Featured Post

Berterima Kasih Atas Segala Hal

Seorang anak kecil usia 4 tahun diminta untuk berterima kasih saat doa sebelum makan malam Natal. Para anggota keluarga menundukkan kepala...

Showing posts with label Minggu Biasa - A. Show all posts
Showing posts with label Minggu Biasa - A. Show all posts

Minggu Biasa XXXIII A - 13 Nov 2011

Injil Minggu Biasa XXXIII/A - 13 Nov 2011 (Mat 25:14-30)


KEPERCAYAAN YANG SUBUR DAN TALENTA YANG MANDUL

Rekan-rekan yang budiman!
Perumpamaan mengenai talenta dalam Mat 25:14-30 berawal dengan kisah tentang
orang yang mempercayakan hartanya kepada para hambanya karena ia akan lama
bepergian ke luar negeri. Dan jumlah uang yang ditinggalkannya itu amat
besar. Satu talenta nilainya 10.000 dinar dan satu dinar itu waktu itu upah
sehari pekerja harian. Pendengar waktu itu langsung menangkap arah
perumpamaan ini, yakni kepercayaan yang luar biasa besarnya dari pihak
pemilik kepada para hambanya. Dan memang perumpamaan ini lebih bercerita
mengenai sang pemberi daripada mengenai mereka yang menerima. Dari 16 ayat
dalam petikan ini, 10 ayat dipakai untuk menggambarkan tindakan serta
kata-kata sang tuan dan hanya 6 ayat dikhususkan bagi hamba-hambanya.

MENURUT KESANGGUPAN MASING-MASING

Orang itu mempercayakan miliknya kepada tiga orang hambanya. Ia mengenal
kemampuan mereka satu persatu dengan baik. Injil mengutarakannya dengan
ungkapan "...masing-masing menurut kesanggupannya." Begitulah pemilik tadi
merasa aman dapat menitipkan hartanya kepada orang-orang yang dekat yang
sungguh dikenalnya. Ia percaya mereka akan menjaganya dengan sebaik-baiknya
dan mau menjalankan uangnya. Ia berharap akan tetap beruntung, di luar
negeri dan di tanah sendiri. Perusahaannya akan tetap berjalan.

Selama sang tuan berada di negeri lain, kedua hamba yang pertama memang
menjalankan uang majikannya. Usaha mereka mendatangkan hasil yang sepadan
dengan modal yang dipercayakan kepada mereka. Baik yang mendapat lima
talenta maupun yang mendapat dua sama-sama mengatakan kepada tuan mereka
"Tuan, sekian talenta tuan percayakan kepadaku...." Jelas dari situ bahwa
sejak permulaan mereka tahu bahwa mereka dipercaya tuan mereka. Kiranya
kesadaran inilah yang membuat mereka berani berusaha agar harta yang
dipercayakan itu menjadi harta yang hidup. Mereka dapat berkata telah
mendapat laba sebanyak talenta yang dipercayakan. Dan ternyata yang mereka
kerjakan mendapat perkenan. Sang pemilik berkata bahwa mereka akan mendapat
tanggung jawab dalam perkara yang lebih besar karena telah menunjukkan
kesetiaan dalam hal kecil. Mereka juga akan semakin berbagi kekayaan dengan
pemilik tadi. Mereka diajak masuk ke dalam kebahagiaan tuan mereka.
Maksudnya, tuan tadi akan membuat mereka menjadi anggota rumah yang merdeka,
dan bukan lagi hamba. Pembaca zaman itu dapat segera menyimpulkannya bahwa
itulah maksud kata-kata pemilik yang kembali tadi. Usaha mereka telah
membuat mereka menjadi orang merdeka yang tetap boleh berdiam di rumah tuan
mereka. Inilah pahala terbesar yang dapat diharapkan.

TALENTA YANG TAK DIKEMBANGKAN

Bagaimana dengan hamba yang mendapat satu talenta dan kemudian hanya mampu
mengembalikan satu talenta saja? Kita tahu apa yang terjadi dengan dia pada
akhir perumpamaan. Ia tidak lagi mendapat kepercayaan dan tidak menerima
apa-apa. Bahkan ia tidak lagi diakui sebagai hamba oleh tuannya dan
dikeluarkan dari rumah tangganya. Ia kini menjadi mangsa kegelapan dan apa
saja yang menakutkan. Hamba ini menjadi gambaran kebalikan dari kedua hamba
yang lain. Selama tuannya pergi ia tidak pernah belajar mengurus dan
menjalankan harta yang dipercayakan kepadanya. Kenapa? Bukan karena ia tidak
berinisiatif. Dalam ay. 25 ia berkata bahwa ia tahu tuannya itu kejam,
menuai di tempat ia tidak menabur, dan memungut di tempat ia tidak menanam
sendiri. Ia takut. Ketakutan ini membuat ia tidak bisa menerima bahwa
tuannya mau mempercayainya. Karena itu ia menyembunyikan talenta yang
diserahkan kepadanya. Ada ironi yang tajam. Tuan itu mengenal baik
hamba-hambanya. Ia mau mempercayakan miliknya kepada mereka sesuai kemampuan
masing-masing. Tetapi tidak semua hamba itu mengenal sang majikan sebaik ia
mengenal mereka.

Mengapa hamba itu malah kena marah dan disebut hamba yang "jahat dan malas"?
Mengapa dikatakan, seharusnya hamba itu mempercayakan talenta tadi kepada
orang yang bisa menjalankan sehingga nanti ada bunganya? Sebetulnya semua
yang dibayangkan hamba yang mendapat satu talenta itu benar. Apa
persoalannya?

Memang ada kebiasaan menyembunyikan harta dengan memendamnya. Keuntungannya
memang harta itu tidak akan gampang diincar orang karena tidak diketahui.
Dan sulit ditemukan orang lain. Aman. Tetapi juga tidak mendatangkan laba.
Jadi modal mati. Hamba tadi kurang punya inisiatif, ia malas. Ia ragu-ragu,
jangan-jangan nanti begini, jangan-jangan nanti begitu. Akhirnya ia malah
tak menghasilkan apa-apa.

Kenapa ia disebut tuannya sebagai "jahat" juga? Pembaca boleh memikirkan,
hamba yang ini sebetulnya tidak memberi kemungkinan kepada tuannya untuk
berubah. Majikannya itu memang dikenal sebagai orang yang tinggi
tuntutannya, dst. Dan kiranya memang begitu (ay. 26). Tetapi berkat
keberanian kedua hamba yang lain, atau lebih baik dikatakan kesetiaan mereka
menjaga serta menjalankan milik tuannya, maka ia bisa berubah menjadi murah
hati dan suka mengajak bawahannya ikut menikmati kekayaannya yang berlimpah.
Tetapi ada yang tidak mau menerima bahwa ia bisa berubah menjadi murah hati.
Ada yang menutup pintu bagi tuan tadi agar bisa menjadi orang yang lain
daripada yang dahulu-dahulu. Inilah yang mendatangkan kemalangan bagi hamba
tadi. Ia tidak mampu menjalin hubungan yang saling menguntungkan dengan
tuannya. Hamba itu terhukum oleh pandangannya sendiri yang kaku mengenai
tuannya.

TENTANG TUHAN

Perumpamaan ini memuat ajakan agar orang berani memikirkan kembali anggapan
mengenai siapa itu Tuhan dan bagaimana mendapat perkenannya. Dan kiranya
memang itulah maksud Yesus dengan perumpamaan ini. Maklum bagi pendengarnya
pada waktu itu Tuhan Allah dialami sebagai yang menuntut dan akan murka dan
menghukum bila umatnya tidak menuruti hukum-hukumNya. Itulah teologi yang
dulu dirasa jitu di kalangan para pemimpin (ahli Taurat, para imam) dan
orang-orang yang dianggap benar dan menganggap diri benar (kaum Farisi).
Tuhan tidak mendapat ruang untuk tampil dengan wajah kebapaan. Dia dikurung
dalam teologi picik hamba yang mendapat satu talenta itu.

Tahukah orang yang akan bepergian ke luar negeri tadi bahwa di antara
hambanya yang dipercayainya itu ada yang tidak bakal banyak berbuat?
Tentunya ya. Walaupun demikian, ia tetap berharap hambanya itu bisa
berkembang. Dan tuan tadi - kini bisa kita pakai untuk mengerti siapa Tuhan
sebenarnya - berani mengambil risiko. Siapa tahu hamba yang begitu itu nanti
berubah. Tuhan berani memberi kesempatan kepada orang yang sebenarnya
dikenal tidak akan berbuat banyak.

INJIL DAN KEHIDUPAN

Mari kita bayangkan jalan cerita yang berbeda. Katakan saja hamba yang malas
dan penakut yang mendapat satu talenta itu bisa berubah. Katakan saja, ada
rekan yang menolong dan memberanikannya agar lebih percaya diri. Alur
kisahnya akan berbeda. Pendengar yang berani berinteraksi dengan perumpamaan
dengan cara ini akan juga merasa terdorong membantu rekan yang dalam
kehidupan nyata dikenal sebagai orang yang kurang berani berinisiatif, takut
melulu, takut gagal, takut menyalahi gagasan sendiri. Dan kiranya itulah
sikap pastoral yang diharapkan ada bila kita menjumpai orang yang butuh
dibesarkan hatinya, dibimbing, diberanikan. Itu juga yang bisa diharapkan
dari kita-kita yang merasa beruntung seperti kedua hamba yang dipuji dan
diajak berbagi kebahagiaan oleh tuannya tadi. Kita yang merasa seperti
mereka akan tertantang apa juga berani ambil risiko seperti tuan hamba-hamba
tadi. Nurani kita akan terketuk untuk berupaya menolong orang yang
sebenarnya sudah mengurung diri dalam pagar keputusasaan. Boleh kita
bertanya dalam hati, beranikah kita mencoba membebaskan orang yang
memenjarakan diri dengan teologi yang mematikan, dengan gambaran mengenai
Yang Ilahi yang serba kaku. Beranikah kita berusaha menghidupkan imannya.
Pertanyaan-pertanyaan seperti itu termasuk pesan yang tersirat dalam
perumpamaan ini.

Saya tanya Matt apa setuju dengan cara membaca di atas. Katanya, "Apa belum
tahu bahwa perumpamaan itu sebenarnya baru separuh jalan? Baru ada dalam
Injil dan belum selesai ditulis dengan kehidupan. Kalianlah yang mesti
melanjutkannya sampai Anak Manusia datang kembali nanti di akhir zaman. Dia
ingin mendengarkan kelanjutan cerita yang disampaikan dalam perumpamaan itu.
Mudah-mudahan saat itu tak ada yang hanya akan mengutarakan kembali yang ada
di Injil tanpa menambah kelanjutannya dalam hidup masing-masing. Dia ini
akan seperti orang yang mendapat satu talenta."

Salam hangat,
Gianto

Minggu Biasa XXXII A - 6 November 2011

Minggu Biasa XXXII tahun A - 6 November 2011 Mat 25:1-13

YANG SIGAP DAN YANG KURANG WASPADA

Injil Minggu Biasa XXXII tahun A ini (Mat 25:1-13) menampilkan perumpamaan
sepuluh gadis yang bermaksud  mengiringkan pengantin lelaki menjemput
mempelai perempuan dan ikut pesta pernikahan. Lima dari kesepuluh gadis tadi
siap tetapi lima lainnya tidak. Mereka tidak membawa persediaan minyak bagi
pelita mereka sehingga harus pergi membelinya. Tapi pada saat itu mempelai
lelaki yang ditunggu-tunggu akhirnya datang dan kelima gadis yang pergi
membeli minyak tadi tertinggal dan tak bisa ikut dalam pesta pernikahan.

Perumpamaan ini termasuk rangkaian pengajaran yang sama-sama bermuatkan
pokok-pokok gagasan berikut:

- Ada dua kelompok orang yang menanti-nantikan: Mat 24:37-41 (yang satu
terbawa, yang lain tertinggal); 45-51 (hamba setia, hamba jahat); 25:14-46
(domba di kanan, kambing di kiri).

- Tertundanya kedatangan orang  yang dinantikan: Mat 24:48 (majikan para
hamba); 25:14.19 (pemberi talenta).

- Saat kedatangannya tak terduga-duga: Mat 24:29-36; 50-51.

- Bisa diamati gelagatnya: Mat 24:29-36.43 (nasihat berjaga-jaga; inti
pewartaan Mat 24-25).

- Perlu kewaspadaan dan usaha: Mat 24:45-51 (hamba yang berjaga-jaga) ;
25:14-30 (menjalankan talenta).

Marilah kita lihat dari dekat beberapa unsur di dalam perumpamaan sepuluh
gadis ini.

"PADA WAKTU ITU..."

Petikan hari ini mulai dengan ungkapan "Pada waktu itu hal Kerajaan Surga
seumpama...". Dibicarakan di sini saat pemisahan siapa yang akan masuk siapa
yang akan tertinggal di luar, seperti juga sudah disebutkan dalam Mat 24:40
("Pada waktu itu kalau ada dua orang di ladang, yang seorang akan dibawa dan
yang lain akan ditinggalkan") dan nanti dalam Mat 25:32 ("Lalu semua bangsa
akan dikumpulkan di hadapan [Anak Manusia yang datang dalam kemuliaannya]
dan ia akan memisahkan mereka seorang dari yang lain, sama seperti gembala
memisahkan domba dari kambing.").Yang dimaksud dengan "Hal Kerajaan Surga"
ialah keadaan pada akhir zaman itu nanti.

