Featured Post

Berterima Kasih Atas Segala Hal

Seorang anak kecil usia 4 tahun diminta untuk berterima kasih saat doa sebelum makan malam Natal. Para anggota keluarga menundukkan kepala...

Showing posts with label Minggu Biasa - B. Show all posts
Showing posts with label Minggu Biasa - B. Show all posts

Hari Minggu Biasa XXXIII B - 15 November 2009

Injil Minggu Biasa XXXIII/B 15 November 2009 (Mrk 13:24-32)


MEMBARUI KEMANUSIAAN

Karangan ini membicarakan Mrk 13:24-32 yang dibacakan pada hari Minggu Biasa
XXXIII tahun B. Ada dua pokok yang disampaikan dalam petikan dari Injil
Markus ini. Yang pertama mengenai kedatangan Anak Manusia yang didahului
"zaman edan" (ay. 24-27). Yang kedua mengajak orang memperhatikan kapan saat
itu tiba (ay. 28-32).

KEDATANGANNYA KEMBALI

Murid-murid yang masih mengenal Yesus dari dekat mewartakan bahwa ia telah
bangkit dari kematian dan naik ke surga dan kini menyiapkan tempat bagi
mereka. Ia akan datang kembali dengan mulia dan orang-orang yang percaya
kepadanya akan ikut serta dalam kebesarannya. Saat itu seluruh alam semesta
akan menyaksikan peristiwa ini. Yang paling membuat generasi pertama
murid-murid ini bergairah ialah kebangkitannya. Karena itu, pewartaan Injil
yang paling awal ialah "Tuhan telah bangkit!" Semua hal lain, termasuk
kedatangannya kembali, ialah kelanjutan peristiwa itu. Namun demikian, bagi
murid-murid dari generasi yang tidak mengenal Yesus sendiri, kebangkitannya
sudah jadi hal yang diandaikan. Minat mereka lebih terarah pada
kedatangannya kembali. Di situlah letak daya tarik komunitas Kristen awal
ini. Seluruh Injil Markus ditulis bagi kalangan mereka. Kepada mereka
diperkenalkan siapa Yesus yang akan datang kembali itu lewat ingatan akan
hal-hal yang diajarkan dan dilakukannya semasa hidupnya. Kedatangannya
kembali nanti dikontraskan dengan suasana yang menggelisahkan - suasana
zaman edan dan bumi gonjang-ganjing.

KERAJAAN ALLAH SUDAH TIBA

TANYA: Markus, bila begitu latar belakangnya, apa warta Yesus yang paling
pokok yang Anda rekam?

MARKUS: Orang-orang di sana dulu terusik dengan pertanyaan-pertanyaan
tentang akhir zaman. Kepada orang-orang ini Yesus mengajarkan bahwa akhir
zaman sudah tiba dalam wujud "Kerajaan Allah". Ini kutuliskan pada awal Mrk
1:15.

TANYA: Lha, apa yang terjadi bila Kerajaan Allah sudah datang?

MARKUS: Dalam Mrk 1:15a, kuceritakan Yesus berseru "Metanoeite!", yang
artinya lebih luas daripada "Bertobatlah!" Orang-orang diminta agar berubah
haluan dari hanya ngutak-utik perkara betul atau salah menurut Taurat
menjadi orang yang berpikir lapang, yang tidak membiarkan diri terganjal
huruf. Begitulah ada kemerdekaan batin. Ini perlu agar warta Injil bisa
diterima dengan mantap.

TANYA: Lalu?

MARKUS: Langkah berikutnya, ya mendengarkan, memandangi, mengikuti Yesus
yang mengajar, menyembuhkan orang sambil berjalan ke Yerusalem meskipun
sadar di sana bakal kena susah. Jadi, kayak Bartimeus si buta yang melihat
kembali.

TANYA: Maksudnya, satu ketika orang bakal menyadari Yesus sebagai Mesias
yang diutus Allah.

MARKUS: Benar. Tapi Yesus sendiri sebenarnya memakai ungkapan Anak Manusia
untuk menjelaskan ke-Mesias-annya. Ia mendekatkan kembali manusia dengan
Allah, ia bukan Mesias politik. Karena itu juga, seperti dalam Injilku (Mrk
13:26), ia memakai gambaran Anak Manusia dengan memanfaatkan Dan 7:13.

TAFSIR DANIEL 7:13 - KEMANUSIAAN YANG BARU

Kedatangan kembali Yesus dalam kemuliaannya digambarkan oleh Markus (juga
oleh Matius dan Lukas) dengan memakai gambaran dari Dan 7:13, yakni tokoh
Anak Manusia yang datang menghadap Allah untuk memperoleh anugerah kuasa
atas seluruh alam semesta. Dalam Kitab Daniel, kedatangan Anak Manusia ini
terjadi segera sesudah Allah memunahkan kekuatan-kekuatan jahat yang
mengungkung alam semesta. Zaman yang dikuasai kekuatan edan itu kini
digantikan dengan zaman Anak Manusia. Siapakah Anak Manusia dalam Daniel
itu? Tafsiran bisa bermacam-macam. Namun demikian, bila dicermati, Anak
Manusia di situ dipakai melukiskan kemanusiaan baru yang hidup merdeka di
hadapan Allah. Di situlah kebesarannya. Bila diterapkan kepada Yesus,
kedatangannya kembali mewujudkan kemanusiaan yang baru ini.

MARKUS: Setuju dengan catatan di atas. Kemanusiaan baru itulah wujud utuh
Kerajaan Allah. Manusia tidak lagi buta, tidak lagi lumpuh, tidak lagi
sakit, tidak kerasukan roh jahat, tapi yang merdeka di hadapan Allah,
seperti Yesus sendiri di hadapan Allah, Bapa yang maharahim itu. Seperti
dalam Kitab Daniel tadi, kehadiran manusia baru itu berkontras dengan zaman
edan yang mendahuluinya.

TANYA: Kok dipakai ibarat pohon ara bersemi segala. Pusing!

MARKUS: Aku sendiri juga belum seratus persen ngerti. Tapi pohon ara yang
bersemi itu kan tanda yang pasti mengenai musim panas sudah di ambang pintu.
Nah, kepastian seperti inilah yang boleh kalian pegang bila kalian mengalami
macam-macam kegelisahan di zaman edan.

PERTANDA ZAMAN
Agar pembicaraan tafsir di atas agak lebih membumi, marilah kita sekadar
menengok angka-angka statistik penduduk "miskin" dari Maret 2006 hingga
Maret 2009 berdasarkan Berita Resmi Statistik terbitan dari Biro Pusat
Statistikdari tahun-tahun itu. Kemiskinan dapat dipakai sebagai salah satu
pertanda yang mendahului "kedatangan kemanusiaan baru" yang dibicarakan di
atas.

-          "Garis Kemiskinan" per bulan per kapita dan pada bulan Maret 2006
Rp.151.997,- per bulan per kapita (jumlah itu diukur dengan beaya untuk
memenuhi bahan pokok pangan dan papan yang minimum dan menanjak tiap tahun).
Atas dasar perhitungan garis itu, pada tahun 2006 terjadi kenaikan jumlah
penduduk miskin yang cukup drastis, yaitu dari 35,10 juta orang (15,97
persen) pada bulan Februari 2005 menjadi 39,30 juta (17,75 persen) pada
bulan Maret 2006. Peningkatan jumlah dan persentase penduduk miskin selama
Februari 2005-Maret 2006 terjadi karena harga barang-barang kebutuhan pokok
selama periode tersebut naik tinggi, yang digambarkan oleh inflasi umum
sebesar 17,95 persen. Akibatnya penduduk yang tergolong tidak miskin namun
penghasilannya berada di sekitar garis kemiskinan banyak yang bergeser
posisinya menjadi miskin.

-          Ada perbaikan selama tiga tahun belakangan ini. Dengan Garis
Kemiskinan pada bulan Maret 2009 sebesar Rp.200.262,-, maka penduduk miskin
berjumlah 32,53 juta jiwa (14,15 persen) .Dibandingkan dengan penduduk
miskin pada Bulan Maret 2008 (Garis Kemiskinan Rp. 182.636) yang berjumlah
34,96 juta (15,42 persen), jumlah penduduk miskin turun sebesar 2,43 juta.
Perbaikan ini kelanjutan dari keadaan sebelumnya. Dibandingkan dengan
penduduk miskin pada bulan Maret 2007 (Garis Kemiskinan Rp 166.697) yang
berjumlah 37,17 juta orang (16,58 persen), jumlah penduduk miskin turun
sebesar 2,21 juta orang. selama periode Maret 2007-Maret 2008.

Sekadar rincian. Selama periode Maret 2008-Maret 2009 (Garis Kemiskinan pada
Bulan Maret 2009 seperti di atas ialah Rp.200.262,-) penduduk miskin di
daerah perdesaan berkurang 1,57 juta, sementara di daerah perkotaan
berkurang 0,86 juta orang. Namun demikian proporsi persentase penduduk
miskin antara daerah perkotaan dan perdesaan tidak banyak berubah dibanding
tahun sebelumnya. Pada Bulan Maret 2009, sebagian besar (63,38 persen)
penduduk miskin berada di daerah perdesaan. Peranan komoditi makanan (beras,
gula pasir, telur, mie instan, tahu dan tempe) terhadap Garis Kemiskinan
adalah  73,57 persen, jadi jauh lebih besar dibandingkan peranan komoditi
bukan makanan (perumahan, biaya listrik, angkutan, minyak tanah, sandang,
pendidikan, dan kesehatan).

Adanya perubahan di atas menjadikan harapan akan perbaikan mulai tampak
sebagai kenyataan. Berarti zaman edan dan kekuatan yang jahat sudah atasi?
Perbaikan keadaan sudah mantap? Boleh jadi terlalu dini membuat kesimpulan
ke sana. Namun ada pertanda bahwa perbaikan itu dapat menjadi kenyataan.
Iman injili menyangkal kekuatan yang memiskinkan  kemanusiaan. Injil
mengabarkan zaman seperti itu bisa diakhiri dan digantikan dengan
kemanusiaan yang semakin utuh. Ada dua cara ikutserta memperbaiki
kemanusiaan yang masih mengalami "kemiskinan". Yang pertama ialah membantu
dengan bantuan material yang langsung dibutuhkan. Cara ini cocok dalam
keadaan darurat, tetapi tidak banyak membantu dalam menghadapi kemiskinan
kronik dan perbaikan ke depan. Jenis ini lebih cocok dihadapi dengan cara
kedua, yakni menggugah orang-orang yang berkekurangan agar mengusahakan
perbaikan diri dan mengajak mereka maju terus. Dalam benak terpikir, inilah
caranya untuk membumikan eksegese Anak Manusia dalam Dan 7:13 dan Mrk 13:26
bagi negeri ini. Kedatangannya juga demi perbaikan nasib kaum lemah ekonomi
di bumi ini.

Salam hangat,
A. Gianto

Injil Minggu Biasa XXXII B - 8 November 2009

Injil Minggu Biasa XXXII/B 8 November 2009 (Mrk 12:38-44)

LURUS DI HADAPAN TUHAN DAN SESAMA?

Menurut isinya, Mrk 12:38-44, memuat dua bagian. Yang pertama, ay. 38-40,
menyampaikan amatan keras Yesus terhadap perilaku sementara ahli Taurat yang
suka mempertontonkan kesalehan dan menyalahgunakan penghormatan orang
terhadap mereka, tapi lebih-lebih karena mereka "menelan rumah janda-janda",
serta mengelabui mata orang dengan doa mereka yang berkepanjangan. Dalam
bagian selanjutnya, ay. 41-44, didapati pengajaran Yesus kepada para
muridnya ketika mengamati orang-orang yang memasukkan uang ke dalam peti
persembahan di Bait Allah. Ada seorang janda miskin yang memberikan uang
receh paling kecil - itulah seluruh nafkahnya. Kata Yesus, pemberiannya
lebih dari orang-orang yang memberi dari kelimpahan mereka. Apa ini pujian
bagi sang janda dan sindiran terhadap orang yang memberi dari kelimpahan?
Mari kita temukan Kabar Gembira petikan kali ini agar kita dapat pula ikut
mewartakannya.

ARAH TAFSIR

Petikan ini bukan pertama-tama dimaksud untuk mengecam sikap sementara orang
maupun untuk memuji-muji orang miskin yang berani berkorban, melainkan untuk
mengajar para murid bernalar. Begitu juga Warta Gembira bagi kita jangan
kita jadikan kabar buruk bagi orang lain. Ini prinsip yang perlu dipegang
dalam menafsirkan Alkitab khususnya dalam memakainya dalam pewartaan. Bila
tidak, Injil akan menjadi alat pengecam dan sulit menjadi Kabar Gembira bagi
siapa saja.

Hendak diajarkan kepekaan mewaspadai kebiasaan kita sendiri. Dalam ay. 38,
dikatakan "Hati-hatilah terhadap ahli-ahli Taurat yang...!" Dinasihatkan
agar orang awas, artinya tidak menerima begitu saja apa yang di kalangan
umum diterima sebagai tindakan yang patut disetujui dan bahkan dijadikan
teladan. Apalagi bila menyangkut tokoh-tokoh yang berwibawa, seperti para
ahli Taurat. Mereka ini orang yang tahu menahu tentang agama. Mereka lazim
menjadi panutan orang banyak. Sebenarnya ada banyak ahli Taurat yang baik,
juga pada zaman itu. Tapi ada beberapa gelintir dari mereka yang
menyalahgunakan kedudukan serta penghormatan orang terhadap mereka. Mereka
inilah yang disoroti.

