Featured Post

Berterima Kasih Atas Segala Hal

Seorang anak kecil usia 4 tahun diminta untuk berterima kasih saat doa sebelum makan malam Natal. Para anggota keluarga menundukkan kepala...

Showing posts with label Adven. Show all posts
Showing posts with label Adven. Show all posts

Injil Minggu Adven IV - Tahun A 18 Desember 2016

Ulasan Eksegetis Adven IV/A 18 Desember 2016 (Mat 1:18-24)


By A. Gianto on December, 2016 Jendela Alkitab, Mingguan


MEMELIHARA KARYA ILAHI

BACAAN Injil Minggu terakhir pada Masa Adven tahun ini (Mat 1:18-24) menyampaikan sebuah tradisi mengenai kelahiran Yesus dari sudut pandang Yusuf, yang di dalam silsilah sebelum bacaan ini disebut sebagai “suami Maria, yang melahirkan Yesus yang disebut Kristus” (Mat 1:16).

Injil Minggu Adven III - Tahun A 11 Desember 2016

Ulasan Eksegetis Adven III Tahun A 11 Desember 2016 (Mat 11:2-11)


By A. Gianto on December, 2016 Jendela Alkitab, Mingguan

ENGKAUKAH YANG DIJANJIKAN BAKAL DATANG?

Bacaan hari Minggu Adven III ini (Mat 11:2-11) menceritakan bagaimana Yohanes Pembaptis mengutus murid-muridnya kepada Yesus untuk memastikan apakah ia itu betul dia yang diwartakan bakal datang (ay. 2-3) dan jawaban Yesus (ay. 4-6). Selanjutnya, ketika murid-murid Yohanes telah pergi, Yesus berbicara kepada orang banyak mengenai Yohanes Pembaptis (ay. 7 dst.).

Injil Minggu Adven II - Tahun A 4 Desember 2016

Ulasan Eksegetis Adven II Tahun A 4 Desember 2016 (Mat 3:1-12)


By A. Gianto, 2016 Jendela Alkitab, Mingguan

MENYELARASKAN LANGKAH

Dalam Mat 3:1-12 (Injil Minggu Adven II tahun A) dikisahkan bagaimana Yohanes Pembaptis tampil mengumumkan kedatangan Kerajaan Surga serta menyerukan agar orang bertobat. Dalam bahasa sekarang, seruan ini sama dengan ajakan memahami apa yang sedang terjadi dalam diri kita dan dunia sekitar. Nada penuh berharap dalam bacaan pertama, Yes 11:1-10, dapat membantu memahami warta tadi. Di situ dinubuatkan kedatangan Raja Damai keturunan Isai (ayah raja Daud; leluhur Yesus juga. Bdk. Mat 1:5-6 Luk 3:32). Raja itu akan memperoleh kebijaksanaan (Yes 11: 1-2) untuk menegakkan keadilan (ay. 3-5) dan merukunkan mereka yang biasanya saling bermusuhan (ay. 6-9) dan dengan demikian ia menjadi pangkal harapan orang banyak (ay. 10).

Injil Minggu Adven I - Tahun A 27 November 2016

Ulasan Eksegetis Injil Minggu Adven I - Tahun A 27 November 2016

By A. Gianto on November, 2016 Jendela Alkitab, Mingguan


Memperbaharui Wajah Kemanusiaan

MASA Adven tahun A ini diawali dengan mendengarkan ajakan berjaga-jaga menunggu kedatangan “Anak Manusia” pada akhir zaman (Mat 24:37-44). Peristiwa penyelamatan sudah mulai dan akan terwujud sepenuhnya kelak. Orang diajak menyadari kenyataan ini. Apa maksudnya?

Kemanusiaan Yang Baru

Injil Minggu Adven IV/B

Ulasan Eksegetis Injil Minggu Adven IV/B 
BY A. GIANTO ON DECEMBER 18, 2014 MINGGUAN
Rekan-rekan yang budiman!