Apakah ini ramalan? Banyak pembaca Injil Matius pada zaman itu berpikir
demikian. Maklum mereka mengira bahwa akhir zaman akan segera datang. Namun
perkiraan ini mau tak mau semakin disesuaikan dengan kenyataan bahwa akhir
zaman yang ditandai dengan macam-macam kekalutan dan kekacauan tak kunjung
tiba walau tanda-tanda yang disebutkan dalam Mat 24:4-18 sudah hadir.
Nyatanya dunia masih terus berlangsung. Orang-orang juga terus hidup. Injil
Matius menjelaskan bahwa akhir jagat tetap akan datang tidak lama lagi,
tetapi kapan persisnya tidak diketahui. Tak ada yang tahu, malaikat tidak
tahu, bahkan anak (manusia) sendiri yang akan datang dengan kemuliaan tidak
mengetahuinya. Hanya Bapa di surga yang tahu. Diajarkan kepada komunitas
orang percaya pada waktu itu agar tetap waspada dan sigap. Itulah sebabnya
perumpamaan mengenai sepuluh gadis tadi tampil dalam pembicaraan mengenai
akhir zaman. Di sini terlihat betapa iman mereka tetap hidup dan teologi
mereka tidak mentok. Tidak terpancang pada gagasan dan perkiraan belaka.

Bagaimana dengan orang pada zaman ini? Bila pelita iman tetap dihidupkan
dengan minyak nalar yang tak kering, maka tak usah takut menafsirkan Mat
24-25 bagi orang sekarang bukan sebagai ramalan bahwa akhir zaman akan
segera datang.  Namun demikian, kewaspadaan serta kesiagaan yang diajarkan
di situ tetap memiliki bobot dan arti. Malah makin besar. Bagaimana
penjelasannya?

IKUT PESTA PERNIKAHAN, PELITA, DAN MINYAK

Perumpamaan ini didasarkan pada kebiasaan yang pada zaman Matius sudah tidak
ada lagi, tapi yang tetap menampilkan makna yang jelas. Di situlah kuatnya
gaya tutur perumpamaan. Di sebuah dusun, menjadi aib besar bagi seorang
gadis yang memasuki umur dewasa bila tidak sempat ikut meramaikan pesta
pernikahan salah satu dari antara mereka sebagai pengiring pengantin. Akan
susah baginya untuk bersuami. Ia akan sulit menemukan tunangan yang akan
menjadi suaminya. Ia harus menantikan sampai ada yang menebusnya. Dan memang
dalam masyarakat Yahudi dulu ada kelompok seperti ini. Kerap mereka yang
tidak menikah ini tergolong bersama dengan kelompok "janda". Bukan kehidupan
yang menyenangkan, dibicarakan orang, dicibiri, dijauhi. Hanya dipelihara,
dikasihani.

Dalam perumpamaan ini nasib mereka dijelaskan sebagai akibat kebodohan
mereka sendiri. Mereka teledor tidak membawa cukup bekal dan kehilangan
kesempatan berharga ikut mempelai lelaki menjemput pengantinnya. Ketika
mereka menyusul, pintu tidak akan dibuka bagi mereka. Terlambat. Permintaan
mereka agar pintu dibuka tidak dilayani dan mereka dianggap orang yang tak
dikenal.

Dalam sejarah penafsiran, kerap ada uraian mengenai pelita dan minyak.
Pelita dapat dilihat sebagai lambang terang iman yang menuntun pembawanya.
Penolakan lima gadis yang bijaksana untuk memberi minyak mereka tak usah
ditafsirkan sebagai sikap menaruh kepentingan diri di atas kebutuhan sesama.
Penolakan itu menunjukkan betapa minyak dan pelita menjadi bagian yang tak
terpisahkan dari yang membawanya. Jelas yang dimaksud bukan minyak
sungguhan, melainkan minyak yang menghidupkan orang dari dalam dan tak dapat
diparuh untuk orang lain. Juga angka sepuluh sering dilihat sebagai cara
mengatakan seluruh komunitas orang yang percaya, Gereja, di situ ada yang
sigap dan ada yang lamban dalam menunggu sang Mempelai, yakni Kristus. Bila
begitu, maka ada imbauan untuk membantu agar jangan sampai orang jadi
lamban, siap-siaplah dengan bekal. Juga agar yang sigap hendaknya, dalam
arah tafsir ini, agar tetap awas.

MENDENGARKAN SABDA

Petikan yang sedang dikupas kali ini mengingatkan pembaca akan erumpamaan
orang bijak yang mendirikan rumah di atas batu (Mat 7:24-27). Rumahnya tak
bakal rubuh bila hujan turun dan angin menerpa. Tetapi orang yang bodoh
membangun rumah di atas pasir. Gampang. Tapi bila datang hujan dan banjir
rumahnya akan musnah. Di situ bijaksana atau bodoh diukur dengan "mendengar
perkataanku". Yang tidak mendengarkan tapi merasa sudah berseru "Tuhan,
Tuhan" akan terpaksa mendengar jawaban "Aku tidak mengenalmu!"  (7:21-23).
Seruan sia-sia dan jawaban yang sama diperdengarkan kepada lima gadis lamban
yang datang menyusul ketika pintu sudah ditutup (25:11-12).

Dari perbandingan itu jelas bahwa kebodohan kelima gadis tadi intinya ialah
sikap kurang mau memberi ruang gerak pada Sabda Ilahi dalam kehidupan
mereka. Bagi mereka, Sabda bukan kenyataan yang dihayati. Ini kecerobohan
bertindak  yang akhirnya membuat mereka tidak dapat ikut di dalam
kegembiraan yang mereka harap-harapkan.

Tertundanya kedatangan yang ditunggu-tunggu itu bisa jadi kesempatan
berharga untuk semakin belajar mendengarkan. Bukan agar menjadi waswas
mengenai kapan datangnya yang ditunggu dan mulai ikut dalam upaya ramal
meramal. Yang berbekal kebijaksanaan boleh tetap tenang dan yakin bahwa yang
ditunggu pasti akan datang. Kapan terserah yang kuasa. Ini kebijaksanaan
orang yang mendengar Sabda Ilahi Tidak memaksa-maksa, tidak mendahului,
melainkan membiarkanNya datang dengan derap langkahNya sendiri. Ini sama
dengan mengawasi gerak gerikNya dan membuat orang bisa selangkah denganNya
nanti.

MAIN MAIN DENGAN "MISTERI" DAN AGAMA?

Orang sekarang sebetulnya mempunyai hubungan yang mendua dengan kenyataan
Yang Keramat. Orang boleh jadi tidak lagi dapat membiarkan Yang Keramat
datang dengan wajahnya sendiri. Orang mau memanipulasinya. Dalam gagasan
Injil sama dengan menolak mendengarkan Sabda Ilahi. Sama saja dengan berlaku
"lamban" dan "bodoh" (Yunaninya "moros") bukan sebagai orang yang sigap
menengarai keadaan, bijak (Yunaninya "phronimos").

Ironinya, dalam manipulasi Yang Keramat itu ialah disertakannya unsur-unsur
agama. Di situ agama ditayangkan sebagai cara-cara memperoleh kekuatan
memanuver kekuatan-kekuatan itu. Bukan sebagai kebijaksanaan memahami gerak
geriknya. Bisa diingat kembali yang disampaikan dalam Mat 7:22. Di situ
pembenaran diri bahwa orang telah bernubuat atas nama Tuhan, mengusir setan
demi namaNya, mengadakan banyak mukjizat demi namaNya hanya akan dijawab
(ayat 23): "Aku tidak pernah mengenal kamu. Enyahlah dari hadapanku, kamu
sekalian yang melakukan kejahatan!" Ini peringatan agar tidak berlaku
sebarangan

Apakah teologi kristiani dapat menyumbangkan sesuatu? Tentu saja. Sederhana.
Mendengarkan dan kemudian menyampaikan yang didengar itu dalam bahasa
manusia. Memperdengarkan Sabda Ilahi dalam bahasa yang bisa dimengerti.
Itulah yang disampaikan itu "teo-logi", wacana tentang Yang Ilahi setelah
mendengarkannya. Bukan sebaliknya. Apakah juga ada ajakan bagi pelayan
kehidupan orang yang beragama, bagi para pelayan sabda? Ya. Ada ajakan untuk
semakin membantu orang dapat menjadi kaum "phronimoi", kaum yang sigap dan
bijak yang membangun rumah di atas dasar yang kukuh, yang pandai-pandai
membawa bekal dan menjaga pelita hidup tetap menyala.


Salam hangat,
A. Gianto

Minggu Biasa XXXI A - 30 Okt 11

Minggu Biasa XXXI- A 30 Okt 11 (Mat 23:1-12)

BOROK KEHIDUPAN AGAMA?

Rekan-rekan yang budiman,
Suatu ketika kepada orang banyak dan para muridnya Yesus menuturkan sikap
tercela para ahli Taurat dan kaum Farisi (Mat 23:1-12, Injil Minggu Biasa
XXXI tahun A tgl. 30 Oktober 2011). Sekalipun mereka ini memiliki hak untuk
mengajarkan Taurat, janganlah kelakuan mereka diikuti. Mereka membebani
orang dengan ajaran-ajaran tanpa bersedia menjalaninya sendiri. Mereka suka
dipandang sebagai orang saleh, ingin diberi tempat kehormatan di tempat
ibadat, mengharapkan sanjungan di hadapan umum.... Tingkah mereka ini boleh
dikata sudah menjadi karikatur oberagama.

BOROK KEHIDUPAN?

Teks hari ini gampang dipakai untuk melancarkan kritik terhadap para
pemimpin masyarakat khususnya di kalangan para tokoh agama. Tetapi apakah
Injil pertama-tama bertujuan membuka borok-borok kehidupan agama seperti
itu? Seandainya hanya itu, akan lebih menarik bila didatangkan seorang
karyawan pastoran atau biara untuk curhat tiga menit di mimbar sebagai
selingan dalam khotbah. Dia bakal jadi narasumber otentik. Atau bila keadaan
mengizinkan, tayangkan sekaligus video (dengan muka para pembicara
dikelabukan demi anonimitas) mengenai keluhan-keluhan seorang istri atau
seorang suami atau anak terhadap tuntutan yang terasa terlalu besar untuk
menjalankan hidup berumah tangga ideal menurut ajaran Gereja. Peragaan
seperti itu akan lebih seru. Tapi itukah warta Injil hari ini? Rasa-rasanya
bukan. Pewarta sabda tidak diminta menitip-nitipkan kritik ke dalam Injil,
memuatinya dengan nasihat dan seruan moralistis, atau memakainya sebagai
pijakan bercurhat.

DI BAIT ALLAH PADA HARI-HARI TERAKHIR

Ketika Yesus tiba di kota Yerusalem, orang banyak menyambutnya dengan
meriah. Seluruh kota jadi gempar  (Mat 21:10). Pada hari itu juga ia datang
di Bait Allah dan menyadarkan orang bahwa rumah doa itu kini telah jadi
sarang "penyamun" (21:12-13). Di situ juga ia menyembuhkan orang-orang buta
dan orang-orang timpang. Imam-imam kepala dan ahli Taurat tidak senang
melihat kepopuleran Yesus di wilayah mereka. Tetapi malam hari itu juga
Yesus ke luar kota dan bermalam di Betania yang terletak di sebelah timur
Yerusalem (21:18). Keesokan harinya ia kembali ke Bait Allah (21:23). Di
situ terjadi serangkai pembicaraan dengan para pemimpin Yahudi yang
mempertanyakan asal kuasa Yesus. Dalam kesempatan inilah ia mengajar dengan
perumpamaan mengenai para penggarap kebun anggur yang mau merebut hasil dan
tanah majikan (21:33-45), perumpamaan para undangan ke perjamuan nikah dan
pakaian pesta (22:1-14). Juga waktu itulah dipaparkan pemecahan masalah
membayar pajak kepada Kaisar (22:15-22), jawaban bagi penolakan orang Saduki
terhadap kebangkitan (22:23-33), dan pengajaran mengenai hukum yang terutama
(22:34-40) dan penjelasan mengenai hubungan antara Yesus dan Daud
(22:41-46). Peristiwa yang disampaikan Injil hari ini terjadi di Bait Allah
juga. Pengajaran ini disusul dengan tujuh kecaman keras terhadap sikap para
ahli Taurat dan orang Farisi termasuk para pemimpin (23:13-36) dan keluhan
terhadap kota Yerusalem (23:34-35). Setelah itu Yesus keluar dari Bait Allah
dan Injil Matius mulai menceritakan pengajaran Yesus mengenai akhir zaman
(24:1-25:46). Ini semua terjadi dua hari ia ditangkap untuk disalibkan dua
hari menjelang Paskah orang Yahudi (26:2).

Konteks di atas memberi arti yang lebih penuh pada pengajaran Yesus. Matius
menampilkan Yesus sebagai orang yang berkuasa mengajarkan mengenai Allah -
di rumah-Nya sendiri. Bukan lagi para ahli Taurat dan orang Farisi yang kini
berkuasa. Wibawa mereka sudah pudar karena mereka sendiri tidak menjalankan
yang mereka ajarkan. Dan ini dirasakan orang banyak. Namun kuasa yang kini
dimiliki Yesus membawa risiko. Para tokoh yang tak senang akan kepopuleran
Yesus ini membuat rencana untuk menjatuhkannya (26:1-5). Yesus juga sadar
bahwa risiko ini muncul dari keteguhannya dalam mengasihi Allah dengan
seutuh-utuhnya dan mengasihi sesama yang sama-sama manusia seperti dia... Ia
menghayati yang diajarkannya. Di situlah integritasnya. Ini dilihat orang
banyak pula.

DUDUK DI KURSI MUSA?

