya mau berontak dan waswas bila nanti pihak Roma akan pukul rata menumpas semua mereka dan kelembagaan agama mereka, yaitu Bait Allah dan kedudukan khas kota Yerusalem. Tetapi para pemimpin itu tetap tidak bisa meluputkan dua lembaga itu dari kehancuran. Bagi mereka yang memandang semua ini dengan alam pikiran mengenai datangnya akhir zaman tadi, kedua lembaga keagamaan tadi memang sudah lapuk dari dalam, tinggal tunggu runtuhnya. Penumpasan oleh pasukan Romawi itu memudahkan, bukan menjadi penyebabnya.WARTA INJILWarta Injil bagi orang-orang yang hidup pada zaman itu sederhana tapi memberi ketenangan, yakni jangan mudah mempercayai orang yang mengaku diri Mesias (ayat 8), dan tabahlah dalam penderitaan (9-19). Penderitaan tidak membuat orang-orang putus harapan asal masih percaya akan datang seorang pembebas. Murid-murid dihimbau agar tidak mudah mempercayai orang-orang yang mengaku diri Mesias karena klaim seperti itu tidak berdasar, tidak meyakinkan. Kemesiasan bukan kedudukan melainkan apa yang nyata-nyata dijalankan. Batu ujinya ialah apakah membuat orang makin lega dan merdeka. Para murid diajak mengingat kembali semua ajaran Yesus dan menjadikannya bagian suara hati. Kemudian, mengapa mereka juga diminta agar tabah, agar bertahan? Bila orang tidak tabah dan mudah menyerah kepada keyakinan yang dipaksakan, maka keyakinan yang mereka ajarkan itu tak bisa dipersaksikan. Sulit mempercayai warta orang yang tak memiliki integritas. Tabah bukan berarti nekat atau biar asal menderita. Tabah berarti bijaksana, inilah maksud ayat 15 yang menyampaikan perkataan Yesus bahwa ia sendiri akan memberikan "kata-kata hikmat" kepada para pengikutnya.

MENUJU KE BAIT YANG BARU
Keagamaan yang berpusat pada Bait Allah itu macet dan tidak membuat orang merasakan kehadiran Yang Ilahi di situ. Bait seperti ini tidak akan bertahan. Memang petikan Injil hari ini ditulis Lukas setelah Bait Allah betul-betul sudah diruntuhkan pada tahun 70. Murid-murid ingat bahwa Yesus dulu pernah mengatakan bahwa akan terjadi. Bagi penguasa Roma, menghancurkan Bait Allah berarti menghilangkan lambang yang menyatukan perasaan religius orang Yahudi yang menjadi ancaman bagi kuasa Romawi. Namun, bagi orang-orang seperti Yesus dan murid-muridnya, kehancuran Bait Allah ini tak terelakkan karena lembaga ini telah terlalu jauh menyalahi perannya sendiri. Pernah ditunjukkan di dalam pembicaraan mengenai kesembuhan sepuluh orang kusta (Luk 17:11-19) bahwa mereka tak mungkin dinyatakan sembuh oleh imam di Bait Allah meski sudah sembuh sungguh. Juga dalam perumpamaan orang Farisi dan pemungut cukai (Luk 18:9-14) ditekankan bahwa orang yang dibenarkan ialah pemungut cukai yang "berdiri jauh-jauh" (ayat 13) dari Bait tempat berdoa orang yang merasa memiliki kebenaran, yakni orang Farisi yang akhirnya tidak dibenarkan itu. Dalam perumpamaan tentang orang yang hampir mati dirampok di perjalanan, diceritakan ada imam dan seorang Lewi lewat dan melihat orang tadi tanpa memberi pertolongan. Mereka itu termasuk lembaga Bait Allah! Dan masih ada beberapa contoh lain di mana Bait Allah tampil bukan sebagai tempat orang memperoleh kebaikan ilahi, tapi malah menghalang-halangi. Karena itu keberadaannya tak lagi berarti. Akan hancur. Namun, seperti disampaikan Injil Yohanes sehubungan dengan peristiwa pembersihan Bait Allah, (Yoh 2:19), Bait yang hancur itu akan dibangun Yesus kembali dalam tiga hari (Lihat juga tuduhan kepadanya di Sanhedrin Mat 26:61 Mrk 14:58.) Dan bangunan yang baru itu akan menjalankan peran dari Yang Terurapi yang sesungguhnya, yang tidak menyekap Yang Ilahi dan memagari ruang gerakNya, tapi bisa menghadirkanNya di tengah-tengah manusia.

Salam hangat,
A. Gianto


--
      



Minggu Biasa XXXII C - 11 November 2007


Hello ,

Injil Minggu Biasa XXXII/C - 11 November 2007 (Luk 20:27-38)

ADA APA SESUDAH KEHIDUPAN INI?
Rekan-rekan yang budiman!Dalam Luk 20:27-38 terungkap perbincangan antara orang-orang Saduki dan Yesus mengenai hidup setelah kehidupan di dunia ini. Apa arti permasalahan itu bagi orang pada zaman ini? Marilah kita tengok terlebih dahulu siapa itu orang-orang itu dan apa haluan pemikiran mereka.