DIKISAHKAN dalam Luk 1:26-38 (Injil Minggu Adven IV tahun B) bagaimana malaikat Gabriel diutus ke sebuah kota kecil di Galilea – di sebelah utara Tanah Suci – kepada Maria yang diperkenalkan dalam Injil sebagai “perawan yang bertunangan dengan seorang yang bernama Yusuf dari keluarga Daud”. Setelah mengucapkan salam damai, Gabriel memberitakan bahwa seorang anak lelaki akan lahir dari Maria, dan hendaknya ia dinamai Yesus. Ia akan menjadi besar dan dinamakan Anak Allah Yang Maha Tinggi dan akan dikaruniai kekuasaan tanpa akhir. Bagaimana ini mungkin, ia kan belum bersuami? Tak ada yang mustahil bagi Allah, Gabriel menjelaskan, Elisabet yang sudah lanjut usia pun kini sudah enam bulan mengandung. Yang terjadi sekarang lebih besar. Anak yang akan dilahirkan Maria itu akan disebut kudus, Anak Allah, karena Maria akan dinaungi kuasa Allah dan Roh Kudus akan turun ke atas dirinya.

Injil Minggu Adven 3 B - Kesaksian Yohanes

Ulasan Injil Minggu Adven III B BY A. GIANTO ON DECEMBER 9, 2014 JENDELA ALKITAB, MINGGUAN

KESAKSIAN YOHANES 

Rekan-rekan yang budiman!
Seperti hari Minggu yang lalu, kali ini Injil Minggu Adven III/B (Yoh 1:6-8;19-28) juga  hampir seluruhnya berbicara mengenai Yohanes Pembaptis. Tapi yang sekarang ditonjolkan ialah kesaksiannya. Pertama-tama ia ditampilkan sebagai yang diutus Yang Maha Kuasa untuk menjadi saksi bagi sang "terang" walaupun ia bukan terang itu sendiri (ay. 6-8). Kemudian kepada orang-orang yang datang kepadanya Yohanes menegaskan bahwa dirinya bukan Mesias, bukan Elia, bukan nabi, melainkan orang yang berseru-seru di padang gurun menghimbau agar jalan bagi Tuhan diluruskan (ay. 19-23). Ia membaptis dengan air untuk membantu orang mengungkapkan niatan untuk hidup bersih menyongsong dia yang akan datang. Yohanes juga tegas-tegas menyatakan dirinya tak pantas melepas tali sandal dia yang bakal datang ini (ay. 27). Seperti diuraikan Minggu lalu, ungkapan ini berarti Yohanes merasa tidak patut menjalankan urusan yang menjadi hak dia yang akan datang itu.

Injil Minggu Adven II B - Yohanes Pembaptis dan Yesus

Yohanes Pembaptis dan Yesus


Ulasan Injil Minggu Adven II  B

Rekan-rekan yang baik!

Injil Minggu Adven II ini – Markus 1:1-8 – hampir seluruhnya membicarakan Yohanes Pembaptis. Ia itu tokoh yang sudah sejak lama dinubuatkan sebagai utusan yang mempersiapkan jalan bagi Tuhan. Seluruh daerah Yudea dan semua penduduk Yerusalem mendatanginya di padang gurun minta dibaptis olehnya sebagai tanda bertobat demi pengampunan dosa. Ia juga tampil di mata orang sebagai seorang nabi. Semua uraian mengenai Yohanes Pembaptis kiranya dimaksud untuk semakin menyoroti siapa yang akan datang nanti, yakni Yesus. Dia ini tokoh yang jauh lebih besar yang diumumkan oleh Yohanes sendiri. Marilah kita lihat cara Markus mengutarakan hal ini. Di bawah ditambahkan pula ulasan mengenai bacaan kedua yakni 2Petrus 3:8-14.

Injil Minggu Adven IV C 2012

Injil Minggu Adven IV tahun C 2012(Luk 1:39-45)

DARI PERSPEKTIF LAIN!

Dalam Luk 1:39-45 (Injil  Minggu Adven IV tahun C) diceritakan kunjungan Maria kepada Elisabet. Sekilas, kisah ini terjadi sebagai pertemuan antara kedua tokoh itu. Namun bila ditengok lebih dalam, ada dua tokoh penting lain, yakni Yohanes dan Roh Kudus. Tanpa mereka ini, ceritanya tidak akan utuh lagi. Manakah tafsir yang membantu? Kita ikuti pembicaraan dua orang yang berusaha mendalami petikan itu.