Dikatakan dalam terjemahan yang lazim dipakai di Indonesia bahwa ahli Taurat
dan orang Farisi "telah menduduki kursi Musa". Sayang kata "menduduki" dapat
memberi kesan "menghuni dengan tanpa hak, merebut" yang tidak dimaksud di
sini. Lebih cocok bila dipakai "duduk di kursi Musa". Dalam tradisi Yahudi
ketika itu memang para ahli Taurat dan kaum Farisi diakui memiliki wewenang
mengajarkan dan menafsirkan Taurat dengan wibawa seperti yang dimiliki Musa
sendiri. Pengaruh mereka mulai besar pada abad ke-5 seb. Masehi, yakni
setelah orang Yahudi kembali dari pengasingan di Babilonia. Pada zaman itu
dibutuhkan pegangan untuk membangun kembali kehidupan bangsa dan agama.
Dapat dimengerti bila sisi "hukum" ajaran agama lebih ditonjolkan. Tiap kali
masyarakat Yahudi terdesak oleh kuasa politik dari luar, maka ciri-ciri
legalistis kepercayaan mereka makin menjadi menonjol. Keadaan seperti ini
sering dijumpai di pelbagai masyarakat, juga pada zaman kita sekarang. Tentu
saja ada ekses. Dan inilah yang dibicarakan dalam petikan hari ini.
Pengajaran dan kesaksian hidup pribadi sering tidak sejalan. Boleh dikatakan
ketimpangan itu berpusat pada diabaikannya hidup beragama yang semestinya
bergantung pada dua perintah yang terbesar yang dibicarakan dalam bagian
sebelumnya (Mat 22:34-40; bacaan Injil Minggu Biasa XXX/A).

PEMBACA INJIL MATIUS: DULU DAN SEKARANG

Injil Matius tumbuh di kalangan orang-orang Yahudi yang telah menjadi
pengikut para rasul. Orang-orang itu memiliki latar pendidikan Taurat yang
kuat dan memang berusaha hidup menurut Taurat dengan baik. Tentu ada dari
mereka yang akhirnya keterlaluan dan bersikap legalistis...juga setelah
bergabung dengan para pengikut Yesus. Mereka inilah yang dibicarakan dalam
Injil hari ini. Meski penggambarannya dilatarbelakangi kecaman Yesus
terhadap para ahli Taurat dan kaum Farisi, masalahnya lebih menyangkut
kehidupan di dalam komunitas muda yang memang tumbuh dari kalangan Yahudi.
(Tidak semua pemimpin dan ahli Taurat atau kaum Farisi tercela. Ada
orang-orang seperti Yusuf Arimatea dan Nikodemus, ada juga Saulus, orang
Farisi yang fanatik tetapi yang kemudian menjadi rasul Paulus.) Pembaca dari
zaman dulu melihat kembali secara kritis ke masa lampau mereka sendiri dan
dengan halus menyampaikan kepada rekan-rekan mereka agar tidak menempuh cara
lama itu. Mereka mau menyadari sisi mana dari cara hidup mereka tidak bisa
lagi memberi inspirasi dan tidak bisa menjawab tantangan zaman. Mereka mau
menimba kebijaksanaan dari ingatan para guru mereka yang masih mengenal
Yesus ketika mengajar di Yerusalem dan berdiskusi dengan tokoh-tokoh di
sana. Inilah yang ditampilkan Matius.

Tentunya pembaca dari zaman kita sekarang tidak hanya berminat pada konteks
yang dulu-dulu saja. Orang zaman ini ingin membaca Injil sebagai inspirasi
hidup. Bila tidak tergesa-gesa, sebenarnya kuncinya juga terdapat di dalam
Injil Matius sendiri. Secara sederhana begini. Seluruh pengajaran Yesus
menjelang akhir hidupnya dalam Mat 23 ditampilkan oleh Matius sebagai gema
pengajarannya ketika ia mulai tampil di muka umum, yakni  ketika ia mengajar
"orang banyak dan murid-muridnya" di sebuah bukit (Mat 5:1 dan 5:17-7:29).

Baik diperiksa bagaimana bagian yang memuat tujuh kecaman terhadap pemimpin,
ahli Taurat dan orang Farisi (Mat 22:13-36, kelanjutan bacaan hari ini)
berpadanan dengan Sabda Bahagia (Mat 5:3-12). Mereka yang dicela itu
dikatakan telah menutup pintu-pintu Kerajaan Surga (22:13), bdk. orang
miskin dan orang yang dianiaya yang dalam Sabda Bahagia dikatakan bakal
memiliki Kerajaan Surga (5:3 dan 10); mereka disebutkan calon penghuni
neraka (22:15), bdk. pembawa damai yang akan disebut anak-anak Allah (5:9);
mereka disebut buta (22:16-22), bdk. orang yang bersih hatinya yang akan
melihat Allah (5:8); mereka mengabaikan belas kasihan (22:23-24), bdk. orang
yang berbelaskasihan yang akan mendapat belas kasihan (5:7); mereka rakus
tak pernah kenyang (22:25-26), bdk. orang lapar dan haus yang akan dipuaskan
(5:6); batin mereka membusuk seperti mayat yang dikubur  (22:27-28), bdk.
orang berduka cita yang akan dihibur (5:4); kelakuan jahat mereka akan
menjadi hukuman mereka sendiri (22:29-35), bdk. orang lemah lembut yang akan
imemilik bumi.

Diberikan gambaran keadaan bila pengajaran di bukit dan Sabda Bahagia tidak
dihayati. Mereka yang merasa mau menegakkan hukum agama akan menindas
kehidupan agama dari dalam! Ini kendala beragama yang tidak berusaha
mengembangkan inti sikap beragama sendiri. Malah bisa memburuk dan memborok.
Pada titik ini Injil Matius hendak membawa pembaca kembali ke inti kehidupan
orang yang percaya, yakni ke inti pewartaan Yesus sendiri: mengajak orang
menyongsong masa depan di dalam Kerajaan Surga sehingga menemukan kembali
manusia yang utuh. Dan sekali lagi, di situ kemerdekaan manusia serta
kebijaksanaan menghayatinya menjadi pusat perhatian.


Salam hangat,
A. Gianto

Minggu Biasa XXX A - 23 Oktober 2011

Injil Minggu Biasa XXX tahun A - 23 Oktober 2011 (Mat 22:34-40)

Rekan-rekan yang baik!
Minggu Biasa XXX tahun A ini dirayakan dengan bacaan Injil dari Mat
22:34-40. Di situ Yesus menjawab pertanyaan seorang ahli Taurat yang hendak
menjajaki pengetahuan keagamaannya. Ditanyakan kepadanya, manakah perintah
yang paling utama dalam Taurat. Jawabnya, perintah yang terutama dan yang
pertama ialah (Ul 6:5) "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan
dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu." Dan perintah yang
kedua ialah (Im 19:18) "Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri."
Ditambahkannya, pada kedua perintah itu bergantung seluruh hukum Taurat dan
kitab para nabi. (Kitab para nabi menurut orang Yahudi meliputi kitab-kitab
sejarah dari Hak sampai Raj dan nabi-nabi Yes, Yer, Yeh dan ke-12 nabi lain;
Dan tidak termasuk di sini).

TENTANG TAURAT

Pertanyaan kepada Yesus berbunyi "Guru, perintah manakah yang terutama dalam
hukum Taurat?" membuat orang berpikir, dari sekian banyak perintah, manakah
yang paling pokok. Namun, dalam rumusan aslinya, pertanyaan tadi sebenarnya
berbunyi: "Guru, perintah macam apa bisa disebut besar di dalam Taurat?"
Jadi yang dipertanyakan bukanlah yang mana, melainkan macamnya, jenisnya,
kategorinya... Pertanyaan ini mengarah pada ciri-ciri yang membuat perintah
tertentu dapat dikatakan perintah besar. Memang diandaikan perintah-perintah
dalam Taurat tidak sama bobotnya. Ahli Taurat itu mau tahu apa Yesus
memiliki kemampuan menimbang-nimbang Taurat dan bukan hanya asal kutip sana
sini.

Memang dalam kesadaran orang Yahudi yang terpelajar, ada macam-macam bobot.
Dan tidak bisa dipukul rata. Yeus sendiri di lain kesempatan juga
menunjukkan kepekaan ini. Misalnya hukum Sabat (Mat 12:1-14). Di situ
kewajiban menguduskan Sabat dibawahkan kepada kewajiban berkurban dan
melaksanakan belas kasihan. Mana prinsip memahami perintah yang satu lebih
pokok dari yang lain? Soal ini dijawab Yesus dengan mengutarakan dua
perintah yang disebutkannya sebagai tempat bergantung semua hukum Taurat dan
kitab para nabi.

Perintah mengasihi Tuhan Allah dengan sepenuh-penuhnya yang dikutipnya dari
Ul 6:5 itu termasuk ayat-ayat suci yang wajib didoakan dua kali sehari (pagi
dan petang) oleh orang Yahudi yang saleh. Perintah Im 19:8 mengenai
mengasihi sesama itu disertakannya sebagai perintah utama yang kedua.

ISI PERINTAH UTAMA DAN MAKNANYA

Semalam saya mengajak tiga sekawan Matt, Luc, dan Mark ngobrol ke sana ke
mari tentang perbincangan Yesus dengan pemuka-pemuka Yahudi seperti
disampaikan Matt. Berikut ini beberapa potong pembicaraan kami di sela-sela
seruputan wedang ndongo dan kue-kue Mon Ami yang dibekalkan pemiliknya
ketika mau pulang ke Roma.

GUS: Kalian ini menyampaikan peristiwa yang sama tapi menaruh dalam konteks
yang berbeda-beda. Bikin bingung pembaca. Matt, lu bilang kayak di atas
tadi. Tapi, ekseget tahu kau memakai bahan dari Mark kan?

MATT [mulai tak tenang, rada segan dengan kaum penafsir]: Versi Ul 6:5 yang
dikutip Mark itu memuat empat unsur "segenap hati, jiwa, akal budi dan
kekuatanmu". Sebenarnya "segenap akalbudi" yang dipakai Mark itu kan untuk
menjelaskan arti "segenap hati". Bagi orang Yahudi seperti kami, hati itu
tempat bernalar, bukan tempat perasaan. "Segenap kekuatan" yang ada dalam
teks Perjanjian Lama tidak dikutip kembali oleh Mark dan juga tak
kutampilkan kembali karena sudah jelas bagi kami. [MARK manggut-manggut]
Tapi Luc, ah dia tulis sesuai teks Perjanjian Lama "dengan segenap hati,
jiwa, kekuatan", tetapi ia juga masukkan tambahan Mark yang menyebut "dan
segenap dan akal budi."

LUC: Kalau pakai sumber Perjanjian Lama mestinya cermat, gitu kan?

MATT: Kau tentang Perjanjian Lama tahumu apa sih! Dalam versimu [Luk
10:25-28] kedua perintah itu kautaruh dalam mulut ahli Taurat yang menanyai
Yesus, bukan dalam kata-kata Yesus seperti kami laporkan. Lu aje yang
cermatan dikit dulu dong!

MARK [buru-buru menyela sebelum Luc sempat menukas Matt]: Sudah, sudah, yang
itu asalnya juga dari tulisanku. Memang Yesus mengutip kedua perintah tadi
[Mrk 12:29-31]. Tapi seperti kuceritakan, ahli Taurat tadi kemudian
mengulang yang dikatakan Yesus [Mrk 12:32-33]. Ini yang diolah Luc, ya kan?
Jadi kalian berdua benar. Jangan berantem kayak anak kecil, malu ah.

LUC: Peristiwa tanya jawab itu kupakai untuk mengantar kisah orang Samaria
yang baik hati yang menjelaskan bagaimana orang Samaria yang biasanya
dianggap tak masuk hitungan sekalipun toh bisa betul-betul menjadi sesama
bagi orang Yahudi yang kena musibah di perjalanan.

MATT: Bagiku, tanya jawab itu menunjukkan bahwa Yesus tak kalah piawai
dengan ahli Taurat dalam menafsirkan Perjanjian Lama.

GUS [mulai tertarik]: Gimana?

MATT: Begini, seperti ditulis Mark, ada tambahan dari Yesus bahwa tak ada
perintah yang lebih utama dari keduanya tadi. Nah tambahan ini kupertajam
dengan mengungkapkannya kembali demikian: "Pada kedua perintah inilah
bergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi".

GUS: Jadi, Matt, kau bermaksud menonjolkan pandangan Yesus bahwa kedua
perintah memang menjadi dasar dan menjiwai semua hukum Taurat dan kitab para
nabi.

MATT [tersenyum puas, dapat angin]: Benar. Bukan maksud Yesus mengabaikan
hukum-hukum lain. Justru ia mau menunjukkan makna kumpulan hukum itu. Ini
kurang ditekankan Mark, apalagi Luc.

LUC: Tapi Matt , you kan tidak memberi contoh bagaimana mengasihi Tuhan
sepenuh-penuhnya dan mengasihi sesama seperti diri sendiri. Orang sekarang
lebih mudah menangkap bila diberi cerita. Pendekatan naratif. Itulah
sebabnya kutampilkan perumpamaan orang Samaria itu.

MATT: Oke, deh. Cerita orang Samaria yang engkau tampilkan itu menjelaskan
perintah kedua. Tapi perintah pertama?

LUC: Belum ngerti? Seluruh kisah Yesus menuju tujuan perjalanannya di
Yerusalem (Luk 9:51-19:28) itu penjelasan naratif tentang mengasihi Tuhan
dengan sepenuh-penuhnya. Kan nanti pada akhirnya di kayu salib Yesus
menyerahkan nyawanya kepada Bapanya yang dikasihinya sepenuh-penuhnya - itu
caraku menjelaskan.

MARK: Sudahlah, kita tak perlu menjelaskan sendiri tulisan kita, serahkan
saja kepada ekseget.

GUS: Terima kasih, kukira kalian sendiri mau jadi penafsir. Gini, mengenai
"kasihilah sesama seperti dirimu sendiri" ada sesuatu yang masih perlu
diulas. Kan kalian maksudkan, kasihilah sesama yang punya pengalaman sama
seperti dirimu sendiri, begitu kan. Jadi diingatkan bahwa kita ini pada
dasarnya mengalami pahit getirnya kehidupan seperti orang lain. Maka ingat
nanti kalau sudah lebih beruntung, gitu kan, jangan lupa orang yang sedang
ada dalam kesusahan, ya kan? Jadi tafsirnya bukan mengasihi sesama seperti
halnya kita mengasihi diri kita sendiri.