ORANG SADUKI DAN ORANG FARISI
Di kalangan orang Yahudi waktu itu ada sekelompok orang yang dikenal sebagai kaum Saduki. Mereka hanya mengakui kitab-kitab Taurat, yakni Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan, dan Ulangan. Kepercayaan yang tidak berlandaskan Taurat tidak mereka terima. Karena itu mereka juga menyangkal adanya kebangkitan. Memang kebangkitan hanya disinggung dalam Dan 12:2 dan Yes 26:19 yang tidak termasuk Taurat. Dalam hal ini kaum Farisi jauh berbeda. Mereka menegaskan adanya kebangkitan setelah kehidupan di dunia ini. Menurut pandangan mereka, di akhirat ada kelanjutan dari kehidupan di dunia ini lengkap dengan semua lembaganya seperti yang dapat dialami di dunia ini. Persoalan mengenai perempuan yang bersuamikan tujuh bersaudara yang mati bergiliran (Luk 20:28-33) adalah cara orang Saduki melecehkan pendapat orang Farisi. Bila ada kehidupan kelak, maka seperti ditanyakan dalam ayat 33, siapa dari ketujuh bersaudara itu yang menjadi suami perempuan tadi? Dalam hukum Musa ada perkawinan Levirat yang menggariskan agar orang mengawini istri saudaranya yang meninggal demi menjaga kelanjutan keturunan saudaranya itu (Ul 25:5-6). Inilah hukum yang dirujuk orang Saduki dalam Luk 20:28.Orang Saduki bukannya berpendapat bahwa setelah mati manusia hilang begitu saja. Masih ada kelanjutannya, namun bukan berujud kehidupan kembali dengan kebangkitan seperti dipikirkan orang Farisi. Bagi orang Saduki, setelah mati orang masuk ke Syeol, ke dalam kegelapan seperti pada masa sebelum Penciptaan. Keberadaan seperti itu berlanjut terus dan tak ada banyak harapan berubah. Pandangan seperti ini umum diterima dalam alam pikiran Perjanjian Lama dan dunia Timur Tengah pada masa itu.

PERKEMBANGAN KESADARAN
Orang-orang dulu terusik batinnya memikirkan keberadaan di Syeol yang tak terelakkan itu. Mereka mulai bertanya-tanya apakah perbuatan baik selama hidup di dunia ini tidak ada artinya kelak? Lalu bagaimana dengan orang yang menderita terus selama di dunia ini? Apa akan terus terhukum dalam keberadaan tanpa arti itu? Tak ada pelepasan? Di manakah keadilan ilahi? Pertanyaan ini mendasari seluruh Kitab Ayub. Baru menjelang pembuangan berkembang gagasan bahwa di akhirat akan ada pelepasan dari penderitaan sekarang, akan ada pahala abadi bagi perilaku baik dan hukuman kekal bagi kejahatan. Lambat laun keberadaan setelah mati nanti semakin disadari sebagai kehidupan baru. Menurut kaum Farisi, kehidupan ini mulai dengan kebangkitan untuk dapat menikmati hal-hal yang membahagiakan secara badaniah juga. Gagasan inilah yang ditolak mentah-mentah orang Saduki.Keberadaan sesudah hidup di dunia ini memang menjadi pemikiran banyak orang. Orang mau tahu jalan ke hidup kekal, tentunya hidup kekal yang membahagiakan. Ada orang kaya datang bertanya kepada Yesus mengenai jalan ke hidup kekal (Mat 19:16-26 Mrk 10:17-27 Luk 18:18-27). Yesus merujuk kembali kepada ajaran Taurat yang tentu diketahui dan dijalankan orang itu sejak masa mudanya. Itu cukup. Hidup di akhirat nanti bergantung dari upaya menjalankan kebaikan di dunia ini. Kekayaan rohani ini bisa menjadi pijakan bagi hidup di akhirat nanti. Yesus menambahkan, tapi kalau mau sempurna, hendaknya orang kaya itu berani merelakan semua miliknya bagi orang miskin dan mengikuti Yesus. Dengan melepaskan diri dari semua miliknya, orang dapat dipenuhi karunia ilahi. Begitulah orang akan hidup bahagia di hadirat Tuhan sendiri, bukan sebatas menikmati pahala atau menghindari hukuman. Tapi juga ditegaskan, tak ada orang yang bisa mencapai kesempurnaan ini dengan kekuatan sendiri. Hanya Tuhan-lah yang bisa menjadikannya nyata baginya.

TUHANNYA ORANG HIDUP
Orang-orang Saduki ingin tahu apakah Yesus berpihak kepada orang Farisi dalam hal kebangkitan. Jawabannya (ayat 34-38) dimaksud untuk menyadarkan lawan bicaranya mengenai apa yang sebenarnya mau dibicarakan: pikiran-pikiran kita sendiri tentang akhirat atau mau belajar mengenai Dia yang bakal kita pandangi dari dekat nanti? Dalam menanggapi kasus perempuan yang bersuami tujuh bersaudara yang mati satu persatu itu, Yesus mengatakan bahwa perkawinan itu lembaga dari dunia sini dan ada bagi urusan di dunia ini. Maksudnya, perkara itu tidak bisa diterapkan bagi keadaan dunia sana (ayat 34-36). Lalu bagaimana kita bisa membayangkan perkara-perkara di akhirat nanti? Tentunya memakai hal-hal yang bisa membantu mengerti dunia sana itu. Dalam ayat 37-38 Yesus mengajak orang Saduki memperhatikan satu peristiwa yang ada dalam Taurat, kitab-kitab yang mereka terima. Dirujuknya Kel 3:6. Di situ Tuhan mewahyukan diri kepada Musa sebagai Tuhannya Abraham, Tuhannya Ishak, dan Tuhannya Yakub. Maksudnya, leluhur Musa sudah mengenalNya sebagai Dia yang menyelamatkan mereka dan tetap akan menyelamatkan keturunan mereka. Ia Tuhan Pencipta, tapi juga Tuhan yang menyelamatkan, ia Tuhan orang hidup, bukan Tuhannya orang mati.