MAKNA KUNJUNGAN MARIA

HAR: Sedang menyiapkan ulasan episode kunjungan Maria ke Elisabet?

GUS: Iya. Tapi belum jelas mana nih yang mesti ditekankan: Maria-kah, Elisabet-kah atau Yohanes yang ada dalam kandungan, atau Roh Kudus. Masing-masing kan dapat dianggap berperan sebagai tokoh utama dalam peristiwa itu

HAR: Betul! Boleh jadi bisa mulai dengan Maria seperti teks Injil sendiri. Banyak dapat dikatakan tentang perjalanan Maria mengunjungi sanaknya itu.

GUS: Paling sedikit 150 km di daerah berbukit-bukit harus ditempuhnya. Gadis hebat ini berani berjalan sejauh itu ... untuk menyaksikan yang diperbuat Tuhan kepada sanaknya, Elisabet, yang kini sudah mengandung enam bulan pada usia lanjut, seperti dikabarkan oleh malaikat Gabriel (Luk 1:36).

HAR: Tapi maknanya bisa berbeda-beda. Boleh jadi Maria memang bermaksud menyaksikan apa benar kata-kata malaikat dalam Luk 1:37 bahwa tak ada hal yang tak mungkin bagi Tuhan. Namun bisa pula dikatakan, Maria menempuh perjalanan itu agar makin dekat dengan Tuhan yang sungguh bekerja dalam diri Elisabet.

GUS: Pembedaan ini menarik! Memang perjalanan itu menegaskan kebenaran kata-kata malaikat. Tetapi dari sisi lain, perjalanan itu juga ziarah Maria mendekati misteri kehadiran ilahi. Dua sisi ini sama-sama berdasarkan kepercayaan yang tebal, tetapi dunia makna yang tampil berbeda. Mungkin dari segi sensitivitas perempuan, yang kedua itu lebih menyapa.

HAR: Ya, dan ini juga jelas dalam madah Elisabet. Ayat 42-43 mengutarakan siapa Maria itu: perempuan yang paling beruntung ("terberkati") karena menjadi jalan kedatangan Tuhan ke dunia! Ayat 45 memuji kekuatan imannya ("berbahagialah ia yang percaya") yang memungkinkan Sabda Tuhan menjadi kenyataan.

GUS: Di situ justru Elisabet-lah yang memungkinkan Maria menjalankan perannya.

HAR: Setuju. Lalu bagaimana mengenai Yohanes dan Roh Kudus?

GUS: Teringat kata-kata Santo Ambrosius, betul Elisabet-lah yang pertama-tama menerima salam, namun yang lebih dulu menanggapi ialah Yohanes yang masih ada dalam kandungannya. Ia serta merta "mengenali" kehadiran Juru Selamat. Dan dengan melonjak kegirangan ia membuat Elisabet ikut memahami karya Tuhan dalam diri Maria. Lukas menyebut Elisabet "dipenuhi Roh Kudus" yang membuatnya bersaksi mengenai siapa Maria itu.

HAR: Memang dengan cara ini kita memandangi berganti-ganti keempat tokoh itu. Masing-masing memberi makna pada kunjungan itu.