PEGANGAN

Tidak mudah menilai anggapan serta perbuatan para tokoh seperti kaum ahli
Taurat. Apa pegangannya? Tak lain dan tak bukan yakni mewaspadai apa
kelakuan tertentu itu sejalan atau kurang sejalan dengan dua perintah yang
paling terutama yang dijadikan pokok pembicaraan dalam Mrk 12:28-34 (Injil
Minggu lalu), yakni mengasihi Tuhan Allah dengan seutuh-utuhnya dan
mengasihi sesama seperti diri sendiri.

Mempertontonkan kesalehan dalam berdoa dan mengharapkan penghargaan dari
orang bukan cara yang cocok untuk menepati perintah mengasihi Tuhan Allah.
Mengapa? Karena Dia dijadikan dalih agar diri sendiri mendapat kemudahan,
memperoleh penghormatan, menikmati privilegi sebagai rohaniwan, sebagai
ulama. Apalagi dengan dalih seperti itu kasarnya apa-apa saja bisa
dipaksa-paksakan: bila begitu menghujat, kami membela Tuhan Allah, kalian
mesti tunduk! Jangan melecehkan orang yang menjalankan ibadat, karena "ia
sedang mengasihi Tuhan". Tapi Tuhan sendiri malah tidak mendapat tempat
dalam kehidupan orang seperti itu.

Menelan rumah janda-janda, membeli dengan paksa, atau mengambil alih tempat
berlindung mereka itu kelakuan yang kejam. Juga jadi tindakan yang paling
melanggar perintah mengasihi sesama seperti diri sendiri. Memang kebanyakan
orang biasa tidak memiliki rumah sendiri, mereka biasa menyewa dari pemilik
tanah. Tapi bila penyewa meninggal maka istrinya tidak langsung berhak
meneruskan memakai tanah atau rumahnya. Janda itu biasanya disuruh pergi,
dan nasibnya tergantung pada sanak dekat yang menurut aturan hukum adat
dapat diminta mengurusnya. Keadaan umat Perjanjian Lama dulu di Mesir
seperti itu. Karena itu dalam kepercayaan mereka, Tuhan menampilkan diri
sebagai sanak terdekat yang membela mereka dan menuntun mereka keluar dari
tempat penderitaan dan memberi mereka negeri baru! Oleh karena itu jauh di
kemudian hari setelah umat mengalami perbaikan hidup, diajarkan agar selalu
diingat bahwa leluhur mereka dulu menderita dan oleh karena itu kini jangan
sekali-kali memperlakukan orang yang tak ada pelindungnya dengan
semena-mena. Bila tak mau mengerti, nanti Tuhan sendiri akan menjadi pembela
orang yang tertindas tadi, seperti dulu juga. Dan orang yang berlaku keras
akan terhukum seperti raja Mesir dan penindas lain dulu! Tak ada hukuman
lain yang lebih berat daripada dimusuhi oleh Tuhan sendiri.

MANAJEMEN GEREJA AWAL

Di kalangan Gereja Awal tumbuh kepedulian besar akan keadaan para janda. Kis
6:1-6 mempermasalahkan kurangnya pelayanan yang semestinya diberikan kepada
para janda, bahkan dalam kebutuhan yang amat sehari-hari. Para pemimpin
sibuk mengurus pengajaran mengenai Sabda sehingga urusan sehari-hari kurang
dapat ikut mereka tangani. Ini masalah manajemen dalam komunitas tapi yang
berakibat pada terlantarnya orang-orang yang mesti diurus. Guna memperbaiki
keadaan, maka diangkatlah orang-orang yang ditugasi mengurus kebutuhan yang
kurang dapat diurus para pemimpin sendiri. Begitulah asal usul adanya para
diakon dalam Gereja Awal. Terlihat dalam komunitas pertama itu betapa
besarnya perhatian terhadap para janda. Juga dalam Kis 9:39 disebutkan bahwa
Dorkas (Tabita) dikenang karena jasanya mengurus keperluan sandang bagi para
janda. Dari 1 Tim 5:3-16 bahkan dapat disimpulkan bagaimana tertibnya
organisasi pelayanan bagi para janda. Ada daftar siapa yang betul-betul
membutuhkan pelayanan. Ada pengaturan, bila mungkin hendaknya saudara
dekatnya menolong, termasuk mendapatkan suami. Ini semua karena masyarakat
waktu itu memang sulit bagi perempuan yang hidup sendirian.

Bagaimana menafsirkan amatan mengenai sang janda yang memberikan seluruh
nafkahnya itu (Mrk 12:44)? Dikatakan bahwa ia memberi jauh lebih banyak dari
pada orang-orang yang memberi dari kelimpahannya. Pembaca mesti
pandai-pandai menyadari permasalahannya. Memang gampang menggarisbawahi
pemberian sang janda ini pemberian yang menyeluruh, tanpa menyisakan bagi
diri sendiri, dst. Sikap seperti ini tentunya mesti dipegang dalam memberi,
apalagi kepada Tuhan. Tapi tafsiran seperti itu sebenarnya kurang menggali
warta Injil degan cukup dalam. Juga bukan cara untuk berwarta. Tidak banyak
yang dapat berlaku seperti janda itu dalam hidup nyata. Maka tak usah ke
sana arahnya. Malah akan membuat Injil makin jauh dari kehidupan.

PEMBERIAN ATAU TANDA MEMPERCAYAKAN DIRI?

Pendengar zaman dulu tentunya paham akan keadaan para janda dalam komunitas
mereka. Dan mereka akan membandingkan kisah itu dengan kenyataan yang
sehari-hari. Dikatakan janda itu memberikan seluruh nafkahnya. Ini akan
dimengerti sebagai ungkapan bahwa sang janda masih butuh dan berhak mendapat
perhatian sungguh. Jadi bukan semata-mata kisah mengenai nilai pemberian
dari orang miskin? Bagaimana penjelasannya?

Iuran wajib bagi Bait Allah (seperti perpuluhan dst.) memang dipakai
sebagian untuk pemeliharaan tempat ibadat dan keperluan upacara, tetapi
sebagian besar dialokasikan sebagai bantuan bagi orang-orang miskin, yatim
piatu, dan janda. Semuanya diatur dalam anggaran Bait Allah. Orang yang tak
punya apa-apa akan mendapat bantuan, asal betul-betul tak punya. Nah janda
tadi memberikan seluruh "nafkahnya" yang tentunya diperoleh bukan dari
bantuan tadi. Dengan demikian ia akan berhak mendapat bantuan yang
diperuntukkan baginya. Tentunya bantuan Bait Allah ini akan lebih besar
daripada dua keping uang tembaga, yang tidak akan cukup untuk hidup sehari.
Tetapi bila sang janda memegang "nafkahnya" yang hari itu memang hanya dua
uang tembaga receh itu bisa jadi ia tidak dianggap butuh bantuan resmi tadi
- mungkin ia masih mendapat nafkah lain sampai cukup buat menyambung hidup.
Tetapi bila merelakan semua yang ada, maka ia akan dinyatakan tak punya
apa-apa lagi dan hidupnya hari itu akan ditanggung yang berwajib. Tak usah
kisah ini dimengerti sebagai ajakan memuji-muji sikap memberi sang janda
tadi atau menyindir orang yang berduit. Ia boleh dipuji dengan alasan lain
yang akan diutarakan di bawah. Kisah ini pertama-tama ditujukan kepada para
pengurus komunitas para murid agar siap memperhatikan orang-orang seperti
janda yang tak memiliki apa-apa lagi sehingga hidupnya menjadi tanggungan
jemaat. Kisah ini disampaikan untuk menajamkan kepekaan terhadap orang yang
berhak mendapatkan bantuan, bukan untuk meromantiskan mereka.

Namun demikian, keberanian sang janda dalam menyatakan diri tak punya
apa-apa lagi dengan cara tadi patut dilihat sebagai penyerahan diri kepada
kebaikan Tuhan. Mempercayakan diri sepenuhnya, inilah pengajaran Injil hari
ini. Bagaimana dengan orang yang memberi dari kelimpahan, yang tentunya
dapat masih dapat menyandarkan diri pada harta milik yang ada padanya.
Mereka, dan orang-orang seperti kita, diajak berani belajar semakin
menyandarkan diri kepada Tuhan. Tak perlu dengan cara pemberian, melainkan
dengan cara yang akan melibatkan diri. Apa itu? Yesus tidak menunjukkan
seluk beluknya. Dan Injil diam. Diserahkan kepada pemahaman dan kesuburan
moral masing-masing. Prakarsa serta kreativitas masing-masing masih mendapat
tempat. Dan ini termasuk Kabar Gembiranya. Kita dapat menemukan jalan-jalan
baru yang searah dengan yang diharapkan oleh Dia yang menuntun kita! Dan
semakin manusiawi pula.

Salam hangat,
A. Gianto

Injil Minggu Biasa XXX/B - 25 Oktober 2009

Injil Minggu Biasa XXX tahun B 25 Oktober 2009 (Mrk 10:46-52)

BYAAR! MELIHAT KEMBALI - KE ATAS!

Diceritakan dalam petikan kali ini (Mrk 10:46-52) bagaimana Bartimeus,
seorang pengemis buta, ikut berdesak-desakan mengerumuni Yesus yang sedang
berjalan lewat Yerikho. Ia berseru minta dikasihani oleh Yesus yang
dipanggilnya sebagai "anak Daud", gelar Mesias yang dinanti-nantikan banyak
orang itu. Kendati orang banyak menyuruhnya diam, ia terus berteriak dan
makin keras. Mendengar itu Yesus menyuruh membawa Bartimeus mendekat untuk
ditanyai ingin apa darinya. Ketika ia minta agar bisa melihat kembali, Yesus
mengatakan bahwa imannya telah menyelamatkannya. Saat itu juga Bartimeus
dapat melihat kembali dan mulai mengikuti Yesus dalam perjalanannya. Marilah
kita tengok terlebih dahulu perihal orang buta dalam Alkitab sebelum
mengamati beberapa peristiwa Yesus menyembuhkan orang buta dan menafsirkan
kisah Bartimeus ini.

ORANG BUTA DALAM ALKITAB

Orang bisa buta sejak lahir (Yoh 9:1), atau berkurang penglihatannya karena
usia lanjut (Ishak dalam Kej 27:1; Eli dalam 1Sam 3:2; Ahia dalam 1Raj
14:4). Di luar itu, kebutaan umumnya akibat penyakit mata yang kasep. Hukum
agama dan hukum adat melindungi orang-orang buta (seperti halnya juga janda,
musafir, orang sakit, orang miskin, dst.). Ada ancaman keras jangan
sekali-sekali menyesatkan atau membiarkan orang buta tersandung (Im 19:14
dan Ul 27:18). Hukum-hukum ini keramat. Tipe orang saleh seperti Ayub bisa
berkata sudah menjalankan kebaikan terhadap orang buta (Ayb 29:15).

Kebutaan Saulus (Kis 9) dipakai untuk menyadarkannya bahwa hingga saat itu
ia "buta" akan kehadiran Yesus. Selain itu, kebutaan fisik membuatnya kini
makin menghargai kebesaran Allah yang mengasihani orang buta seperti dia
lewat orang yang mengantarkannya mencari kesembuhan di Damsyik - di sana ia
juga menerima baptisan, yang dimengerti secara teologis olehnya nanti dalam
Rm 6:5 sebagai ikut mati, dikubur, dan dibangkitkan kembali bersama dengan
Kristus.

Kebutaan bisa didatangkan sebagai hajaran kekuatan gaib, misalnya
Saulus/Paulus dengan kekuatan matanya menyihir buta seorang nabi palsu
bernama Baryesus alias Elimas yang menjalankan praktek santet di Pafos di
Pulau Siprus (Kis 13:11). Sambil berdoa Elisa menenung buta sepasukan orang
Aram (2Raj 6:8 dst.). Malaikat Allah membutakan mata orang-orang Sodom yang
berniat berbuat keji terhadap mereka yang menyamar sebagai tetamu Lot (Kej
19:1). Praktek merusak mata lawan juga dikenal, misalnya orang Filistin
mencungkil mata Simson (Hak 16:22), Nebukadnezar membutakan Zedekia (2 RW
25:7).

Kebutaan dapat menggambarkan tipisnya kepekaan rohani, misalnya umat yang
tak lagi mengindahkan Allah (Yes 42:18-19), malah pemimpin umat juga buta
(Yes 56:10); juga orang yang duniawi belaka pikirannya (2Kor 4:4) atau yang
tak berbuat baik kepada sesama (2 Ptr 1:9) dan yang membenci sesama (1Yoh
2:11). Gereja Laodikea dikatakan buta karena tidak menyadari kemerosotan
rohani sendiri (Why 3:17). Orang Farisi diibaratkan orang buta menuntun
orang buta (Mat 15:14; Luk 6:3).