TENTANG ARWAH
Sekali-sekali kita dengar ada orang yang merasa bisa berkomunikasi dengan "dunia sana", dengan arwah orang yang sudah meninggal yang datang dengan permintaan, keluhan, peringatan, atau petunjuk. Bagaimana pelayanan pastoral kita? Cara Yesus menanggapi hal seperti ini dapat membantu. Ia mengajak orang memusatkan perhatian kepada Tuhan yang menampakkan diri kepada Musa sebagai Penyelamat leluhur Musa sendiri. Ia itu Tuhan orang hidup, Tuhan kita-kita ini. Dan orang-orang yang telah mendahului? Beginilah penalaran Yesus. Karena Tuhan itu Tuhan yang menyelamatkan, maka orang-orang yang mendahului kita itu juga tetap hidup. Dalam ujud mana dan bagaimana tidak kita ketahui. Namun kita yakin mereka bahagia di hadiratNya. Mereka membantu melantarkan kita ke hadirat ilahi. Ya! Mereka itu kekuatan-kekuatan yang dapat membantu kita semakin dekat dengan Dia justru karena mereka sudah dekat denganNya. Tapi bila terasa mereka menarik perhatian kepada mereka sendiri, boleh kita ragukan apakah kekuatan-kekuatan ini sungguh dekat pada Tuhan - atau mereka itu kekuatan-kekuatan yang mau menjauhkan kita daripadaNya?Ada seorang yang dapat membantu kita mengerti. Maria melantarkan kita kepada Tuhan seperti di Kana dulu ketika mendengar penyelenggara pesta gelisah karena kehabisan anggur. Memang Maria datang kepada Yesus mengatakan hal itu. Tapi ia meminta para pelayan supaya menjalankan apa saja yang dikatakan Yesus (Yoh 2:5). Maria mengajak orang semakin mendengarkan Yesus. Kisah itu bersangkutan dengan kehidupan di dunia, namun Maria kini hidup di hadirat Tuhan. Caranya melantarkan kita juga masih sama. Ia juga berdoa bagi "kami yang berdosa ini, sekarang dan pada waktu kami mati" (Salam Maria). Para orang kudus, seperti Oma Miryam kita itu, dapat membantu kita mendengarkan Tuhan.Bagaimana bila ada orang datang dan bercerita merasa didatangi mendiang sanak saudara yang berkeluh kesah belum punya tempat yang tetap....masih harus ke sana ke mari. Bagaimana tanggapan pastoral kita? Tak baik kita berlaku sebagai orang Saduki yang meremehkan hal ini. Tapi kalau kita meng-iya-kan saja, rasanya juga tidak memberi pelayanan yang baik Bagaimana bila kita katakan, jangan arwah yang datang itu "ditahan" dengan pikiran-pikiran kita sendiri mengenai mereka? Kita sekarang tahu bahwa energi rohani kita luar biasa besarnya. Bila kita belum bersedia "merelakan", bisa jadi jejak-jejak mereka juga tak dapat sepenuhnya meninggalkan keterbatasan dunia ini. Perkara ini sering kurang kita sadari. Sekali lagi kita bisa belajar dari Maria - lewat ingatan Oom Hans. Di kayu salib Yesus menyerahkan Maria kepada Yohanes yang dimintanya menerima Maria sebagai ibunya (Yoh 19:25-26). Apa maksudnya? Maria dibesarkan hatinya agar saat itu juga merelakan. Sekarang Yohanes-lah yang menjadi anaknya. Juga dicatat Luc, Yesus ini seperti waktu kecil dulu, ia sudah merasa perlu tinggal di rumah Bapanya (Luk 2:49). Sudah lama Oma Miryam menyimpan perkara ini dalam hatinya, bisik Luc. Kebesaran budi hati Maria yang merelakan Yesus itulah yang membuat kepergiannya kepada Bapa menjadi jalan bagi Yesus untuk dapat hadir kembali mempersaksikan kepada kita kebesaran BapaNya.

Salam hangat,
A. Gianto


--




Minggu Biasa XXXI C - 4 November 2007

Hello ,

Injil Minggu Biasa XXXI/C tgl. 4 November 2007 (Luk 19:1-10)

DIA MENUMPANG DI RUMAH ZAKHEUS!
Rekan-rekan pemerhati kisah Zakheus!
Peristiwa yang dikisahkan dalam Luk 19:1-10 dan dibacakan pada hari Minggu Biasa XXI tahun C ini tidak asing lagi bagi kita. Dalam perjalanannya menuju ke Yerusalem, Yesus singgah di Yerikho dan menumpang di rumah kepala pemungut cukai yang bernama Zakheus. Kejadian ini membuat orang banyak kurang senang. Mereka menggerutu (ayat 7), "Ia menumpang di rumah orang berdosa!" Namun Yesus berkata (ayat 9-10), "Hari ini telah terjadi keselamatan kepada seisi rumah ini, karena orang ini pun anak Abraham. Sebab Anak Manusia (= dirinya) datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang." Apa maksudnya? Dan apa tujuan Lukas menceritakan peristiwa ini?

YANG KEHILANGAN ARAH
Ungkapan "yang hilang" (ayat 10) maknanya "yang kehilangan arah dan mengalami bahaya maut". Yesus menerapkan gagasan itu kepada Zakheus. Memang di mata orang banyak ia "kehilangan arah" dan sudah tak tertolong lagi. Bayangkan, seorang Yahudi yang bekerja memungut cukai dari bangsa sendiri bagi penguasa asing. Pekerjaan ini dianggap kotor. Memang tak sedikit dari mereka yang menjadi kaya dengan memeras orang lain. Zakheus bukan hanya seorang pemungut cukai, ia kepala pemungut cukai. Lukas juga menyebutnya sebagai orang kaya. Pembaca Injil ini dapat membayangkan bagaimana anggapan orang banyak mengenai Zakheus ini. Ia pendosa besar. Ia sudah terhukum di mata banyak orang.
Namun Lukas juga menyiapkan pembacanya agar mengerti apa yang sedang terjadi pada Zakheus. Dalam Luk 15:1-7 dicatatnya perumpamaan domba yang sesat. Dari tiga ayat pertama jelas bahwa perumpamaan itu disampaikan Yesus untuk menanggapi gerutuan orang-orang Farisi dan para ahli Taurat yang melihatnya bergaul dengan para pemungut cukai dan pendosa lainnya. Kelompok yang dijauhi oleh orang-orang yang merasa diri saleh ini diumpamakan sebagai seekor domba yang tersesat - tak menemukan jalan yang ditempuh ke-99 ekor lainnya. Namun pemilik kawanan domba tadi merasa kepunyaannya tidak lagi utuh - tidak lagi bulat seratus - bila satu saja hilang. Maka ia pergi mencarinya sampai ketemu. Dan ia lega ketika menemukannya kembali. Ia bahkan mengajak handai taulannya ikut bersukacita. Kata yang dipakai untuk menyebut domba yang hilang dalam Luk 15:4 itu - "to apoloolos" - sama dengan yang digunakan untuk mengibaratkan Zakheus dalam Luk 19:10.