SEKALI LAGI YOHANES PEMBAPTIS

Bacaan Injil dari Minggu Adven I dan II yang lalu berkisar pada Yohanes Pembaptis. Pada kesempatan ini, ia juga tampil walaupun sebatas hubungannya dengan Elisabet. Menurut Injil Lukas, sejak dalam kandungan ia terpilih menjadi orang yang merintis jalan bagi kedatangan Tuhan. Di sinilah pertama kali Yohanes menjalankan peran itu. Sewaktu memberi tahu Zakharia bahwa ia akan mendapat keturunan, malaikat Gabriel menegaskan bahwa anak itu akan "penuh Roh Kudus sejak dari rahim ibunya dan akan membuat banyak orang Israel berbalik kepada Tuhan" (Luk 1:15). Dalam petikan dari Luk 1:39-45, dinyatakanlah kebenaran hal itu. Siapakah orang pertama yang "berbalik kepada Tuhan"? Tak lain tak bukan adalah Yohanes sendiri. Ia langsung mengenali hadirnya Tuhan. Inilah gambaran ideal orang yang betul-betul telah berbalik kepada Tuhan. Oleh karena itu, ia dapat mewartakan tobat kepada banyak orang. Juga jelas adanya unsur kegembiraan. Ia melonjak kegirangan di dalam rahim ibunya. Dan kegembiraan ini menjalar ke orang-orang yang ada di sekitarnya. Pertama-tama, seperti dalam petikan ini, kepada Elisabet, kemudian kepada Zakharia (Luk 1:64; juga kidung Zakharia Luk 1:67-79), dan akhirnya juga ke orang-orang yang berdatangan kepadanya minta dibaptis seperti diulas di bawah judul-judul sebelumnya.

SUDUT PANDANG PEREMPUAN

Pembicaraan berikut ini agak lain dari yang lain. Anggap saja tamasya ke alam kritik sastra yang peka masalah jender ("gender") belakangan ini mulai berpengaruh di dunia tafsir Kitab Suci, juga di beberapa kalangan di Indonesia. Maklum, di sana sini Injil Lukas memang menonjolkan sensitivitas dari kalangan perempuan, khususnya dalam Kisah Masa Kanak-Kanak. Versi Matius lain; di situ tokoh Yusuf-lah yang ditonjolkan dan di sana sudut pandang kaum lelakilah yang tampil.

Tafsir dari segi sensitivitas perempuan tidak mudah, juga bagi penafsir yang wanita. Butuh pengalaman membaca. Namun demikian, bila pernah berjumpa dengan karya sastra yang ditulis dari sudut pandang perempuan (tidak perlu oleh wanita), orang akan mulai menikmati kekayaannya. Tentunya banyak yang kenal puisi "Padamu Jua" karya A. Hamzah atau roman Kalau Tak Untung dari Selasih, atau Kehilangan Mestika karangan Hamidah, atau Pada Sebuah Kapal tulisan N.H. Dini atau juga Pengakuan Pariyem-nya Linus Suryadi. Banyak karya dalam khazanah sastra Indonesia seperti itu akan lebih bermakna bila dibaca dalam perspektif perempuan. Apa itu? Ringkasnya, khusus bagi karya-karya yang disebut di atas, pengalaman "diperalat" dan "dipermainkan" amat menonjol. Oleh siapa? Tidak begitu dilacak. Bahkan pertanyaan itu tidak relevan. Yang disorot ialah penderita dan penderitaannya, bukan penyebabnya. Dalam perspektif ini, merasa "diperalat" dan "dipermainkan" itu diterima sebagai pengalaman pokok dalam kehidupan. Persoalannya bukanlah bagaimana melepaskan diri dari belenggu penderitaan itu ("emansipasi"), melainkan bagaimana tetap hidup dengannya dan mencoba memelihara secercah harapan untuk berjalan terus kendati apa pun yang terjadi. Akan terasa hambar bila karya-karya itu dibaca dengan menanyakan manakah pemecahan soalnya. Cara membaca seperti itu termasuk dalam "perspektif lelaki". Memang banyak karya yang lebih cocok dibaca dengan perspektif lelaki, misalnya Layar Terkembang oleh Sutan Takdir Alisjahbana meskipun dua tokoh utamanya perempuan. Mereka hanya corong dua sikap mengenai masa depan kemanusiaan menurut pengarangnya. Begitu juga Belenggu karya A. Pane. Nasib tokoh-tokohnya berjalan sesuai dengan aturan-aturan penalaran khas lelaki. Belenggu patah karena Kartono, Tini, dan Yah memutuskan untuk tidak saling berhubungan lagi - ini perspektif lelaki, bukan perempuan. Juga karya-karya besar Pramoedya, semuanya berkembang dalam perspektif lelaki, tak peduli apakah mereka wanita atau pria.