MATT [melirik ke Mark yang tampak setuju]: Benar! Itu juga yang kumaksud
dalam Mat 19:19 dan 22:39. Paul juga gitu, lihat Rom 13:9, Gal 5:14, juga
Opa Jim dalam Yak 2:8.

LUC: Persis. Kalau mau bilang mengasihi sesama seperti mengasihi diri
sendiri, mestinya diulang kata "mengasihi" itu. Aku ingat kalimat seperti
itu dalam tulisan Oom Hans (Yoh 15:12), "Inilah perintahku, yaitu supaya
kamu saling mengasihi seperti aku (=Yesus) mengasihi kamu."

GUS [lega mereka bertiga saling setuju]: Kalau bisa kurumuskan kembali,
mengasihi Tuhan hendaknya dijalankan dengan kesadaran penuh (= segenap
"hati" /"akalbudi") yang keluar dari keyakinan (= segenap "jiwa") dan tekad
utuh (= segenap "kekuatan"). Jadi bukan hanya setengah-setengah, mendua,
atau ikut-ikutan, tapi dengan pengertian. Lalu mengasihi sesama itu kan
karena sesama itu seperti kita-kita ini juga dalam suka duka kehidupan ini.
Kalian tak keberatan dengan parafrase ini kan?

BERKEAGAMAAN?

Pembicaraan malam itu kemudian semakin berpusat pada kemampuan Yesus
memperlihatkan apa itu inti ajaran Taurat dan para nabi, dari hukum-hukum
dan kisah-kisah yang mengajarkan hidup sebagai orang percaya. Saya lontarkan
pertanyaan kepada ketiga rekan ini bagaimana penjelasannya kok Yesus bisa
melihat sedalam itu dan menyampaikan pemahamannya kepada orang banyak. Jawab
mereka satu dan sama: Yesus memenuhi kedua perintah utama tadi. Boleh
dikatakan, seluruh hidupnya diserahkan untuk mengasihi Yang Mahakuasa dengan
kesadaran penuh dan dengan keyakinan dan tekad yang matang. Dan semuanya ini
terungkap dalam kesediaannya ikut merasakan yang dialami orang lain. Ia
percaya orang lain itu juga seperti dia sendiri: dikasihi Allah dan oleh
karenanya dapat mengasihiNya. Inilah dasar dan inti hidup beragama.

Pembicaraan dengan ketiga rekan tadi semakin memperjelas betapa inti hidup
beragama itu sebetulnya menomorsatukan Allah dan sesama, bukan aturan-aturan
agama belaka yang malah bisa menjauhkan orang dari sesama dan dari Allah
sendiri.

Salam hangat,
A. Gianto

Minggu Biasa XXIX A - 16 Okt 11

Injil Minggu Biasa XXIX/A 16 Okt 11 (Mat 22:15-21)

MEMBAYAR PAJAK KEPADA KAISAR?

Rekan-rekan yang budiman!
Satu ketika Yesus dimintai pendapat tentang membayar pajak kepada Kaisar:
apakah hal ini diperbolehkan (Mat 22:15-21 - Injil Minggu Biasa XXIX/A).
Bila mengatakan boleh maka ia akan menyalahi rasa kebangsaan. Tetapi bila
mengatakan tidak, ia pun akan berhadapan dengan penguasa Romawi yang waktu
itu mengatur negeri orang Yahudi.  Para pengikut Yesus kerap dihadapkan ke
masalah seperti itu. Ada dua macam rumusan. Yang pertama terlalu
menyederhanakan perkaranya, dan bisanya berbunyi demikian: "Bolehkah
mengakui dan hidup menurut kelembagaan duniawi?" Gagasan ini kurang
membantu. Kalau bilang "ya" maka bisa dipersoalkan, lho kan orang beriman
mesti hidup dari dan bagi Kerajaan Surga seutuhnya. Kalau bilang "tidak",
apa maksudnya akan mengadakan pemerintahan ilahi di muka bumi? Pertanyaan
ini sama dengan jerat yang diungkapkan murid-murid kaum Farisi. Untunglah,
ada pertanyaan yang lebih cocok dengan inti Injil hari ini: Bagaimana Yesus
sang pembawa warta Kerajaan Surga melihat kehidupan di dunia ini? Ia memakai
pendekatan frontal? Atau pendekatan kerja sama? Apa yang dapat dipetik dari
cara pandangnya?

SEBUAH DISKUSI

Menurut kebiasaan kaum terpelajar Yahudi waktu itu, dalam menanggapi
pertanyaan yang membawa ke soal yang makin rumit, orang berhak mengajukan
sebuah pertanyaan guna menjernihkan perkaranya terlebih dahulu. Lihat
misalnya pertanyaan dalam Mat 21:23-25 mengenai asal kuasa Yesus. Dalam
perbincangan mengenai boleh tidaknya membayar pajak kepada Kaisar, Yesus
mengajak lawan bicaranya memasuki persoalan yang sesungguhnya. Ia meminta
mereka menunjukkan mata uang pembayar pajak dan bertanya gambar siapa
tertera di situ. Mereka tidak dapat menyangkal itu gambar Kaisar. Yesus pun
menyudahi pembicaraan dengan mengatakan, "Berikanlah kepada Kaisar yang
wajib kalian berikan kepada Kaisar dan kepada Allah yang wajib kalian
berikan kepada Allah!" Dengan jawaban ini ia membuat mereka memikirkan sikap
mereka sendiri baik terhadap "urusan kaisar" maupun keprihatinan mereka
mengenai "urusan Allah" dan sekaligus menghindari jerat yang dipasang
lawan-lawannya. Bagaimana penjelasannya?

Kaum Farisi memang bermaksud menjerat Yesus. Mereka menyuruh murid-murid
mereka datang kepadanya bersama dengan para pendukung Herodes. Kedua
kelompok ini sebetulnya memiliki pandangan yang bertolak belakang.
Orang-orang Farisi secara prinsip tidak mengakui hak pemerintah Romawi
memungut pajak yang dikenal sebagai pajak "kensos", yakni pajak bagi
penduduk, praktisnya sama dengan pajak hak milik tanah. Inilah pajak yang
dibicarakan dalam petikan ini. Tidak dibicarakan pajak pendapatan. Mereka
yang warga Romawi tidak dikenai pajak penduduk, tapi mereka diwajibkan
membayar pajak pendapatan kepada pemerintah. Orang Yahudi yang bukan warga
Romawi diharuskan membayar pajak penduduk. Maklumlah, seluruh negeri telah
diserap ke dalam kedaulatan Romawi. Pemerintah Romawi tidak memungut pajak
pendapatan orang Yahudi bukan warga Romawi. Tapi aturan agama juga
mewajibkan mereka membayar pajak pendapatan dan hasil bumi yang dikenal
dengan nama "persepuluhan" kepada lembaga agama. Disebut pajak Bait Allah.
Kepengurusan Bait Allah akan mengatur pemakaian dana tadi bagi pemeliharaan
tempat ibadat, menghidupi yatim piatu, janda, kaum terlantar serta keperluan
sosial lain. Jadi orang Yahudi yang memiliki tanah dan berpendapatan dipajak
dua kali.

MASALAH PAJAK?

Bagi orang Farisi, membayar pajak penduduk berarti mengakui kekuasaan Romawi
atas tanah suci. Padahal dalam keyakinan mereka, tanah itu milik turun
temurun yang diberikan Allah, dan tak boleh diganggu gugat, apalagi dipajak.
Maka pungutan pajak penduduk dirasakan sebagai perkara yang amat melawan
ajaran agama leluhur. Para penarik pajak yang orang Yahudi dipandang sebagai
kaum murtad dan melawan inti keyahudian sendiri. Mereka itu dianggap
pendosa, sama seperti perempuan yang tidak setia.

Bagaimana sikap para pendukung Herodes? Yang dimaksud ialah Herodes Antipas,
penguasa wilayah Galilea di bagian utara tanah suci. Pemerintah Romawi
meresmikannya sebagai penguasa "pribumi" dan memberi wewenang dalam urusan
sipil dan militer di wilayahnya. Tetapi di Yerusalem dan Yudea wewenang
dipegang langsung oleh perwakilan Romawi, waktu itu Ponsius Pilatus. Herodes
mengikuti politik Romawi dan merasa berhak menarik pajak penduduk di
wilayahnya. Mereka yang disebut kaum pendukung Herodes dalam Mat 21:16 itu
sebetulnya bukan mereka yang tinggal di Galilea, melainkan orang Yerusalem
dan Yudea pada umumnya yang menginginkan otonomi "pribumi" seperti Herodes
di utara. Mereka memperjuangkan pajak penduduk - pajak yang dibicarakan
dalam petikan ini - tetapi bukan bagi pemerintah Romawi, melainkan bagi kas
kegiatan politik mereka di Yudea dan Yerusalem. Jadi mereka berbeda paham
dengan orang Farisi yang menganggap penarikan pajak penduduk dalam bentuk
apa saja oleh siapa saja tidak sah dan melawan ajaran agama.

Bila Yesus menyetujui pembayaran pajak penduduk yang diklaim penguasa
Romawi, ia akan berhadapan dengan mereka yang bersikap nasionalis dan akan
dianggap meremehkan pandangan teologis bahwa tanah suci ialah hak yang
langsung diberikan oleh Allah. Dan orang Farisi bisa memakainya untuk
mengobarkan rasa tidak suka kepada Yesus. Tetapi bila ia mengatakan jangan,
maka ia akan bermusuhan dengan para pendukung Herodes yang dibawa serta
orang Farisi dan sekaligus melawan politik Romawi. Jawaban apapun akan
membuat Yesus mendapat lawan-lawan baru. Memang itulah yang diinginkan oleh
orang Farisi.

JALAN KELUAR

Ketika mengatakan berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib diberikan kepada
Kaisar sebetulnya Yesus mengajak lawan bicaranya memikirkan keadaan mereka
sendiri, yakni dibawahkan pada kuasa Romawi. Jelas kaum Farisi dan para
pendukung Herodes hendak menyangkalnya, tapi dengan alasan yang berbeda.
Kaum Farisi menolak dengan alasan agama, sedangkan kaum pendukung dengan
alasan kepentingan politik mereka sendiri. Di sini ada titik temu dengan
permasalahan yang kadang-kadang dihadapi para pengikut Yesus di manapun juga
seperti disebut pada awal ulasan ini. Bukan dalam arti mengidentifikasi diri
dengan pilihan orang-orang yang datang membawa masalah, melainkan belajar
dari sikap Yesus dalam menghadapi persoalan tadi. Dengan mengatakan bahwa
patutlah diberikan kepada Allah yang wajib diberikan kepada-Nya, Yesus
hendak menekankan perlunya integritas batin. Bila kehidupan agama mereka
utamakan, hendaklah mereka menjalankannya dengan lurus. Bila mau jujur,
mereka mau tak mau akan memeriksa diri adakah mereka sungguh percaya atau
sebetulnya mereka menomorsatukan kepentingan sendiri dengan memperalat
agama.

Yesus juga membuat mereka yang datang kepadanya berpikir apakah ada pilihan
lain selain memberikan kepada Kaisar yang menjadi haknya. Bila ya, coba
mana? Ternyata keadaan mereka tak memungkinkan. Mereka tidak mencoba
menemukan kemungkinan yang lain. Mereka telah menerima status quo dan tidak
mengusahakan perbaikan kecuali dengan mengubahnya menjadi soal teologi.
Padahal masalahnya terletak dalam kehidupan sehari-hari. Iman dan hukum
agama mereka pakai sebagai dalih dan sebenarnya mereka permiskin. Yesus
tidak mengikuti pemikiran yang sempit ini.

Pada akhir petikan disebutkan mereka "heran" mendengar jawaban tadi. Dalam
dunia Perjanjian Lama, para musuh umat tak bisa berbuat banyak karena Allah
sendiri melindungi umat-Nya dengan tindakan-tindakan ajaib. Para lawan itu
tak berdaya dan bungkam mengakui kebesaran-Nya. Inilah makna "heran" tadi.
Mereka kini terdiam mengakui kebijaksanaan Yesus dan mundur. Seperti
penggoda di padang gurun yang terdiam dan mundur meninggalkannya.

KOMUNITAS ORANG YANG PERCAYA

Ketika merumuskan pertanyaan mereka (Mat 21:16), murid-murid orang Farisi
terlebih dahulu menyebut Yesus sebagai "orang yang jujur dan dengan jujur
mengajar jalan Allah dan tidak takut kepada siapa pun juga, sebab tidak
mencari muka." Dalam bahasa sekarang, Yesus itu dikenal sebagai orang yang
punya prinsip serta hidup sesuai dengan prinsip tadi secara transparan .
Bukannya demi meraih keuntungan dan menjaga kedudukan. Orang yang
mencobainya sebetulnya sudah melihat arah pemecahan masalah, yakni sikapnya
yang terarah pada kepentingan Allah. Pembicaraan selanjutnya menunjukkan
bahwa sikap itu bukan sikap menutup diri terhadap urusan duniawi dan
memusuhinya. Malah hidup dengan urusan duniawi itu juga menjadi cara untuk
membuat kehidupan rohani lebih berarti. Itulah kebijaksanaan Yesus. Itulah
yang dapat dikaji dan diikuti para pengikutnya.

Gagasan pokok yang ditampilkan dalam petikan di atas dapat menjadi arahan
bagi Gereja. Apakah Gereja sebagai lembaga rohani yang ada di muka bumi ini
menemukan perannya juga? Sebagai kelompok masyarakat agama, Gereja
diharapkan dapat berdialog dengan kenyataan yang berubah-ubah dalam
masyarakat luas tanpa memaksa-maksakan posisi dan pilihan-pilihan sendiri.
Pada saat yang sama disadari juga betapa pentingnya menjalankan perutusannya
sebagai komunitas orang-orang yang mau menghadirkan Allah, yang memungkinkan
urusan-Nya berjalan sebaik-baiknya di bumi ini. Petikan di atas mengajak
orang menumbuhkan kebijaksanaan hidup dan menepati perutusan tadi.