YESUS DAN ORANG BUTA

Seperti diutarakan dalam Mat 11:5 dan Luk 7:(21-)22, dalam menjawab
pertanyaan Yohanes Pembaptis, Yesus menyebut penyembuhan orang buta sebagai
salah satu tanda bahwa dirinya itu tokoh yang telah lama dinanti-nantikan
orang banyak. Hal ini berhubungan erat dengan gagasan Alkitab bahwa
keselamatan datang bagaikan terang bagi orang buta (lihat Mzm 146:8; Yes
29:18; 35:5; 42:16.18; 43:8; Yer 31:8). Tiga kejadian penyembuhan orang buta
diceritakan secara khusus dalam Injil-Injil:

Di Betsaida (Mrk 8:22-25; Mat 9:29): Markus melaporkan bahwa orang buta yang
diludahi matanya dan ditumpangi tangan oleh Yesus mulai bisa samar-samar
melihat kembali dan baru pulih sepenuhnya ketika matanya ditumpangi tangan
sekali lagi. Matius mengandaikan pembaca mampu membayangkan tiap tindakan
Yesus itu dan hanya melaporkan Yesus "menjamah mata" si buta. Akan tetapi,
Matius menekankan orang buta itu ditanya dulu apa sungguh percaya Yesus bisa
menolong mereka.

Mengenai peristiwa di Yerikho (Mrk 10:46 dst.; Luk 18:35 dst.; Mat 20:30
dst.) Markus dan Lukas berbicara tentang Bartimeus si buta yang menjadi
peminta-minta, tapi entah bagaimana Matius menambahkan orang buta yang lain
sehingga penyembuhannya terjadi pada dua orang buta tanpa nama. Boleh jadi
ingatan Matius agak rancu dengan peristiwa yang pernah diceritakannya
sendiri dalam Mat 9:27-29. Bagaimanapun juga si buta itu, satu atau dua
orang, berteriak minta tolong, "Anak Daud, kasihanilah...!" Dan Yesus
langsung berbuat sesuatu. Tak perlu heran, menurut adat dan hukum orang buta
wajib ditolong (lihat catatan di atas), apalagi kalau yang bersangkutan
mengimbau kewajiban keramat Mesias untuk menunjukkan belas kasihan ilahi.

Di Yerusalem (Yoh 9:1-41, orang buta sejak lahir), Yesus meludah ke tanah
dan membuat lumpur yang dipoleskannya pada mata orang buta sejak lahir itu
lalu menyuruhnya pergi berendam di kolam Siloam dan kembali ke Yesus dan
penglihatannya kini beres. Penyembuhan ini terjadi dengan maksud menunjukkan
betapa karya Allah nyata-nyata terjadi dalam diri orang buta sejak lahir itu
(ay. 3).

Yesus bertindak seperti penyembuh paranormal zaman itu, lengkap dengan
gerak-gerik magis-ritual dan penyebutan syarat-syaratnya segala. Injil
kadang-kadang merekamnya, kadang-kadang hanya mengandaikan pembaca sudah
tahu dan bisa membayangkannya sendiri.

DIALOG IMAJINER DENGAN BARTIMEUS

TANYA: Pak Bartimeus, kenapa kok Anda bersikeras minta tolong kepada Yesus?
Apa Anda tidak takut orang banyak yang mengomeli Anda?

BARTIMEUS: Itu hakku, bukan? Yesus itu kan Mesias keturunan Daud, betul
kagak? Ia tidak bakal mengingkari kewajibannya kepada orang kayak gue-gue
ini. Dan ngapain takut sama orang banyak? Mereka kan tidak bakal berani
menjegalku, situ kan ahli Kitab Suci, apa kata Im 19:14 dan Ul 27:18?

TANYA: Okay, Pak. Lain hal, apa yang Anda rasakan waktu Yesus tanya ingin
apa darinya?

BARTIMEUS: Wah, dag-dig-dug! Sampai saat itu aku pikir aku ini kena hukuman
Allah kayak orang Aram atau orang kota Sodom, atau dukun belang yang kalian
kenal dari Kitab Suci. Kebetulan Yesus lewat Yerikho. Dengar-dengar ia
mengajarkan Allah itu Bapa yang baik. Ini perkara baru. Tapi kurang jelas
apa juga berlaku bagi orang seperti aku ini. Maka mau tanya langsung
kepadanya. Tahu-tahunya ia malah nyuruh aku datang mendekat dan bertanya aku
mau dia lakukan apa bagiku. Lha, tentu saja gue bilang pengin bisa ngeliat
kembali. Saat itu juga rasanya byaar!

TANYA: Omong-omong, persisnya Injil-Injil melaporkan "byaar" Anda itu tadi
itu sebagai "saat itu juga ia bisa melihat kembali". Apanya yang "kembali"?
Soalnya begini, sabar ya Pak, teks Injil mengatakan Anda itu "ana-eblepse".
Lha, "eblepse", aorist orang ke-3 tunggal, artinya "mulai melihat" itu
memiliki awalan "ana-" yang mengandung makna "kembali". Jadi, dengan "byaar"
tadi Anda mulai bisa melihat hal-hal seperti dulu lagi. Tetapi awalan "ana-"
itu juga berarti "ke atas", jadi "ana-eblepse" itu juga "mulai bisa
memandang ke atas". Yesus sendiri misalnya ketika hendak memberi makan lima
ribu orang dikatakan dalam Mat 14:19 "... menengadah (= ana-eblepsas) ke
langit lalu mengucap syukur..." Apa Anda setuju dikisahkan dalam Injil-Injil
dengan kata "ana-eblepse" yang sarat dengan dua nuansa itu?

BARTIMEUS: Waduh, waduh, terima kasih diajari Yunani! Memang cerita
Injil-Injil itu jitu. Dalam "byaar" tadi rasa-rasanya mulai tampak juga apa
yang dilihat Yesus ketika ia menengadah.

TANYA: Lha apa itu?

BARTIMEUS: Situ belum tahu? Kursus kilat Yunani saya balas dengan kursus
kilat iman. Yesus bilang sama gue, "Imanmu sudah menyelamatkanmu." Ia tahu
saat itu saya "byaar" dan mulai bisa juga melihat yang dilihatnya seperti
ketika ia menengadah tadi. Inilah yang dia maksudkan. Aku mulai makin
tertarik ikut melihat yang betul-betul dilihatnya, bukan hanya langit saja
tapi siapa yang di sana. Karena itu, aku ikuti dia. Tiap hari aku
mendengarkan ia bercerita mengenai Bapanya yang ada di surga, yang di atas
sana. Maka Mrk 10:52 bilang tentang aku yang mantan pengemis buta ini "lalu
ia mulai mengikutinya dalam perjalanannya". Maksudnya, jalan menuju Bapanya
- tafsir ini ndak bisa Anda raih dengan eksegese tok lho, karena hanya
terjangkau dalam iman yang disebut Yesus tadi. Luk 18:43 mengatakan yang
sama ketika bilang tentang diriku "lalu ia mulai mengikuti dia sambil
memuliakan Allah". Allah yang makin kupandangi dalam mengikut Yesus.

Pada akhir tanya jawab itu, terbayang Bartimeus berjalan mengikuti Yesus -
ia yang tadi buta itu kini menuntun kita semua mulai memahami apa makna
mengikuti Yesus dalam perjalanannya. Ia juga bukan peminta-minta lagi, ia
bisa memberi banyak. Apa rekan-rekan berkeberatan bila dikatakan perjumpaan
Bartimeus dengan Yesus itu justru karena si buta ingin lebih tahu cerita
Yesus tentang Bapanya yang di atas sana, di surga, dan dalam hubungan ini ia
memperoleh kembali penglihatannya?

Salam hangat,
A. Gianto

Injil Minggu Biasa XXVIII B - 11 Okt 09

Minggu Biasa XXVIIIB - 11 Okt09 (Mrk 10:17-30)


SIKAP BERAGAMA DAN KEROHANIAN SEJATI

Bacaan Injil Minggu Biasa XXVIII tahun B ini (Mrk 10:17-30) memuat
pernyataan Yesus bahwa lebih mudah bagi seekor unta melewati lubang jarum
daripada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah (ay. 25; lihat pula Mat
19:23-24 Luk 18:25). Murid-murid bereaksi, bila begitu, siapa yang bakal
selamat? Menanggapi persoalan ini, Yesus mengemukakan memang tak mungkin
bagi manusia, namun bukan demikian bagi Allah; bagiNya semuanya bisa
terjadi. Apa artinya pembicaraan itu dan apa wartanya bagi kita sekarang?

SIKAP BERAGAMA DAN KEROHANIAN SEJATI?

Ada orang yang datang dan bertanya kepada Yesus, apa yang mesti diperbuat
supaya mendapatkan hidup kekal (Mrk 10:17). Yesus merujuk kepada
perintah-perintah agama (ay. 19). Tetapi setelah orang itu berkata bahwa
semua sudah dijalankannya (Mrk ay. 20), Yesus mengajaknya melangkah lebih
jauh. Disarankannya kepada orang itu untuk mengamalkan kekayaannya bagi kaum
papa lalu mengikutinya (ay. 21).
Keinginan orang itu untuk memperoleh hidup kekal dihadapkan Yesus dengan
cita-cita untuk mencapai kesempurnaan. Hidup kekal belum bisa disebut
kesempurnaan. Dalam bacaan ini juga menjadi jelas bahwa kesempurnaan
mustahil dicapai oleh manusia dengan upaya sendiri. Kesempurnaan itu karya
Allah bagi manusia. Murid-murid salah paham. Mereka mengira kesempurnaan itu
dituntut agar orang selamat, maka mereka bertanya-tanya siapa bakal bisa
diselamatkan. Dalam ay. 27 Yesus membantu mereka agar mengerti duduk
perkaranya: kesempurnaan itu bukan urusan manusia, melainkan karya Allah di
dalam diri manusia.
Dalam hubungan ini baik dipikirkan perbedaan antara "sikap beragama" dan
"kerohanian". Meskipun berpautan, kedua-duanya tidak sama. Sikap beragama
yang tulus dapat membawa ke hidup kekal dan membukakan dimensi keramat dalam
kehidupan, tetapi belum membawa orang betul-betul merasakan nikmat dan
hikmatnya Yang Keramat. Dia sendirilah yang bakal membawa orang kepadanya.
Tak sedikit orang yang kini merasa jenuh dengan "sikap beragama" dan
menginginkan masuk ke dalam "kerohanian". Injil Minggu ini mengutarakan
perbedaan di antara keduanya. Paradigma "sikap beragama" bisa panjang,
misalnya: menggereja, berkomunitas, membudayakan agama, agamaist. Lalu  apa
paradigma "kerohanian"? Kita tahu ada, tapi apa ujudnya, Dia sendirilah yang
lebih mengetahuinya! Kerohanian sejati luput dari perencanaan justru karena
tidak bisa diagendakan. Dan sia-sialah upaya untuk itu.

JALAN SAMA TUJUAN BERBEDA?

Tanggapan Yesus dalam Mrk 10:27 sebenarnya tidak langsung diarahkan kepada
para murid ("Siapa bakal selamat?"). Mereka sibuk dengan pemikiran mereka
sendiri mengenai keselamatan yang kini justru digoyah Yesus. Mungkin mereka
berpendapat bahwa keselamatan itu ialah mengalami "syalom" atau "kedamaian"
seperti sering dikuliahkan dalam traktat teologi keselamatan. Teologi
keselamatan seperti ini sebenarnya lebih termasuk paradigma "sikap
beragama", dan tidak berada di kawasan "kerohanian". Akibatnya, cepat atau
lambat orang merasa macet, jemu, tak mendapat inspirasi. Penawarnya ialah
teologi keselamatan yang lebih memberi ruang gerak pada Allah yang bertindak
menolong orang-orang yang butuh pertolonganNya. Itulah citra Allah dalam
Perjanjian Lama. Itu juga citra Anak Manusia dalam Perjanjian Baru yang
dinanti-nantikan orang banyak: menyembuhkan orang sakit, mengusir setan,
memberi makan orang banyak, menghidupkan orang.
Mungkin ada yang berkata, karyaNya ini toh bisa kita namai dengan abstraksi
"karya keselamatan", begitu kan? Nah, di sinilah cobaan terbesar: menamai
pengalaman rohani "ditolong Tuhan" dengan abstraksi yang universal mengenai
keadaan damai/syalom. Teologi keselamatan seperti ini memang jelas
penalarannya, tetapi kurang menggarap kerohanian.
Lalu manakah gagasan keselamatan yang lebih memberi ruang pada kerohanian?
Boleh jadi Mazmur 15 dapat membantu. Mazmur itu mulai dengan pertanyaan
siapa yang bakal diam di kemahMu ya Tuhan, siapa yang bakal tinggal di
Gunung SuciMu? Bagi sang petapa dalam Mazmur itu, tinggal bersama Tuhan di
kediamanNya ialah pengalaman rohani menikmati hikmatnya berada di dekat
Allah. Pengalaman rohani ini tidak mudah diabstraksikan menjadi paham damai
atau paham keselamatan begitu saja. Ayat-ayat selanjutnya menyebutkan
macam-macam perilaku yang menjadi petunjuk jalan masuk ke kediaman Tuhan.
Semuanya termasuk "sikap beragama" yang terarah menuju ke kesempurnaan
rohani, yakni tinggal bersama Tuhan di kediamanNya. Demikianlah ditunjukkan
kaitan antara sikap beragama dengan kerohanian sejati yang menjadi
kesempurnaan hidup. Pertanyaan pada awal Mazmur 15 nadanya mirip dengan
pertanyaan orang kaya yang datang kepada Yesus dalam Mrk 10:17 walaupun
titik tolaknya amat berbeda. Petapa dalam Mazmur itu ingin tahu bagaimana
caranya agar orang bisa berada bersama dengan Tuhan karena inilah
kepuasannya. Tetapi orang yang menemui Yesus tadi mencari kepastian
bagaimana bisa menikmati hidup kekal. Baginya berada dengan Tuhan,
"mengikuti Yesus" Mrk 10:21, bukan sumber kepuasannya! Anehnya, jalan yang
ditempuh sang petapa dalam Mazmur 15 dan orang dalam Mrk 10:17-27 praktis
sama. Bandingkan katalog perbuatan baik dalam Mzm 15 dan Mrk 10:19, tetapi
tujuan akhirnya berbeda. Semua perbuatan baik itu termasuk kesungguhan
beragama. Namun sikap ini dapat membawa orang ke dua arah yang amat berbeda
satu sama lain. Yang satu ke kepuasan rohani ada bersama Tuhan, sedangkan
yang lain ke kemuraman, ke rasa pilu karena tidak mampu mengikuti Tuhan. Ini
kendala hidup beragama yang mendua arah tujuannya. Maka tak heran bila
murid-murid Yesus bingung. Jawaban Yesus tidak melanjut-lanjutkan
kebingungan mereka, melainkan membawa mereka menyadari karya Tuhan sendiri.