Kembali ke kisah Elisabet dan Maria. Dalam perspektif perempuan, akan terasa bahwa kedua tokoh itu sebetulnya orang-orang yang kehidupannya "dikesanakemarikan" dan "dipermainkan" tanpa sadar oleh siapa dan dengan alasan mana. Elisabet tergolong orang yang "kena aib"; ia tidak dapat memberi keturunan kepada Zakharia. Sama dengan Hana, yang bakal melahirkan Samuel. Juga Sarai, istri Abraham. Tapi kini Elisabet mengandung pada hari tua, begitu pula tokoh-tokoh lain itu. Tak wajar! Sudah bertahun-tahun Elisabet hidup tenang dalam golongan "kaum kena aib", kok sekarang dibuat mengandung! Dipermainkan! Maria lebih runyam lagi. Ia diberi tahu akan melahirkan sebelum menjadi istri Yusuf. Ini tak terterima. Malangnya, tak ada kemungkinan keadaan berbaik justru karena yang bakal memperbaikinya malah ikut melawan. Yusuf tidak berlaku menurut adat yang wajar, yakni menjauhi Maria. Alhasil Maria tetap sebagai "tunangannya yang sedang mengandung" seperti tersurat dalam Luk 2:5 ketika mereka pergi mendaftarkan diri ke kota Daud. Tak masuk akal! Umur tua tidak membuat Elisabet makin hidup tenang. Ini kendala yang dialami perempuan. Namun demikian, mereka hidup terus dan bertahan. Mereka saling menguatkan dengan saling membicarakan kehidupan mereka. Kita ingat kumpulan ibu-ibu sepenanggungan yang ada di paroki. Dengan saling berbagi pengalaman dan penderitaan, masalah yang besar menjadi tidak lagi mengusik. Malah menurut Lukas di situ bisa tumbuh kegembiraan. Satu detail lagi. Dari mana terbit kegembiraan itu? Dari dalam kandungan. Ini khas perspektif perempuan. Dan apa yang dilihat sebagai yang paling membuat Maria beruntung? Tak lain tak bukan "buah rahim"-nya. Sekali lagi ini khas perempuan.

MEMBIARKAN TEKS "MEKAR"

Manakah relevansi perspektif perempuan tadi bagi tafsir kisah kunjungan Maria ini? Bagi penafsir yang beranjak dari perspektif lelaki, kisah ini akan melulu tampil sebagai kunjungan maksud baik Maria yang mau membantu Elisabet dan kisah mukjizat melonjaknya Yohanes dalam kandungan. Namun demikian, dalam perspektif perempuan, muncul makna menyapa kehidupan. Aib yang paling dalam, yang menyangkut keberadaan Maria dan Elisabet sebagai perempuan, kini bertukar menjadi berkat yang muncul dari kegembiraan dan kekuatan iman. Inti kehidupan perempuan yang dalam Kej 3:16 terumus sebagai penderitaan kini menjadi jalan berkat. Bila dibaca dengan cara ini, makna cerita itu bisa mengembang, kata orang Jawa, "mekar". Bisa juga semua ini dilakukan tanpa acuan pada perspektif "perempuan" lawan "lelaki", tetapi dengan kepekaan yang membuat teks makin hidup. Kerangka teori hanya membantu, bukan mengganti perjumpaan dengan teks dan kehidupan.

Injil kali ini mengajak orang membiarkan diri menjadi seperti tokoh-tokoh dalam cerita itu. Masing-masing dari ketiga tokoh ini "dipenuhi Roh Tuhan" dalam cara masing-masing: Yohanes Luk 1:15; Maria Luk 1:35; dan Elisabet Luk 1:41. Memberi ruang kepada Roh Tuhan menjadi persiapan paling cocok untuk menyongsong kedatangan Penyelamat,


