Featured Post

Berterima Kasih Atas Segala Hal

Seorang anak kecil usia 4 tahun diminta untuk berterima kasih saat doa sebelum makan malam Natal. Para anggota keluarga menundukkan kepala...

Hari Minggu Biasa XXXI - C - 2013 - Homili Mgr F.X Hadisumarta O.Carm

H O M I L I 
Mgr F.X Hadisumarta O.Carm

Sumber: arsip dari www.imankatolik.or.id


HARI MINGGU BIASA XXXI/C/2013

Keb 11:22-12:2 2 Tes 1:11-2:2 Luk 19:1-10

PENGANTAR

Injil Lukas untuk hari ini (Luk 19:1-10) memperkenalkan kepada kita seorang pemungut cukai/pajak yang kaya, yang oleh masyarakat di daerahnya dianggap sebagai pendosa. Tetapi sekaligus, - nah, inilah kabar gembira yang disampaikan kepada kita - , Injil Lukas juga memperlihatkan kepada kita siapakah Allah sebenarnya dan bagaimana sikap-Nya terhadap setiap orang berdosa seperti tampak dan dapat kita lihat dan kita kenal dalam sikap dan perbuatan Yesus.

HOMILI

Di zaman Yesus, apa yang dilakukan orang-orang pemungut cukai dirasakan sebagai menekan rakyat dan berbuat tidak adil. Karena itu mereka dilihat dan dianggap sebagai pendosa. Zakheus kebetulan di kota Yerikho adalah kepala pemungut cukai, dan secara khusus disebut “seorang yang kaya”. Di kalangan masyarakat secara resmi pemungut cukai dan pendosa adalah identik.

Tetapi dalam ceritera Injil Lukas ternyata, bahwa pandangan atau penilaian orang tentang Zakheus itu hanya dilihat menurut apa yang tampak, atau sejauh dapat dikenal dalam kehadiran, sikap dan perbuatannya sehari-hari. Tetapi di balik apa yang kelihatan atau tampak itu, dalam diri Zakheus ternyata terdapat juga kerohanian yang baik dalam hatinya. Ia memang banyak mendengar ceritera tentang Yesus dan apa yang dilakukan-Nya. Karena itu ia ingin melihat siapakah Yesus itu sebenarnya. Bukan sekadar hanya ingin melihat saja, atau hanya sebagai sensasi. Ia sungguh mau mengenal Yesus. Itu terbukti bahwa ketika Zakheus akhirnya sesudah berjerih payah dapat berhadapan dengan Yesus, ia mengungkapkan dengan terus terang apa yang ternyata juga hidup dalam hatinya sebagai seorang pedagang!

Zakheus pada saat itu berkata: “Setengah dari milikku akan kuberikan kepada orang miskin dan sekiranya ada sesuatu yang kuperas dari seseorang akan kukembalikan empat kali lipat”. Dalam kata-katanya itu Zakheus membuktikan dirinya tidak puas dengan hidupnya, dengan kedudukannya yang tampak, maupun dengan keberhasilan atau suksesnya. Ternyata ia merasakan hatinya (batinnya) tetap kosong. Uang memang dapat mengisi dan memenuhi kantongnya, namun tidak mampu mengisi dan memenuhi ruang hatinya! – Ternyata kedudukan, kekayaan, harta, kekuasaan memang dapat meneguhkan tempatnya di dalam masyarakat, namun bukan dalam sikap dan hubungannya terhadap Allah! Dalam perjalanan hidupnya Zakheus akhirnya mencapai suatu “tingkat usia kedewasaan rohani” yang dibutuhkan, di mana angan-angan, ilusi, cita-cita yang serba indah dan memuaskan menjadi suram, bukan bercahaya terang lagi. Hidup kekal yang akan datang mulai tampak bersinar, dan menjadi sasaran pandangan hidup selanjutnya.

Apa pesan Injil tentang Zakheus hari ini kepada kita?

Tuhan memang tahu segalanya. Ia selalu berbuat yang terbaik bagi setiap orang yang murni hatinya. Tuhan bukan mementingkan pengadilan atau penghakiman, bukan terutama mengadili manusia ciptaan-Nya yang dikasihi-Nya. Berkali-kali Yesus menunjukkan orang-orang yang menganggap dirinya saleh atau suci menurut hukum/Taurat justru sebagai pendosa. Sebaliknya orang-orang yang dianggap pendosa oleh masyarakat dipanggil-Nya menjadi suci! Pandangan Yesus tidak dipengaruhi “pandangan umum” ataupun “kata orang”! Dari antara sekian banyak orang yang mengikuti-Nya,Yesus justru memilih Zakheus. Dan Ia bukan hanya menggunakan waktu singkat seperlunya saja, misalnya hanya dengan mengatakan beberapa patah kata kepada Zakheus. Sebaliknya, Yesus justru ber-kata: “Zakheus, segeralah turun! Hari ini Aku harus menumpang di rumahmu.” Pertemuan Yesus dan Zakheus bukanlah pertemuan sambilan atau secara kebetulan. Yesus datang dengan tujuan seperti dikatakan pada akhir Injil hari ini: ”Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang”. Yesus bukan menghindari atau menjauhi rumah Zakheus orang pendosa itu, melainkan justru mendatanganinya. Ibaratnya sebagai ungkapan hormat kepadanya. Yesus tidak takut atau khawatir akan dianggap sebagai batu sandungan karena memasuki rumah Zakheus, orang pendosa. Yesus datang untuk dapat memberikan kepada orang pendosa, yang sangat miskin rohaninya, suatu kekayaan rohani ilahi, yang dapat membuatnya sungguh bahagia! Zakheus adalah memang seorang pendosa, namun sungguh bersedia mengarahkan pandangannya kepada Yesus sebagai Penyelamatnya.

Injil hari ini merupakan suatu pertanyaan yang harus dijawab oleh setiap orang, yang sungguh mau menjadi orang beriman kristiani sejati: Apakah aku ini juga Zakheus?

Mgr. FX. Hadisumarta O.Carm
kumpulan Homili Mgr. FX. Hadisumarta O.Carm

No comments:

Post a Comment