UNTA MASUK LUBANG JARUM?

Ada beberapa hal dalam Mrk 10:17-30 yang sulit dimengerti. Banyak
pembicaraan mengenai ay. 25 yang menyebut-nyebut "unta" dan "lubang jarum".
Tak sedikit ahli tafsir yang menjelaskan pernyataan itu secara rasional
dengan mengatakan bahwa kata "unta", Yunaninya "kamelos", tertulis di situ
sebagai akibat salah dengar kata "kamilos", yang artinya tali, kabel,
seperti tali jemuran. Tentu saja bila dimengerti sebagai tali, ucapan Yesus
akan terasa kurang aneh. Lebih mudah dimengerti bila perkaranya ialah
memasukkan tali ke lubang pada tiang tambatan perahu., yang diibaratkan
lubang jarum. Orang bisa juga ingat bahwa ada kata Arab "jumal" yang berarti
tali penambat perahu, ada kesamaan dengan kata Arab lain, "jamal", yakni
unta. Bisa diduga-duga Aramnya Yesus dulu berbunyi seperti kata-kata itu
karena memang bahasa-bahasa itu serumpun. Tafsir seperti ini juga agak
mengurangi keanehan Mat 23:24 yang mengecam kaum Farisi yang teliti
menyaring uget-uget bila mau minum air, tetapi suka menelan unta
mentah-mentah! Jadi apa tidak lebih baik diartikan saja sebagai menelan
potongan-potongan tali yang entah bagaimana ada di dalam air minum. Memang
lucu, tapi kurang aneh daripada menelan unta mentah-mentah. Tetapi
naskah-naskah tua Perjanjian Baru yang tepercaya tidak menopang dugaan bahwa
pernah ada salah dengar dan salah tulis "kamilos" (tali) menjadi "kamelos"
(unta) tadi. Penjelasan filologis seperti ini sebetulnya temuan para
orientalis dari abad-abad silam yang diikuti begitu saja oleh para penafsir.
Lalu bagaimana tafsiran yang mengena? Tak ada jeleknya menerima teks seperti
adanya. Tak perlu kita berusaha menyulap unta menjadi tali perahu atau tali
apa saja, lebih-lebih jangan biarkan diri hanyut oleh buaian argumen
rasionalistis. Lebih baik pernyataan Yesus itu didengar sebagai kiasan untuk
membuat orang makin menyadari duduk perkaranya. Artinya, jelas tak mungkin
mereka itu masuk surga.) Yesus mau mengatakan betapa susahnya orang kaya
masuk Kerajaan Allah. Kiasan ini juga menekankan kontras pada akhir petikan.
Memang bagi manusia tak mungkin, tapi semua mungkin bagi Allah! Maksudnya,
manusia tidak bisa dengan upaya sendiri ("sikap beragama" belaka) mencapai
kesempurnaan, tapi bila yang membawanya ke sana itu Allah sendiri (menyadari
gerak "kerohanian sejati"), tentu saja bisa terjadi. Tak usah kita mulai
menuduh-nuduh siapa yang seperti orang kaya itu, juga tak perlu mencari-cari
siapa yang orang miskin yang sungguhan atau yang kurang sungguhan. Yang
penting kita bisa mengajak orang agar ikut bertanya seperti murid-murid yang
tak habis pikir tadi. Bila ini tercapai, kita akan ikut membuat orang jadi
peka akan pesan Injil, yakni insyafilah perbedaan antara "hidup beragama"
dan "kerohanian sejati", yang pertama itu upaya manusia mendekat kepada
Allah, yang lain kehadiran Allah dalam diri manusia.

MELIHAT VERSI MATIUS

Kaidah-kaidah moral yang disebut Yesus dalam Mrk 10:19 yakni jangan
membunuh, jangan berzinah, dst. hingga hormatilah ayah dan ibumu muncul
dalam Mat 19:19 dengan tambahan "dan kasihilah sesamamu manusia seperti
dirimu sendiri". Tambahan ini tidak ada dalam Luk 18:20. Gagasan "mengasihi
sesama seperti diri sendiri" memang sering dijumpai dalam Alkitab, lihat
antara lain Im 19:18 Mat 22:39 Mrk 12:31.33 Luk 10:27 Gal 5:14. Rm 13:9 Yak
2:8. Lazimnya gagasan itu dimengerti sebagai ajakan mengasihi sesama dengan
cara seperti kita mengasihi diri kita sendiri. Terngiang petuah emas Mat
7:12 "Apa yang kamu inginkan bagi dirimu, perbuatlah bagi orang lain!"
Begitukah? Memang tak ada yang bakal menyangkal betapa mulianya ajakan ini.
Persoalannya, kata-kata "seperti kamu sendiri" itu sebaiknya dipahami
sebagai pelengkap "mengasihi" atau pelengkap "sesamamu". Bila dikenakan
kepada "mengasihi", maka kita diajak untuk mengasihi orang lain dengan cara
seperti kita mengasihi diri kita sendiri. Tetapi bila dikenakan kepada
"sesamamu", maka kita diharap mengasihi sesama yang nasibnya kayak kita-kita
ini. Dengan kata lain, kita diminta agar solider dengan orang lain, agar
peduli terhadap orang lain yang senasib.
Mana tafsir yang jitu? Menurut cara bicara Ibrani atau Aram (dan Yunani
Perjanjian Baru), "kasihilah sesamamu seperti dirimu sendiri" seyogianya
dimengerti sebagai ajakan agar kita mengasihi sesama yang kayak kita-kita
ini juga, dengan segala kendala hidup dan hasrat dan cita-cita yang ada,
bukan agar kita memperlakukan orang lain dengan cara seperti kita
memperlakukan diri kita sendiri. Dalam bahasa-bahasa itu, mengasihi sesama
seperti kita mengasihi diri kita akan diutarakan dengan mengulang kata
"mengasihi". Cara berungkap seperti ditemui dalam Yoh 15:12 "Inilah
perintahku, yaitu supaya kamu saling mengasihi seperti aku mengasihi kamu".
Jika "kasihilah sesama seperti dirimu sendiri" mau diartikan sebagai "kasihi
sesama seperti halnya kamu mengasihi dirimu sendiri", maka "mengasihi" akan
diulang pula. Tambahan dalam Mat 19:19 itu justru dapat memberi ulasan lebih
jauh mengenai serangkai hukum yang menjamin hidup kekal dalam Mrk 10:19.
Serangkai hukum itu dipaparkan bukan sebagai kewajiban-kewajiban belaka,
melainkan sebagai kepedulian yang mendalam terhadap orang lain yang senasib
sepenanggungan, entah mereka itu ayah ibu, mitra bisnis, lawan beperkara,
istri, atau pemilik barang-barang yang menggiurkan. Menumbuhkan kepedulian
ini menjadi jalan ke hidup kekal.

Salam hangat,
A. Gianto

Injil Minggu Biasa XXVII B - 28 September 2009

Injil Minggu Biasa XXVII B (Mrk 10:2-16)
28 September 2009 08:22

MASALAH HUKUM ATAU SOAL IMAN?

Masalah yang dibawa ke hadapan Yesus oleh orang-orang Farisi kali ini
berkisar pada prinsip diperbolehkan atau tidaknya seorang suami menceraikan
istrinya (Mrk 10:2-16; Injil Minggu Biasa XXVII tahun B). Memang dalam hukum
Taurat, seperti mereka ketahui, tindakan itu diizinkan asal dilakukan dengan
cara yang ditetapkan, yakni dengan surat cerai resmi yang dibuat oleh suami
yang diserahkan - jadi resmi diterima - oleh istrinya. Istri yang diceraikan
tadi bisa menikah lagi dengan sah, tetapi bila suaminya menceraikannya atau
meninggal, maka bekas suami yang dulu tidak boleh menikahinya kembali.

Demi jelasnya, baiklah dikutip secara utuh hukum yang tertera dalam Ul
24:1-4 yang melatari pembicaraan di atas: (1) "Apabila seseorang mengambil
seorang perempuan dan menjadi suaminya, dan jika kemudian ia tidak menyukai
lagi perempuan itu sebab didapatinya yang tidak senonoh padanya, lalu ia
dapat menulis surat cerai dan menyerahkannya ke tangan perempuan itu,
sesudah itu menyuruh dia pergi dari rumahnya, (2) dan jika perempuan itu
keluar dari rumahnya dan pergi dari sana, lalu menjadi istri orang lain, (3)
dan jika laki-laki yang kemudian ini tidak cinta lagi kepadanya, lalu
menulis surat cerai dan menyerahkannya ke tangan perempuan itu serta
menyuruh dia pergi dari rumahnya, atau jika laki-laki itu yang kemudian
mengambil dia menjadi istrinya itu mati, (4) maka suaminya yang pertama -
yang telah menyuruh pergi itu - tidak boleh mengambil dia kembali menjadi
istrinya, setelah perempuan itu dicemari: sebab hal itu adalah kekejian di
hadapan Tuhan."

Ada gagasan dalam hukum tadi bahwa lembaga perkawinan itu keramat dan ada
ketetapan yang jelas dan wajib diikuti bila ikatan tadi dilepas. Gagasan ini
melandasi amatan tajam Yesus mengenai diperbolehkannya suami menceraikan
istrinya. Menurut Yesus, hukum itu diadakan karena "ketegaran hatimu",
maksudnya ketidakmampuan orang mengenali keramatnya perkawinan sendiri,
yakni menyatakan kesatuan yang sejak awal dikehendaki Yang Maha Kuasa antara
suami dan istri. Bagaimana kita bisa mengambil manfaat dari pembicaraan ini?

PRAKTEK HUKUM TAURAT

Sebenarnya pembicaraan tadi berkisar pada dua tataran, yakni tataran hukum
adat atau agama di satu sisi, dan di sisi lain tataran batin yang melebihi
sisi-sisi yuridis tadi. Orang Farisi bergerak dengan alam pikiran hukum
belaka, yakni soal diperbolehkan atau tidaknya menurut aturan hukum yang
berlalu. Dalam hal itu di masyarakat Yahudi dulu memang suami dapat
menceraikan istri, dengan persyaratan jelas tadi. Pada tataran batin, Yesus
mengajak orang untuk melihat lembaga perkawinan sebagai tanda menjalankan
kemauan ilahi. Gereja mengembangkan kesadaran ini dengan mengangkat
perkawinan sebagai sakramen kesatuan yang dikehendaki Pencipta sendiri.
Inilah yang mendasari hukum Gereja mengenai perkawinan.

Dalam hukum perkawinan adat Yahudi waktu itu, alasan terkuat untuk
menceraikan istri ialah bila si istri berbuat zinah. Zinah hanya
diperkatakan mengenai istri. Suami yang selingkuh dengan istri orang lain
tidak disebut zinah. Memang terjadi pelanggaran hak suami perempuan tadi.
Tetapi tindakan itu tidak dianggap pelanggaran terhadap hak istri yang
suaminya selingkuh dengan istri orang lain. Juga hukum tentang perzinahan
hanyalah berarti dalam hubungan dengan pasangan-pasangan yang telah nikah.
Mereka dulu membedakan percabulan yaitu perbuatan birahi yang tak bisa
dibenarkan dengan perzinahan yang hanya bisa dilakukan oleh seorang istri
dengan lelaki yang bukan suaminya. Dengan latar seperti ini maka penegasan
Yesus bahwa seorang suami berzinah terhadap perempuan yang diceraikannya itu
pernyataan yang amat mengagetkan. Yesus memandang perempuan dan lelaki
setara dalam hak dan kewajiban. Maka ditegaskannya pula, bila seorang
perempuan menceraikan suaminya lalu menikah lagi, maka perempuan itu
bertindak zinah terhadap suaminya. Yang juga pasti membuat orang kaget ialah
pernyataan bahwa istri dapat menceraikan suami! Hukum agama Yahudi tidak
mengenal hal ini. Sebagai guru agama Yesus memberi tafsir yang berbeda.