Salam,
A. Gianto

Minggu Biasa XXVIII A - 9 Okt 2012

Injil Minggu Biasa XXVIII/ A - 9 Okt 2012 (Mat 22:1-14)

Rekan-rekan yang budiman!
Dalam Mat 22:1-14 yang dibacakan sebagai Injil Minggu Biasa ke 28 tahun A
ini disampaikan perumpamaan mengenai siapa yang akhirnya masuk ke dalam
Kerajaan Surga dan bagaimana mereka bisa sampai ke sana. Beginilah
ceritanya. Ada orang-orang yang sebenarnya sejak awal sudah beruntung karena
"diundang ke perjamuan" tapi mereka malah meremehkan ajakan ini. Karena itu
keberuntungan yang sebenarnya dapat mereka nikmati jadi beralih kepada
orang-orang lain yang tadinya tidak masuk hitungan. Apa artinya semua ini
bagi kehidupan kini?

VERSI MATIUS DAN LUKAS

Selain dalam Mat 22:1-14, perumpamaan tentang undangan yang menolak datang
itu didapati juga dalam Luk 14:15-24. (Untuk penjelasan versi Lukas, lihat
_Langkahnya...Langkahku!_ [Kanisius, Yogyakarta 2005], hlm. 155-156.) Namun
ada tiga hal yang khas pada versi Matius yang tidak dijumpai dalam versi
Lukas.

1. Dalam Injil Matius, undangannya ialah ke perjamuan makan siang (Yunani
"ariston", Latin "prandium") bagi pesta nikah seorang anak raja. Lukas
menyebutnya perjamuan makan malam (Yunani "deipnon", Latin "coena") yang
besar yang sudah disanggupi para undangan. Seperti kebiasaan kita, pada
zaman itu perhelatan meriah memang biasanya diadakan pada malam hari. Lebih
relaks, lebih membangun suasana. Kesempatan seperti itu tidak diadakan siang
hari kecuali peristiwanya amat penting dan resmi seperti halnya pesta nikah.
Inilah yang lebih ditonjolkan Matius. Perjamuan dalam pesta nikah lebih
resmi daripada perjamuan untuk membangun keakraban. Hadirin diajak ikut
menjadi saksi peristiwa itu. Apalagi pesta nikah anak raja.

2. Dalam perumpamaan Matius, sang raja sampai dua kali mengundang. Yang
kedua kalinya bahkan ada nada memohon. Tetapi orang-orang yang diundang
tetap tidak mau datang. Begitulah digarisbawahi dalam Injil Matius penolakan
yang makin keras. Ada yang tak peduli, ada yang meremehkan undangan, malah
menyiksa dan membunuh suruhan raja. Ini sama dengan memutuskan hubungan.
Lukas lain. Ia lebih menekankan dalih para undangan yang sudah bersedia
datang ketika diundang tapi kini ingkar.

3. Matius dan Lukas sama-sama mengatakan bahwa akhirnya orang-orang lain
yang tadinya tidak diundang kini didatangkan ke perjamuan. Tetapi Matius
masih menceritakan bahwa sang raja mendapati orang yang datang tanpa pakaian
pesta. Orang itu kemudian tidak diperbolehkan ikut pesta dan dikeluarkan.
Lukas tidak menyinggung adanya orang yang tak pantas ikut perjamuan malam.
Tetapi ia meneruskan perumpamaan itu dengan menyampaikan pengajaran Yesus
mengenai perlunya komitmen utuh dalam mengikutinya.

Matius berbicara kepada umat yang berasal dari lingkungan Yahudi. Bagi
mereka "perjamuan nikah" dan datang dengan "pakaian pesta" memiliki arti
yang khusus yang tidak segera ditangkap oleh orang dari kalangan lebih luas
seperti halnya umat Lukas. Marilah kita lihat dari dekat kedua gambaran yang
dipakai Matius.

PERJAMUAN NIKAH

Disebutkan "Kerajaan Surga seumpama seorang raja yang mengadakan perjamuan
nikah untuk anaknya". Bagi pembaca Matius, "perjamuan nikah" membangkitkan
gagasan yang lebih dari pada sekedar hadir dalam resepsi, melainkan
mengikuti upacara religius dan berbagi hikmatnya. Dalam kesempatan seperti
itu dulu kerap didendangkan lagu-lagu kasih antara mempelai lelaki dan
mempelai perempuan. Lagu-lagu itu sering bernada erotik, tapi sekaligus juga
amat religius. Salah satu bentuk yang paling dikenal dan sudah menjadi
bagian Kitab Suci ialah Kidung Agung. Kedua mempelai saling memuji keelokan
masing-masing (Kid 1:9:2:7), saling mengungkapkan rasa rindu terhadap satu
sama lain (Kid 3:1-5; 5:2-8), saling mengungkapkan nikmatnya ada berduaan
(Kid 7:6-8:4). Di dalam kidung-kidung itu kasih antara kedua mempelai tampil
sebagai tempat kehadiran yang ilahi tanpa perlu mengatakannya. KehadiranNya
memanusia dalam ujud yang paling bisa dirasakan. Bagi orang Yahudi, ikut
serta dalam upacara dan perjamuan nikah dalam arti ini dapat mendekatkan
orang pada kemanusiaan dan keilahian sekaligus. Karena itu juga penolakan
ikut serta perjamuan lebih daripada sekedar tidak menghadiri pesta.

Menolak ajakan untuk menyaksikan pesta nikah juga membuat pesta menjadi sepi
dan hambar. Panggilan pertama tidak dipenuhi. Raja yang sebetulnya penuh
wibawa kemudian bersikap menghimbau. Ia merendah. Satu kali tidak digubris,
ia berusaha lagi. Malah seakan-akan memohon belas kasihan para undangan:
jangan biarkan pesta jadi rusak, hidangan sudah siap, lembu dan ternak
piaraan sendiri telah dipotong. Tetapi yang diundang semakin meninggikan
diri, dan menjadi takabur, dan akhirnya malah membunuh pesuruh sang raja.
Mereka tidak mau diganggu lagi. Mereka memutus hubungan. Terlihat betapa
kerasnya penolakan terhadap ajakan untuk ikut serta dalam kesempatan yang
sebenarnya bakal membuat siapa saja yang ikut semakin utuh hidupnya, semakin
memasuki Kerajaan Surga!

Mereka yang menolak kehilangan dua hal. Pertama rusaklah hubungan dengan
raja yang bisa melindungi mereka. Kedua mereka kehilangan kesempatan ikut
pesta nikah yang meriah yang memiliki arti khusus tadi. Jadi mereka semakin
menjauhkan diri dari kesempatan yang bakal membuat hidup mereka berarti.
Mereka menjauh dari Kerajaan Surga. Inilah yang hendak ditunjukkan dalam
perumpamaan ini.

ORANG-ORANG DI PERSIMPANGAN JALAN

Karena perjamuan nikah telah tersedia tapi yang diundang tak layak datang,
maka raja menyuruh hamba-hambanya ke persimpangan jalan, membawa orang-orang
yang mereka temui di sana, siapa saja, ke perjamuan nikah tadi. Tak pilih
bulu siapa saja didatangkan. Dan pesta itu diselamatkan oleh kehadiran
mereka-mereka ini.

Yang dimaksud dengan persimpangan jalan ialah lapangan tempat orang biasanya
berkumpul dengan macam-macam maksud: istirahat, menunggu kesempatan kerja,
melewatkan waktu, berjualan, membeli. Apa saja. Kegiatan sehari-hari yang
bermacam-ragam. Orang-orang yang di situ dengan macam-macam keadaan itulah
yang diminta datang ke perjamuan nikah. Di persimpangan jalan...hidup itulah
disampaikan ajakannya.

Bagaimana membacanya dengan cara yang lebih cocok bagi zaman ini?
Perumpamaan tadi mulai dengan "Kerajaan Surga seumpama.." Jadi dimaksud
membantu agar orang menyadari bagaimana cara Yang Mahakuasa mengajak siapa
saja ikut masuk ke dalam kehidupan-Nya, ke dalam keakraban dengan-Nya.
Dengan mengajak orang ikut serta dalam kegembiraan pesta nikah anaknya, sang
raja tadi ingin berbagi kegembiraan. Bahkan boleh dikatakan, kegembiraannya
itu baru menjadi nyata bila ikut dirasakan orang lain. Ia berusaha
mendatangkan orang-orang untuk ikut. Bahkan ia memohon agar mereka datang.
Tetapi permohonan ini dihadapi dengan sikap keras hati dan penolakan. Tidak
mau mengambil bagian dalam kehidupan yang sebenarnya tidak dapat sebarangan
dibagikan. Penolakan ini makin memisahkan dan menjauhkan mereka satu sama
lain. Juga membuat sang raja putus asa dan merasa pestanya bakal rusak.
Tetapi ia tidak menyerah. Pestanya itu kemudian dibuka bagi siapa saja yang
tadinya tidak termasuk hitungan.

Kerap dijelaskan bahwa para undangan yang menolak datang itu ialah orang
Yahudi dan mereka yang didatangkan dari jalanan itu ialah pengikut Yesus.
Yang pertama kehilangan Kerajaan Surga, yang kedua memperolehnya. Para hamba
yang disuruh mengundang ialah nabi-nabi dan kemudian yang diperlakukan
dengan buruk ialah para rasul. Tafsir alegori ini memang sudah ada sejak
lama. Dan bahkan sudah mulai pada zaman Injil sendiri ditulis. Namun
demikian masih ada keleluasaan untuk memahami perumpamaan ini sebagai
perumpamaan untuk membaca kehidupan orang zaman ini, untuk mengartikan
pengalaman hidup.

PAKAIAN PESTA

Pesta nikah itu terlaksana justru karena hadirnya orang-orang jalanan tadi.
Kerajaan Surga semakin menjadi kenyataan karena dimasuki, dihuni,
dikembangkan. Kepada pembaca diberikan ajakan yang amat kuat. Ayo ikut
membuat kehidupan yang nyata ini semakin menjadi ujud dari Kerajaan Surga.
Bisakah dibalik sehingga dikatakan agar Kerajaan Surga menjadi bagian dari
kehidupan nyata? Orang tergoda mengatakan ya, tapi kiranya tidak pas bila
begitu. Seolah-olah kerajaan itu sudah ada dan jadi dan tinggal dimasuki,
seperti menaiki kereta yang akan jalan. Yang lebih cocok, tiap orang diminta
menemukan wujud Kerajaan Surga baginya. Bahan mentahnya: kehidupan
sehari-harinya, kehidupannya di persimpangan jalan. Tapi untuk ke sana orang
perlu memakai pakaian pesta.

Dalam alam pikiran Semit, pakaian memberi bentuk kepada orang yang
memakainya sehingga dapat dikenali. Tidak mengenakan pakaian pesta berarti
datang tanpa sungguh mau mengikuti pesta. Orang baru dapat dikatakan datang
ikut perjamuan pesta bila memang mau menghadiri pesta itu, bukan untuk
urusan lain. Datang tanpa pakaian yang cocok berarti tidak membiarkan diri
dikenal sebagai yang datang untuk itu. Komitmen setengah-setengah ini kurang
dapat menjadikan hidup orang menjadi bagian dari hidup dalam Kerajaan Surga.
Kebalikannya, datang dengan mengenakan pakaian pesta berarti datang tanpa
maksud atau tujuan lain. Yang bersangkutan akan dikenali sebagai orang yang
hidupnya sedang berubah dari yang ada di persimpangan jalan menjadi dia yang
hidup dalam perjamuan yang makin memanusiakan dan makin mendekatkan ke
keilahian.

Salam hangat,
A. Gianto

Minggu Biasa XXVII A - 2 Okt 11

Minggu Biasa XXVII/A 2 Okt 11 (Mat 21:33-43)

Rekan-rekan yang baik!
Pada hari Minggu Biasa XXVII tahun A ini dibacakan Mat 21:33-43. Yesus
kembali mengutarakan perumpamaan yang berhubungan dengan kebun anggur. Tapi
kali ini yang disoroti ialah para penggarap kebun anggur yang ingin merebut
lahan yang dipercayakan kepada mereka oleh si empunya yang sedang berada di
negeri lain. Di kebun itu juga ada tempat penggarapan anggur yang dibangun
oleh si pemilik.

Para hamba yang diutus untuk memungut hasilnya diperlakukan dengan buruk
oleh para pekerja. Orang-orang suruhan yang pertama dipukuli, dibunuh, dan
dirajam. Yang kedua, meski jumlahnya lebih banyak, mendapat perlakuan
serupa. Akhirnya sang pemilik mengutus anaknya sendiri dengan perhitungan
bahwapara pekerja akan menerimanya. Tetapi mereka malah membunuhnya dengan
harapan kebun anggur itu nanti jatuh ke tangan mereka karena sang ahli waris
telah mati. Yesus kemudian bertanya kepada imam-imam kepala dan orang Farisi
(mereka baru saja mempertanyakan dari manakah kuasa Yesus berasal; lihat Mat
21:23), apa yang bakal diperbuat pemilik kebun anggur tadi terhadap
penggarap-penggarap tadi. Spontan jawab mereka, tentunya ia akan menghabisi
orang-orang tadi dan menyerahkan kebun itu kepada penggarap-penggarap lain.
Apa maksud Yesus dengan perumpamaan itu? Dan apa pula artinya bagi kita
sekarang?