Salam hangat,
A. Gianto

Injil Minggu Adven III C 2012

Injil Minggu Adven III C 16 Des 2012 Luk 3:10-18

LANGKAH-LANGKAH PEMBARUAN HIDUP

Dalam Injil yang dibacakan bagi kesempatan ini, yakni Luk 3:10-18, dikisahkan bagaimana orang-orang yang datang kepada Yohanes Pembaptis berharap dapat membarui diri. Ter­ung­kap dalam beberapa ayat sebelumnya (ay. 7-9) kecaman keras Yohanes Pembaptis terhadap mereka yang disebut­nya "keturunan ular berbisa". Mereka diperingatkan agar jangan melamun akan luput dari murka pada akhir zaman nanti. Bahwasanya mereka lahir sebagai keturunan Abraham sama sekali bukan jaminan. Jalan satu-satunya agar selamat ialah bila mereka menghasilkan buah yang baik. Bila tidak, mereka ibarat pohon yang akan ditebang dan dimusnahkan dengan api.

"NYEPI" KE PADANG GURUN

Mendengar kata-kata Yohanes tadi, orang-orang mulai gelisah lalu minta dibaptis olehnya sambil menyatakan niat mau memperbarui diri. Waktu itu baptisan lazim dilakukan sebagai ungkapan niat membarui diri di hadapan seorang guru yang dihargai. Ada macam-macam kelompok: orang kaya, pemungut cukai, dan tentara. Meskipun termasuk "kaum terhormat" dalam masyarakat, mereka sering dianggap sudah terlampau jauh terpisah dari kehidupan orang Yahudi yang beragama. Mereka dinilai sebagai kaum egois, orang-orang kemaruk dan kawanan pemeras. Namun demikian, dalam Injil Lukas digambarkan bagaimana orang-orang yang biasanya dianggap sudah tak tertolong lagi itu masih mempunyai kesempatan. Ingat perumpamaan anak yang hilang tetapi kembali (Luk 15:11-32), perumpamaan pemungut cukai yang dengan tulus mengakui keberdosaannya (Luk 18:9-14), Zakheus yang ikhlas mengamalkan separo miliknya (Luk 19:1-10). Mereka ditonjolkan Lukas sebagai orang-orang yang dengan rendah hati bertanya "Apakah yang harus kami perbuat?" Pertanyaan ini juga sering timbul dalam lubuk hati banyak orang, juga dalam batin kita.

Cara-cara memperbaiki diri yang dianjurkan Yohanes sejalan dengan kehidupan masing-masing. Yang serba berkecukupan dianjurkan berbagi kelebihan dengan orang lain, yang mem­punyai wewenang menarik pajak hendaknya belajar berlaku jujur, yang memiliki kekuasaan, senjata, dan organisasi dapat belajar agar tidak mempraktekkan kekerasan. Tidak pada tempatnya mengkhotbahkan secara harfiah anjuran-anjuran Yohanes itu. Keadaan masyarakat berbeda-beda dari zaman ke zaman dan dari tempat ke tempat. Tetapi tak meleset bila dikatakan anjuran Yohanes itu membuat orang berpikir bahwa kedudukan dan kekuasaan tak dapat dilepaskan dari kewajiban untuk menjalankannya sesuai dengan maksud kedudukan itu, begitu pula kelebihan material menuntut pengamalan, bukan penimbunan belaka. Inilah prinsip penalaran moral yang berlaku di mana-mana dan kapan saja.

Namun demikian, penalaran seperti di atas belum tentu membawa perubahan dalam diri orang secara menyeluruh. Orang perlu sejenak meninggalkan kebisingan hidup dan menemukan ketenangan batin. Mereka yang mendengarkan Yohanes Pembaptis itu datang ke padang gurun untuk "nyepi" ke daerah Yordan, meninggalkan Yerusalem yang inggar- bingar dan penuh kezaliman ("Ierousaleem" katakan saja mudahnya "Yeru-zalim") untuk melihat prospek kembali ke Yerusalem yang jadi tempat keselamatan ("Hierosolyma" - mudahnya - "Yeru-syalom"). Di situ orang boleh berharap mendapat pertolongan kekuatan-kekuatan ilahi yang diimbau Yohanes Pembaptis dan menjadi peka mendengarkan isyarat ilahi. Dalam suasana seperti inilah ajakan untuk memperbaiki diri akan lebih merasuki batin dan budi. Kekuatan-kekuatan ilahi itulah yang akan meluruskan batin orang dan menimbun lubang-lubang yang biasanya membuat batin orang tak rata, yang "nggronjal". Pertobatan yang sungguh baru bisa terjadi bila berawal dalam suasana kesunyian yang sarat dengan kehadiran ilahi. Ini pertobatan yang menghadirkan Tuhan.