Bagaimana Yesus sampai berpendapat demikian? Ada dua penjelasan yang saling
menopang. Pertama, Yesus melihat inti warta Alkitab tentang penciptaan
manusia lelaki dan perempuan. Mereka diciptakan setara satu sama lain,
menjadi penolong yang setara. Kedua, dalam hukum Romawi dimungkinkan adanya
kesetaraan tadi dalam hak menceraikan dari kedua pihak, baik suami maupun
istri. Orang Yahudi waktu itu dibawahkan pada hukum Romawi, meskipun mereka
bisa menentukan sendiri dalam perkara adat, termasuk ikatan perkawinan.
Dalam masyarakat Yahudi hukum agama ini dijalankan sebagai "pietas",
kesalehan, dan tidak memiliki sanksi hukum pidana. Hanya yang sesuai dengan
hukum Romawi dapat disahkan dengan sanksi yang diatur hukum Romawi. Pada
zaman generasi kedua nanti, pelaksanaan hukum Romawi semakin umum sedangkan
hukum Taurat menjadi hukum adat setempat.

TAFSIR

Bobot alasan menceraikan istri dapat bermacam-macam. Ada kelompok ahli hukum
zaman itu yang mengajarkan bahwa hanya perbuatan zinah dengan lelaki lain
atau ketidaknormalan birahi lain yang dapat menjadi alasan. Aliran lain
menghalalkan kesalahan kecil, misalnya tidak bisa menghidangkan makanan yang
mencocoki suami atau istri tidak selalu tunduk. Bagaimanapun juga, di
kalangan Yahudi waktu itu kedudukan perempuan sebagai istri tidak dianggap
setara dengan lelaki. Tetapi orang Yahudi yang menjadi pengikut Yesus
menjalankan kesetaraan tadi. Dengan demikian, mereka berseberangkan pendapat
dan penghayatan dengan orang Yahudi tradisional. Untuk mengambil manfaat
dari petikan ini perlu disepakati dulu beberapa hal.

Pertama, persoalan yang dibicarakan di sini ialah soal hukum agama Yahudi
pada zaman Yesus. Bukan perkara hukum Gereja. Jadi tidak bisa diterapkan
begitu saja pada peraturan perkawinan dalam Gereja maupun pemecahan masalah
kehidupan rumah tangga orang katolik di masa kini.

Kedua, di kalangan pengikut Yesus yang tercermin dalam Injil Markus ada
orang-orang yang bukan dari kalangan Yahudi sehingga adat kebiasaan serta
hukum Yahudi tidak bisa diberlakukan kepada mereka. Dalam masyarakat yang
lebih luas daripada masyarakat Yahudi, seperti pada masyarakat Romawi, istri
bisa pula memiliki hak menceraikan suaminya. Lagi pula, suami akan dianggap
menyalahi kontrak pernikahan bila berselingkuh. Jadi adat dan hukum di
kalangan lebih luas, katakan saja masyarakat Romawi waktu itu, juga
mendasari pembicaraan dalam petikan ini.

Ketiga, dan paling penting bagi tafsir petikan hari ini,  ialah prinsip
teologis yang mendasari pendapat Yesus. Prinsip ini ialah maksud Pencipta
dalam menjadikan lelaki dan perempuan, yakni agar mereka bersatu dan
janganlah hubungan yang dikehendaki Pencipta diabaikan.

Ada satu hal lagi. Yesus seorang tokoh agama yang dikenal dan dihormati juga
di masyarakat Yahudi waktu itu. Bukan oleh siapa saja. Perdebatan yang
sering dilaporkan dalam Injil ialah kejadian yang lazim di antara para guru
dan ahli agama. Kerap kali perbincangan bukan ditujukan untuk memecahkan
sebuah kasus kongkrit, tetapi dilakukan sebagai "seminar" untuk mempertajam
permasalahannya dan mencapai pemahaman lebih dalam mengenai satu masalah.
Perbincangan antara orang Farisi dan Yesus kali ini sebetulnya bukan
dimaksud untuk "mempertobatkan" pihak yang kalah berdebat. Pengajaran Yesus
kepada murid-muridnya bukan untuk membuat mereka terpancang pada huruf,
melainkan agar mereka lebih berpegang pada prinsip-prinsip hidup di hadapan
Allah..

BERKAT KEPADA ANAK KECIL

Dalam bagian kedua petikan kali ini diutarakan bagaimana Yesus memberkati
anak-anak yang dibawa kepadanya (Mrk 10:13-16) Kelihatannya peristiwa ini
tidak ada hubungannya bagian yang membicarakan kekeramatan hubungan suami
istri. Tapi penjajaran kedua pokok itu dalam Injil Markus (diikuti juga oleh
Matius) memiliki arti khusus yang akan menjadi jelas bila kita pertimbangkan
padanan dalam Lukas (Luk 18:15-17). Peristiwa pemberkatan kepada anak-anak
itu ditaruh Lukas sesudah perumpamaan orang Farisi dan pemungut cukai (Luk
18:9-14). Lukas memang tidak menampilkan kembali masalah perceraian yang
digarap Markus dan Matius tadi, boleh jadi hukum Musa mengenai perceraian
tidak amat relevan bagi komunitas Lukas yang kebanyakan orang bukan asli
Yahudi. Walaupun demikian, Lukas menekankan bahwa sikap sebagai anak-anak,
yakni keluguan mereka, menjadi cara jalan terbaik untuk mampu menyelami
serta menjalankan kehendak ilahi. Lukas memakainya untuk mengomentari
perumpamaan mengenai pemungut cukai yang pulang sebagai orang yang
dibenarkan Allah. Tidak sebarang pengakuan bahwa berdosa atau bersikap tidak
memuji diri dapat membenarkan orang. Hanya dengan ketulusan seperti
anak-anaklah orang dapat memasuki Kerajaan Allah. Pemungut cukai itu datang
menghadap Allah di Baitnya dengan sikap itu, tidak demikian orang Farisi
yang menonjol-nonjolkan kesalehan serta kelurusan dirinya. Begitu pula
hubungan suami istri dapat menunjukkan yang dikehendaki Pencipta bila
dijalani dengan sikap tulus dan lugu seperti anak-anak. Dalam hal inilah
kekeramatan ikatan suami istri akan tampil bukan sebagai ikatan hukum
semata-mata, melainkan sebagai cara hidup yang dapat membuat ikatan antar
manusia sebagai tanda kehadiran ilahi. Sekaligus hendak disampaikan bahwa
sikap lugu sebagai anak-anak tadi mendatangkan berkat. Dan berkat inilah
yang menjaga kelanggengan hubungan tadi, seperti yang terjadi pada pemungut
cukai tadi: dibenarkan.

Salam hangat,
A.Gianto

Injil Minggu Biasa XXVI B - 25 September 2009

Injil Minggu Biasa XXVI B (Mrk 9:38-43.45.47-48)
25 September 2009 07:37

KESERAGAMAN ATAU KERAGAMAN?

Rekan-rekan yang budiman!
Dalam Mrk 9:38-43.45.47-48 (Injil Minggu Biasa XXVI/B) diutarakan bagaimana
suatu ketika Yohanes, salah satu dari para murid Yesus, bercerita kepada
guru mereka bahwa mereka melihat orang yang mengeluarkan setan demi namanya.
Langsung Yohanes mencegahnya, kan orang itu bukan salah satu dari pengikut
para murid Yesus! Murid ini berpendapat bahwa siapa saja yang mau
menjalankan hal-hal yang baik mestinya bergabung dulu dengan kelompok yang
sudah mapan seperti para murid terdekat tadi. Bukan sendiri-sendiri. Yohanes
mengatakan "bukan pengikut kita". Terasa adanya pendapat bahwa mengikuti
Yesus baru dapat dijalani bersama dengan para muridnya. Seolah-olah mereka
itu satu-satunya agen penyalur. Rupa-rupanya Yohanes berpikir dalam kerangka
"keseragaman" dan tidak melihat nilai "keragaman" di antara para pengikut
Yesus.

MENGIKUTI YESUS

Minggu lalu kita dengar bahwa barangsiapa dapat menghargai orang yang belum
bisa berkata telah berbuat banyak, yakni "anak kecil", sama dengan menerima
Yesus sendiri, dan sebetulnya menerima Bapanya yang mengutusnya (Mrk
9:36-37). Diajarkannya bahwa mengikutinya hendaknya tidak dipandang dari
dengan besarnya jasa atau banyaknya sumbangan, melainkan dengan keluguan.
Dalam petikan bagi hari Minggu ini, pokok mengenai menjadi pengikut Yesus
tampil kembali. Apakah mengikut Yesus berarti mesti ikut di dalam kelompok
murid-muridnya? Sebuah pertanyaan yang sulit dijawab, apalagi bila kelompok
murid Yesus kita samakan dengan Gereja. Pertanyaannya berkembang: apakah
mengikuti Yesus mesti terjadi dengan menjadi anggota Gereja? Lalu Gereja
mana? Tidak semua akan dipecahkan di sini karena persoalan yang ditampilkan
dalam Injil hari ini tidak dapat dijabarkan begitu ke keadaan masa kini.
Namun demikian, kita dapat berusaha memahami prinsip-prinsip yang
dikemukakan Yesus di sini dan yang diikuti oleh komunitas pertama dulu.

Dalam episode kali ini kita ikuti bagaimana Yesus meluruskan pendapat
Yohanes. Dilebarkannya pula pandangan para murid lainnya. Mereka diajarnya
agar tidak melihat diri mereka sebagai kelompok pusat dalam umat. Janganlah
mereka menganggap orang-orang yang belum atau tidak bergabung dengan mereka
sebagai yang bukan pengikut Yesus. Dengan kata lain, mereka diajak menyadari
bahwa ada orang-orang yang mau menerima Yesus dan mengikutinya meskipun
tidak jelas-jelas bergabung dengan para murid terdekat. Yang menjadi ukuran
bagi pengikut Yesus kiranya bukanlah keseragaman dengan para murid tadi,
melainkan keselarasan dengan Yesus dan dengan pengutusan yang dijalaninya.
Dan keselarasan ini bisa bermacam-macam ujudnya, bisa memuat keragaman.

TIGA POKOK PENGAJARAN

Ada tiga pokok ajaran yang terungkapi dalam ay. 39-42. Dalam ay. 39
diajaknya para murid menumbuhkan kelonggaran hati. Dikatakannya tentang
orang yang mengeluarkan setan tapi bukan pengikut mereka, "Jangan kamu cegah
dia, sebab tidak ada seorang pun yang telah mengerjakan mukjizat demi namaku
dapat seketika itu juga mengumpat aku." Bagi Yesus orang itu jelas-jelas
menjadi pengikutnya. Para murid Yesus, juga yang paling dekat sekalipun,
diminta agar longgar hati menghargai keragaman.

Kemudian dalam ay. 40 dituntunnya para murid supaya sampai pada keyakinan
bahwa "Siapa saja yang tidak melawan kita, ia ada di pihak kita." Ada soal
bahasa yang agak pelik. Tetapi soalnya selesai bila kita mengerti pernyataan
itu sebagai ajakan Yesus kepada para murid agar mampu dan berani menegaskan
kalimat itu. Jadi yang dimaksud ialah murid-murid sendiri yang
mempertengkarkan perkara tadi.. Mereka diharapkannya bisa bertindak sebagai
orang besar yang sejati. Tak usah mereka merasa terancam bila ada orang yang
mengerjakan hal serupa walaupun tidak bergabung dengan mereka. Dengan bahasa
zaman kita sekarang, mereka diharap agar berani berkompetisi secara jujur.

Selanjutnya, ada imbauan dalam ay. 41 agar para murid memandangi diri dengan
cara yang benar. Mereka sebenarnya memberi banyak kepada siapa saja yang
berbuat kebaikan sekecil apapun kepada mereka. Tetapi mereka itu
mendatangkan pahala bagi orang lain bukan karena diri mereka sendiri,
melainkan karena mereka itu adalah pengikutnya. Menjadi pengikut Kristus,
itulah yang membawakan keselamatan bagi orang lain, bukan menjadi pengikut
para murid. Cocok dengan ajaran agar tidak mencari kedudukan, menginginkan
status tinggi dalam umat, tidak menginginkan diri jadi pusat. Ayat ini
sebenarnya ungkapan akan apa yang nyata-nyata diyakini umat awal seperti
jelas dengan ungkapan "karena kamu adalah pengikut Kristus". Yesus sendiri
dalam hidupnya tidak pernah menyebut diri Kristus atau Mesias; ia memakai
sebutan Anak Manusia.

Akhirnya, para murid diminta dalam ay. 42 agar memiliki rasa tanggung jawab
yang besar terhadap orang-orang yang hendak mengikuti Yesus secara tulus.
Ayat ini menggambarkan orang-orang itu sebagai "anak kecil" sejalan dengan
pemakaian kata itu dalam Mrk 9:36-37 yang ikut dibacakan hari Minggu lalu.
Jangan sampai mereka dibiarkan "berbuat dosa" oleh para murid yang merasa
lebih dekat dengan Yesus. Masalah dalam penerapan ayat ini bagi zaman ini
tentunya berkisar pada siapa yang merasa murid dekat dan siapa yang menjadi
pengikut Yesus pada umumnya itu. Dalam menafsirkan ayat-ayat Kitab Suci bagi
kehidupan masa kini, sebaiknya dibuat penerapan yang luwes dan tidak kaku.
Jadi, "para murid terdekat" tak usah membuat orang ingat akan para pemimpin
Gereja, para pastor melulu, dan sebaliknya "anak kecil" tak perlu dibatasi
pada umat. Yang berpihak pada Yesus dan pengutusannya menjadi pengikutnya.
Yang ikut memperhatikan kesejahteraan mereka ialah murid terdekat.
Begitulah, Yesus menekankan bahwa siapa saja yang merasa sudah dekat
padanya, sudah masuk ke dalam kelompok murid terdekat, hendaklah ia
memikirkan kesejahteraan mereka yang masih belajar, masih mencoba menemukan
jalan mendekat kepada Kabar Gembira yang dibawakan Yesus. Inilah kenyataan
ikut serta dalam perutusan dan pengutusan Yesus. Inilah kekuatan yang
menghidukan Gereja.