AJAKAN BERNALAR
Perumpamaan mengenai domba yang sesat itu menggambarkan kesungguhan Tuhan untuk membuat kawanannya utuh kembali. Orang-orang Farisi dan ahli Taurat yang merasa diri saleh dan tahu kehendak Tuhan diminta agar berusaha melihat apa yang sungguh dilakukan Tuhan kepada manusia dan tidak hanya puas dengan praktek kesalehan dan rumusan doktrin mereka sendiri. Kini dalam kisah Zakheus, bukan hanya mereka yang dihimbau, melainkan juga orang banyak, termasuk orang-orang yang mengagumi Yesus dan mengiringkannya dari tempat ke tempat. Mereka ini mudah berubah sikap bila melihat tokoh yang mereka kagumi itu tidak menepati bayangan mereka! Tetapi Yesus tetap mengajak mereka berpikir. Zakheus ini ialah domba yang kehilangan arah - tidakkah kalian iba? Tidakkah kalian ingin agar kawanan menjadi utuh kembali, tanpa meninggalkan seorangpun mencari-cari arah dan menghadapi bahaya? Apakah kalian tidak ingin ikut bergembira dengan pemilik kawanan tadi, dengan perempuan yang menemukan dirham yang terselip (Luk 15:8-10), dengan sang ayah yang mendapati anaknya yang hilang yang kini telah kembali (Luk 15:11-32)?

PUTAR HALUAN?
Zakheus bergembira karena rumahnya didatangi Yesus. Tentu ia juga sadar bahwa dengan tindakannya ini Yesus mempertaruhkan gambaran tentang dirinya sendiri di hadapan banyak orang. Tapi Zakheus juga percaya bahwa public figure yang satu ini tidak membiarkan diri ditentukan oleh pandangan umum. Dari manakah integritas yang seperti itu? Pasti Zakheus bertanya-tanya dalam hati demikian. Ia tahu ada kekuatan yang mendampingi Yesus. Dengan mendatanginya, Yesus berbagi kekuatan dengannya. Ia sendiri kini juga mendapatkan kekuatan tadi. Zakheus kini berani "putar haluan". Ia mau berbagi milik dengan orang miskin dan siap mengembalikan hasil pungutan liar empat kali lipat. Ini bukan hanya antusiasme sesaat belaka. Kesediaannya berbagi harta dan mengembalikan pungutan tak sah itu menjadi usahanya yang nyata untuk menelusuri kembali arah yang bakal membawanya pulang ke jalan yang benar.
Apakah peristiwa di Yerikho itu dimaksud sebagai imbauan bagi pembaca agar berputar haluan seperti Zakheus? Boleh jadi kita cenderung cepat-cepat menafsirkannya demikian. Tapi bila kita tempuh arah itu, warta petikan ini akan mudah terasa hambar karena tampil sebagai cerita contoh kelakuan baik belaka. Kita malah akan ikut-ikutan menggarisbawahi sikap orang banyak yang mengadili Zakheus dan akhirnya juga mengadili Yesus sendiri. Maklum, bagi orang-orang itu, satu-satunya jalan bagi Zakheus agar bisa menjadi lurus kembali ialah "bertobat". Dan satu-satunya cara bagi Yesus untuk naik kembali dalam skala moral mereka ialah hanya bergaul dengan orang yang sudah bertobat, bukan pendosa lagi. Namun Injil mengajak kita melihat ke arah lain. Yang diharapkan putar haluan dan bertobat justru orang banyak tadi. Dapatkah mereka melihat apa yang sedang terjadi kini? Utusan Tuhan yang sedang berjalan ke Yerusalem singgah menumpang di rumah orang yang tak masuk hitungan mereka. Maukah mereka berusaha menangkap isyarat ilahi ini? Bagaimana bila kita juga termasuk orang banyak itu?
Kata-kata Yesus pada akhir petikan ini (ayat 10) mendorong agar orang berani memikirkan pandangan mereka mengenai siapa dia itu dan apa yang dilakukannya. Ia itu Anak Manusia, salah satu dari kemanusiaan yang diutus untuk mencari sampai ketemu dia yang kehilangan arah dan meluputkannya dari bahaya maut. Ia diutus untuk melepaskan orang dari ikatan-ikatan yang menyesatkan, kedatangannya bukan untuk dielu-elukan belaka.

MENYELAMATKAN "SEISI RUMAH"
Dikatakan penyelamatan terjadi "pada seisi rumah ini" (ayat 9). Ungkapan ini luas cakupannya. Yang dimaksud ialah siapa saja dan apa saja yang ada di situ: Zakheus, harta miliknya, dan....orang banyak juga! Yang terjadi pada Zakheus sudah jelas. Kini giliran harta miliknya diselamatkan karena mendapat arti yang baru. Kekayaan yang tadi menyendirikannya kini dapat membuatnya mendapat banyak rekan. Harta mati itu kini menghidupkan!
Juga orang-orang yang tadi tidak puas melihat Yesus kini mau tak mau akan mulai memikirkan kembali kembali perangkat ukuran kesalehan mereka. Penyelamatan pun terjadi pada mereka. Entah diterima atau tidak adalah tanggung jawab orang-perorangan. Itulah yang terjadi pada hari itu. Orang kini mau tak mau harus keluar dari persembunyian di balik pendapat umum, tidak lagi bisa jadi "orang banyak".
Dalam teks aslinya, dipakai kata "sooteeria", yang lebih baik diungkapkan kembali sebagai "penyelamatan", dan bukan "keselamatan" karena yang ditekankan ialah kegiatan menyelamatkan bukan melulu hasilnya, yakni "keselamatan". Ini lebih dari sekadar latihan tatabahasa atau perkara terjemahan belaka. Bila dipakai kata "keselamatan", akan sulit dimengerti keselamatan terjadi pada orang banyak yang kurang suka menerima kelakuan Yesus tadi. Belum tentu mereka menerima keselamatan. Tetapi bila yang tampil itu gagasan "penyelamatan", maka akan lebih terang maksudnya. Yesus berusaha menyelamatkan orang banyak tadi dari anggapan-anggapan mereka sendiri mengenai kaum pendosa dan mengenai Tuhan. Mereka menerima atau tidak adalah soal lain.