Bisa ditengok bacaan pertama Minggu Adven III tahun C ini, yakni Zef 3:14-18a. Di situ terungkap bagaimana Tuhan menghibur kota Yerusalem yang kini tinggal reruntuh­an belaka akibat penyerbuan Nebukadnezar. Seperti jelas dalam 13 ayat yang mendahuluinya, malapetaka ini dipahami sebagai hukuman bagi kelakuan buruk umat sendiri. Tetapi keadaan sudah berubah. Tuhan kini berbalik mengasihani umat-Nya dan berjanji akan berada kembali di tengah-tengah mereka. Ia akan mengumpulkan mereka yang tercerai-berai. Yerusalem dan penduduknya diimbau agar tidak lagi bersedih. Kebe­sarannya akan pulih. Harapan hidup kembali. Tuhan akan mendatangi kota suci-Nya dan tinggal di sana lagi. Iman ini tum­buh pada zaman setelah pembuangan dan tetap hidup dalam masa Perjanjian Baru. Injil-Injil, khususnya Lukas, memakainya dalam wujud pola perjalanan Yesus menuju ke Yerusalem - dia itulah Raja yang dinanti-nantikan orang, dia itulah Penyelamat yang diharap-harapkan datang ke kota sucinya.

LANGKAH-LANGKAH PEMBARUAN HIDUP

Dalam Injil bagi Minggu Adven II tahun C yang lalu kita mendengar Yohanes mewartakan baptisan tobat demi pengampunan dosa (Luk 3:1-6). Ia mendekatkan orang kepada kekuatan-kekuatan ilahi yang memberi hiburan dan karena itu orang dapat mulai berharap dan mencari arah baru yang segar. Orang baru bisa berharap bila pernah mengalami penghiburan bahwa ada kemungkinan untuk itu. Warta Kitab Suci menekankan adanya penghiburan dari atas sebagai dasar harapan sejati. Ini landasan bagi teologi harapan yang kukuh dan yang dapat nyata-nyata menolong orang.

Memang tidak dapat disangkal adanya unsur jeri dan jera. Dalam tahap tertentu kekuatan-kekuatan ilahi itu bukan hanya pesona yang menghibur, tetapi juga membuat orang tergetar. Perjumpaan dengan Yang Ilahi sering dialami orang sebagai yang mengejutkan, sebagai keberdosaan yang menyakitkan, yang mencemaskan. Kecaman keras yang sebelumnya diutarakan Yohanes dalam Luk 3:7-9 menyadarkan orang akan dimensi ini. Akan tetapi, kata-kata tajam Yohanes itu ditujukan bagi orang yang sudah mulai mencari arah baru, dengan kata lain, sudah mulai "bertobat". Mereka itu sudah terhibur dan memiliki harapan.

Tahapan selanjutnya ialah sikap bertanya "Apa yang harus dikerjakan?" (Luk 3:10.12.14) seperti terungkap dalam Injil kali ini. Orang mau belajar mengubah diri, belajar memperhatikan sesama, belajar berlaku adil dan lurus. Keinginan inilah yang menjadi kenyataan hadirnya kekuatan-kekuatan ilahi yang datang mempersiapkan dan meluruskan jalan seperti kata-kata Yesaya yang dikutip dan diterapkan Lukas dalam bacaan Injil pada ulasan Injil Minggu lalu. Inilah kekuatan-kekuatan moral yang bakal menjinakkan kecenderungan serakah, main kuasa, curang ... dan pelbagai kenyataan buruk di dunia ini yang menjadi bagian kehidupan manusia. Bila terjadi, mulai jelaslah makna anjuran Yohanes agar orang memberikan sehelai dari "dua helai baju" kepada orang yang tak mempunyainya.

