Featured Post

Berterima Kasih Atas Segala Hal

Seorang anak kecil usia 4 tahun diminta untuk berterima kasih saat doa sebelum makan malam Natal. Para anggota keluarga menundukkan kepala...

Hari Minggu Biasa XXXII - C - 2013 - Homili Mgr F.X Hadisumarta O.Carm

H O M I L I
Mgr F.X Hadisumarta O.Carm

Sumber: arsip dari www.imankatolik.or.id

HARI MINGGU BIASA XXXII/C/2013

2 Mak 7:1-2.9-14 2 Tes 2:16-3:5 Luk 20:27.34-38

PENGANTAR

Injil Lukas hari ini membicarakan pertanyaan tentang hidup kita kelak sesudah kita dipanggil Tuhan. Hidup yang akan datang itu berkaitan dengan iman kita akan kebangkitan. Tentang adanya kebangkitan sesudah kematian ditegaskan oleh Yesus, yang bersabda: “Tuhan disebut Allah Abraham, Allah Ishak, dan Allah Yakub. Ia bukanlah Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup sebab di hadapan Dia semua orang hidup” (Luk 20:37-38).

HOMILI

Masalah yang dikemukakan oleh kaum Saduki kepada Yesus tentang hidup yang akan datang, sekarang pun tetap aktual dan relevan. Kaum Farisi percaya akan kebangkitan dan akan kehidupan kelak, sedangkan kaum Saduki tidak. Bagi mereka hidup manusia berakhir dengan kematiannya. Kita sebagai umat kristiani percaya akan hidup kekal kelak. Tetapi sejauh manakah kita sungguh memikirkan hal itu? Apakah kita sungguh mengarahkan penghayatan hidup kita ke sana? Bukankah kita lebih memperhatikan hidup kita sekarang ini?

Kita sebenarnya harus yakin dan sadar, bahwa bagi kita adanya hidup kekal kelak sangat menentukan secara mendasar pengarahan sifat dan hasil hidup kita sekarang, yang tidak lama ini! Bila tidak ada hidup kelak, maka kita hanya akan berusaha sebanyak-banyaknya membuat hidup kita sekarang sebahagia, semakmur, seberhasil mungkin, untuk kita nikmati sebanyak dan sepuas mungkin! Dengan demikian harapan akan hidup kekal kelak tak banyak artinya, bahkan kita anggap sebagai menipu diri sendiri.

Namun, apabila kita tahu, yakin dan sadar, bahwa bagi kita tersedia hidup kekal kelak, maka pandangan atas makna dan penghayatan hidup kita sekarang ini akan sangat berlainan. Kita akan sadar, bahwa hidup kita di dunia ini sekarang ini adalah sementara dan bersifat sebagai suatu persiapan. Maka persiapan inilah yang akan menentukan kelak keadaan kita terakhir, yang akan dinilai dan diputuskan oleh Allah dengan ukuran-Nya yang benar dan adil. Bila hal ini kita sadari, maka seluruh sikap dasar hidup kita sehari-hari dalam perjalanan hidup kita sekarang ini akan berubah. Nah, itu tergantung dari kepercayaan kita akan masa depan kita sendiri.

Cara kaum Saduki menampilkan masalah mereka tentang kebangkitan dan kehidupan kekal kelak seolah-olah masuk akal. Namun dari segi lain sebenarnya pandangan mereka terlalu “murah” atau sangat sederhana. Masalahnya mereka ajukan seolah-olah seperti suatu kasus di masyarakat di dunia ini saja. Kaum Saduki tidak mengenal kehidupan lain, yang berbeda dengan dari kehidupan di dunia ini. Hal-hal yang bersangkutan dengan Allah hendak ditangani bagaikan masalah antara manusia di dunia ini saja. Bahkan sebenarnya mereka mau menyerang atau menurunkan martabat Yesus, yang berbicara tentang kehendak Allah. Yesus berbicara tentang dua hal, dua kenyataan yang memang berbeda, yakni tentang hidup kita sekarang di dunia ini, dan tentang hidup kita kelak di kemudian hari. Kedua ruang hidup itu berbeda dan berlainan sekali.

Di dunia ini apa yang tampaklah yang dilihat dan dimutlakkan. Tetapi Allah, Penciptanya, tidak tampak! Sedangkan di dunia lain, yakni di dalam hidup kekal yang akan datang, hanya Allah yang tampak! Segala hal lainnya tidak berarti, tiada nilainya. Apabila orang tidak mengenal dan tidak percaya akan adanya masa kekal kelak, maka segalanya akan dilihat dan ditangani secara duniawi seperti sekarang ini. Sebaliknya apabila kita percaya akan kebangkitan kita sesudah kita mati, dan percaya akan hidup kekal kelak, maka kita tidak akan terlalu mempersoalkan hal-hal, seperti diajukan oleh kaum Saduki untuk menjatuhkan nama dan kepercayaan orang kepada Yesus sebagai Penyelamat.

Padahal Yesus menegaskan adanya hidup kekal. Allah adalah Allah yang hidup. Ia telah menciptakan kehidupan, yang tidak akan ditiadakan atau dilenyapkan-Nya. Allah memelihara kehidupan. Buktinya Ia membangkitkan orang mati untuk diberi kehidupan kekal. Dengan bahasa Perjanjian Lama Yesus berkata bahwa Allah adalah Allah Abraham, Ishak dan Yakub. Artinya, bukanlah seolah-olah Allah adalah Allah di masa dahulu, di mana orang-orang itu sudah tidak ada lagi. Allah bukanlah Allah orang-orang yang sudah mati. Abraham, Ishak dan Yakub sekarang pun masih hidup, tetapi mereka hidup dalam keadaan yang lain. Mereka menerima hidup baru dari Allah yang memeliharanya. Apakah pesan Injil hari ini kepada kita?

Pesan Injil hari ini ialah bahwa percaya kepada Allah berarti juga percaya kepada kehidupan sesudah kematian. Tetapi juga berarti percaya, bahwa hidup baru atau hidup kekal total berlainan dengan hidup kita sekarang ini. Kita harus sadar, bahwa kita jangan menyelesaikan segala masalah hidup kita hanya dengan jawaban manusiawi belaka, melainkan juga harus dibenarkan dengan jawaban ilahi.


Mgr. FX. Hadisumarta O.Carm

kumpulan Homili Mgr. FX. Hadisumarta O.Carm

No comments:

Post a Comment