ABRAHAM, BAPAK SEMUA ORANG BERIMAN
Zakheus diselamatkan karena ia pun anak Abraham. Tak sukar memahami maksud Yesus. Ia mengajak orang-orang yang merasa diri pewaris iman Abraham agar juga mau berlaku seperti Abraham sendiri, yakni mau membiarkan Tuhan leluasa menuntun orang di jalanNya dan tidak menghalang-halangiNya dengan gagasan-gagasan mereka sendiri mengenai apa yang harus dikerjakanNya atau apa yang tak sepantasnya diperbuatNya.
Dapatkah Warta Gembira hari ini dibawa ke zaman kita? Abraham, yang juga diucapkan sebagai Ibrahim itu, adalah bapak iman dalam tiga agama yang mengakui keesaan Tuhan. Dia yang Mahaesa itu memperkenalkan diri dengan macam-macam cara kepada keturunan orang yang dikasihiNya itu. Boleh jadi lebih tepat dikatakan, Ia membiarkan diri dikenal dengan pelbagai cara untuk memperkaya manusia-manusia yang menghayati iman Abraham/Ibrahim. KebesaranNya tak bakal selesai diwartakan dan tak bakal tuntas diajarkan.
Tiap anak Abraham atau Ibrahim berhak mendapatkan yang diinginkan Yang Mahakuasa sendiri. Bagaimana dengan kenyataan yang kita lihat? Ada keretakan, bahkan ada saling kebencian. Ironi. Namun tak perlu sisi suram kemanusiaan ini membuat orang mencari-cari wajah Tuhan yang mangkir. Dia masih ada dan masih sama, kerahimanNya masih ditawarkan bagi semua orang. Dan syukurlah masih ada orang yang percaya akan hal ini. Dan kekuatan iman mereka ini membuat wajah Tuhan makin terlihat. Pemeluk iman yang dipercontohkan Abraham-Ibrahim dapat membuat wajahNya makin tampak

Salam hangat
A. Gianto 

--



Minggu Biasa XXX/C - 28 Oktober 2007

Hello ,

Injil Minggu Biasa XXX/C tgl. 28 Oktober 2007 (Luk 18:9-14)

DOANYA...KOK MANDUL! BAGAIMANA BISA KABUL YA?
Rekan-rekan yang baik!
Apa maksud perumpamaan mengenai orang Farisi dan pemungkut cukai dalam Luk 18:9-14 ini? Disebutkan pada awal bahwa Yesus menyampaikan perumpamaan itu kepada beberapa orang yang "menganggap diri benar" serta "memandang rendah semua orang lain". Terasa adanya imbauan agar orang berani meninjau kembali gambaran tentang diri sendiri dan tentang sesama yang mewarnai hubungan dengan Tuhan dan , khususnya di sini, menentukan cara berdoa.

ORANG FARISI DAN PEMUNGKUT CUKAI
Kedua tokoh dalam perumpamaan itu diceritakan sama-sama naik menuju ke Bait Allah "untuk berdoa", untuk menghadap Yang Mahakuasa dan membuka diri kepadaNya, bercerita kepadaNya, menyampaikan beban batin kepadaNya. Satu hal sudah dapat kita peroleh dari kisah perumpamaan ini. Dia yang diam di tempat tinggi itu dapat didatangi. Dia ada di sana dan siap mendengarkan. Giliran bagi yang datang: apa yang dibawakan kepadaNya itu sepadan dengan perhatianNya?
Marilah kita amati gerak-gerik orang Farisi itu. Ia memasuki Bait Allah dengan kepercayaan diri yang tebal dan penuh perhitungan. Dikatakan dalam ayat 11, ia "berdiri dan berdoa dalam hatinya". Dalam bahasa aslinya, maksudnya, ia "berhenti" di jalan masuk ke Bait Allah sambil merencanakan apa yang akan dikatakannya dalam doanya nanti. (Dalam teks Yunani, "proseeykheto" itu ialah imperfekt konatif, bentuk untuk mengatakan perbuatan yang baru dirancang.) Disusunnya pokok-pokok yang nanti didoakannya. Kata-kata yang disebut dalam ayat 11-12 sebetulnya belum sungguh diucapkannya sebagai doa. Baru "sketsa"-nya dalam pikirannya walau sudah jelas ke mana arahnya. Ia bermaksud mengucap terima kasih kepada Yang Mahakuasa karena ia tidak bernasib sama dengan kaum pendosa. Ia merasa mendapat perlakuan istimewa dariNya sehingga tidak perlu menjadi perampok, penjahat, orang yang tak punya loyalitas, apalagi - boleh jadi sambil mengingat orang yang tadi dilihatnya - tidak seperti pemungkut cukai yang mengkhianati bangsa sendiri dengan memeras bagi penguasa asing. Dalam doanya nanti ia juga bermaksud mengingatkan Tuhan bahwa ia berpuasa dua kali seminggu dan mengamalkan bagiNya sepersepuluh dari semua penghasilannya. Ia merasa telah memenuhi semua kewajibannya. Semua beres. Dan doa yang akan disampaikan nanti pasti akan menjadi doa yang meyakinkan Tuhan pula! Begitu pikirnya.
Bagaimana dengan si pemungkut cukai? Ia "berdiri jauh-jauh". Ia juga berhenti, tapi berjauhan dari tempat orang Farisi tadi. Ia merasa tak pantas berada dekat dengan orang saleh itu. Apalagi mendekat ke Tuhan sendiri. Apakah ia juga mau merencanakan sebuah doa? Sulit, ia bahkan tidak berani memandang ke atas. Gagasan menghadap Yang Mahakuasa membuatnya gentar. Tidak seperti orang Farisi yang penuh kepercayaan diri itu. Meskipun merasa butuh menghadap ke Bait Allah, pemungkut cukai itu tidak menemukan apa yang bisa disampaikannya nanti di sana. Ia tak punya apa-apa kecuali perasaan sebagai pendosa. Ia berulang kali menepuk dada dan minta dikasihani - ia yang pendosa itu.
Menurut sang Guru, pemungkut cukai tadi pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Tuhan tetapi orang Farisi itu tidak. Mengapa? Kiranya pemungkut cukai tadi telah benar-benar berseru kepada Tuhan dan Ia menjawab. Dalam seruannya ia menyediakan dirinya sebagai penerima belaskasihNya. Tidak demikian dengan orang Farisi tadi. Kemasan doa yang disiapkannya itu sarat dengan "aku..., aku..., aku....". Dirinya sendirilah yang menjadi pokok doanya. Tuhan semakin tidak mendapat tempat. Doanya mandul karena terlalu penuh dengan dirinya sendiri. Doa pemungkut cukai itu kabul karena membiarkan diri dipenuhi belaskasih dari atas. Pokok doanya ialah Tuhan sendiri. Pembaca boleh ingat akan doa yang diajarkan Yesus sendiri. Doa Bapa Kami dalam bahasa mana saja berpokok pada Bapa. Orang yang berdoa tidak pernah menjadi pokok kalimat di mana pun dalam doa itu.

