Kekayaan atau Kebijaksanaan?

Nasrudin berbincang-bincang dengan hakim kota. Hakim kota, seperti umumnya cendekiawan masa itu, sering berpikir hanya dari satu sisi saja. Hakim memulai, "Seandainya saja, setiap orang mau mematuhi hukum dan etika, ..."

Nasrudin memotong, "Bukan manusia yang harus mematuhi hukum, tetapi justru hukum-lah yang harus diseusaikan dengan kemanusiaan."

Hakim mencoba bertaktik, "tetapi coba kit alihat cendekiawan seperti Anda. Kalau Anda memiliki pilihan: kekayaan atau kebijaksanaan, mana yang akan Anda pilih?"

Belajar Berhenti

Cerita dari Guru (Ajahn) Brahm dalam "Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya 3!":

Mengenal krisis keuangan global yang menimpa dunia, saya sering memberikan sebuah kiasan kecil yang saya sampaikan ke banyak orang di Singapura. Saya mengatakan bahwa krisis itu seperti musim dingin ekonomi.

Mereka yang lahir di belahan bumi utara mengalami langsung musim dingin. Seperti yang saya ingat mengenai musim dingin di Inggris, jika Anda pergi ke luar kota, Anda tidak akan melihat sehelai daun pun di pohon. Bunga-bunganya mati. Segalanya tampak tak bernyawa. Bahkan hewan-hewan bersembunyi di liang bawah tanah, tidur panjang pada musim dingin. Di luar London, segalanya kelabu, pohon-pohon tampak seperti tengkorak. Tidak ada yang hidup, tidak ada harapan, segalanya dingin, mati, dalam pemandangan musim dingin yang kelabu.

Injil Minggu Biasa 22 B 2015

Eksegese Injil Minggu Biasa XXII/B 30 Agustus 2015 (Mrk 7:1-8.14-15.21-23

By admin on August, 2015 Jendela Alkitab, Mingguan 

Sikap Beragama Yang Sejati ?

Rekan-rekan yang budiman!

DALAM tiap masyarakat agama ditumbuhkan dan dikembangkan hidup rohani lewat lembaga hukum, aturan, tatacara, upacara, dan pemahaman kisah-kisah sakral (Kitab Suci). Jadi ada tujuan, yakni kerohanian, dan ada pula sarananya, yaitu kelembagaan tadi. Dalam kenyataan kerap tujuan dan sarana saling bertukar. Misalnya, tata upacara atau hukum-hukum agama menjadi makin dipentingkan dan menyingkirkan semua yang dirasa tidak sejalan. Akibatnya, kelembagaan lambat laun menjadi tujuan beragama, bukan lagi sarana. Orang bisa mulai merasa sesak, kurang leluasa. Sering dalam keadaan ini ada pembaruan untuk menjernihkan tujuan semula. Hidup beragama biasanya berada di antara dua kutub itu. Bisa lebih dekat dengan yang satu, bisa menjauh dari yang lain. Ada kecenderungan untuk hanya melihat tujuan sehingga sarana kelembagaan disepelekan. Tapi ada juga tarikan untuk mementingkan sarana dengan akibat tujuan menjadi kabur.

Injil Minggu Biasa 21 B 2015

Ulasan Eksegetis Injil Minggu XXI/B 23 Agustus 2015 (Yoh 6:60-69

BY ADMIN ON AUGUST, 2015 JENDELA ALKITAB, MINGGUAN

LUAR BIASA!

Rekan-rekan,

Dari bacaan Yoh 6:60-69 dapat disimpulkan bagaimana para murid yang paling dekat pun bisa mengalami kesulitan memahami perkataan Yesus mengenai dirinya sendiri sebagai roti kehidupan yang turun dari surga. Lebih sukar lagi mengerti penjelasan Yesus dalam Yoh 6:65 bahwa tak ada seorang pun dapat datang kepadanya bila Bapa tidak mengaruniakannya. Untuk menemukan jalan sampai ke Bapa katanya perlu lewat Yesus. Tapi sekarang ditandaskan, untuk datang ke Yesus perlu karunia dari Bapa. Mau ke mana pembicaraan yang melingkar-lingkar ini? Tak mengherankan, banyak yang meninggalkannya dan tak jadi pengikutnya lagi. Agama kan mesti dijalani, tidak diomongkan melulu! Kita ini cuma ingin menjalankan yang dimaui Yang Kuasa, kok pakai putar-putar begitu. Begitulah pikir para murid. Marilah kita dalami Injil yang dibacakan pada hari Minggu Biasa XXI tahun B ini.

Hari Raya Maria Assumpta - 16 Agustus 2015

Ulasan Eksegetis Minggu 16 Agustus 2015 – Maria diangkat ke Surga 

By A. Gianto on August, 2015 Jendela Alkitab, Mingguan 

DAPATKAH FIRDAUS PULIH KEMBALI?

EMPAT pokok mengenai Maria dinyatakan sebagai ajaran iman. Dua dari itu sudah berasal dari zaman para Bapa Gereja, yakni (1) Maria tetap Perawan, (2) Maria mengandung dan melahirkan Tuhan Yesus "Maria Theotokos", dan dua lainnya ditegaskan pada abad 19 dan 20 meskipun sudah dirayakan sejak berabad-abad sebelumnya, yaitu: (3) Maria dikandung tanpa noda dosa asal (dinyatakan sebagai ajaran iman tahun 1854) dan (4) Maria diangkat ke surga jiwa dan badan. Yang terakhir ini baru resmi dinyatakan sebagai bagian ajaran iman Gereja Katolik pada tahun 1950 meski sudah dirayakan di pelbagai tempat sejak abad ke-4.