Ada pasang surut dalam tahap-tahap tadi. Ini deskripsi, bukan evaluasi terhadap pengalaman. Pengalaman membawa kita maju bila digambarkan dan dimengerti, bukan bila dinilai begini atau begitu menurut seperangkat ukuran yang sudah lazim dipakai. Kepekaan mengenai hal ini amat berguna dalam bimbingan rohani dan pelayanan pastoral pada umumnya.

MENGAJAK ORANG BERTANYA

Dalam konteks Injil Lukas, orang-orang yang datang ke Yohanes itu sebenarnya orang-orang yang sudah maju jauh. Banyak ahli tafsir yang melihat tokoh Yohanes Pembaptis beserta pengikutnya sebagai kaum rahib yang menjauhi hidup di Yerusalem dan menyepi di padang gurun. Kita banyak mendengar mengenai kelompok-kelompok seperti itu: kaum Ebioni, kaum Eseni, dan kaum rahib dari pertapaan Qumran.

Bagaimana menerapkan gagasan di atas bagi keadaan yang berbeda, bagi umat yang tidak hidup dalam suasana pertapaan seperti itu, bagi orang-orang yang belum melangkah ke pertobatan seperti orang-orang yang datang ke Yohanes Pembaptis itu? Tak banyak faedahnya memakai mimbar khotbah untuk mencela sikap-sikap atau contoh-contoh kejahatan dan kedosaan. Salah-salah malah akan menjauhkan orang dari Gereja. Lebih mudah diterima bila dijelaskan bahwa bertobat dapat mulai dengan membangun sikap tidak mengalah kepada ketidaksempurnaan dalam kehidupan ini. Sikap yang paling berlawanan dengan pertobatan ialah takut, tak berbuat apa pun. Yohanes Pembaptis mengajarkan sikap tidak menerima begitu saja bengkak-bengkoknya jagat ini yang mempengaruhi dan membentuk kehidupan. Dalam pandangan Lukas, sang Pembaptis menyerukan kekuatan-kekuatan dari atas sana untuk mengalahkan daya-daya yang tidak lurus tadi. Sekali lagi sikap "nyepi" dapat membantu orang membiarkan diri disertai kekuatan-kekuatan tadi sambil menjauhi kebisingan daya-daya jahat.

SPIRITUALITAS PELAYAN SABDA: Luk 3:15-18 Yohanes Pembaptis itu pewarta kedatangan sang Penyelamat. Pelayanannya juga khas. Ia menyiapkan orang agar makin ingin berjumpa dengan Tuhan sendiri. Pelayanan seperti inilah yang menjadi dasar kerohanian para pelayan sabda. Juga di masa kini. Dan lebih dalam lagi. Ketika orang mulai menduga-duga apakah dia itu sang Mesias sendiri, Yohanes menegaskan dirinya bukan Dia yang dinanti-nantikan. Ia mengatakan tak pantas melepaskan tali kasut Mesias sekalipun. Ungkapan ini berlatar yuri­dik dan artinya "mengklaim" harapan umat. Maklum, melepaskan tali kasut di sini berhubungan dengan praktek menunjukkan alas kaki kepada pihak yang boleh memandang pembawa alas kaki itu mewakili secara sah pemilik yang tak hadir secara fisik. Ini praktek yuridik tradisional yang dikenal di pelbagai tempat dan sering dipakai dalam upacara nikah per procura. Yohanes tidak merasa pantas menjadi wakil yang sah sekalipun dari Yesus. Jadi, ungkapan itu bukan ungkapan basa-basi saleh, melainkan ungkapan yuridik. Ia menyatakan diri sama sekali tak memiliki hak mengukuhi umat Tuhan. Lalu siapakah Yohanes Pembaptis itu? Menurut Lukas, dia itu suara di padang gurun, di kesunyian, suara yang memperdengarkan kehadiran Tuhan dan mengajak kekuatan-kekuatan ilahi menyiapkan orang agar mampu menerima Tuhan sendiri. Yohanes Pembaptis bergerak dalam senyapnya awang-uwung yang sarat dengan kekuatan-kekuatan ilahi, tetapi ia juga bisa didengar oleh orang-orang yang hidup dalam kebisingan sehari-hari.

Salam hangat,
A. Gianto