CATATAN LUKAS
Lukas memberi catatan ringkas yang besar artinya pada awal petikan ini. Dikatakannya bahwa Yesus menyampaikan perumpamaan ini "kepada beberapa orang yang menganggap diri benar dan merendahkan semua orang lain". Kiranya di kalangan umat pengarang Injil itu ada sekelompok orang yang yakin bahwa dengan menjalani serangkai tindakan kesalehan, mereka boleh merasa aman dan dekat kepada Tuhan. Tentu saja mereka ini bukan sekadar berpura-pura. Namun lambat laut timbul anggapan di antara mereka bahwa orang-orang lain jauh dari perkenan Tuhan. Orang-orang itu dianggap patut dijauhi. Mereka semakin tidak diterima sebagai sesama. Pendapat ini menjadi cara mengadili orang lain, menjadi cara memojokkan orang yang tidak disukai. Menjadi cara menjatuhkan hukuman sosial. Sulitnya kerap kali yang dicap demikian juga sudah pasrah menerimanya. Mereka merasa diri patut disingkiri. Syukurlah di dalam umat itu masih ada orang-orang yang mampu dan berani memikirkan apa hal ini boleh dibiarkan terus. Apa kehidupan itu ya harus seperti itu? Apa Yang Mahakuasa juga memperlakukan orang demikian? Mereka mencoba menerapkan bagaimana sikap Yesus Guru mereka dulu dalam menghadapi keadaan ini. Di situ terlihat ingatan akan Yesus dan ajarannya bukan hanya kenangan belaka melainkan Roh yang hidup dan mendewasakan batin. Inilah suara hati yang makin bersatu dengan Roh Kristus yang hidup dalam batin orang, juga pada zaman ini.
Pada akhir perumpamaan itu Lukas juga masih menyertakan perkataan Yesus, "...siapa saja yang meninggikan diri, ia akan direndahkan dan siapa saja yang merendahkan diri akan ditinggikan" (ayat 14). Kata-kata ini sudah pernah muncul dalam Luk 14:11. Di sana diterapkan kepada keinginan orang untuk mendapatkan kehormatan di mata orang. Sekarang dalam perumpamaan orang Farisi dan pemungkut cukai ini, kata-kata tadi diterapkan kepada orang yang mau meninggikan diri di hadapan Tuhan. Orang yang mencari kebesaran diri di mata orang banyak dan di hadirat Tuhan akan mengalami kekecewaan karena kenyataannya nanti jauh berbeda. Penghargaan yang mereka rasakan itu semu, tak bertahan lama karena mereka akan digeser kalau ada orang lebih penting datang, atau keliru samasekali karena Tuhan tidak terkesan oleh omongan mengenai persembahan persepuluhan, mengenai puasa dua kali seminggu, apalagi oleh kecongkakan batin yang merendahkan orang lain.