INTEGRITAS PENGIKUT YESUS

Membiarkan orang yang sedang berjalan kepadanya "berdosa" adalah keburukan
yang besar. Kata asli yang dipakai di situ harfiahnya berarti "tersandung
jatuh". Sanksi hukumannya lebih berat daripada orang yang ditenggelamkan ke
dalam laut, dengan batu giling yang diikatkan pada lehernya. Dasar laut
ialah wilayah kekuatan-kekuatan maut. Ditenggelamkan ke sana berarti
diserahkan pada kuasa maut, tanpa kemungkinan naik karena pada lehernya
diikatkan batu giling. Dan keadaan ini dikatakan mendingan daripada murid
yang membiarkan orang jatuh tersandung! Tak usah Injil hari ini membuat
kita-kita yang diserahi mendampingi umat merasa diancam. Sebaliknyalah, kita
makin melihat betapa berartinya orang-orang yang telah dipercayakan kepada
kita. Bagaimana kita bisa dipercaya begitu besar? Baiklah kita lihat bagian
selanjutnya.

Dalam bagian berikutnya, ay. 43-48, diperdengarkan beberapa petuah keras
untuk tidak membiarkan diri sendiri tersandung. Jadi tanggung jawab bukan
saja terhadap keadaan orang lain, melainkan juga bagi diri sendiri. Wajar.
Orang yang dapat menjaga diri tentunya dapat menolong orang lain. Cara
penyampaiannya amat konkret. Bila lengan menyebabkan diri jatuh dalam
tindakan yang merugikan diri maka lebih baik dipenggal saja, begitu juga
kaki, demikian pula mata. Dikatakan lebih baik hidup dengan satu lengan,
berjalan timpang, atau buta sebelah daripada terjerumus ke dalam neraka.
Bagaimana memahami petuah-petuah keras ini? Jelas bukan secara harfiah.
Sekali lagi yang penting ialah melihat dasar pemikiran yang dikemukakan di
sini. Para murid diminta menyadari bahwa kehidupan dan Kerajaan Allah patut
menjadi pilihan dasar.

GARAM DAN API?

Dalam ay. 49 dijumpai  sebuah pepatah yang agak aneh: "(Karena) setiap orang
akan digarami dengan api." Digarami  biasanya berarti diasinkan sehingga tak
hambar atau lebih penting lagi, jadi awet. Tetapi pengawetan di sini
dilakukan dengan api, dengan nyala dan panas yang bakal membersihkan semua
yang bersifat campuran sehingga sisanya nanti hanya yang murni. Apa yang
dimurnikan dengan api? Integritas sebagai murid, kejujuran serta keluguan
dalam mengikuti Yesus, akan dimurnikan sehingga nanti yang keluar ialah
murid yang tahan uji, dan yang bakal dapat mengasinkan orang banyak. Bukan
yang membiarkan hambar dan tak bertahan lama.

Pada akhir petikan ini ada ajakan agar dalam diri murid selalu ada "garam"
tadi. Tentunya yang dimaksud ialah agar mereka senantiasa mampu mengawetkan
diri sendiri dan juga orang lain. Bila demikian, hidup dalam damai satu sama
lain akan menjadi kenyataan. Kalimat terakhir dalam petikan ini
mengungkapkan hasil dari adanya daya pengawet dalam kehidupan batin para
murid. Tanpa itu, tanpa integritas, akan sulitlah ada hidup damai di antara
para murid.

Injil hari ini mulai dengan perkiraan para murid bahwa mengikuti Yesus baru
bisa terjadi bila orang mau menggabungkan diri dengan mereka. Yesus tidak
membenarkan gagasan itu. Ia malah menegaskan betapa berharganya orang yang
menjadi pengikut Yesus, siapa saja, entah para murid dekat entah yang da  di
luar kalangan itu. Mereka yang merasa sudah lebih dekat dengannya dimintanya
agar memperhatikan orang-orang yang mau mengikutinya. Kesetiaan pada
tanggung jawab ini tanda kejujuran murid sang Guru dan menjadi ukuran bagi
integritas Gereja di dunia ini.

Salam hangat,
A. Gianto

Injil Minggu Biasa XXIV B - 20 September 2009

Injil Minggu Biasa XXV/B tgl. 20 September 2009 (Mrk 9:30-37)

MENGIKUTI DIA DI JALANNYA

Injil bagi hari Minggu Biasa XXV tahun B kali ini (Mrk 9:30-37) memuat
pernyataan Yesus yang kedua kalinya kepada murid-muridnya mengenai
kesengsaraan, salib, serta kebangkitannya. Sesudah itu, ia juga memberi
pengajaran agar dalam mengikutinya para murid tidak berpamrih bakal mendapat
kedudukan. Sebelum mendalami pengajaran ini, marilah ditengok sejenak maksud
serta makna pemberitahuan mengenai sengsara tadi bagi komunitas para murid
waktu itu.

PERNYATAAN TENTANG  KESENGSARAANNYA

Walaupun diakui sebagai Mesias oleh orang-orang yang paling dekat, Yesus mau
lebih memahami dirinya sebagai Anak Manusia. Maksudnya, lebih menampilkan
sisi kemanusiaan dan pribadi dirinya daripada sisi utusan ilahi dan tugas
besar kemesiasan. Ia bahkan menegaskan bahwa dirinya akan ditolak,
disalibkan, tetapi akan dibangkitkan. (Lihat ulasan Injil Minggu lalu, Mrk
8:27-35). Pernyataan ini muncul sampai tiga kali dalam Injil Markus, Matius
dan Lukas. Yang pertama, Mrk 8:31-33//Mat 16:21-23//Luk 9:22, yang kedua Mrk
9:30-32//Mat 17:22//Luk 9:43b-45 dan yang ketiga, Mrk 10:32-34//Mat
20:17-19//Luk 18:31-34. Pernyataan pertama diikuti pengajaran khusus bagi
siapa saja yang mau mengikutinya, yakni agar mereka sedia "menyerahkan
nyawa", maksudnya berdedikasi penuh Mrk 8:34-38//Mat 16:24-28//Luk 9:23-27.
Pernyataan yang kedua dilanjutkan dengan pengajaran untuk tidak mencari
kedudukan tinggi, melainkan bersikap seperti anak kecil Mrk 9:34-37//Mat
18:1-5//Luk 9:46-48. Pernyataan ketiga ditegaskan dengan pengajaran mengenai
kesediaan melayani satu sama lain Mrk 10:35-45 Mat 20:20-28 (Lukas tidak
menyertakan padanannya). Dari ikhtisar ini kelihatan bahwa arah ke salib dan
kebangkitan itu memang sulit dipahami, bahkan oleh murid-murid terdekat yang
sudah lama mengikutinya sekalipun. Jalan untuk memahami kenyataan salib dan
kebangkitan itu ialah kesediaan untuk menerima tanpa mementingkan diri
ataupun mencari kedudukan yang tinggi. Inilah yang diberikan dalam
pengajaran yang mengikuti setiap pernyataan tadi.

Semakin dekat ke Yerusalem, Yesus semakin berusaha agar para murid
terdekatnya memahami arah ke salib dan kebangkitan tadi dengan ikhlas.
Murid-murid sulit memahami mengapa ia perlu mengalami penderitaan hingga
kematian di salib. Mengapa Yang Maha Kuasa tidak menyertainya dengan bala
tentara surga dan dunia untuk membangun kejayaan umat di hadapan para
penentang-penentangnya. Pertanyaan seperti ini ada dalam lubuk hati mereka.
Juga dalam hati kecil kita. Mengapa perlu sampai sejauh itu. Mengapa dia,
dan juga kita, seolah-olah dibiarkan sendirian di hadapan kekuatan-kekuatan
yang kini semakin mengancam kita.

MENGHADAPI KEKUATAN JAHAT DENGAN SALIB

Kekuatan jahat perlu ditekuni dengan salib, seperti yang dilakukan Yesus.
Baru dengan demikian daya gelap akan dapat dikuasai dan diubah menjadi
kekuatan terang. Namun demikian, perlu disadari bahwa salib tidak identik
dengan apa saja yang dirasa sebagai penderitaan. Ada banyak kesusahan yang
bukan salib dan mestinya bisa dihindari dan diatasi dengan kebijaksanaan
hidup dan ikhtiar. Pelbagai ketimpangan ekonomi dan ketakadilan di
masyarakat bukan salib, melainkan musibah sosial yang mesti ditangani dengan
serius. Menyebutnya sebagai salib tidak membawa manfaat apapun kecuali
menutup mata pada kenyataan. Dan mengurangi makna salib yang sesungguhnya.
Yang perlu diterima sebagai salib ialah yang dihadapi oleh Yesus sendiri,
yakni penolakan manusia terhadap kebaikan ilahi. Inilah realitas yang jahat
yang hanya dapat dihadapi dengan salib.

Penderitaan serta kematian Yesus itu akan berakhir dengan kebangkitan. Unsur
yang paling membedakan salib dengan penderitaan biasa ialah ada tidaknya
kaitan dengan kebangkitan. Bahkan salib dan kebangkitan ialah satu realitas
dengan dua muka yang tak dapat saling dipisahkan. Bila tidak ada
kebangkitan, maka tak dapat dikatakan penderitaannya mengalahkan yang jahat.
Juga tidak dapat ditegaskan bahwa ada kebangkitan tanpa salib. Seperti dalam
peristiwa pemberitahuan pertama, para murid juga kurang menangkap maksud
pemberitahuan kedua.

SIAPAKAH YANG TERBESAR?

Adegan beralih dari sebuah tempat di Galilea yang namanya tidak disebut ke
sebuah rumah di Kapernaum, juga di wilayah Galilea. Di rumah inilah Yesus
menanyai para murid tentang apa yang mereka bicarakan di perjalanan. Mereka
diam tak berani menjawab, karena mereka tadi bertengkar mengenai siapa di
antara mereka yang terbesar. Mereka cukup tahu, tidak sepatutnyalah mereka
berpikir demikian. Tetapi Yesus tidak memarahi, melainkan mengajak mereka
untuk mengenal diri dengan lebih baik. Mereka kini bukan lagi orang luar dan
pengikut baru. Mereka telah berjalan bersama dia dari tempat ke tempat,
sudah melihat yang diperbuatnya bagi orang banyak dan ikut serta melayani
mereka. Murid-murid ini ialah Yang Duabelas, kalangan paling dekat dengannya
sendiri. Mereka inti umat yang baru yang akan memperkenalkan Yang Ilahi
kepada segala bangsa. Inilah orang-orang yang memang mempunyai niat
mengikuti Yesus. Kok malah kini memperebutkan kedudukan siapa yang lebih
penting. Memang mereka masih butuh belajar membuat diri searah dengan dia
yang mereka ikuti.

Yesus pun memberi mereka pengajaran khusus mengenai apa itu menjadi yang
pertama. Ia tahu tiap orang mempunyai hasrat menjadi orang penting. Orang
yang tidak memiliki dorongan ke arah itu juga sulit menemukan makna hidup.
Tetapi yang membuat penting ada bermacam-macam. Dan tidak selalu benar dan
cocok dengan pilihan hidup yang sudah mulai ditempuh. Inilah keadaan para
murid waktu itu. Kini sang Guru membantu mereka untuk semakin menemukan
diri.

Diajarkan bahwa yang ingin menjadi yang pertama, hendaklah menjadi yang
berdiri paling belakang dan melayani semuanya. Jelas hendak ditunjukkannya
bahwa mementingkan orang lain bakal membuat pengikut Yesus menjadi besar.
Dia sendiri menjalankannya. Seluruh hidupnya ditujukan untuk mengusahakan
kebahagiaan orang lain, memperoleh keselamatan bagi umat manusia.
Perjalanannya ke salib dan kebangkitan itu sebuah ziarah yang bakal
menyelamatkan umat manusia dari kungkungan kuasa yang jahat yang tak dapat
dipecahkan kecuali dengan pengorbanan dan keikhlasan untuk itu.

Para murid diajar untuk menerima anak kecil, artinya menerimanya sebagai
yang penting meski ia tak dapat menonjolkan diri pernah berbuat banyak dan
berjasa, dst. Ia diterima bukan karena yang diperbuatnya melainkan karena
berharga tanpa jasa sendiri. Itulah spiritualitas yang sepantasnya
berkembang dalam diri para murid dalam mengikuti guru mereka.

