Bersikaplah lembut dan penuh empati

Saya mempunyai tiga harta benda. Jagalah dan pertahankan mereka: yang pertama adalah empati; yang kedua adalah hemat; yang ketiga adalah menghindari untuk menjadi yang pertama di dunia.

Empati bagi seorang manusia akan memberikan keberanian untuk menjalani kehidupan yang aman.

Hemat berarti sumber seseorang tidak akan pernah kering.

Jika seseorang tidak berjuang untuk memperoleh tempat pertama, ia akan menemukan dirinya berada di tempat pertama.

Seseorang akan celaka jika meninggalkan kerendahan hati untuk menunjukkan kekuatannya, atau tidak berhemat untuk berfoya-foya, atau mengabaikan kemanusiaan ketika berupaya untuk menjadi yang pertama.

Hari Raya Pentakosta 2015

Ulasan Eksegetis Injil Minggu Pentakosta, Saat Roh Kudus Turun 

BY A. GIANTO ON MAY, 2015 JENDELA ALKITAB, MINGGUAN

Rekan-rekan yang baik!

Di kalangan umat Perjanjian Lama, Pentakosta (artinya "hari ke-50") dirayakan 7 minggu setelah panen gandum, seperti disebutkan dalam Im 23:15-21 dan Ul 16:9-12. Perayaan ini juga disebut dalam hubungan dengan perayaan lain, lihat Kel 23:14-17; 34:22; Bil 28:26-31 dan 2Taw 8:13. Dalam perkembangan selanjutnya, hari "ke-50" ini dihitung dari tanggal 14 Nisan, yaitu Paskah Yahudi. Hari itu kemudian juga dipakai untuk memperingati turunnya Taurat kepada Musa. Di kalangan umat Kristen, peringatan "hari ke-50" ini terjadi 7 minggu setelah kebangkitan Yesus dan dirayakan sebagai hari turunnya Roh Kudus kepada para murid seperti digambarkan dalam Kis 2:1-11. Jadi perayaan 7 minggu setelah panen dari dunia Perjanjian Lama itu diterapkan dalam Perjanjian Baru pada panenan rohani yang kini mulai melimpah.

Injil Minggu Paskah VII/B 17 Mei 2015

Ulasan Eksegetis Injil Minggu Paskah VII/B 17 Mei 2015 (Yoh 17:11b-19)

By A. Gianto on May, 2015 Jendela Alkitab, Mingguan

“AGAR MEREKA MENJADI SATU SEPERTI KITA”

PADA hari Minggu Paskah VII tahun B dibacakan bagian doa Yesus pada perjamuan terakhir bagi para muridnya (Yoh 17:11b-19). Yesus meminta agar Bapa memelihara para murid dalam nama-Nya agar mereka menjadi satu seperti dia satu dengan Bapa. Diungkapkannya pula bahwa para murid diutus ke dunia, sebagaimana ia sendiri. Marilah kita dalami unsur-unsur itu dan lacak ke mana arahnya bagi zaman kita sekarang.

Bersikap Rendah Hati

Tidak ada yang lebih lembut daripada air, juga tidak ada yang dapat mengalahkannya dalam hal menembus benda-benda keras. Yang lemah mengalahkan yang kuat, yang lembut mengalahkan yang keras. Setiap orang mengetahui hal ini, tetapi tidak ada seorang pun yang dapat menerapkannya.

Seorang yang baik itu seperti air. Air bermanfaat bagi semua, tetapi tidak dapat bersaing di dataran tinggi. Ia bergerak di daerah yang rendah di mana tidak ada seorang pun yang mengaguminya. Hal ini sama seperti orang baik tinggal di tempat yang sederhana. Ia tidak memaksakan dirinya untuk maju. Ia juga tidak berjuang untuk mencapai sesuatu. Ia adalah seorang yang tenang, tulus, setia, rajin, dan penuh perasaan. Ia mendapatkan sesuatu karena ia tahu bagaimana mengambil kesempatan dan mencapai tujuannya dengan jalan yang wajar.

Jalan Ke Surga

Di sebuah misa hari minggu seorang pastor berkotbah demikian, "Jalan ke surga itu berliku-liku, sempit, dan berbatu-batu."

Selesai misa seorang permuda menghampiri pastor dan berkata, "Pastor, saya heran karena sejak masih kecil, guru sekolah minggu saya juga mengatakan hal yang sama mengenai jalan ke surga. Mengapa uang kolekte persembahan yang selalu dikumpulkan umat tidak dipakai saja untuk memperbaiki jalan ke surga?"

~di adaptasi dari 100 kisah kocak yang membuat bijak~