KEBUN ANGGUR

Bagian pertama perumpamaan ini mengingatkan pembaca akan Yes 5:1-7. Di situ
sang nabi mengutarakan keluh kesah seorang pemilik kebun anggur yang merasa
tidak berhasil membuat kebunnya menghasilkan buah yang baik meskipun
tanahnya subur dan segala upaya telah dilakukannya. Ia juga telah mendirikan
tempat pengelolaan bagi hasil kebun yang tak kunjung datang itu. Dalam
perumpamaan yang diucapkan Yesus, pemilik kebun juga tidak mendapat hasilnya
sekalipun ia telah mendirikan tempat penggarapan. Lebih buruk lagi, hasil
yang tak kunjung datang ini akibat ulah para penggarap sendiri, bukan karena
pohon anggurnya buruk. Dalam teks Yesaya, pohon anggur yang tak memberi
hasil memuaskan itu melambangkan umat yang hidupnya tidak mengusahakan yang
adil dan benar, mereka malah menjalankan kelaliman dan keonaran. Dalam
perumpamaan yang diceritakan Yesus, diutarakan bahwa para penggarap yang
jahat itulah yang membuat sang pemilik tidak mendapatkan hasil dari tanah
miliknya. Mereka malah berusaha merebut hak milik sang empunya. Perkaranya
berkembang dari tak ada hasil yang memuaskan menjadi hak milik yang direbut
dengan kekerasan.

Menurut alam pikiran Perjanjian Lama, hak atas tanah yang sah tak boleh
diganggu gugat. Merebut kebun anggur Nabot mendatangkan celaka bagi Ahab dan
Izebel, istrinya (1 Raj 21:1-29). Bagi orang seperti Nabot, kebun anggur
miliknya itu pusaka turun temurun yang tak boleh diganggu gugat. Milik ini
diberikan kepadanya secara sah. Tak dapat diperjualbelikan dengan imbalan
apa saja, apalagi direbut. Masalah utama dalam kisah kebun anggur Nabot itu
ialah kekerasan atau tindakan rudapaksa raja merebut hak milik, bukan
pertama-tama soal keadilan sosial atau penindasan kaum kuat terhadap si
lemah. Kekerasan terhadap hak milik ditampilkan sebagai kejahatan yang
melebihi batas apa pun. Demikian dalam perumpamaan kali ini, hak sang
empunya lahan dirudapaksa oleh para penggarap. (Ia bukan pihak yang lemah.
Tapi pembedaan kuat-lemah tak dapat dipakai untuk menafsirkan perumpamaan
ini.) Para penggarap itu akhirnya membunuh ahliwarisnya. Ini pelanggaran
yang paling keras terhadap hak milik.

Ada dua hal yang bakal terpikir oleh para pendengar perumpamaan tadi
Pertama, pemilik dengan penuh perhatian membangun tempat pengelolaan kebun
anggurnya. Karena itulah ia amat mengharapkan hasilnya. Tetapi ia
dikecewakan dan malah direbut miliknya. Kedua, merebut hak milik kebun
anggur ini ditampilkan sebagai kejahatan yang melampaui batas.

SEBUAH ALEGORI

Perumpamaan ini sudah sejak awalnya dibaca sebagai alegori atau kisah yang
diterapkan pada orang atau keadaan tertentu. Dalam tafsiran alegori, kebun
anggur akan dipandang mewakili umat. Hanya Tuhan Allah-lah yang memiliki
umatNya. Ia memang mempercayakan pemeliharaannya kepada para pemimpin umat
(Perjanjian Lama), yang dalam kisah ini tampil sebagai para penggarap yang
ingin menguasai milik tuan tadi. Para hamba ialah para nabi yang mendapat
perlakuan buruk dari para pemimpin. Kemudian anak empunya kebun tadi ialah
Yesus sendiri. Para penggarap tadi merencanakan akan membunuhnya. Dan memang
dalam perumpamaan tadi rencana itu dijalankan.

Rupa-rupanya para imam kepala dan tua-tua bangsa Yahudi langsung memahami
perumpamaan tadi sebagai alegori seperti di atas. Dalam Mat 21:45 disebutkan
bahwa mereka (bersama orang-orang Farisi) mendengar perumpamaan-perumpamaan
Yesus dan mengerti bahwa merekalah yang dimaksud oleh Yesus. Mereka merasa
diancam bakal mendapat hukuman dari Allah sendiri. Oleh karena itu mereka
semakin bersikap memusuhi Yesus.

Apakah Yesus sendiri bermaksud menggambarkan sikap para pemimpin tadi
sebagai para penggarap yang jahat dan bakal ditindak sang pemilik?
Rasa-rasanya memang demikian. Para pemimpin itu baru saja mempertanyakan sah
tidaknya kuasa Yesus yang dilihat banyak orang dan diakui orang sebagai
berasal dari Allah (Mat 21:23 dst.). Mereka tidak berani dan boleh jadi
tidak mampu melihat siapa sebenarnya Yesus itu. Mereka lebih merisaukan
konsekuensi politik di tanah Yudea dan khususnya bagi kelestarian Bait
Allah. Mereka waswas bila pengajar atau "nabi" hebat tapi liar ini tidak
ditertibkan, para penguasa Romawi mengira ada gerakan untuk memberontak. Dan
akan ada tindakan militer yang bakal semakin mengekang kebebasan yang sudah
amat terbatas hingga kini. Jadi para pemimpin Yahudi tadi memang memikirkan
kepentingan mereka dan tidak dapat lagi mengikuti apa yang sedang terjadi di
masyarakat waktu itu.

Ada hal yang tidak dimengerti oleh para pemimpin tadi. Yakni bahwa semuanya
ini belum terjadi seperti diutarakan dalam perumpamaan. Mereka belum diadili
oleh pemilik kebun anggur. Bahkan mereka belum sungguh-sungguh menyingkirkan
anak pemilik tadi. Jadi sebenarnya masih ada waktu bagi mereka untuk
berubah. Sayang kesempatan itu tidak mereka lihat. Mereka sudah terbawa oleh
rencana-rencana mereka sendiri dan tidak lagi memiliki kemerdekaan. Mereka
tidak dapat memikirkan perumpamaan tadi sebagai perumpamaan yang juga memuat
ajakan untuk berubah. Mereka hanya mengira ada rencana lawan dari pihak
Yesus untuk balas menyingkirkan mereka.

BAGI ORANG SEKARANG

Tetapi kita tidak selalu perlu membaca perumpamaan Yesus kali ini sebagai
alegori belaka dengan menerapkannya kepada tokoh dan keadaan zaman ini.
Sebaiknya dihindari tafsiran alegori demi tujuan mengkritik para pemimpin
dalam masyarakat sekarang atau dalam Gereja! Kisah itu perlu juga didalami
sebagai perumpamaan, sebagai pembicaraan yang mengajak orang mengamati diri
dan bertanya apa yang dapat diperbuat dalam keadaan itu.

Perumpamaan ini dapat amat berguna untuk memahami hidup rohani atau hidup
batin kita. Seperti dalam kehidupan pada umumnya, dalam hidup batin ada
unsur "rencana-rencana" dan ada pula unsur "kebetulan". Kerap rencana tidak
terlaksana, sering yang terjadi ialah yang kebetulan yang bisa lebih baik
daripada yang diperhitungkan. Hidup batin diberikan kepada kita sebagai
peluang agar kita semakin menyadari sisi-sisi ilahi dalam hidup ini. Peluang
agar kita membiarkan Tuhan memasuki kehidupan kita. Bisa ditelateni dan
dikembangkan, tetapi tidak dapat diatur secara ketat menurut agenda sendiri.
Hidup batin itu dipercayakan untuk digarap, bukan untuk dimiliki, diklaim
sebagai milik.

Namun demikian, jelas ada kecenderungan untuk merebut wilayah tadi. Kita
dengar ada macam-macam ulah batin yang tujuannya menghimpun
kekuatan-kekuatan luar biasa untuk memanipulasinya. Bila terjadi, ibaratnya
penggarap yang dipercaya mengolah hidup batin mau merebut kekuatan-kekuatan
batin tadi dari Dia yang memilikinya.

Catatan. Titik berat dalam perumpamaan ini bukanlah perlakuan buruk terhadap
para utusan pemilik kebun. Yang disoroti sebagai kejahatan ialah upaya
merebut kebun tadi. Jadi perumpamaan itu bukan untuk menuduh para penggarap,
bukan pula untuk menuduh diri kita sendiri yang acapkali kurang peka akan
isyarat ilahi. Perumpamaan itu dimaksud untuk memurnikan hidup rohani dari
unsur-unsur yang menjauhkannya dari kehadiran ilahi sendiri.

Salam hangat,
A. Gianto

Minggu Biasa XXXIII - 16 Nov 2008

Hello,

Injil Minggu Biasa XXXIII/A - 16 Nov 2008 (Mat 25:14-30)
10 November 2008 08:11

KEPERCAYAAN YANG SUBUR DAN TALENTA YANG MANDUL

Rekan-rekan yang budiman!
Perumpamaan mengenai talenta dalam Mat 25:14-30 berawal dengan kisah tentang orang yang mempercayakan hartanya kepada para hambanya karena ia akan lama bepergian ke luar negeri. Dan jumlah uang yang ditinggalkannya itu amat besar. Satu talenta nilainya 10.000 dinar dan satu dinar itu waktu itu upah sehari pekerja harian. Pendengar waktu itu langsung menangkap arah perumpamaan ini, yakni kepercayaan yang luar biasa besarnya dari pihak pemilik kepada para hambanya. Dan memang perumpamaan ini lebih bercerita mengenai sang pemberi daripada mengenai mereka yang menerima. Dari 16 ayat dalam petikan ini, 10 ayat dipakai untuk menggambarkan tindakan serta kata-kata sang tuan dan hanya 6 ayat dikhususkan bagi hamba-hambanya.

MASING-MASING MENURUT KESANGGUPANNYA

Orang itu mempercayakan miliknya kepada tiga orang hambanya. Ia mengenal kemampuan mereka satu persatu dengan baik. Injil mengutarakannya dengan ungkapan "...masing-masing menurut kesanggupannya." Begitulah pemilik tadi merasa aman dapat menitipkan hartanya kepada orang-orang yang dekat yang sungguh dikenalnya. Ia percaya mereka akan menjaganya dengan sebaik-baiknya dan mau menjalankan uangnya. Ia berharap akan tetap beruntung, di luar negeri dan di tanah sendiri. Perusahaannya akan tetap berjalan.

Selama sang tuan berada di negeri lain, kedua hamba yang pertama memang menjalankan uang majikannya. Usaha mereka mendatangkan hasil yang sepadan dengan modal yang dipercayakan kepada mereka. Baik yang mendapat lima talenta maupun yang mendapat dua sama-sama mengatakan kepada tuan mereka "Tuan, sekian talenta tuan percayakan kepadaku...." Jelas dari situ bahwa sejak permulaan mereka tahu bahwa mereka dipercaya tuan mereka. Kiranya kesadaran inilah yang membuat mereka berani berusaha agar harta yang dipercayakan itu menjadi harta yang hidup. Mereka dapat berkata telah mendapat laba sebanyak talenta yang dipercayakan. Dan ternyata yang mereka kerjakan mendapat perkenan. Sang pemilik berkata bahwa mereka akan mendapat tanggung jawab dalam perkara yang lebih besar karena telah menunjukkan kesetiaan dalam hal kecil. Mereka juga akan semakin berbagi kekayaan dengan pemilik tadi. Mereka diajak masuk ke dalam kebahagiaan tuan mereka. Maksudnya, tuan tadi akan membuat mereka menjadi anggota rumah yang merdeka, dan bukan lagi hamba. Pembaca zaman itu dapat segera menyimpulkannya bahwa itulah maksud kata-kata pemilik yang kembali tadi. Usaha mereka telah membuat mereka menjadi orang merdeka yang tetap boleh berdiam di rumah tuan mereka. Inilah pahala terbesar yang dapat diharapkan.

TALENTA YANG TAK DIKEMBANGKAN

Bagaimana dengan hamba yang mendapat satu talenta dan kemudian hanya mampu mengembalikan satu talenta saja? Kita tahu apa yang terjadi dengan dia pada akhir perumpamaan. Ia tidak lagi mendapat kepercayaan dan tidak menerima apa-apa. Bahkan ia tidak lagi diakui sebagai hamba oleh tuannya dan dikeluarkan dari rumah tangganya. Ia kini menjadi mangsa kegelapan dan apa saja yang menakutkan. Hamba ini menjadi gambaran kebalikan dari kedua hamba yang lain. Selama tuannya pergi ia tidak pernah belajar mengurus dan menjalankan harta yang dipercayakan kepadanya. Kenapa? Bukan karena ia tidak berinisiatif. Dalam ay. 25 ia berkata bahwa ia tahu tuannya itu kejam, menuai di tempat ia tidak menabur, dan memungut di tempat ia tidak menanam sendiri. Ia takut. Ketakutan ini membuat ia tidak bisa menerima bahwa tuannya mau mempercayainya. Karena itu ia menyembunyikan talenta yang diserahkan kepadanya. Ada ironi yang tajam. Tuan itu mengenal baik hamba-hambanya. Ia mau mempercayakan miliknya kepada mereka sesuai kemampuan masing-masing. Tetapi tidak semua hamba itu mengenal sang majikan sebaik ia mengenal mereka.

Mengapa hamba itu malah kena marah dan disebut hamba yang "jahat dan malas"? Mengapa dikatakan, seharusnya hamba itu mempercayakan talenta tadi kepada orang yang bisa menjalankan sehingga nanti ada bunganya? Sebetulnya semua yang dibayangkan hamba yang mendapat satu talenta itu benar. Apa persoalannya?

Memang ada kebiasaan menyembunyikan harta dengan memendamnya. Keuntungannya memang harta itu tidak akan gampang diincar orang karena tidak diketahui. Dan sulit ditemukan orang lain. Aman. Tetapi juga tidak mendatangkan laba. Jadi modal mati. Hamba tadi kurang punya inisiatif, ia malas. Ia ragu-ragu, jangan-jangan nanti begini, jangan-jangan nanti begitu. Akhirnya ia malah tak menghasilkan apa-apa.