SEBUAH PERBANDINGAN

Ada manfaatnya bila hal di atas dipahami bersama dengan pengajaran yang
diberikan setelah pemberitahuan kesengsaraan yang pertama dan yang ketiga.
Titik berat dalam pengajaran yang disampaikan setelah pemberitahuan sengsara
yang pertama ialah kesediaan berdedikasi utuh dalam mengikuti Yesus (Mrk
8:34-38). Injil mengungkapkannya dengan "merelakan nyawa". Tetapi yang
ditekankan bukan sisi pengorbanan melulu, melainkan sisi keuntungannya.
Dikatakan, siapa yang kehilangan nyawanya "karena aku dan karena Injil"
malah akan mendapatkan keselamatan bagi dirinya (Mrk 8:35). Jadi tekanan
bukan pada kemartiran atau berani mati demi agama dan iman. Tafsiran ke arah
itu kurang membantu dan malah bisa disebut meleset. Yang dituju ialah
keberanian untuk menanggalkan serta meninggalkan pikiran-pikiran sendiri
mengenai apa itu mengikut Yesus dan membiarkan diri dituntun olehnya dan
dengan demikian dapat mengalami sendiri apa itu berjalan bersama dia. Jadi
"kehilangan nyawa" di situ ialah membuka diri untuk menerima kekayaan batin
yang sejati. Spiritualitas ini memberi arti pada "menyangkal diri dan
memikul salib dan mengikuti dia" yang dikatakan sebelumnya (ay. 34). Bukan
memikul salib apa saja, melainkan ikut ambil bagian dalam meringankan salib
yang dipanggul Yesus. Itulah salib yang bermuara pada kebangkitan.

Nanti sesudah pemberitahuan kesengsaraan yang ketiga kalinya, diceritakan
bagaimana Yakobus dan Yohanes meminta Yesus agar mereka dapat duduk di kanan
dan kirinya dalam kemuliaannya kelak. Yesus menanyai mereka apa mereka
bersedia minum dari cawan yang diminumnya dan dibaptis dengan baptisan yang
diterimanya. Maksudnya, menjadi senasib sepenanggungan. Mereka menyatakan
sanggup. Sekalipun demikian, Yesus menukas, ia tak berhak memberikan
kedudukan yang mereka inginkan itu karena hanya diberikan kepada yang pantas
menerimanya, siapa pun orang itu (Mrk 10:35-40). Kemudian Yesus menambahkan,
siapa ingin menjadi besar hendaknya menjadi orang yang mau melayani, yang
mau menjadi yang pertama hendaknya ada di bawah, sebagai hamba, seperti ia
sendiri (Mrk 10:43-45).

Dari ketiga pengajaran tadi dapat dilihat apa artinya mengikuti Yesus.
Pertama-tama, tentu bukan meniru-niru dia, melainkan membiarkan diri
dibentuk olehnya sendiri. Kedua, alih-alih beragenda mau jadi orang besar,
ada ajakan bersedia datang kepadanya tanpa apa-apa yang dapat diperhitungkan
sebagai jasa yang patut mendapat ganjaran. Akhirnya, mengikuti dia itu
berarti membiarkan diri dituntun oleh Yang Maha Kuasa sendiri ke tempat dan
kedudukan yang sudah disediakan olehNya. Memang kini belum dapat diduga
macamnya namun Bapa yang Maha Baik tentunya akan memberikan yang terbaik
Inilah iman yang ditumbuhkan Yesus dalam diri murid-muridnya.

Salam hangat,
A. Gianto

Injil Minggu Biasa XXIII B - 13 September 2009


Injil Minggu Biasa XXIII/B - 13 September 2009 (Mrk 8:27-35)
08 September 2009 07:06

ENGKAU ITULAH MESIAS!

Judul di atas dipetik dari jawaban Petrus terhadap pertanyaan Yesus kepada
para murid mengenai siapa dirinya menurut mereka sendiri. Kedengarannya
sederhana, apa adanya, muncul dari kesadaran mereka sendiri. Akan tetapi
belum jelas apa sesungguhnya yang hendak disampaikan Mrk 8:27-35 (Injil
Minggu Biasa XXIV tahun B) dengan peristiwa tanya jawab seperti ini. Belum
lama ini Mark mampir ke sini. Kami berbincang-bincang mengenai tokoh Yesus
dalam hubungan dengan peristiwa di atas.

SOSOK YESUS DI MATA ORANG

GUS: Kejadian ini bertempat di Kaisarea Filipi - apa ada penjelasannya? Kota
itu kan letaknya amat di utara, di kaki gunung Hermon, di Libanon, sekitar
45 km sebelah timur kota Tirus.

MARK: Ada teologinya. Sampai sekarang Injil Markus mengisahkan macam-macam
kegiatan dan pengajaran Yesus. Ia makin dikenal orang banyak. Juga makin
diawasi oleh orang Farisi dan ahli Taurat yang mengira ia mengajarkan yang
bukan-bukan. Pada titik ini perlu ditunjukkan bagaimana lingkungan terdekat
Yesus memahaminya. Dipilih sebuah tempat yang bukan di Galilea, tempat asal
Yesus sendiri, bukan di Yudea yaitu wilayah keyahudian yang resmi, tidak
pula di Samaria yang tidak menerima keyahudian resmi, melainkan di luar
semua itu, di daerah yang netral. Di situ akan lebih jelas siapa sosok dia
itu sesungguhnya.

GUS: Baru dengar kali ini ilmu bumi Injil ada maknanya juga!

MARK: Asal jangan dimengerti sebagai ilmu bumi sekolah, sehingga teologinya
tak muncul.

GUS: Kalau benar tangkapanku, di Kaisarea Filipi yang netral itu kelompok
Yesus dan murid-muridnya memperbincangkan tiga macam pandangan mengenai
Yesus, yaitu: (1) anggapan orang banyak, dan (2) anggapan dari lingkup lebih
khusus, orang Farisi dan ahli Taurat di satu pihak dan (3) para murid
terdekat di pihak lain.

MARK: Benar, kalau kauikuti kisah-kisah Injil, akan jelas makin besarnya
pelbagai harapan, keinginan, dan cara membayangkan sosok Yesus di pelbagai
kalangan. Ada yang mengira Yesus kayak Yohanes Pembaptis karena seruan
gerakan rohaninya mengajak orang mengarahkan diri kembali ke hidup lurus, eh
kalian sebut bertobat. Atau seperti Nabi Elia yang kembali ke dunia
menyampaikan sabda dari atas sana guna mengatasi kekersangan batin. Atau
seperti seorang nabi lain, yakni orang yang berani menyuarakan kehadiran
Tuhan yang kerap terbungkam oleh ketamakan manusia. Itulah macam-macam
pendapat orang tentang Yesus.

GUS: Dalam pembicaraan di Kaisarea Filipi itu kok tak jelas-jelas
ditampilkan pendapat orang Farisi dan ahli Taurat?

MARK: Injil diharap bicara tentang apa-apa saja? Huh, maunya kayak database
siap pakai tapi bikin pandir, tanpa mikir?

GUS: Mari kita berandai-andai. Kaum Farisi dan ahli Taurat agaknya
beranggapan bahwa Yesus itu, seperti mereka sendiri, ialah seorang guru
agama yang mestinya mengajarkan hal-hal yang sudah digariskan, seperti yang
mereka jalankan?

MARK: Memang mereka sebetulnya menganggap Yesus rekan seprofesi dan sering
mengajaknya diskusi. Hanya mereka merasa dirugikan karena orang banyak lebih
tertarik olehnya. Tapi mereka tidak memfitnah-fitnah Yesus. Nanti kaum imam
di Yerusalemlah yang frontal memusuhinya serta mendakwanya di mahkamah
mereka dan memintakan hukuman mati baginya dari Pilatus.

GUS: Kembali ke kaum Farisi dan ahli Taurat. Jadi mereka itu menganggap
Yesus guru agama, teolog, pembimbing rohani seperti mereka. Apa ini tidak
penting?

MARK: Para murid Yesus dari generasi awal sampai kini memang menghadapi
masalah itu. Mengikuti Yesus atau mengikuti pendapat-pendapat mengenai dia.
Batas-batasnya sering tampak kabur. Tapi ingat, sosok Yesus yang ditampilkan
Injil terutama bukanlah guru atau pembimbing rohani, atau pengajar
kebijaksanaan. Bukan seperti anggapan kaum saleh Farisi dan ahli kitab
Taurat. Yesus lebih dari itu.

GUS: Kalau begitu sekarang pun masih relevan soal ini. Banyak orang
melihatnya sebagai tokoh kebijaksanaan dan guru rohani. Kurang cocok?

MARK: Itulah pemikiran orang-orang Farisi dan ahli Taurat. Pindahkan saja ke
budaya lain, dan kalian akan melihat soal yang dialami murid-muridnya.

GUS: Mulai menuduh kami ya?

MARK: Gini lho, bila kamu orang melihat sosok Yesus terutama sebagai guru
kebijaksanaan, nanti akan cepat kalian merasa tak perlu digurui lagi, malah
akan mempersoalkan kelakuan Yesus. Atau bisa jadi kalian akan ngotot
mempertahankan pendapat sendiri mengenai dia dan menolak sisi-sisi lain. Ini
soal orang Farisi dan ahli hukum agama dulu. Dan sekarang juga!

SIAPAKAH YESUS ITU BAGI MURID-MURIDNYA?

Sejenak saya lacak kembali pembicaraan dengan Mark ini. Jadi ada pendapat
orang banyak tentang Yesus, yaitu sebagai nabi yang dengan wibawa besar
mengajak orang kembali ke Yang Maha Kuasa, ada pula pendapat kalangan
intelektual mengenai Yesus sebagai tokoh kebijaksanaan yang diandaikan dapat
ditangkap pembaca Injil meski tidak terang-terangan dikatakan dalam
peristiwa di Kaisarea Filipi itu. Mark mengajak saya bereksegese secara
kontekstual, menengarai duduk cerita serta arahnya, tidak hanya baca lalu
membuat tafsir dari bahan yang tercetak. Pembaca diharap bertanya manakah
pendapat kalangan Farisi dan ahli Taurat yang rupanya dengan sengaja tidak
ikut disebutkan di Kaisarea Filipi. Bukan karena dianggap tak penting, tapi
karena pendapat itu tidak bakal membawa orang kepada diri Yesus
sesungguhnya. Lha lalu siapa ya dia itu?

GUS: Nerusin lagi nih. Pendapat yang ketiga ialah yang ada di kalangan para
murid Yesus dan yang terucap lewat Petrus, begitu kan? Ia menjawab
pertanyaan Yesus mengenai siapa dirinya bagi mereka dengan pernyataan bahwa
ia itu Mesias, artinya yang terurapi, yang mendapat pengutusan dan perutusan
resmi dari Yang Maha Kuasa sana untuk menjalankan urusanNya di dunia.

MARK: Itu pendapat yang mesti kalian pandangi dengan latar kedua pandangan
lain yang kita bicarakan tadi: pandangan orang banyak dan pandangan kaum
intelek Yahudi waktu itu, yakni orang Farisi dan ahli Taurat. Begitu maka
akan lebih jelas sosok Yesus.

GUS: Apa kekhususan pandangan bahwa Yesus itu Mesias?

MARK: Ya, dia itulah yang sejak lama dinantikan orang banyak. Mereka
menginginkan Yang Maha Kuasa berbuat sesuatu bagi mereka. Dan kehadiran
Yesus itulah jawaban dari atas sana.

GUS: Wah, wah, bisa berat nih konsekuensinya. Kan Mesias itu juga gelar raja
di kalangan umat Perjanjian Lama dulu, seperti Saul, Daud, dan raja-raja
lain yang diurapi oleh kuasa ilahi demi kelangsungan hidup umat.

MARK: Benar. Gagasan Mesias memang mudah diplesetkan. Ingat kan, menurut
catatan Oom Hans, orang-orang yang dipuaskan Yesus dengan makanan pernah
ingin menjadikannya raja.

GUS: Dan karena itu ia menyingkir.

MARK: Bukan hanya menyingkir secara fisik, tapi juga secara teologis.

GUS: Apa? [Rada heran.] Belum pernah dengar apa itu menyingkir secara
teologis!

MARK: Baru tiga detik lalu kau dengar kok lupa. Apa ingin jadi si tuli yang
disembuhkan dalam Injil hari Minggu lalu?

YESUS TENTANG DIRINYA SENDIRI

GUS: Kepegang nih! Iya bener. Setelah Petrus menegaskan Yesus itu Mesias,
anehnya Yesus melarang dia menyebarluaskan pengertian itu dan kemudian dalam
bagian selanjutnya Yesus malah membicarakan diri dengan ungkapan "Anak
Manusia" dan tidak pernah menyuarakan diri dengan kata "Mesias" Inikah yang
kausebut menyingkir secara teologis?

MARK: Itu cara Yesus merombak wacana yang Mesias-sentrik dengan wacana kalem
yang berpusat pada figur Anak Manusia yang juga cukup dikenal orang pada
zaman itu. Lebih membawa ke Yang Maha Kuasa.

GUS: Teringat Dan 7:13 dengan sosok yang seperti Anak Manusia yang datang
dengan awan-awan menghadap ke Yang Maha Usia untuk mendapat kuasa.

MARK: Persis! Tapi boleh kutambah? Anak Manusia dalam Kitab Daniel itu
datang dari kalangan manusia untuk menerima kuasa dari atas sana. Ini
penting. Mesias berkebalikan arahnya, ia membawa kuasa dari atas sana ke
sini. Sudah makin melihat maksud Yesus ketika berbicara mengenai dirinya
sendiri sebagai Anak Manusia?