IKUT MEMBAWAKAN KABAR GEMBIRA
Disarankan dalam ulasan mengenai orang yang berebut tempat terhormat di mata orang banyak (Luk 14:1.7-14) bahwa para murid diminta ikut mengusahakan tempat terhormat bagi sebanyak mungkin orang sehingga tidak hanya satu orang saja yang bakal mendapatkannya. Perumpamaan itu tidak dimaksud untuk mencela keinginan mendapatkan tempat yang terhormat. Yang mau diajarkan ialah agar para murid tak tinggal diam melihat orang berebut tempat paling terpandang. Semestinyalah mereka mencarikan tempat terhormat bagi tiap orang karena bagi tiap orang ada tempat yang terhormat. Bagaimana dengan perumpamaan orang Farisi yang mau mendapatkan kehormatan di mata Tuhan dengan merendahkan orang lain? Orang Farisi ini hanya melihat satu jalan saja mendapatkan perkenan dari atas. Ia sebetulnya membatasi kemerdekaan Tuhan. Para murid dan orang banyak sudah tahu sikap itu bukan sikap yang terpuji. Walaupun demikian perumpamaan ini bukanlah perumpamaan untuk mencela belaka, atau perumpamaan untuk mengukur doa mana yang betul doa mana yang kurang baik. Lalu? Yesus hendak mengajak berpikir bagaimana orang dapat sungguh mendapat perkenan Tuhan dan menjadi tinggi di dalam pandanganNya, bukan besar di mata sendiri atau di muka manusia.
Digambarkan dalam perumpamaan ini doa yang kabul dan doa yang mandul, doa yang tidak bisa didoakan dengan sungguh. Apa yang mesti dilakukan murid? Tentunya mereka diharapkan membantu orang-orang agar doa bisa sungguh didoakan. Inventarisasi kebaikan diri sendiri bukan bahan doa yang pantas disampaikan ke hadapan Tuhan. Masakan doa penuh dengan aku begini, aku begitu, aku bersih, tak seperti kaum penjahat itu! Jadi, doa pemungkut cukai itu doa yang lebih baik? Marilah kita cermat membaca dan menafsirkannya. Tidak disebutkan demikian. Yang dikatakan, orang seperti pemungkut cukai itu tadi pulang ke rumah dibenarkan. Rasa-rasanya pemungkut cukai itu pun masih butuh belajar berdoa. Mengakui diri pendosa satu hal, menjalankan hal yang mengatasi keterbatasan ini masih bisa dikembangkan. Dan para murid diminta juga membantu orang-orang yang seperti itu. Murid-murid diutus memberi tahu mereka bahwa sikap mereka meminta belaskasih Tuhan itulah yang membuat hidup mereka berharga. Ini Kabar Gembira buat mereka. Bila orang-orang ini dapat mengalami Kabar Gembira lebih jauh, mereka pasti akan lebih berani mendekat kepada Dia yang Maharahim itu. Banyak orang di masa kini dapat merasa apa itu hidup dalam kedosaan, apa itu takut pada Tuhan, tetapi kurang melihat bahwa Ia juga Tuhan yang penuh kerahiman. Dan murid-murid boleh merasa ikut bahagia diajak mengajarkan kerahimanNya seperti Yesus sendiri pernah mengajarkannya kepada orang banyak.

Salam hangat
A. Gianto 



Minggu Biasa XXIX C - 21 Oktober 2007

Hello ,

Injil Minggu Biasa XXIX/C tanggal 21 Oktober 2007 (Luk 18:1-8)

BERDOA TANPA JEMU-JEMU - APA MAKSUDNYA?
Rekan-rekan yang budiman!
Perumpamaan di dalam Luk 18:1-8 sebetulnya disampaikan sebagai bahan pemikiran bagi para murid mengapa perlu "selalu" dan "tanpa jemu-jemu"-nya berdoa dan dalam arti mana. Perumpamaan ini berbicara mengenai seorang hakim yang "tak takut akan Allah dan tak menghormati siapapun" tetapi yang akhirnya bersedia memenuhi permohonan seorang janda agar perkara janda itu dibela olehnya. Hal itu dilakukannya agar tidak lagi terganggu oleh permintaan yang terus-menerus dari pihak janda tadi (ayat 1-5). Murid-murid diminta memikirkan yang dikatakan hakim yang tak adil itu (ayat 6 "Perhatikanlah...!" merujuk ke ayat 5). Kemudian ditegaskan, bila hakim seperti itu saja akhirnya mau mendengarkan permohonan yang terus-menerus disampaikan, apalagi Allah. Dia yang Mahamurah itu tentunya akan membela orang-orang yang mendekat kepadaNya - dalam bahasa Kitab Suci, orang-orang pilihanNya. Lagipula Ia tidak akan seperti membiarkan orang menunggu-nunggu, melainkan akan segera bertindak (ayat 7-8a). Jelas kiranya perumpamaan itu juga dimaksud menggambarkan kemurahan ilahi.

PERMINTAAN DALAM IMAN
Pada akhir petikan ini (ayat 8b) Yesus menambahkan, "Akan tetapi, jika Anak Manusia itu datang, apakah ia akan mendapati iman di bumi?" Apakah maksud perkataan ini sehubungan dengan perumpamaan di atas?
Pertanyaan Yesus itu juga erat kaitannya dengan peristiwa kedatangan Kerajaan Allah yang dibicarakan dalam Luk 17:20-37 yang mendahului petikan ini. Ditandaskan di situ bahwa Kerajaan Allah datang "tanpa tanda-tanda lahiriah", maksudnya tanpa tanda-tanda yang menggetarkan. Kerajaan Allah sudah ada di tengah-tengah manusia (Luk 17:21) dan terjadi dalam kehadiran Yesus yang membawakan warta datangnya Kerajaan Allah di tengah-tengah umat manusia. Menerima warta ini berarti percaya, mengimani bahwa Kerajaan Allah menjadi ruang hidup yang baru. Ruang hidup inilah yang membuat orang-orang yang berlindung kepada Allah boleh merasa aman. Mereka itu menjadi orang-orang pilihanNya. Allah tidak mengulur-ulur waktu bila mereka berseru minta pertolongan. Mustahil Ia mendiamkan mereka yang siang-malam berseru kepadaNya. Sikap memohon dengan tak kenal putus asa itu ditampilkan sebagai sikap yang tumbuh dalam diri orang yang beriman. Bila dipadukan dengan keinginan untuk ikut serta dalam warta dibawakan Yesus sang Anak Manusia yang diutus Allah itu, maka doa ini amat besar kekuatannya. Seperti dalam Perjanjian Lama, Allah melihat penderitaan umatNya yang berseru kepadaNya dan Ia turun untuk memimpin mereka keluar dari penderitaan mereka (bdk. Kel 3:7-10; 6:5-7).