Kenapa ia disebut tuannya sebagai "jahat" juga? Pembaca boleh memikirkan, hamba yang ini sebetulnya tidak memberi kemungkinan kepada tuannya untuk berubah. Majikannya itu memang dikenal sebagai orang yang tinggi tuntutannya, dst. Dan kiranya memang begitu (ay. 26). Tetapi berkat keberanian kedua hamba yang lain, atau lebih baik dikatakan kesetiaan mereka menjaga serta menjalankan milik tuannya, maka ia bisa berubah menjadi murah hati dan suka mengajak bawahannya ikut menikmati kekayaannya yang berlimpah. Tetapi ada yang tidak mau menerima bahwa ia bisa berubah menjadi murah hati. Ada yang menutup pintu bagi tuan tadi agar bisa menjadi orang yang lain daripada yang dahulu-dahulu. Inilah yang mendatangkan kemalangan bagi hamba tadi. Ia tidak mampu menjalin hubungan yang saling menguntungkan dengan tuannya. Hamba itu terhukum oleh pandangannya sendiri yang kaku mengenai tuannya.

TENTANG TUHAN

Perumpamaan ini memuat ajakan agar orang berani memikirkan kembali anggapan mengenai siapa itu Tuhan dan bagaimana mendapat perkenannya. Dan kiranya memang itulah maksud Yesus dengan perumpamaan ini. Maklum bagi pendengarnya pada waktu itu Tuhan Allah dialami sebagai yang menuntut dan akan murka dan menghukum bila umatnya tidak menuruti hukum-hukumNya. Itulah teologi yang dulu dirasa jitu di kalangan para pemimpin (ahli Taurat, para imam) dan orang-orang yang dianggap benar dan menganggap diri benar (kaum Farisi). Tuhan tidak mendapat ruang untuk tampil dengan wajah kebapaan. Dia dikurung dalam teologi picik hamba yang mendapat satu talenta itu.

Tahukah orang yang akan bepergian ke luar negeri tadi bahwa di antara hambanya yang dipercayainya itu ada yang tidak bakal banyak berbuat? Tentunya ya. Walaupun demikian, ia tetap berharap hambanya itu bisa berkembang. Dan tuan tadi - kini bisa kita pakai untuk mengerti siapa Tuhan sebenarnya - berani mengambil risiko. Siapa tahu hamba yang begitu itu nanti berubah. Tuhan berani memberi kesempatan kepada orang yang sebenarnya dikenal tidak akan berbuat banyak.

INJIL DAN KEHIDUPAN

Mari kita bayangkan jalan cerita yang berbeda. Katakan saja hamba yang malas dan penakut yang mendapat satu talenta itu bisa berubah. Katakan saja, ada rekan yang menolong dan memberanikannya agar lebih percaya diri. Alur kisahnya akan berbeda. Pendengar yang berani berinteraksi dengan perumpamaan dengan cara ini akan juga merasa terdorong membantu rekan yang dalam kehidupan nyata dikenal sebagai orang yang kurang berani berinisiatif, takut melulu, takut gagal, takut menyalahi gagasan sendiri. Dan kiranya itulah sikap pastoral yang diharapkan ada bila kita menjumpai orang yang butuh dibesarkan hatinya, dibimbing, diberanikan. Itu juga yang bisa diharapkan dari kita-kita yang merasa beruntung seperti kedua hamba yang dipuji dan diajak berbagi kebahagiaan oleh tuannya tadi. Kita yang merasa seperti mereka akan tertantang apa juga berani ambil risiko seperti tuan hamba-hamba tadi. Nurani kita akan terketuk untuk berupaya menolong orang yang sebenarnya sudah mengurung diri dalam pagar keputusasaan. Boleh kita bertanya dalam hati, beranikah kita mencoba membebaskan orang yang memenjarakan diri dengan teologi yang mematikan, dengan gambaran mengenai Yang Ilahi yang serba kaku. Beranikah kita berusaha menghidupkan imannya. Pertanyaan-pertanyaan seperti itu termasuk pesan yang tersirat dalam perumpamaan ini.

Saya tanya Matt apa setuju dengan cara membaca di atas. Katanya, "Gus, apa belum tahu bahwa perumpamaan itu sebenarnya baru separuh jalan? Baru ada dalam Injil dan belum selesai ditulis dalam kehidupan. Kalianlah yang mesti melanjutkannya, sampai Anak Manusia datang kembali nanti di akhir zaman. Dia ingin mendengarkan kelanjutan cerita yang disampaikan dalam perumpamaan itu. Mudah-mudahan saat itu tak ada yang hanya akan mengutarakan kembali yang ada di Injil tanpa menambah kelanjutannya dalam hidup masing-masing. Dia ini akan seperti orang yang mendapat satu talenta."

Salam hangat,
A. Gianto

Minggu Biasa XXX/A - 26 Okt 2008

Hello,

Injil dan bacaan pertama Minggu Biasa XXX/A 26 Okt 2008 (Mat 22:34-40 Kel 22:20-26)
20 Oktober 2008 16:01

INTI HIDUP BERAGAMA

Minggu Biasa XXX tahun A ini dirayakan dengan bacaan Injil dari Mat 22:34-40. Di situ Yesus menjawab pertanyaan seorang ahli Taurat yang bermaksud menjajaki pengetahuan keagamaannya. Ditanyakan kepada Yesus, manakah perintah yang paling utama dalam Taurat. Jawabnya, perintah yang terutama dan yang pertama ialah "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu!" (Ul 6:5). Dan perintah yang kedua ialah "Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri!" (Im 19:18). Ditambahkannya, pada kedua perintah itu bergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para Nabi. (Kitab para Nabi menurut orang Yahudi meliputi kitab-kitab sejarah dari Hak sampai Raj dan nabi-nabi Yesaya, Yeremia, Yehezkiel dan ke-12 nabi lain; Daniel tidak termasuk di sini).

BERTEOLOGI TENTANG TAURAT

Pertanyaan kepada Yesus "Guru, perintah manakah yang terutama dalam hukum Taurat?" tentu membuat orang ikut berpikir, dari sekian banyak perintah dalam Taurat, manakah yang paling pokok. Dalam rumusan aslinya, pertanyaan tadi sebenarnya berbunyi: "Guru, perintah macam apa bisa disebut besar di dalam Taurat?" Jadi yang dipertanyakan bukanlah yang mana, melainkan macamnya, jenisnya, kategorinya. Pertanyaan ini mengarah pada ciri-ciri yang membuat perintah tertentu dapat dikatakan perintah besar. Memang diandaikan perintah-perintah dalam Taurat tidak sama bobotnya. Ahli Taurat itu mau tahu apa Yesus memiliki kemampuan menimbang-nimbang bobot macam-macam aturan Taurat yang 613 jumlahnya itu dan bukan hanya asal kutip sana sini.

Kaum terpelajar Yahudi menyadari bahwa tidak semua aturan tadi sama bobotnya. Yesus sendiri di lain kesempatan juga mengungkapkan kepekaan ini, misalnya mengenai hukum hari Sabat (Mat 12:1-14). Di situ kewajiban menguduskan Sabat dibawahkan kepada kewajiban berkurban dan melaksanakan belas kasihan. Mana prinsip memahami perintah yang satu lebih pokok dari yang lain? Soal ini dijawab Yesus dengan mengutarakan dua perintah yang disebutkannya sebagai tempat bergantung semua hukum Taurat dan kitab para Nabi.

Perintah mengasihi Tuhan Allah dengan sepenuh-penuhnya yang dikutipnya dari Ul 6:5 itu termasuk ayat-ayat suci yang wajib didoakan dua kali sehari (pagi dan petang) oleh orang Yahudi yang saleh. Perintah Im 19:8 mengenai mengasihi sesama itu disertakannya sebagai perintah utama yang kedua.

PERINTAH UTAMA DAN MAKNANYA

Semalam saya mengajak tiga sekawan Matt, Luc, dan Mark ngobrol ke sana ke mari tentang perbincangan Yesus dengan pemuka-pemuka Yahudi seperti disampaikan Matt. Berikut ini beberapa potong pembicaraan kami di sela-sela hangatnya jahe wangi yang saya bawa dari Jawa.

GUS: Kalian ini menyampaikan peristiwa yang sama tapi menaruh dalam konteks yang berbeda-beda. Bikin bingung pembaca. Matt, kau bilang kayak di atas tadi. Tapi, ekseget tahu kau memakai bahan dari Mark, ya kan?

MATT [mulai tak tenang, rada segan dengan kaum penafsir]: Versi Ul 6:5 yang dikutip Mark itu memuat empat unsur "segenap hati, jiwa, akal budi dan kekuatanmu". Sebenarnya "segenap akalbudi" yang dipakai Mark itu kan untuk menjelaskan arti "segenap hati". Bagi orang Yahudi seperti kami, hati itu tempat bernalar, bukan tempat perasaan. "Segenap kekuatan" yang ada dalam teks Perjanjian Lama tidak dikutip kembali oleh Mark dan juga tak kutampilkan kembali karena sudah jelas bagi kami. [MARK manggut-manggut] Tapi Luc, ah dia tulis sesuai teks Perjanjian Lama "dengan segenap hati, jiwa, kekuatan", tetapi ia juga masukkan tambahan Mark yang menyebut "dan segenap dan akal budi."

LUC: Kalau pakai sumber Perjanjian Lama mestinya cermatan dikit, gitu kan?

MATT: Nyang bener aje! Tentang Perjanjian Lama kau tahu apa sih! Dalam versimu [Luk 10:25-28] kedua perintah itu kautaruh dalam mulut ahli Taurat yang menanyai Yesus, bukan dalam kata-kata Yesus seperti kami laporkan.

MARK [buru-buru menyela sebelum Luc sempat menukas Matt]: Sudah, sudah, yang itu asalnya juga dari tulisanku. Memang Yesus mengutip kedua perintah tadi [Mrk 12:29-31]. Tapi seperti kuceritakan, ahli Taurat tadi kemudian mengulang yang dikatakan Yesus [Mrk 12:32-33]. Ini yang diolah Luc, ya kan? Jadi kalian berdua benar. Jangan berantem kayak anak kecil, malu ah.

LUC: Peristiwa tanya jawab itu kupakai untuk mengantar kisah orang Samaria. Dia yang biasanya dianggap tak masuk hitungan itu toh bisa betul-betul menjadi sesama bagi orang Yahudi yang sedang mengalami musibah di perjalanan.

MATT: Bagiku, tanya jawab itu menunjukkan bahwa Yesus tak kalah piawainya dengan ahli Taurat dalam menafsirkan Perjanjian Lama.

GUS [mulai tertarik]: Gimana?

MATT: Begini, seperti ditulis Mark, ada tambahan dari Yesus bahwa tak ada perintah yang lebih utama dari keduanya tadi. Nah tambahan ini kupertajam dengan mengungkapkannya kembali demikian: "Pada kedua perintah inilah bergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para Nabi".

GUS: Jadi, Matt, kau bermaksud menonjolkan pandangan Yesus bahwa kedua perintah memang menjadi dasar dan menjiwai semua hukum Taurat dan kitab para Nabi.

MATT [tersenyum puas, dapat angin]: Benar. Bukan maksud Yesus mengabaikan hukum-hukum lain. Justru ia mau menunjukkan makna kumpulan hukum itu. Ini kurang ditekankan Mark, apalagi Luc.

LUC: Tapi Matt, you kan tidak memberi contoh bagaimana mengasihi Tuhan sepenuh-penuhnya dan mengasihi sesama seperti diri sendiri. Orang sekarang lebih mudah menangkap bila diberi cerita. Pendekatan naratif. Itulah sebabnya kutampilkan perumpamaan orang Samaria itu.

MATT: Oke, deh. Cerita orang Samaria yang kauceritakan itu menjelaskan perintah kedua. Tapi perintah pertama?

LUC: Belum ngerti? Seluruh kisah Yesus menuju tujuan perjalanannya di Yerusalem (Luk 9:51-19:28) itu penjelasan naratif tentang mengasihi Tuhan dengan sepenuh-penuhnya. Kan nanti pada akhirnya di kayu salib Yesus menyerahkan nyawanya kepada Bapanya yang dikasihinya sepenuh-penuhnya - itu caraku menjelaskan.

MARK: Sudahlah, kita tak perlu menjelaskan sendiri tulisan kita, serahkan saja kepada ekseget.

GUS: Terima kasih, kukira kalian sendiri mau jadi penafsir. Gini, mengenai "kasihilah sesama seperti dirimu sendiri" ada yang masih perlu diulas. Kalian kan bermaksud mengatakan, kasihilah sesama yang punya pengalaman sama seperti dirimu sendiri, betul begitu? Jadi diingatkan bahwa kita ini pada dasarnya mengalami pahit getirnya kehidupan seperti orang lain. Maka ingat nanti kalau sudah merasa lebih beruntung, jangan lupa orang yang sedang ada dalam kesusahan, ya kan? Jadi tafsirnya bukan mengasihi sesama seperti halnya kita mengasihi diri kita sendiri.

MATT [melirik ke Mark yang tampak setuju]: Benar! Itu juga yang kumaksud dalam Mat 19:19 dan 22:39. Paul juga gitu, lihat Rom 13:9, Gal 5:14, juga Opa Jim dalam Yak 2:8.

LUC: Persis. Kalau mau bilang mengasihi sesama seperti mengasihi diri sendiri, mestinya diulang kata "mengasihi" itu. Aku ingat kalimat seperti itu dalam tulisan Oom Hans (Yoh 15:12), "Inilah perintahku, yaitu supaya kamu saling mengasihi seperti aku (=Yesus) mengasihi kamu."

GUS [lega mereka bertiga saling setuju]: Kalau bisa kurumuskan kembali, mengasihi Tuhan hendaknya dijalankan dengan kesadaran penuh (= segenap "hati" /"akalbudi") yang keluar dari keyakinan (= segenap "jiwa") dan tekad utuh (= segenap "kekuatan"). Jadi bukan hanya setengah-setengah, mendua, atau ikut-ikutan, tapi dengan pengertian. Lalu mengasihi sesama itu kan karena sesama itu seperti kita-kita ini juga dalam suka duka kehidupan ini. Kalian tentunya tidak keberatan dengan parafrase ini.