GUS: Bukan karena teologi Mesias tidak cocok, hanya teologi ini sudah
terlalu sering dipakai dengan maksud berlain-lainan, malah tidak membantu,
itu kan maksudnya?

MARK: Katakan saja begitu. Teologi Anak Manusia lebih cocok, lebih aktual,
dan lebih membuat orang memahami Yesus itu tokoh yang menghadap Dia yang ada
di atas sana, bukan tokoh yang mau menjalankan kuasa di sini, juga kuasa
batin terhadap pengikut-pengikutnya. Ia baru punya bobot seperti itu nanti
setelah wafat di kayu salib. Dan pada saat itulah sosok Anak Manusia yang
tadi datang menghadap Allah itu sampai ke tujuannya dan menerima
kemuliaannya sebagai Anak Allah, seperti diucapkan oleh kepala pasukan yang
menunggui dia di salib, "Sungguh, orang ini Anak Allah!" (Mrk 15:39).

GUS: Jadi gambaran sebagai Anak Manusia malah menegaskan bahwa anugerah dari
Yang Maha Kuasa yang diterimanya itu bukannya untuk mempertontonkan kuasa,
melainkan pemberian kekuatan untuk menanggung penderitaan nanti, sampai
dinaikkan di salib. Tapi juga kekuatan yang bakal membuatnya bangkit.

MARK: Gitu baru bisa dikatakan berteologi cara baru tentang Yesus sang Anak
Manusia. Kayak dia sendiri.


Salam hangat,
A. Gianto

Injil Minggu Biasa XXIII/B - 06 September 2009

Injil Minggu Biasa XXIII/B tgl. 06 September 2009 (Mrk 7:31-37)
04 September 2009 08:46

EFATA! - TERBUKALAH!
Rekan-rekan yang budiman!
Kali ini Injil Markus menampilkan kisah unik: penyembuhan orang tuli. Hanya
dalam Injil Markus sajalah peristiwa ini disampaikan. Dalam petikan Mrk
7:31-37 (hari Minggu Biasa XXIII tahun B) ada beberapa hal menarik yang
kurang begitu saya pahami. Karena tak ada cukup waktu untuk membalik-balik
komentar Injil, saya bujuk Mark menulis. Ia biasanya pendiam dan tak banyak
kata, tapi kali ini ia rada suka cerita dan ia tidak keberatan suratnya saya
teruskan kepada kalian.
Teriring salam,
A. Gianto.
======================================
Gus yang baik!
Memang benar Yesus banyak melakukan penyembuhan, tetapi memang baru di
sinilah kusampaikan peristiwa penyembuhan orang tuli. Dan hanya akulah yang
menyampaikan kisah penyembuhan dari ketulian. Memang Matt menyebut mengenai
penyembuhan pelbagai orang sakit, termasuk orang bisu (Mat 15:29-31 tidak
eksplisit disebut tuli, tapi orang bisu biasanya karena tuli). Oleh karena
itu,para ahli zaman modern biasa menduga aku hanya membuat-buat kisah itu.
Kuharap kau tidak beranggapan demikian kan? Aku mendengar dari sumber-sumber
tepercaya yang menyaksikan kejadian itu sendiri dan mengisahkannya
berkali-kali.

Mereka juga ingat kejadian itu bertempat di dekat danau Galilea. Demi
gampangnya maka kujelaskan pada awal bahwa Yesus sedang dalam perjalanan
balik dari Tirus di pesisir Lebanon selatan sekarang ke kota-kota sekitar
danau Galilea tempat ia banyak dikenal. Tapi memang dari Tirus ia ke utara
dulu, ke Sidon, juga pesisir, dan dari sana kembali lewat daerah sepuluh
kota, yaitu Dekapolis, dan sampai di tempat orang bisu itu dibawa ke
hadapannya. Kalau sukar dibayangkan, gini saja, barusan kulihat peta Pulau
Jawa di Internet. Bayangkan Yesus itu dulunya giat di sekitar
Ambarawa-Salatiga, tuh di sekitar Rawa Pening (anggap saja ini wilayah
Galilea), tapi ia kan pernah diminta pergi dari Galilea (Mrk 5:1-20,
terutama ay. 17) ke Tirus, (Mrk 5:24) bayangkan saja Semarang, maksudnya
incognito, tapi di situ seorang ibu-ibu Yunani keturunan Siro-Fenisia malah
minta dia menyembuhkan anak perempuannya yang kerasukan setan (Mrk 7:24-30).
Tentu Yesus tidak berniat berlama-lama di Tirus/Semarang, dan memutuskan
kembali ke Galilea/sekitar Rawa Pening. Tapi kebetulan ada yang mengajaknya
ke Sidon yang tak jauh dari sana, kayak ke Weleri, beli rambak petis buat
oleh-oleh, dan dari sana di balik ke wilayah Ambarawa-Salatiga/Galilea, tapi
tidak lewat jalan biasa, melainkan memutar lewat sebuah Gua Maria, Sukorejo,
Parakan Candi Umbul dst. (anggap saja seperti Dekapolis). Sebelum sampai
kembali di Ambarawa ia dihentikan orang-orang yang membawa seorang pasien
tuli. Rada jelas?

Kurasa penting kisah perjalanan ini diceritakan karena menggambarkan
bagaimana perjalanan Yesus itu sebuah ziarah yang semakin membentuk sikap
batinnya yang khas: memberi isi nyata pada kata "kehendak Allah".
Pengabdiannya pada kemanusiaan, tak peduli apa haluan kepercayaannya seperti
ibu-ibu tadi, ialah untaian manikam kenyataan apa itu kehendak Bapanya.
Inilah yang membuatku terkesan dan merasa perlu menyampaikannya kepada
kalian orang sekarang.
Lagipula, kota Tirus dan Sidon itu letaknya di wilayah amat pinggiran
lingkup masyarakat Yahudi. Di sana orang dianggap tak menghiraukan sisi-sisi
rohani dan hanya mementingkan materi. Maklum keduanya kota perdagangan yang
tua, kayak Semarang dan Weleri kalian itu. Tapi wilayah seperti itu tidak
dilupakan Tuhan,malah ia semakin menemukan diri di sana. Ini termasuk
Mysterium Christi yang bikin orang mau tahu lebih tentang sang Mesias.
Sarjana-sarjana kan beranggapan bahwa tulisanku menitikberatkan perkenalan
pada misteri ini.

Sekarang ada yang lebih menarik dari pelajaran geografi tadi. Terus terang
kisah mengenai penyembuhan orang tuli ini mesti dibaca atau paling tidak
dibayangkan bersama dengan kisah penyembuhan orang buta (sering dikenal
dengan nama Bartimeus) di Betsaida (Mrk 8:22-26). Kau sendiri pernah menulis
tentang si buta itu kan? Kesembuhan si tuli dan si buta ini ada makna
simboliknya.

Mereka jadi sembuh dalam perjumpaan dengan Yesus yang tak terduga-duga di
tengah perjalanannya, di tengah ziarahnya menemukan kehendak Bapanya.
Kesembuhan mereka itu ialah kesembuhan dari ketulian dan kebutaan mengenai
siapa sebetulnya Yesus ini. Kisah ini kumaksudkan bagi orang banyak, yang
ada di situ dan yang ada di mana saja Injil ini terbaca. Hendaknya mereka
mengerti bahwa perjumpaan dengan Yesus sang pejalan ini membuka gerbang
telinga dan pintu mata. Ketulian sesenyap apapun dan kebutaan segelap apapun
tak bisa menahan suara dan terang yang keluar dari diri Yesus.

Dalam kisah penyembuhan orang tuli ini ada orang banyak yang membantu si
tuli untuk bertemu dengan Yesus dan meminta agar ia menumpangkan tangan
menyembuhkannya. Nanti dalam kisah orang buta, orang banyak agak
menghalangi, tapi si buta itu terus bertekad mau mendekat. Seperti di mana
saja dan kapan saja, orang banyak sering tak jelas mau apa dan ke mana. Maka
dari itu, mereka juga diajak mendengar dan melihat. Kita ini kadang-kadang
mirip orang banyak juga. Tapi untung ada orang tuli dan orang buta tadi.

Kita bisa melihat yang terjadi pada diri mereka dan belajar dari mereka.
Sekarang perhatikan sikap dan tindakan Yesus dalam penyembuhan orang tuli
itu. Ia memisahkannya dari kerumunan orang banyak sehingga hanya mereka
berdua sendirian saja. Di situ terjadi penyembuhannya. Ia mau agar yang
pertama-tama didengar orang tuli itu nanti ialah suara yang dibawakannya,
bukan kasak kusuk orang banyak yang untuk sementara dijauhkannya. Kita tak
tahu semua seluk beluk yang terjadi ketika mereka sendirian. Tentu si tuli
tadi kemudian bercerita dan dari sana kita agak tahu bahwa Yesus memasukkan
jarinya ke telinga orang itu, meludah dan meraba lidah orang tadi. Kayak
penyembuh paranormal ya? Tapi lebih penting lagi, kemudian sambil menengadah
ke langit, ia mendesah dan berkata, dalam bahasa Aram, "Efata!" artinya
"Terbukalah!" Dari bentuk Aramnya, Gus kau tahu Aram lebih baik dari padaku,
perintah itu ditujukan kepada dua telinga yang dimasuki jarinya. Perintah
kepada telinga yang menutup diri kuat-kuat.

Perhatikan, Yesus mendesah. ya, mendesah, mengerang kayak orang yang sedang
kena kesakitan. Aku tak tahu banyak mengenai dunia itu, tapi sumber yang
kupakai jelas-jelas memaksudkan Yesus seperti sedang menahan sakit. Bukankah
kedua jarinya ada di telinga orang itu. Ada pergulatan antara kekuatan yang
menolak sang Sabda dengan Sabda yang mendatanginya. Dan disertai kesakitan
dari Sabda itu. Juga ia menyentuh lidah orang tadi. Bayangkan saja, ibu
jarinya menyentuh lidah orang tadi. Juga ada pergulatan antara lidah yang
dikuasai kekuatan yang membisukan melawan dia yang membuat orang berani
bersaksi. Yesus juga meludah. Kekuatan jahat dari telinga yang diambilnya
itu masuk ke dalam badannya, badan Yesus sendiri, dan kini diludahkannya dan
dibuangnya keluar.

Gus jangan mulai tersenyum membaca uraian ini, aku sendiri juga heran.
Memang Yesus bertindak seperti penyembuh paranormal zaman itu. Tapi satu hal
tak bisa kulewatkan: Yesus menengadah (Mrk 7:34). Ia mengarahkan diri ke
langit. Dulu ketika ia dibaptis ia melihat langit terbuka dan saat itulah ia
mendengar suara dari sana (Mrk 1:9-10): "Engkaulah AnakKu yang terkasih,
kepadamulah Aku berkenan." Pengalaman ini tak pernah lepas dari dirinya.
Kini ia menengadah menghadirkan kembali kekuatan perkenan dari atas dan
menyalurkannya ke dalam telinga dan lidah orang bisu tuli tadi. Adakah
kekuatan lain yang dapat menahan suara dan perkenan dari langit yang terbuka
tadi? Yesus bukan penyembuh biasa,ia meneruskan perkenan yang meraja di
dalam dirinya kepada siapa saja yang mendekat padanya. Ia juga sanggup ikut
merasakan penderitaan batin dan fisik orang yang sakit.

Mungkin kau akan bertanya-tanya mengapa Yesus menyuruh orang banyak
merahasiakan kejadian tadi. Tapi makin dilarang, mereka malah makin
memberitakannya. Aneh, di sini yang dilarang ialah orang banyak, jadi
berbeda dengan yang terjadi dalam penyembuhan orang kusta (Mrk 1:44).
Larangan itu sebenarnya untuk menghimbau agar orang tidak mengobral cerita
sehingga maknanya jadi buyar, jadi kisah penyembuhan dan penumpangan tangan
semata-mata. Banyak orang akan berbondong-bondong minta ditumpangi tangan.
Tidak enak! Kesembuhan itu hasil sampingan dari kejadian yang lebih dalam
yang aku sendiri tidak tahu tapi percaya ada. Orang-orang diminta
mengendapkan pengalaman melihat peristiwa itu dan menemukan artinya. Baru
bisa omong. Sayang mereka tak sabar, maka Yesus ketika itu makin dikenal
sebagai penyembuh saja, bukan terutama sebagai Anak terkasih Dia yang ada di
surga dan mendapat perkenanNya. Ini baru kusadari ketika menuliskan
semuanya.

Gus coba terangkan kepada rekan-rekan perkara ini.
Juga ada hubungannya dengan kebangkitan Yesus nanti. Orang boleh mulai
cerita banyak mengenai tindakan, pengajaran, penyembuhan yang dilakukan
Yesus setelah ia nanti ditinggikan di salib. Setelah diakui bahkan oleh
kepala pasukan di Golgota dengan kata-kata ini: "Sungguh, orang ini Anak
Allah!" (Mrk 15:39). Dan itulah yang diwartakan tentang Yesus Kristus, dan
itulah yang memberi arti lebih kepada semua tindakannya, penyembuhannya, dan
pengajarannya. Dan itulah realitas kebangkitannya: ia sungguh Anak Allah.
Salam buat rekan-rekan yang tahun ini mencoba mengerti yang ingin
kusampaikan dalam kisah-kisah tentang Yesus sang Mesias.

Salam hangat,
Mark