AJARAN AGAR TETAP MEMOHON?
Mengapa Yesus menegaskan perlunya berdoa tanpa jemu-jemu? Bukankah para murid sudah tahu? Bukankah mereka juga sudah cukup yakin bahwa Allah tidak akan melalaikan orang yang berseru kepadaNya? Perumpamaan ini sebaiknya juga didalami dengan cara yang mirip dengan yang dipakai dalam memahami kata-kata Yesus dalam Luk 17:6 yang menanggapi permintaan para murid agar iman mereka ditambah. Para murid sudah tahu bahwa iman itu memiliki kekuatan, justru karena itulah mereka minta tambahan iman. Dalam ulasan mengenai petikan itu dijelaskan bahwa Yesus sebenarnya bermaksud mengajak para murid menyadari bahwa iman bukan semata-mata kekuatan batin yang menakjubkan melainkan kesediaan menjalankan kehendak Bapa dengan penuh pengabdian seperti dilakukannya sendiri. Gagasan ini jelas dari pengajaran mengenai sikap seorang hamba dalam Luk 17:7-10. Begitu pula perumpamaan dalam Luk 18:1-8 sebaiknya dilihat bukan sebagai ajaran mengenai perlunya berdoa tanpa jemu-jemunya melainkan sebagai ajakan bagi para murid agar melandaskan doa mereka pada iman yang sesungguhnya, yakni kesiagaan serta pengabdian kepada kehendak Bapa.
Kisah kesembuhan sepuluh orang kusta Luk 17:11-19 juga dapat membantu. Dari sepuluh orang yang sembuh itu hanya orang Samaria sajalah yang kembali kepada Yesus sambil meluhurkan Allah. Ia mengenali Yesus yang sedang berjalan memenuhi kehendak Bapanya menjadikan Kerajaan Allah sebuah kenyataan di bumi ini. Orang Samaria tadi sebenarnya berbagi iman dengan Yesus sendiri. Baginya Anak Manusia yang disebut dalam Luk 18:8b telah datang dan mendapatinya penuh iman.
Bagaimana dengan kata-kata Yesus setelah mengajarkan doa Bapa Kami mengenai orang yang malam hari datang membangunkan sahabatnya dan tanpa malu-malu minta dipinjami tiga potong roti bagi tamunya (Luk 11:5-8, bdk. Mat 7:7-11)? Orang itu akhirnya dibukai pintu juga. Di situ diajarkan agar orang tanpa sungkan-sungkan memohon kepada Bapa yang ada di surga. Sikap demikian itu juga menjadi ungkapan iman.

MENARIK HIKMAT DARI KEHIDUPAN
Perumpamaan mengenai hakim yang tak adil ini mengingatkan pada perumpamaan mengenai bendahara yang tak jujur dalam Luk 16:1-9. Kedua tokoh itu ditampilkan sebagai orang yang wataknya tak lurus tapi dalam keadaan tertentu dapat menjalankan hal yang pada dirinya sendiri patut dipuji. Bendahara yang tak jujur itu dapat berlaku cerdik dan dengan demikian dapat menyelamatkan diri. Begitulah bendahara itu berhasil mengatasi keadaannya yang gawat. Anak-anak terang dapat belajar dari kesigapannya. Hakim yang akhirnya mau membela si janda dapat menjadi batu loncatan untuk mengerti kemurahan Allah. Demikianlah Yesus sang Guru itu berani memakai bahan dari kehidupan yang penuh liku-liku dan yang sering kelabu itu untuk menarik garis yang lurus dan terang. Tokoh-tokoh kompleks itu ada dalam kehidupan nyata. Kebijaksanaan seorang Guru seperti Yesus itu terletak dalam kemampuannya melihat sisi yang membawa orang dapat maju ke depan, bukan yang membuat orang menyerah dan putus harapan. Tersirat di dalam perumpamaan-perumpamaan itu ajakan untuk belajar menarik hikmat dari kenyataan hidup sehari-hari. Sekaligus diajarkan agar murid-murid tidak membiasakan diri berpikir dalam arah-arah yang sudah mapan belaka. Kebiasaan seperti itu sebenarnya hanya memberi rasa aman yang semu, bukan iman yang hidup.

MENUJU KE MASA DEPAN - DENGAN IMAN
MAR: Iman yang diharapkan ada di muka bumi bila Anak Manusia datang (Luk 18:8b) ialah iman yang dalam cara bicara orang zaman ini proaktif sifatnya, bukan reaktif atau bahkan pasif melulu.
WID: Benar. Iman bukan semata-mata keteguhan yang muncul untuk membenarkan atau menyalahkannya keadaan?
MAR: Warta Injil dapat juga diperdengarkan bagi keadaan sekarang. Ini nih di negara kita ini kan sedang terjadi pergantian kepemimpinan. Bagaimana sikap orang yang mengimani hadirnya Kerajaan Allah yang diumumkan oleh Yesus?
WID: Tentunya ia akan berusaha melihat arah-arah yang membawa ke perkembangan.
MAR: Saya rasa, ini dapat terjadi dengan secara proaktif berbuat menurut arah-arah tadi tanpa membiarkan diri dikeruhkan kecemasan atau impian ini atau itu belaka.
WID: Nah begitu kan! Usaha ini bisa membuahkan perbaikan, lagipula tak bergantung pada keadaan sesaat-sesaat. Ini namanya mengaktualkan warta Injil.
MAR: Jadi apa benar bila dikatakan keberanian iman itu perlu dibarengi perhitungan.
WID: Itu justru yang mematangkan iman.
MAR: Dan nanti pihak-pihak yang tadinya tidak banyak memikirkan pun akan ikut memperhitungkan?
WID: Itu baru terjadi bila appealnya ke penalaran!
MAR: ???
WID: Ingat apa yang dikatakan "dalam hati" oleh hakim tak adil tadi (Luk 18:4) - dan juga oleh bendahara yang tak jujur (Luk 16:3-4)? Bila memakai perhitungan nalar - "dalam hati" - mereka yang tidak termasuk kaum lurus itu pun dapat mengatasi keterbatasan mereka sendiri.
MAR: Kok tafsirnya sedemikian realistik.
WID: Tafsir kan tak usah mengawang-awang. Masa depan juga tidak terbangun di awang-awang sana. Perlu dititi dengan yang nyata-nyata dijalani.


Salam hangat,
A. Gianto