Pembicaraan malam itu kemudian semakin berpusat pada kemampuan Yesus memperlihatkan apa itu inti ajaran Taurat dan para Nabi, dari hukum-hukum dan kisah-kisah yang mengajarkan hidup sebagai orang percaya. Saya lontarkan pertanyaan kepada ketiga rekan tadi bagaimana penjelasannya kok Yesus bisa melihat sedalam itu dan menyampaikan pemahamannya kepada orang banyak. Jawab mereka: Yesus memenuhi kedua perintah utama tadi. Boleh dikatakan, seluruh hidupnya diserahkan untuk mengasihi Yang Mahakuasa dengan kesadaran penuh dan dengan keyakinan dan tekad yang matang. Dan semuanya ini terungkap dalam kesediaannya ikut merasakan yang dialami orang lain. Ia percaya orang lain itu juga seperti dia sendiri: dikasihi Allah dan oleh karenanya dapat mengasihiNya. Inilah dasar dan inti hidup beragama. Pembicaraan dengan ketiga rekan itu semakin memperjelas betapa inti hidup beragama itu sebetulnya menomorsatukan Allah dan sesama, bukan aturan-aturan agama belaka yang malah bisa menjauhkan orang dari sesama dan dari Allah sendiri.

DARI BACAAN PERTAMA (Kel 22:20-26)

Bacaan pertama menunjukkan bagaimana dua perintah utama yang dibicarakan dalam Injil kali ini - yang berdasarkan Ul 6:5 dan 19:18 - sebetulnya sudah lama menjadi bagian dalam kehidupan umat Perjanjian Lama. Ditegaskan pertama-tama kebesaran yang Maha Kuasa sebagai satu-satunya sesembahan (Kel 22:20) Tetapi sekaligus ditandaskan bahwa Dia yang sedemikian besar itu menjadi pembela orang-orang yang kehidupannya kurang terlindung: orang asing yang datang mencari tempat untuk hidup karena keadaan di tempat sendiri tak memungkinkan(ay. 21), janda dan anak yatim, yakni mereka yang tak lagi mempunyai pencari nafkah hidup (22-24), dan orang-orang miskin yang hidupnya bergantung pada pinjaman (ay. 25-26). Mereka ini samasekali tidak boleh dirugikan. Umat diajak untuk melihat kehadiran Yang Maha Kuasa dalam keadaan orang-orang yang tak semujur mereka sendiri. Memperlakukan mereka dengan baik menurut hak mereka menjadi cara yang sungguh untuk meluhurkan Dia dan bahkan menjadi cara mempertahankan keselamatan sendiri. Dapat disimpulkan dari ancaman-ancaman yang termuat di dalam petikan ini bahwa kegagalan mengusahakan agar hidup mereka lebih terjamin malah akan menutup jalan keselamatan bagi diri sendiri.

Salam hangat,
A. Gianto

Minggu Biasa XXIX A - 19 Oktober 2008

Hello,

Injil Minggu Biasa XXIX/A 19 Oktober 2008 (Mat 22:15-21)
13 Oktober 2008 13:38

MEMBAYAR PAJAK KEPADA KAISAR?

Rekan-rekan yang budiman!
Satu ketika Yesus dimintai pendapat tentang membayar pajak kepada Kaisar: apakah hal ini diperbolehkan (Mat 22:15-21). Bila mengatakan boleh maka ia akan menyalahi rasa kebangsaan. Tetapi bila mengatakan tidak, ia pun akan berhadapan dengan penguasa Romawi yang waktu itu mengatur negeri orang Yahudi.  Para pengikut Yesus kerap dihadapkan ke masalah seperti itu. Ada dua macam rumusan. Yang pertama terlalu menyederhanakan perkaranya, dan bisanya berbunyi demikian: "Bolehkah mengakui dan hidup menurut kelembagaan duniawi?" Gagasan ini kurang membantu. Kalau bilang "ya" maka bisa dipersoalkan, lho kan orang beriman mesti hidup dari dan bagi Kerajaan Surga seutuhnya. Kalau bilang "tidak", apa maksudnya akan mengadakan pemerintahan ilahi di muka bumi? Pertanyaan ini sama dengan jerat yang diungkapkan murid-murid kaum Farisi. Untunglah, ada pertanyaan yang lebih cocok dengan inti Injil hari ini: Bagaimana Yesus sang pembawa warta Kerajaan Surga melihat kehidupan di dunia ini? Ia memakai pendekatan frontal? Atau pendekatan kerja sama? Apa yang dapat dipetik dari cara pandangnya?

SEBUAH DISKUSI

Menurut kebiasaan kaum terpelajar Yahudi waktu itu, dalam menanggapi pertanyaan yang membawa ke soal yang makin rumit, orang berhak mengajukan sebuah pertanyaan guna menjernihkan perkaranya terlebih dahulu. Lihat misalnya pertanyaan dalam Mat 21:23-25 mengenai asal kuasa Yesus. Dalam perbincangan mengenai boleh tidaknya membayar pajak kepada Kaisar, Yesus mengajak lawan bicaranya memasuki persoalan yang sesungguhnya. Ia meminta mereka menunjukkan mata uang pembayar pajak dan bertanya gambar siapa tertera di situ. Mereka tidak dapat menyangkal itu gambar Kaisar. Yesus pun menyudahi pembicaraan dengan mengatakan, "Berikanlah kepada Kaisar yang wajib kalian berikan kepada Kaisar dan kepada Allah yang wajib kalian berikan kepada Allah!" Dengan jawaban ini ia membuat mereka memikirkan sikap mereka sendiri baik terhadap "urusan kaisar" maupun keprihatinan mereka mengenai "urusan Allah" dan sekaligus menghindari jerat yang dipasang lawan-lawannya. Bagaimana penjelasannya?

Kaum Farisi memang bermaksud menjerat Yesus. Mereka menyuruh murid-murid mereka datang kepadanya bersama dengan para pendukung Herodes. Kedua kelompok ini sebetulnya memiliki pandangan yang bertolak belakang. Orang-orang Farisi secara prinsip tidak mengakui hak pemerintah Romawi memungut pajak yang dikenal sebagai pajak "kensos", yakni pajak bagi penduduk, praktisnya sama dengan pajak hak milik tanah. Inilah pajak yang dibicarakan dalam petikan ini. Tidak dibicarakan pajak pendapatan. Mereka yang warga Romawi tidak dikenai pajak penduduk, tapi mereka diwajibkan membayar pajak pendapatan kepada pemerintah. Orang Yahudi yang bukan warga Romawi diharuskan membayar pajak penduduk. Maklumlah, seluruh negeri telah diserap ke dalam kedaulatan Romawi. Pemerintah Romawi tidak memungut pajak pendapatan orang Yahudi bukan warga Romawi. Tapi aturan agama juga mewajibkan mereka membayar pajak pendapatan dan hasil bumi yang dikenal dengan nama "persepuluhan" kepada lembaga agama. Disebut pajak Bait Allah. Kepengurusan Bait Allah akan mengatur pemakaian dana tadi bagi pemeliharaan tempat ibadat, menghidupi yatim piatu, janda, kaum terlantar serta keperluan sosial lain. Jadi orang Yahudi yang memiliki tanah dan berpendapatan dipajak dua kali.

MASALAH PAJAK?

Bagi orang Farisi, membayar pajak penduduk berarti mengakui kekuasaan Romawi atas tanah suci. Padahal dalam keyakinan mereka, tanah itu milik turun temurun yang diberikan Allah, dan tak boleh diganggu gugat, apalagi dipajak. Maka pungutan pajak penduduk dirasakan sebagai perkara yang amat melawan ajaran agama leluhur. Para penarik pajak yang orang Yahudi dipandang sebagai kaum murtad dan melawan inti keyahudian sendiri. Mereka itu dianggap pendosa, sama seperti perempuan yang tidak setia.

Bagaimana sikap para pendukung Herodes? Yang dimaksud ialah Herodes Antipas, penguasa wilayah Galilea di bagian utara tanah suci. Pemerintah Romawi meresmikannya sebagai penguasa "pribumi" dan memberi wewenang dalam urusan sipil dan militer di wilayahnya. Tetapi di Yerusalem dan Yudea wewenang dipegang langsung oleh perwakilan Romawi, waktu itu Ponsius Pilatus. Herodes mengikuti politik Romawi dan merasa berhak menarik pajak penduduk di wilayahnya. Mereka yang disebut kaum pendukung Herodes dalam Mat 21:16 itu sebetulnya bukan mereka yang tinggal di Galilea, melainkan orang Yerusalem dan Yudea pada umumnya yang menginginkan otonomi "pribumi" seperti Herodes di utara. Mereka memperjuangkan pajak penduduk - pajak yang dibicarakan dalam petikan ini - tetapi bukan bagi pemerintah Romawi, melainkan bagi kas kegiatan politik mereka di Yudea dan Yerusalem. Jadi mereka berbeda paham dengan orang Farisi yang menganggap penarikan pajak penduduk dalam bentuk apa saja oleh siapa saja tidak sah dan melawan ajaran agama.

Bila Yesus menyetujui pembayaran pajak penduduk yang diklaim penguasa Romawi, ia akan berhadapan dengan mereka yang bersikap nasionalis dan akan dianggap meremehkan pandangan teologis bahwa tanah suci ialah hak yang langsung diberikan oleh Allah. Dan orang Farisi bisa memakainya untuk mengobarkan rasa tidak suka kepada Yesus. Tetapi bila ia mengatakan jangan, maka ia akan bermusuhan dengan para pendukung Herodes yang dibawa serta orang Farisi dan sekaligus melawan politik Romawi. Jawaban apapun akan membuat Yesus mendapat lawan-lawan baru. Memang itulah yang diinginkan oleh orang Farisi.

PEMECAHAN

Ketika mengatakan berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib diberikan kepada Kaisar sebetulnya Yesus mengajak lawan bicaranya memikirkan keadaan mereka sendiri, yakni dibawahkan pada kuasa Romawi. Jelas kaum Farisi dan para pendukung Herodes hendak menyangkalnya, tapi dengan alasan yang berbeda. Kaum Farisi menolak dengan alasan agama, sedangkan kaum pendukung dengan alasan kepentingan politik mereka sendiri. Di sini ada titik temu dengan permasalahan yang kadang-kadang dihadapi para pengikut Yesus di manapun juga seperti disebut pada awal ulasan ini. Bukan dalam arti mengidentifikasi diri dengan pilihan orang-orang yang datang membawa masalah, melainkan belajar dari sikap Yesus dalam menghadapi persoalan tadi. Dengan mengatakan bahwa patutlah diberikan kepada Allah yang wajib diberikan kepadaNya, Yesus hendak menekankan perlunya integritas batin. Bila kehidupan agama mereka utamakan, hendaklah mereka menjalankannya dengan lurus. Bila mau jujur, mereka mau tak mau akan memeriksa diri adakah mereka sungguh percaya atau sebetulnya mereka menomorsatukan kepentingan sendiri dengan memperalat agama.

Yesus juga membuat mereka yang datang kepadanya berpikir apakah ada pilihan lain selain memberikan kepada Kaisar yang menjadi haknya. Bila ya, coba mana? Ternyata keadaan mereka tak memungkinkan. Mereka tidak mencoba menemukan kemungkinan yang lain. Mereka telah menerima status quo dan tidak mengusahakan perbaikan kecuali dengan mengubahnya menjadi soal teologi. Padahal masalahnya terletak dalam kehidupan sehari-hari. Iman dan hukum agama mereka pakai sebagai dalih dan sebenarnya mereka permiskin. Yesus tidak mengikuti pemikiran yang sempit ini.

Pada akhir petikan disebutkan mereka "heran" mendengar jawaban tadi. Dalam dunia Perjanjian Lama, para musuh umat tak bisa berbuat banyak karena Allah sendiri melindungi umatNya dengan tindakan-tindakan ajaib. Para lawan itu tak berdaya dan bungkam mengakui kebesaranNya. Inilah makna "heran" tadi. Mereka kini terdiam mengakui kebijaksanaan Yesus dan mundur. Seperti penggoda di padang gurun yang terdiam dan mundur meninggalkannya.

KOMUNITAS ORANG YANG PERCAYA

Ketika merumuskan pertanyaan mereka (Mat 21:16), murid-murid orang Farisi terlebih dahulu menyebut Yesus sebagai "orang yang jujur dan dengan jujur mengajar jalan Allah dan tidak takut kepada siapa pun juga, sebab tidak mencari muka." Dalam bahasa sekarang, Yesus itu dikenal sebagai orang yang punya prinsip serta hidup sesuai dengan prinsip tadi secara transparan . Bukannya demi meraih keuntungan dan menjaga kedudukan. Orang yang mencobainya sebetulnya sudah melihat arah pemecahan masalah, yakni sikapnya yang terarah pada kepentingan Allah. Pembicaraan selanjutnya menunjukkan bahwa sikap itu bukan sikap menutup diri terhadap urusan duniawi dan memusuhinya. Malah hidup dengan urusan duniawi itu juga menjadi cara untuk membuat kehidupan rohani lebih berarti. Itulah kebijaksanaan Yesus. Itulah yang dapat dikaji dan diikuti para pengikutnya.

Gagasan pokok yang ditampilkan dalam petikan di atas dapat menjadi arahan bagi Gereja. Apakah Gereja sebagai lembaga rohani yang ada di muka bumi ini menemukan perannya juga? Sebagai kelompok masyarakat agama, Gereja diharapkan dapat berdialog dengan kenyataan yang berubah-ubah dalam masyarakat luas tanpa memaksa-maksakan posisi dan pilihan-pilihan sendiri. Pada saat yang sama disadari juga betapa pentingnya menjalankan perutusannya sebagai komunitas orang-orang yang mau menghadirkan Allah, yang memungkinkan urusanNya berjalan sebaik-baiknya di bumi ini. Petikan di atas mengajak orang menumbuhkan kebijaksanaan hidup dan menepati perutusan tadi.

Salam,
A. Gianto